28 December 2007

Hari Jum'at yang Melegakan

Hari ini, khutbah Jum'at yang disampaikan sang ustadz begitu menarik hatiku. Rasanya begitu lama aku tak pernah mendengar khutbah yang senada seperti hari ini.
Beliau berucap bahwa seluruh hidup sudah ada tuntunannya di Al Kitab. Bisa dilihat pada surat 2 ayat 2.
Menyoroti fenomena yang ada tentang aliran sesat, sebuah pertanyaan yang diucapkan oleh sang ustadz sungguh membuat aku terhenyak, karena pernyataan yang beliau sampaikan: jangan sampai kita menuduh orang lain sesat, tetapi jangan-jangan kita malah yang sesat. Na'udzubillahi min dzalik.
Padahal penggolongan sesat dan tidak sesat sudah nyata ada dan diatur di dalam Al Kitab. Al Kitab artinya adalah aturan, protokol, tata cara, dan undang-undang. Dalam hal ini Al Kitab adalah Al Qur'an. Dengan demikian siapa yang sesat, siapa yang selamat juga sudah jelas pula.
Maka khutbah hari ini ditutup dengan do'a semoga kita diberikan kekuatan dan keteguhan untuk terus berupaya memperbaiki diri, sehingga yang kita kira amal sholeh yang mampu menyelamatkan, kuatir ternyata tidak ada nilainya, karena adanya bersitan ketidakyakinan akan aqidah yang mesti diikuti dan ditaati.

26 December 2007

Peran Manusia

Rabu ini, 26 Desember 2007, aku sengaja berangkat pagi, sekalian mengantar anakku ke sekolah. Istriku sempat bertanya: “Mau olah raga, Pak?” melihat aku yang hanya memakai kaos dan membawa seperangkat pakaian ngantor. “Iya” aku jawab. Yakin aku, rekan-rekan STT Telkom akan melakukan olah raga badminton yang rutin terjadwal pada Rabu pagi jam 07-10. Ternyata di SC hanya bertemu dengan satu orang dan mengatakan: “Yang lain nggak ada, Pak”

Aku jawab: “Ah, masa sih…”

Sejak beberapa penyakit orang yang kurang olah raga menempel di diriku aku memang sudah mencanangkan untuk rutin berolah raga, namun pekerjaan kadangkala membuat aku kesulitan melakukan aktifitas ini.

Rekan tersebut keluar dari SC, sedangkan aku kan sudah mencanangkan untuk olah raga. Ya sudah, aku lari saja keliling lapangan basket SC, lumayanlah dapat sekitar 20 menit.

Yah, nafas yang sudah terganggu sejak masih SMP membuat sulit bagiku untuk berlari sprint, nafas pun harus melalui hidung dan mulut. Lumayan sekitar 30 putaran lapangan basket. Tangan sudah terasa kesemutan, begitupun daerah perut kiri terasa tertarik ototnya, membuat aku harus mengurangi gerakan berlari, semakin pelan dan ditutup dengan jalan kaki sekitar 2-3 putaran.

Tak ketinggalan senam ringan, mulai dari kepala, tangan, pinggul, kaki (tendangan), sit up, lawan sit up, dan push up. Lumayan keringat berkucur dengan deras, dan sudah aku hafal pula, pastilah keringat ini agak lama untuk berhenti mengalir, bisa 30 menit sendiri sejak berhenti olah raga sampai keringat betul-betul berhenti.

Markas Astacala yang terasa begitu lama aku tak masuk, aku masukin, tembus ke belakang melihat kolam yang diisi ikan mas yang masih berukuran kecil, pohon-pohon yang rindang, dapur dan bau ikan yang sedang digoreng. Mereka telah melaksanakan acara jalan-jalan ke Kepulauan Seribu dan mendapatkan ikan dari hasil memancing.

Sambil mengobrol bagaimana masa depan dan apa yang mesti dilakukan oleh Astacala. Ideku: Astacala harus bermain sebagai Club Pecinta Alam yang mengkaitkan dengan teknologi informasi yang dikuasainya, mestinya Astacala mengambil peran sebagai Pusat Informasi Mapala, mengingat latar belakang keilmuan yang dimilikinya sebagai tenaga ahli di bidang ICT. Contoh nyata yang bisa dilakukan adalah membuat peta digital yang diisi dengan berbagai informasi tentang situasi daerah pendakian, baik yang menyatakan jalur pendakian, daerah berbahaya yang mungkin muncul, ketinggian lereng pendakian, pusat air untuk keperluan pendakian. Bahkan bisa pula diisi informasi tentang reboisasi yang ingin dilakukan mereka, sehingga terdokumentasi dengan baik dan pihak lain bisa mengetahui informasi tersebut.

Astacala harus bisa mengembangkan domain yang telah ada selama ini menjadi semakin baik lagi, semakin penuh informasi yang bermanfaat. Cobalah buka www.astacala.org

Yah, bagiku hidup bukanlah hanya sekedar memikirkan caranya hidup, tetapi lebih jauh lagi, kita harus memikirkan untuk apa hidup ini? Bagiku olah raga adalah salah satu upaya untuk menjawab pertanyaan ini. Hidup tidak cukup hanya sekedar bagaimana kita mendapat dana, namun juga mulai bagaimana bisa memperoleh dana dengan kesehatan yang mendukungnya.

Sebagai seorang lelaki aku punya tiga peran sekaligus yang tidak boleh ditinggalkan salah satunya, ketiganya harus dilakukan, seiring sejalan, seimbang, seirama. Ketiga peran itu adalah: Sebagai Suami, Sebagai Bapak, dan Sebagai Makhluk Sosial (yang punya peran dibidang kemasyarakatan, sebagai Agent of Change dari masyarakat. Change di sini tentunya bukan hanya sekedar Berubah tetapi Berubah Menuju Kesempurnaan Hidup). Tidak boleh ada peran yang tertinggal dalam hidup ini, tiga peran tersebu harus jalan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Artinya saya bekerja tidak hanya saya bekerja mencari uang, tetapi bagaimana pula saya mengurus anak-anak saya sebagai kegiatan dalam melakukan peran Sebagai Bapak.

Semoga selamat sampai tujuan. Tujuan itu adalah Selamat di Dunia dan Selamat di Akhirat!

12 December 2007

Malam Apresiasi FAST

Setelah pada tahun 2006 terbentuk Forum Alumni STT Telkom yang disingkat dengan FAST untuk menggerakkan alumni sesuai dengan arti Indonesia dari istilah Bahasa Inggris FAST yang berarti CEPAT, setelah sebelum didorong-dorong untuk membuat wadah formal bagi par alumni STT Telkom, semboyan saya dengungkan adalah: dari alumni, oleh alumni dan untuk alumni; jangan dulu memikirkan STT Telkom, yang lebih penting adalah bagaimana memikirkan organisasi alumni yang mumpuni. Sebuah bentuk kegiatan pertama kali yang dapat dilihat publik adalah Malam Apresiasi FAST yang diadakan di sebuah tempat yang amat mewah dan gebyar, yaitu: Ball Room Grand Hyatt pada tanggal 7 Desember 2007.

Acara yang menghadirkan beberapa orang top di dunia Telekomunikasi Indonesia, seperti Bapak Dirjen Aplikasi Telematika Departemen Kominfo, Garuda Sudargo yang mendapatkan penghargaan sebagai pembuat perusahaan teknologi seluler, Dedi Suherman alumni STT Telkom yang bekerja di Telkomsel, Bapak Didit dari Motorolla, dan juga Juru Bicara kepresidenan Andi Mallarangeng. Hadir tak kurang dari 400 orang alumni.

Ketersebaran tempat bekerja alumni membuat gempita malam itu mempunyai arti tersendiri, ada alumni yang bekerja di operator telekomunikasi, industri manufaktur telekomunikasi (ICT), dan juga terdapat alumni yang membuat badan usaha sendiri, mulai dari software house, pembangkit NSP, pengantaran logistik. Bahkan Bapak Dirjen mengatakan 60% aplikasi e-gov yang beredar di Indonesia pasti melibatkan alumni STT Telkom. Keluarbiasaan kembali dari alumni adalah sudah ada juga alumni yang bekerja di pemerintahan. Inilah gebyar dari dunia ICT Indonesia.

STT Telkom pun saat ini telah banyak menjadi acuan dari industri untuk mencari tenaga kerja, tak kurang dari sekitar 20 perusahaan ternama di Indonesia mencari tenaga kerja di STT Telkom. Dan banyak pula industri yang mencoba menjalin kerjasama dengan STT Telkom. Tentunya hal ini akan membuat alumni STT Telkom semakin kinclong di dunia ICT di Indonesia.

Karena untuk hadir dalam acara ini, saya mendompleng mobil Pak Imam, membuat saya tak bisa menolak untuk balik ke Bandung setelah acara eksekutif panelis selesai. Sekitar jam 22.30 kami balik ke Bandung. Padahal ada acara yang cukup seru juga, yaitu pembagian Doorprize.

Selamat! Para alumni membangun Indonesia yang maju, manusiawi, dan semakin mengerti kemana hendak tujuan diraih, bagaimana proses yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut, serta dasar berpijak mengangkat diri pribadi dan negeri.

Olah Raga Hari Ini

Alhamdulillah, hari ini Rabu 12 Desember 2007, saya masih mempunyai kesempatan untuk berolah raga. Lumayanlah mampu berlari mengelilingi lingkaran trotoar STT Telkom yang melingkari gedung D, C, E, F, H, dan G. Kata anak Astacala lingkaran ini sekitar 1,2km (heh anak Astacala! Bener gitu jarak ini?). Dengan dua kali lingkaran cukuplah dicapai jarak sekitar 2,4 km dengan waktu sekitar 15 menit.


Tentunya kriteria lari bukan dengan kecepatan yang seperti para atlet yang serius berlari. Saya hanya bisa berlari kecil sepanjang tidak mengubah dari lari menjadi jalan kaki. Inilah target saya. Tidak muluk. Sebenarnya saya masih hutang 15 menit lagi untuk lari-lari kecil ini. Target dari dokter minimal 30 menit.


Karena harus berada di Cipaku untuk menyusun Sistem Mutu Perguruan Tinggi di bawah naungan YPT lah yang membuat konsentrasi kurang baik. Berubah menjadi jalan kaki setelah 2 kali putaran, untuk melihat catatan waktu yang ada. Karena jam 08 harus segera berangkat ke Cipaku.


Kegiatan olah raga ini saya lakukan setelah pada hari Minggu 9 Desember 2008 dilakukan check cholesterol total yang dilakukan secara gratis oleh sebuah perusahaan penjual susu penurun cholesterol, dan menghasilkan data yang membuat saya tercengang, kaget dan gembira, yaitu ternyata di bawah 150, jauh di bawah ketentuan yang 200.

28 November 2007

STT Telkom Menuju Institut Teknologi Telkom

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) melalui direktur-nya yaitu Bapak Iwan Tresna Dermawan Kunaefi yang saat itu hadir di Pimnas di Universitas Lampung (Unila) meminta (mendesak) STT Telkom mengembangkan dirinya, dan saat itu pun sebenarnya wacana untuk mengembangkan STT Telkom menjadi Institut Teknologi Telkom sedang dimatangkan.

Perubahan ini akan berdampak positif bagi civitas academica, karena keinginan untuk tampil sebagai World Class University menyebabkan harus mempunyai yang dikenal di dunia internasional, yang biasanya bernama Institut (minimal) atau yang lebih terkenal adalah University. Dengan mempertimbangkan berbagai alasan, kesiapan, dst, akhirnya ingin mengubah diri menjadi Institut.

Persyaratan dari Dikti adalah Institut harus memiliki minimal 7 program studi, maka harus dibentuklah program studi tersebut, dan jumlahnya sudah cukup daripada persyaratannya, yaitu:
1. S1 Teknik Telekomunikasi (yang sejak awal sudah ada)
2. S1 Teknik Industri (idem)
3. S1 Teknik Informatika (mulai tahun 1992)
4. D3 Teknik Telekomunikasi (mulai tahun 1993)
5. D3 Teknik Informatika (mulai tahun 1993)
6. S1 Teknik Komputer (mulai tahun 2007)
7. S1 Teknik Elektro (mulai tahun 2007)
8. S1 Sistem Informasi (sudah disetujui, tetapi belum ada SK)
9. S1 Teknik Perangkat Lunak (sudah disetujui, tetapi belum ada SK)
Jadi? Semakin ramailah STT Telkom (heh... Institut Teknologi Telkom, nama ini pun sudah disetujui oleh Dikti, tetapi belum ada SK juga)

Kalau menurut Shanghai Jao Tong University kriteria sebuah Perguruan Tinggi berkriteria WCU ada empat, yaitu:
1. Penghargaan Nobel atau Field Medal untuk alumni
2. Penghargaan Nobel atau Field Medal untuk dosen
3. Riset diacu secara internasional
4. Performance antara mahasiswa dan dosen yang bertaraf internasional

Kapan STT Telkom mampu mencapai predikat ini? Mungkin masih mengambil acuan dari Dikti saja, yaitu:
1. Ada kerjasama dengan Perguruan Tinggi ternama dari Luar Negeri
2. Ada mahasiswa asing
3. Ada kelas berbahasa internasional

Walaupun target STT Telkom tidak terlalu muluk, cukup masuk ke dalam 500 ranking dunia yang disampaikan oleh THES-QS. THES menggunakan 4 kriteria utama dalam menentukan skor rangking universitas di dunia, yaitu:
1. Kualitas Penelitian (Research Quality)
2. Kesiapan Kerja Lulusan (Graduate Employability)
3. Pandangan Internasional (International Outlook)
4. Kualitas Pengajaran (Teaching Quality)

Semoga berhasil!!! Dan selamat sampai 2017

22 November 2007

Link and Match

Konsep link and match telah dikumandangkan sejak tahun 1990-an. Saat itu wacana yang muncul Perguruan Tinggi hanya sekedar menyiapkan lulusan yang siap training, siap dimodifikasi, dan siap ditambahkan ilmu. Padahal tuntutan para pengguna lulusan Perguruan Tinggi adalah siap pakai, siap bekerja, dst. Intinya industri tidak ingin hanya sekedar terkena beban kembali, dengan biaya yang cukup tinggi, untuk selain memberi gaji pada karyawan juga harus mengeluarkan dana yang cukup besar untuk kembali melatih.

Memang perdebatan pun sengit terjadi banyak pihak yang berkomentar, konsep menyiapkan lulusan Perguruan Tinggi siap bekerja adalah nonsen dan tak mungkin terjadi. Dari pihak Perguruan Tinggi ternama pastilah tetap dengan gaya lama, yaitu menyiapkan para mahasiswa untuk setelah lulus, siap mengembangkan ilmunya dan mudah mengikuti keinginan pengguna untuk dilatih secara praktis. Kesannya bekerja adalah kegiatan amat teknis dan praktis saja. Padahal bekerja ada beberapa level mulai dari sangat teknis (mengetik, mengarsip, dll) hingga level strategis bagaimana membangun pasar, menciptakan image bahwa produk yang dihasilkan adalah sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Di sisi lain, produk dari Perguruan Tinggi menghasilkan sesuatu yang amat berharga dan bukan hanya sekedar kertas tanpa makna, yaitu produk kepakaran, produk pemikiran dan kerja laboratorium. Produk-produk ini masih sangat jarang dilirik oleh industri di Indonesia. Produk kepakaran yang sering dipakai adalah yang bersifat konsultatif. Tetapi produk hasil laboratorium belum di akomodasi dengan baik.

Kenyataan-kenyataan yang demikian ini mendorong diperlukannya kedekatan antara industri dengan Perguruan Tinggi, baik kedekatan dalam makna emosional maupun kedekatan dalam makna sejalannya pemikiran pengembangan Sumber Daya Manusia yang sesuai dan sepakat diminta dan dipenuhi oleh Perguruan Tinggi dan industri. Kedekatan tersebut dapat dibangun karena memang secara fisically memang dekat, membuat satu kawasan antara Perguruan Tinggi dengan Industri, maupun dalam makna komunikasi yang cukup intens.

Memang semua ini hanya mungkin dicapai melalui komunikasi yang terus menerus, sedangkan dari industri pun tak ragu untuk meminta ke Perguruan Tinggi. Sedangkan dari Perguruan Tinggi tak ragu pula untuk mendatangi industri. Memberikan berbagai kemampuan yang ada, mampu menyampaikan berbagai kemampuan yang dibutuhkan.

Contoh dari negeri jiran, yang melaksanakan konsep link and match antara Perguruan Tinggi dengan industri adalah UPM (Universiti Putra Malaysia, dulunya Pertanian) dengan Sightech (Significant Technologies sdn bhn). UPM berhasil dengan risetnya mengembangkan device yang menambah kinerja dari Fiber Optic menjadi berkali lipat, sedangkan Sigtech memproduksi menjadi barang yang dapat diproduksi secara massal.

Kedekatan yang bermakna demikian inilah yang mesti diwujudkan, bukan hanya sekedar diperbincangkan, dan didiskusikan.

Dalam kaitan yang demikian inilah STT Telkom terus mendekati industri dan beberapa industri pun menghampiri STT Telkom. Untuk menjalin komunikasi yang baik, sehingga dapat dicapai kesepahaman yang setara dan saling memahami. Industri hadir dalam bentuk kegiatan executive gathering untuk memberikan masukan apa yang dibutuhkan oleh mereka. Mereka (industri) tidak hanya butuh hardskill (kemampuan technical) saja, melainkan pula kemampuan softskill yang bermakna bagaimana membangun hubungan inter dan intra personal juga. Di pihak lain, STT Telkom pun merancang dibentuknya techno park suatu kawasan industri dan/ atau kegiatan administrasinya (office) yang masih menyatu dengan STT Telkom. Beberapa industri yang sudah menyatakan minatnya untuk mengisi kawasan ini adalah: Jasnita Telekomindo, dan Sigtech Malaysia. Semoga konsep kesatuan dalam bentuk istilah link and match dapat terwujud di STT Telkom. Semoga...

19 November 2007

Kumpulan Alumni

Sungguh gempita di Jalan Ganesha dan sekitarnya mampu mengalah hujan rintik-rintik pada siang dan sore hari. Jalan Ganesha di penuhi tak kurang dari 4000 orang alumni. Sungguh jumlah yang tergolong luar biasa dibanding kegiatan sejenis pada waktu-waktu sebelumnya. Dan se Indonesia lebih dari 9000 orang alumni yang memberikan hak suaranya untuk satu hajatan yang biasa terjadi yaitu: Konggres Alumni dan Pemilihan Ketua Umum yang baru, dan hasilnya sungguh pula mencengangkan diri nyaris menembus angka 50% pemilih (lebih dari 49%), memilih Hatta Rajasa yang saat ini menjadi Menteri Sekretaris Negara.

Gempita ini mesti dibarengi dengan sesuatu yang harus dibuktikan. Selama ini para calon selalu menyampaikan apa yang akan dilakukannya ketika terpilih. Dari Betti Alisyahbana menjanjikan akan keluar dari IBM jika terpilih menjadi Ketua. Dari Hatta Rajasa menjanjikan akan memberikan bantuan untuk lab-lab yang ada di ITB. Dari Zaid menjanjikan yang muda yang progresif. Dari yang lainnya saya kurang tahu.

Tentunya janji-janji ini harus dibuktikan untuk waktu-waktu mendatang. Dan biasanya ketua ikatan alumni tak memenuhi janjinya, seperti Laksamana Sukardi yang saat itu menjanjikan dana dengan angka menyentuh M, namun segera diralat oleh beliau bahwa tidak benar, beliau menjanjikan dana yang segitu. Ha ha ha...

Lain dari itu, mestilah sebagai penggede di dunia akademik tingkat tinggi (kan mereka lulusan perguruan tinggi) berfikir bukan lagi hanya sekedar Perguruan Tingginya yang dipikirkan melainkan negeri yang sakit ini terasa begitu sakit. Karenanya jalinan antar ikatan alumni perguruan tinggi haruslah dilakukan, banyak perguruan tinggi yang ada di Indonesia, walaupun biasanya hanya menyebut 5-10 Perguruan Tinggi dan khususnya Perguruan Tinggi Negeri, padahal di luar itu terdapat ribuan Perguruan Tinggi Swasta, tak kurang 2600 Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia yang telah terdata di Direktorat Jenderal Dikti.

Mengapa jalinan ini penting? Bukankah kehidupan para lulusan perguruan tinggi amat beragam? Bukankah banyak lulusan perguruan tinggi yang melakukan kesalahan dalam prosedur kehidupan bernegara? Bukankah banyak pula lulusan perguruan tinggi yang mampu menjadi penggerak wilayah atau tempat mereka bekerja? Mengapa tidak dilakukan sinergi antar mereka? Sudah saatnya lulusan perguruan tinggi juga berbuat lintas bidang, tidak lagi hanya sekedar mengurus bidang yang digeluti saja namun berfikir pula untuk menentukan arah pendidikan yang sekarang kacau balau? Di Bali kemarin dalam Rapat Nasional Aptikom, terungkap terdapat data bahwa begitu banyak lulusan, namun dilain pihak begitu banyak kebutuhan lulusan, sehingga data ini tidak nyambung, mengapa? Inilah yang mesti dicari para pengurus ikatan lulusan perguruan tinggi, mengapa hal tersebut terjadi? Bagaimana solusinya?

Saya pribadi pun ingin FAST memberikan ucapan selamat kepada Ketua IA-ITB yang baru sebagai salah satu bentuk mulai menjalin komunikasi antar ikatan alumni. Monggo...

12 November 2007

Akankah Negeri ini Rusak?

Ini sederet catatan yang ada dari saya tentang kondisi yang bersifat negatif dari negeri ini, mestinya aku tulis dengan lebih panjang sehingga jelas maksudnya, namun waktu menulis yang rasanya semakin sempit, mempersulit saya menuangkan gagasan dengan baik:

Bencana Tak Kunjung Henti
- Tsunami
- Gempa Bumi
- Banjir
- Longsor

Bencana Sumber Daya Alam
- Pengekspor yg Menangis karena Harga Naik, Kok Aneh?
- Sumber Daya Alam dikeruk Asing dgn Penipuan, Tak Mampu
Kita Menolak, Mengapa?

Bencana Transportasi
- Kereta Api: Loko tua? Pencurian Baut, Gergaji Rel
- Laut: Over Load, Kapal Mogok
- Mobil Penumpang Umum: sopir tak sadar, pembangunan jalan
yang macet, tanpa jaminan membuat kelancaran
- Mobil Pribadi: produksi tanpa henti, tanpa meng-grounded
mobil yang kedaluwarsa
- Pesawat Udara: hilang berbulan-bulan, ketika ketemu tak
mampu membuat kesimpulan sendiri, harus dibawa pada
produsennya, jujurkah?

Kepemimpinan yang Tak Jujur
- Darimana dana pimpinan?
- Struktur Penggajian yang Menyebabkan Korupsi Abadi

Perekonomian
- Judi dilarang, kecuali yang Tak Mampu Dilarang
- Pendapatan Kecil, membuat Stress, Biaya Hidup Mahal
- Pendapatan Atas, tanpa Batas
- Barang Yang Tak Aneh Dianggap Aneh, Harga Tak Wajar
- Harga Tak Menunjukkan Barang/ Jasa

Internasional
- Negeri yang dilecehkan Jiran
- Daerah Perbatasan: tak jelas arah mengarah
- Silakan ambil hasil karya kami, kami tak mampu mengurusnya
- Dipercaya untuk Mematuhi Kehendak G8

Pendidikan
- Tak Jelas, Arah Hendak Diraih
- Antara Konsep dan Kenyataan Tak Tersambung
- Pendidik, harus Nyambi
- Riset? Mimpi para Pimpinan pendidik

Jadi? Apa masalahnya?
- Dari Pimpinan Puncak
- Jaringan Kepemimpinan
- Dari Pimpinan Terbawah

Adakah Solusi?
- Yang Bersih Yang Muda
- Potong Generasi, mengapa Perlu? Dan Bisakah?

25 October 2007

Kesehatan

Usia yang menginjak kepala empat membuat banyak orang mengatakan sebagai usia yang paling matang. Setelah itu, yang ada adalah kondisi menurun atau tetap segitulah kemampuannya. Namun bersamaan dengan kematangan tadi, penyakit-penyakit orang tua pun mulai bermunculan.

Rasanya saya sangat ingat ketika tahun 2000 sedang shaum ramadhan saya sakit di kaki yang menyebabkan saya sulit untuk berjalan kaki, sehingga untuk ke dokter pun harus minta bantuan disopirin sama temen yang sedang off dari kegiatan. Kaki yang sakit di telapakan, dan rasanya luar biasa cekot-cekot. Jangankan dipakai untuk berjalan kaki, kena sandal japit pun sudah terasa sakit, walaupun belum ditempelkan ke lantai.

Telah berulang kali rasa sakit yang demikian terjadi, dan biasanya segera diobati dengan penurun asam urat. Pernah kejadian ketika sedang sakit yang di rumah tinggal pembantu dan anakku yang paling kecil. Pembantu nggak mungkin saya panggil untuk menemani, karena dia perempuan, dan saya memang sungkan untuk berkomunikasi dengan perempuan, kecuali kepada istri dan anak-anakku. Saat itulah rasa sakit yang luar biasa timbul, rasa sakit yang menjalar sampai air mata keluar dengan sendirinya tak mampu ditahan. Anakku yang di kamar tak sanggup melihat bapaknya menahan sakit yang demikian ini, dia keluar kamar. Suara bapaknya sudah tidak jelas antara menahan tangis ataukah menahan menangis. Itu kejadian yang paling berkesan dengan sakit asam urat ini.

Kebiasaan menganggap bahwa setiap kejadian sakit adalah kambuhnya asam urat membuat, selalu begitulah adanya. Selalu diberi obat asam urat, kejadian terakhir tanggal 8 Oktober 2007 demikian juga adanya. Sakit lagi, dan obat pun minta ke dokter melalui istri, tanpa kehadiranku di hadapan dokter tersebut. Ternyata nyaris tiga hari rasa sakit masih tak mampu diatasi. Kecurigaan memang ada, aku lihat bengkak kaki berbeda dari biasanya, bengkak ini melebar dan terasa lunak, seperti berisi air.

Alhamdulillah, bangun subuh menjelang sholat Ied rasa sakit terasa menurun, ringan, ampang, sehingga aku bisa mengajak istriku untuk sholat ied. Usai sholat ied ternyata mulai terasa sakit kembali. Demikianlah adanya sakit, agak sehat, dan sehingga bisa masuk kantor pada tanggal 22 Oktober 2007. Selesai mengajar rekan kantor mewanti-wanti, jangan-jangan bukan asam urat. Kekuatiran yang lama terpendam dan masukan beberapa rekan yang boleh jadi bukan asam urat, namun ginjal, kolesterol, dll meliar-liar di kepalaku kembali. Sehingga Selasa 23/10/2007 ke klinik Kimia Farma, di klinik inilah saya ngotot untuk minta rujukan ke lab, bukan untuk diobati. Kendala aturan untuk melihat kolesterol dan juga fungsi ginjal, harus puasa minimal 10 jam, membuat pengambilan sample lab tidak bisa dilaksanakan hari itu juga. Hari Rabu pagi akhirnya terjadilah pengambilan sample darah dan malam harinya keluar hasil membuat kami (saya dan istri), ternyata asam urat jauh lebih sehat dibanding batas atas sehat. Dan yang jadi momok itu telah lepas, yang dianggap bukan ternyata jadi momok, yaitu kolesterol yang demikian tinggi telah 50% lebih tinggi dibanding data yang disebut sehat. Lihatlah tabel di bawah ini pengambilan sample darah pada bulan Oktober 2007, bahkan trigliserida demikian tingginya nyaris 2 kali lipat dari kondisi normal.


24/10/07 23/12/06
Asam Urat (3,4-7.0) 5,2 7,2
Kolesterol Total (<200)>311 257
Kolesterol HDL (>35) 47 56
Kolesterol LDL (<130) 207 162
Trigliserida (<150) 285 197

Seperti biasa berbagai saran pun kemudian mengalir, dari dokter harus lebih sering olah raga, jangan makan makanan yang berlemak, dari teman sekantor kurangi karbohidrat, dari temen sekantor yang lain banyak minum. Yang motivasi utamanya adalah kalau bisa jangan sakit atau jangan sampai mati.

Padahal takdir sakit dan mati itu sudah ada. Yang ada mestinya adalah motivasi bagaimana dengan kondisi yang demikian ini ibadah kita semakin meningkat, termasuk ibadah berobat dan ibadah menjaga kondisi fisik yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Mestinya hal ini yang lebih muncul dalam segenap saran dan kesempatan.

Bukankah sudah ada contoh yang sangat fenomenal, dalam kondisi paru-paru tinggal satu yang berfungsi normal, maka selain mengupayakan pengobatan, Jenderal Sudirman masih ikut serta memimpin perang gerilya? Bukankah ini contoh yang mesti diteladani dan diikuti. Bukan malah mengurangi/ menambah aktifitas karena kuatir tambah sakit dan kuatir nanti mati? Justru karena takut pada kematian yang demikian dekat, mestinya semakin memperbanyak amal sholeh? Motivasi-motivasi yang kurang jelas arahnya semakin dihindari, sehingga memunculkan motivasi yang benar-benar benar, bukan motivasi yang mengandung keraguan, sehingga mampu mencapai kondisi kejiwaan sebagai nafsun mutmainnah?

Inilah mestinya pertanyaan yang lebih sering timbul, takutlah mati karena ingin meningkatkan kondisi diri, memperbanyak amal sholeh, selalu mawas diri, selalu mengevaluasi diri dengan kriteria evaluasi diri yang jelas dan nyata, bukan mengevaluasi diri dengan kriteria yang tak jelas dan kabur maknanya. Bangunlah wahai fisik-ku, segerakan jiwa membangun motivasi yang lurus dan benar, gerakkan fisik karena menyongsong kematian yang memang demikian dekat. Ayo! Bergabunglah bersama-sama orang yang sudah jelas ke arah mana tujuan hendak diraih...

Ya, Allah, pandaikanlah kami. Sehatkanlah kami, karena dengan sehat kami lebih banyak lagi amal ibadah yang mampu kami tempuh. Ya, Allah, ampunilah dosa-dosa kami. Amiin

23 October 2007

Divide et Impera

Pulang mudik kali ini, aku menyempatkan berkumpul dengan mahasiswaku yang berasal dari Pati, dan memang rasanya inilah yang lebih aku tuju. Mereka telah mengundang beberapa hari sebelumnya bahwa mereka akan berkumpul pada hari Senin, 15 Oktober 2007, dan aku minta jangan terlalu siang, karena kuatir aku datang terlambat. Dan alhamdulillah mereka setuju untuk mengubah jadwal menjadi setelah Maghrib.

Kondisi fisik yang sakit, kemungkinan asam urat kambuh, memang membuat aku ragu untuk hadir ke Pati, karena waktu tempuh perjalanan yang lama, nyaris 14 jam atau 8 jam jika kondisi lalu lintas kosong. Namun sifat ingin selalu kumpul dengan generasi muda yang lebih fresh yang lebih mempunyai idealisme dibanding yang sudah tua-tua, menyebabkan aku sedikit memaksakan diri untuk hadir di Pati.

Alhamdulillah, kami berhasil sampai sebelum acara benar-benar dibubarkan, acara utama tentunya makan malam, dan semua tamu beserta tuan rumah sudah selesai makan. Kami datang sekitar jam 20-an yang memang sudah wajar hal itu terjadi.

Pertemuan ini membawa berkah tersendiri, betapa tidak kesulitan warga Indonesia bekerjasama agak sedikit terjawab, dalam pertemuan ini. Kami mendapatkan masukan dari orang tua mahasiswa yang sempat menjadi polisi dan kemudian undur diri dini, karena alasan yang kurang jelas aku terima, mungkin pendengaranku agak kurang, karena menempuh perjalanan selama 14jam. Intinya beliau memilih undur diri dari kepolisian karena budaya di keluarganya yang memang tidak menginginkan untuk berada dalam birokrasi.

Beliau menyampaikan pendapatnya: mengapa bangsa Indonesia demikian ini adanya?
  1. Penduduk menerima kondisi kesengsaraan yang tak ada habisnya akibat pimpinan yang tidak ikhlas mengelola negeri. Mestinya pimpinan mengambil peran yang utama, sehingga pengangguran tidak meningkat, yaitu dengan ikhlas hati mengelola negeri ini.
  2. Kesatuan dan persatuan hanyalah sebuah angan-angan, karena telah ratusan tahun diupayakan untuk tidak bersatu dengan politik Belanda, yaitu Divide Et Impera. Belanda memang sengaja dan terus berusaha agar langgeng kekuasaannya, dengan cara membenturkan pejuang Idonesia dengan orang Indonesia yang telah mampu dibeli oleh Belanda, melalui jabatan, duit dan fasilitas yang lain. Dan bekas penjajahan yang demikian ini ternyata tidak berkurang hingga sekarang. Karena orang Indonesia belum benar-benar mampu menemukan kesamaan yang mampu mempersatukan mereka.
Memang Belanda tidak usah disalahkan, mereka memang sudah salah, yang menjadi persoalan sekarang adalah bagaimana caranya supaya kita mampu menghilangkan ilmu Belanda itu, sehingga kita mampu bekerjasama, mampu mengelola negeri ini dengan sebaik-baiknya. Kekuatan dalam jalinan yang kokoh bukan pada kekuatan orang yang paling kuat, tetapi ada pada orang yang paling lemah. Kelebihan jika dikumpulkan dengan tepat akan membawa kekuatan yang lebih kuat lagi, sehingga kelemahan akan terkurangi karenanya.

Belanda memang licik, namun tak perlulah kita sebut yang demikian ini, yang kita perlukan sekarang adalah bagaimana kita mampu sadar diri, kelebihan kita pastilah ada kekurangannya, sehingga kita mampu menerima kelebihan orang lain untuk dapat membuat sebuah kekuatan yang amat dahsyat. Apa itu?

22 October 2007

Alun-alun Pati

Kabupaten Pati mempunyai karakter yang berbeda dari daerah pesisir yang lain dan sekaligus sebagai daerah transit menghubungkan Jakarta-Surabaya. Tegal yang berhasil semarak dengan Mall dan Super Marketnya, dan keluar watak kemodernannya lebih dahulu. Rembang keluar dengan wisata air lautnya dengan Taman Kartini, dan pendudukanya tetap menghuni dengan baik.

Pati mempunyai karakter sebagai kota Pensiunan, anak-anak mudanya keluar, mengembara. Nyaris Pati ditinggalkan oleh anak-anak mudanya, dapatlah dikatakan hampir 80% anak
mudanya mengembara mencari pakan, sandang dan papan di tempat lain. Namun kerinduan membangun karakter tempat kelahiran tak pernah lekang pula dari benak para alumni
yang pernah tinggal di Pati. Dan inilah yang menjadi daya tarik Kabupaten Pati. Kekunoan Pati akan membuat para alumni akan kembali ke kampungnya.

H+4 kami hadir di alun-alun Pati untuk menyerap rasa dan kepercayaan tentang kehidupan Pati. Dan alhamdulillah, terasa betapa hiruk pikuk alun-alun yang disulap dengan berbagai jongko penjual berbagai pernak-pernik khas pedagang kaki lima dapat dirasakan. Ada yang menjual Soto Kemiri, Nasi Gandul, Martabak Telur, Komedi Putar, Sepatu Sandal, Arum Manis, Bakso, tak ketinggalan pula makanan khas daerah lain Empek-Empek yang telah dimodifikasi ala Pati yang mengandung bala-bala (istilah Bandungnya), Batagor, Mainan China, Mie Ayam, Es Buah, dll.

Ada foto-foto yang diambil dengan menggunakan Camera HP merk HiTech dengan kemampuan 2MegaPixel.

Pati dengan slogannya Mina Tani, memang belum menunjukkan karakter slogan ini, walaupun mungkin jika ada data yang sajikan oleh Pemda, akan membuat saya terperangah, namun
itu belum terlihat. Mina yang berarti ikan dan produk ikan, dan tani yang berarti pertanian dan produk pertanian, tak begitu muncul sebagai karakter. Memang dari sisi tanaman kacang tanah, kita telah mengenal produk ini, melalui merk Kacang Garuda dan Kacang Dua Kelinci, yang telah
mengindonesia penyebarannya.

Keramaian Kota Pensiunan tentunya akan muncul ketika para alumni tempat tinggal kembali ke kampung halamannya. Berbagai plat nomor kendaraan roda empat maupun roda dua
muncul di alun-alun Pati ada pelat nomor B, D, DK, H, BH, L, AD, S, BE, dll yang menunjukkan orang-orang Pati telah balik dari perantauan. Ajang kumpul di alun-alun menjadi sarana silaturahim yang lain, selain acara silaturahim yang formal, kunjungan rumah ke rumah, ataupun acara resmi yang diselenggarakan oleh perkumpulan. Saya pun ketemu orang tetangga di Bandung di tempat ini.

Dengan kembalinya orang-orang di perantauan mempunyai dampak yang positif bagi tumbuhnya ekonomi daerah. Otonomi yang telah diundang-undangkan menjadi bagian yang menarik dari tumbuhnya daerah. Jalan-jalan di kampung sudah berasal, meskipun dengan lebar yang kurang memadai, hanya selebar satu mobil minibus dan dua sepeda motor berjejer.

Harus dan memang harus dipahami dan dimengerti bahwa pembangunan yang lebih menonjolkan pusat membuat daerah jauh tertinggal dengan pusat, saat awal saya ada di Bandung mendapatkan data yang cukup mencengangkan 80% dana se Indonesia hanya beredar di Jakarta, itupun 10% lagi beredar di kota-kota besar yang lain, seperti Surabaya dan Medan,
sisanya yang hampir 90% luas wilayah Indonesia hanya kebagian 10%. Betapa timpangnya kondisi ekonomi Indonesia saat itu, sehingga wajar toh orang-orang daerah yang punya
semangat hidup yang lebih besar mempunyai keinginan yang kuat untuk hadir di kota-kota besar, bahkan sampai saat ini, ketika Gubernur DKI dengan keras memerangi para pendatang dengan skill yang kurang mencukupi, tetap saja mengalir urbanisasi. Bisa kita bayangkan dengan berdiri di perempatan di Jakarta uang 50ribu Rupiah sehari mudah diraih, sedangkan di kampung menjadi buruh tani mendapatkan 50ribu Rupiah sehari hampir tidak masuk di akal.

Semangat kaum urban memang berbeda, jiwa ingin maju, jiwa ingin membuka peluang, dst tumbuh dengan kuat dan kokoh. Di daerah rantau boleh jadi mereka hidup tidak begitu baik,
tinggal di rumah tipe 21, namun begitu pulang kampung, rasanya mereka sanggup untuk membeli seluruh kota, inilah ibaratnya, harga-harga yang agak lebih murah, untuk bahan-bahan khas kampung.

Kondisi yang demikian ini mestinya semakin meyakinkan kita bahwa ada sesuatu yang salah dalam dasar berpijak negeri ini, yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin. Bukan
menghilangkan kemiskinan targetnya, namun memeratakan kesempatan dan peluang berusaha yang lebih ditonjolkan. Kesalahan yang memang telah terjadi, namun apa yang mesti diperbuat?

02 October 2007

Liberalisasi Pendidikan

Selama dua hari saya ditugaskan kantor untuk mengikuti Pelatihan Penyusunan Offers and Requests dalam menghadapi berlakunya Liberalisasi WTO. Memang sudah tidak bisa ditolak lagi kenyataan berlakunya perdagangan bebas di beberapa Negara yang tergabung dalam WTO, dan organisasi kawasan bebas dagang, baik ASEAN, maupun Asia Pasifik.

Kepala Negara telah menandatangani perjanjian ini, mestinya untuk tingkat ASEAN berlaku sejak 2003, namun sebuah kenyataan tahun-tahun tersebut Negara-negara di kawasan ASEAN sedang mengalami kondisi yang tidak begitu baik, yaitu terjadinya krisis, namun tanda tangan kembali telah dilakukan dan untuk tingkat ASEAN berlaku mulai tahun 2015.

Kawasan bebas dagang menghendaki setiap Negara yang tergabung dalam kawasan itu untuk saling memasuki wilayah dagang Negara lain dengan lebih fair dan saling menguntungkan. Setiap Negara boleh menetapkan sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi oleh Negara yang ingin berdagang di Negara dalam satu kawasan bebas dagang tersebut. Tentunya Negara ini akan terkena pula persyaratan dari Negara lain yang ingin dimasukinya.

Ada lima atau enam Negara asing berminat untuk berdagang di Indonesia di bidang Pendidikan Tinggi, yaitu: Australia, New Zealand, Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropa. Mereka berminat dalam bentuk kerjasama dengan perguruan tinggi swasta. Mereka tidak berani masuk ke perguruan tinggi Negeri. Entah alasannya belum begitu jelas.

Karenanya pelatihan yang diadakan oleh Ditjen Dikti Depdiknas pun peserta yang diundang hanya dari perguruan tinggi swasta. Ada 36 perguruan tinggi yang diundang, namun yang hadir sekitar 30-an (angka tepatnya saya kurang tahu).

Jika dikelompokkan ada tiga perguruan tinggi yang mencoba menanggapi fenomena yang baru akan dilaksanakan ini, yaitu: kelompok Liberal, kelompok Optimis-Pesimis, dan kelompok Pesimis.

Kelompok Liberal menghendaki benar-benar menginginkan kebebasan tanpa persyaratan tertentu bagi Perguruan Tinggi dalam Negeri yang ingin bekerjasama dengan asing dan juga tanpa persyaratan bagi perguruan tinggi asing yang ingin berdagang di Indonesia. Kelompok ini dipelopori oleh perguruan tinggi swasta yang selama ini telah menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi asing dan telah memperoleh manfaat dari menjual program pendidikan asing. Tak perlu saya menyebutkan perguruan tingginya.

Kelompok Optimis-Pesimis, kelompok ini menghendaki dan ingin sekali agar perguruan tinggi asing hadir di Indonesia dan merasa amat bermanfaat kehadiran mereka, namun mengingat banyak pengalaman yang ternyata tidak sebagaimana yang dipahami oleh masyarakat. Karenanya banyak persyaratan yang harus diajukan. Salah satunya adalah asing dapat membuka perguruan tinggi di tempat yang masih belum maju, seperti Indonesia Bagian Timur maupun pada bidang-bidang yang selama ini sulit peminat. Bidang yang sulit peminat, misalnya adalah Sains. Sains sangat penting bagi peningkatan kemampuan bangsa dalam menopang teknik (teknologi), namun di Indonesia dianggap tidak laku di pasaran, sehingga sepi peminat. Dia harapkan asing dapat meningkatkan bidang ini. Selain itu ada pula perguruan tinggi yang ingin melakukan kerjasama dengan luar Negeri, namun saat ini masih dalam tahap perintisan.

Kelompok Pesimis, mengangap kehadiran perguruan tinggi asing akan menghancur leburkan perguruan tinggi yang ada di Indonesia saat ini. Mengingat beberapa perguruan tinggi di Indonesia saat ini ada yang kesulitan untuk mendapatkan mahasiswa. Ada yang dalam satu fakultas hanya mendapatkan 5 orang mahasiswa. Karenanya seandainya mereka hadir di bumi Indonesia, haruslah amat banyak persyaratan yang harus dipenuhi oleh mereka. Umumnya mereka dari perguruan tinggi yang terbilang kecil dan kurang terkenal.

Saat ini pun pemerintah telah membuat berbagai macam RUU untuk menyongsong berlakunya kawasan bebas dagang ini. Salah satu yang disosialisasikan saat itu adalah adanya klausul agar perguruan tinggi yang dapat dilibatkan dalam kerjasama dengan luar Negeri harus 60% program studinya meraih akreditasi A, walaupun peserta menolak ayat ini, karena menganggap akreditasi yang dilakukan oleh BAN PT belum benar-benar objektif, masih ada suara-suara yang menyatakan karena assessor yang satu memberikan akreditasi prodi dari assessor yang kedua bertingkat B, maka assessor yang pertama tersebut memberikan B pula bagi prodi assessor yang kedua. Jadi bukan karena alas an objektifitas tetapi karena alas an pribadi, selain itu terdengar pula suara, karena satu assessor membela sebuah prodi dengan sangat serius dianggap oleh anggota komite penentu akreditasi sebagai menerima uang saku dari perguruan tinggi yang diasesorinya.

Ketika di awal pelatihan rasanya banyak peserta yang agak pesimis dengan kerjasama ini. Namun setelah melihat dan mendengar beberapa perguruan tinggi yang telah melakukan kerjasama dengan asing memperoleh manfaat yang banyak, ternyata banyak peserta yang kemudian beralih menjadi sangat ingin untuk bekerjasama dengan asing, sehingga mampu memanfaatkan kondisi perdagangan bebas ini dengan baik.

Dari sisi peserta Pelatihan kebanyakan peserta menganggap bahwa mereka tidak mewakili institusi perguruan tingginya, sehingga mereka hanya mewakili sikap professional masing-masing saja.

Selamat datang asing hadir di Indonesia, walaupun ini bukanlah pertama kalinya mereka hadir di Indonesia, semoga membawa manfaat yang baik bagi bangsa Indonesia.

20 September 2007

Kumpulnya Alumni Gamais ITB

Sejarah memang telah mencatat kami sebagai pendiri Gamais ITB(Keluarga Mahasiswa Islam ITB), walau bagaimanapun itu telah menjadi ciri yang khas dan melekat pada kami. Memang hanya beberapa orang yang menjadi tim perumus, namun saat itu bertempat BLK Lembang (Balai Latihan Kerja) kami bersama-sama bermusyawarah, nyaris tanpa merasakan tidur untuk membahas: AD/ ART, kepengurusan awal, dan program kerja pertama.

Ketika sesi pembahasan nama dan singkatan, saya tidak setuju singkatan GAMAIS ITB, mengingati jika diplesetkan dengan memenggal kata IS, maka akuisisi ITB terhadap GAMA (Gajah Mada/ UGM) akan terjadi. Bukankah bunyinya menjadi GAMA IS ITB? yang berarti Gajah Mada adalah ITB? Namun kalah argumentasi yang menyebabkan tolakan saya tidak diterima forum, masalahnya alternatif singkatan nama belum ada.

Setelah bertahun-tahun meninggalkan aktifitas di kampus ITB, rasanya tidak ada lagi berita-berita tentang hal ini, atau mungkin lebih tepatnya tidak mengikuti perkembangan yang terjadi di kampus terhadap aktifitas Gamais ini. Memang kadangkala aku masih mendengar kegiatan Gamais, namun aku kurang konsen terhadapnya.

Suatu saat pemilihan Ketua IA ITB menggelinding dengan kencang, beberapa rekan menghubungi aku kembali untuk bermain-main dan bersilaturahmi kembali. Dan menghasilkan sebuah kenangan yang kembali mencuat: Dinginnya Lembang saat itu, semangatnya aku untuk mengubah diri dan dunia, teman-teman yang amat akrab dan bersahaja, dll.

Akhirnya para alumni Gamais mengundangku untuk hadir dalam pertemuan Konggres Alumni Gamais, yang saat itu karena kesibukan sebagai regulator dan administrator kemahasiswaan di STT Telkom, membuatku tidak sempat hadir. Dan menghasilkan sebuah nama yang kembali menurutku mudah diplesetkan pada arti yang jauh berbeda dari yang sebenarnya, yaitu: ALGAM, yang bisa diplesetkan sebagai Alumni GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Dan kembali pula aku tak mampu membendung nama-nama yang menurutku agak berbau berbahaya itu, saat kami berkumpul untuk bersilaturahmi menjelang bulan Ramadhan pada tanggal 9 September 2007 di kompleks Masjid Salman, yang oleh beberapa orang dianggap sebagai Pra Konggres menjelang Konggres yang kedua Alumni Gamais, sekaligus penetapan AD/ ART dan pengangkatan pengurus eksekutif ALGAM.

Sekarang kami rata-rata sudah berusia kepala 4 ke atas tentunya momen kumpul menjadi ajang saling bermaafan dan saling mengingatkan untuk terus berkiprah dan berbuat yang lebih baik, bagi diri, keluarga dan warga masyarakat Indonesia pada umumnya. Konggres yang diberi nama Silaturahmi Nasional Gamais akan diselenggarakan pada tanggal 3 Nopember 2007 di lingkungan ITB.

Kami ingin songsong Indonesia baru, Indonesia yang lebih manusiawi, Indonesia yang lebih berwibawa, Indonesia lebih memahami kondisi dan situasi para mustadh'affin. Semoga langkah kami dalam mewujudkan bendera Alumni Gamais mampu mewujudkan itu semua. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar.

Bilangan Riil Nol

Dalam bilangan riil dikenal sifatnya dalam bentuk selang sistem bilangan
riil yang padat tanpa sela sedikit pun, tidak ada bolong dalam selang bilangan riil, pada setiap bilangan riil, maka di sebelahnya juga terdapat bilangan riil, baik di kiri maupun di kanan.

Dalam sistem bilangan riil ini, saling bersebelahan antara bilangan rasional dan irasional. Bilangan rasional memiliki bentuk a/b dimana b tidak boleh sama dengan nol, dan jika dituliskan dalam bentuk desimal, maka akhir ekspresi desimal itu berupa bilangan yang berulang. Sebagai contoh:
2,34513451 terus berulang dibagian akhir 3451, bilangan tersebut diwakili dalam bentuk a/b oleh 23449/9999 yang dapat diperoleh dari rangkaian operasi berikut:

x=2,34513451 (1)
jika dikalikan dengan 10000 didapat:
10000x=23451,34513451 (2)
kemudian dikurangkan persamaan (1) dengan persamaan (2), didapat:
- 9999x=-23449
sehingga:
x=23449/9999

Sedangkan pernyataan desimal berakhir itu juga dapat diwakili dengan berulang nol, karena bilangan nol tak bermakna pada akhir dari setiap bilangan setelah tanda koma, maka lebih sering tidak dituliskan.

Keistimewaan untuk tidak membolehkan membagi dengan bilangan nol membawa kepada konsistensi konsep-konsep bilangan riil. Jika pembagian dengan nol, maka akan meruntuhkan konsep-konsep yang lain. Ilustrasinya sebagai berikut:

0x3=0x1 (pernyataan ini benar, karena ruas kanan akan bernilai 0 dan ruas kiri juga bernilai 0).

Jika diperbolehkan membagi dengan 0 pada kedua ruas, tentunya 0/0=1 sebagaimana 5/5=1, maka diperoleh:

1x3=1x1

berarti

3=1

sebuah kemustahilan konsep yang kokoh dari kehidupan selama ini, karena satuan dan bilangan dasarnya sama antara ruas kiri dan ruas kanan, tentunya tidak akan ada perbedaan simbol.

Walaupun bagaimanapun sebagian besar ummat manusia mengakui kebenaran 3=1 (walaupun dengan kesamaan bilangan dasar dan satuan). Mungkin salah satunya disebabkan keinginan untuk berbeda dengan konsep dan aturan yang selama ini disepakati
1 adalah 1, tidak mungkin 1 adalah 3 atau yang lain, selain 1.

Jika tetap diyakini berlaku kondisi pada paragraf di atas, tentunya tidak ada lagi konsep konsistensi kebenaran dalam segala bidang, kacaulah semua hal yang ada selama ini.

Semoga hal ini dapat disadari oleh kita semua untuk kembali kepada keinginan kita bersama untuk memulai hidup dengan konsistensi yang dapat dipertanggungjawabkan dan dipegang dengan baik, sehingga jelas yang benar dan jelas pula yang salah.

17 September 2007

Bekerjasama

Saat menghadiri Rapat Koordinasi Nasional APTIKOM (Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer) di Bali pada akhir bulan Agustus dan awal bulan September 2007 (31, 1, dan 2), Bapak Iwan Dermawan, Direktur Akademik Ditjen Dikti Depdiknas, mengungkapkan:
Dalam sebuah pertemuan yang dihadiri oleh pejabat-pejabat Pendidikan se ASEAN, beliau duduk berdampingan dengan wakil dari Singapore. Beliau berbincang dengan wakil Singapore tersebut, Indonesia tidak akan kalah dengan Singapore dalam hal kemampuan akademik, jika bermain satu lawan satu. Memang jika bermain secara tim, maka Indonesia akan kalah. Inilah karakter orang Indonesia, sulit untuk bermain secara cantik dalam satu tim yang kokoh, padahal kemampuan individualnya amat tinggi. Bukankah kita bisa lihat beberapa orang yang mampu memenangkan pertandingan di tingkat dunia? Contohnya Olimpiade Fisika maupun Olimpiade Informatika.
Dan tanpa jawaban pun sebenarnya Singapore telah mengakuinya, informasi yang saya peroleh dari pengurus Tim Olimpiade Matematika, bahwa para pemenang Olimpiade Sains yang diselenggarakan setiap tahun, mereka langsung ditawari beasiswa oleh NUS, padahal mereka adalah generasi potensial yang siap untuk bermain pada beberapa tahun mendatang. Singapore hanya memberikan ikatan dinas sampai usia 30tahun.

Ini pula salah satu kelemahan, mengapa bangsa Indonesia tak mampu melepaskan diri dari kondisi krisis yang terus pula terjadi hingga saat ini: kemiskinan yang semakin banyak, pengangguran yang meningkat, korupsi yang terus membumi, ketidakpercayaan industri tingkat dunia untuk investasi di Indonesia, pelecahan orang Indonesia di negara lain.

Ada satu kisah lagi, kisah sedih bagaimana orang-orang pintar Indonesia (orang berpendidikan) berkolaborasi untuk membuat tandon air. Di sebuah perguruan tinggi yang sudah amat terkenal di seantero pelosok Indonesia, para ahli berkumpul untuk membangun penampungan air yang diletakkan di atas. Ternyata butuh waktu bertahun-tahun (nyaris 3tahun) agar tandon air itu diputuskan dibangun dengan desain yang mereka sepakati bersama. Dan setelah jadi bangunannya ternyata banyak orang yang kemudian mengatakan: lha wong hanya membangun tandon air yang begitu saja kok butuh waktu yang amat lama.

Inilah salah satu kelemahan kita sebagai bangsa Indonesia, semakin tinggi kemampuan akademiknya, semakin tinggi pula kesombongannya, semakin sulit membuat titik temu ide diantara mereka.

Didalam pertemuan membahas kurikulum Perguruan Tinggi, sang peserta pertemuan yang saat itu, diminta menjadi pembicara di STT Telkom, mengungkapkan hal yang mirip juga, interupsi, penyamaan persepsi tentang istilah bisa menembus waktu nyaris 2 hari 2 malam, tidak selesai juga, selesainya bukan karena mencapai titik temu, tetapi karena batas waktu sewa ruangan di hotel, sudah habis.

Lantas, mana mungkin bangsa Indonesia mampu memjadi bangsa yang besar, jika para cerdik pandai di Indonesia, tak mampu mencari titik temu, titik-titik yang selalu dicari adalah perbedaan demi perbedaan, sehingga biaya jutaan rupiah habis, bukan dalam makna selesainya pembahasan, tetapi karena sudah habis dananya. Rasanya tidak akan mungkin bangsa Indonesia menyelesaikan masalah yang masih terus mengakangi jika kemampuan bekerjasama tidak bisa ditumbuhkan.

Makanya ada juga pendapat yang muncul sebelum masa Suharto menyatakan berhenti, yaitu dibutuhkan pemimpin yang diktator yang baik, yang punya visi dan misi yang bukan hanya fatamorgana, tetapi memang benar-benar nyata dan realistis.

Tentu, bukan ditunggu pemimpin yang demikian ini, namun diupayakan dan disongsong. Semoga Ramadhan ini, kita mampu membuka diri, sehingga hijab yang menutupi kebenaran Ilahi dapat terbuka dan memberikan makna hidup yang sebenarnya.

06 September 2007

Pantai Kuta di Suatu Sore


Kadangkala memotret mengandung factor keberuntungan yang cukup besar. Seperti apa yang terjadi ketika melakukan pemotretan di pantai Kuta Bali tanggal 31 Agustus 2007 ini.
Tak sengaja menghasilkan sebuah efek yang amat menarik. Pantai yang basah karena air laut yang segera surut menghasilkan pantulan dari langit yang cukup cerah, namun masih mengandung beberapa kumpulan awan. Laksana memotret menggunakan kaca pada bagian bawahnya, namun dengan ketidakrataannya pantai membuat efek yang cukup menarik pula. Terlihat pula cerminnya seperti berair dalam, padahal jika diamati dengan lebih teliti, ada orang yang berjalan kaki di atas air. Karenanya inilah pantai yang basah, bukan air laut yang dalam.
Foto ini diambil sekitar jam 15 WIT.
Foto ini dihasilkan menggunakan kamera digital merk Sony DSC-H2. Selamat menikmati. Waduh, ternyata susah di-upload

28 August 2007

Bekerjalah! Keluarlah!

Itu yang aku dapatkan ketika bertemu dengan rekan-rekan yang mengurusi tenaga kerja ke Luar Negeri.

Idenya diambil dari negeri Tirai Bambu, China, mereka mengeluarkan generasi mudanya untuk bekerja di Luar Negerinya. Kelemahan jelas terpampang, karena dari sisi tulisan saja mereka (China) berbeda jauh dengan tulisan Latin, berakibat kesulitan utama mereka memang dari sisi bahasa. Namun mereka bisa mengakali dengan cara mengirim bukan untuk satu orang saja, melainkan satu rombongan. Pemerintahnya membantu dengan melakukan koordinasi antar mereka. Sehingga cukuplah satu orang yang mumpuni pada bidang bahasa, yang lainnya, tinggal ngikut. Dan pemerintahlah yang mengatur apapun yang dibutuhkan oleh tim tersebut, termasuk penggajian bagi mereka.

Nah, begitu mereka sudah merasa mampu mandiri, mereka balik ke negerinya dan memabngun negerinya dan sungguh luar biasa, mereka mampu memberikan harga bidang manufaktur dengan harga amat rendah dibanding pesaingnya. Sungguh luar biasa. Negeri yang saat itu pernah menutup diri dari luar, langsung melejit dan menjadi salah satu negeri yang meningkat dengan amat pesat.

Ayolah, generasi muda yang mempunyai kemampuan untuk bermain diluaran, jangan hanya sekedar menjadi jago kandang. Bekerjalah diluar, dan kembalilah membangun negeri!

16 August 2007

Sepeda Anakku Hilang

Subuh sekitar jam 02, rasanya ada yang membisikku untuk segera bangun sholat. Aku ogah-ogahan untuk bangun, kembali sekitar jam 04 suara itu membisikkan kembali. Aku terbangun, tetapi kakiku terasa sakit, mungkinkah asam uratku kembali kambuh. Aku bangunkan istri untuk mengambilkan air minum. Dengan berat istriku mengambil air minum. Alhamdulillah, setelah minum beberapa teguk, aku mulai merasa ringan kaki. Kulangkahkan kakiku ke kamar mandi, ambil air wudlu.

Sholatlah aku. Selesai sholat aku nyalakan TV untuk melihat berita-berita yang memang lebih pagi sekarang penyajiannya. Diantara sajian berita, Teteh (pembantu di rumah) memanggil-manggil nama anakku... Tiba-tiba anakku yang besar mengatakan kalau sepeda hilang.

Saya lari ke bawah dan keluar rumah, dan ... benar! Tiga sepeda yang dirantai jadi satu bengket hilang semua. Luar biasa yang pencuri ini. Tiga buah sepeda diambil sekaligus. Tak habis pikir aku, bagaimana pencuri itu mengambil tiga buah sepeda secara ambil bareng? Padahal ada pagar yang memang tidak dikunci tetapi dislot.

Anak-anakku ikutan melihat dan ... yah... mulai hari ini mereka tidak bisa main sepeda lagi. Anakku yang paling kecil ketika diberitahu bahwa sepedanya hilang, dengan santai menjawab: yah... pakai sepeda yang lebih gede saja. Dengan sabar aku jelaskan maksud hilangnya sepeda padahal matanya masih setengah merem. Aku turun, duduk di sofa, beberapa saat kemudian anakku yang terkecil yang menginginkan main sepeda muncul, setengah mengantuk dia melihat keluar, sepedanya sudah hilang.

Ada rasa salut pada pencuri yang mampu membawa sepeda sekaligus tiga dalam sekali angkut. Luar biasa.

Ada perenungan yang aku lakukan, apa salahku? Apakah aku telah mencuri pula? Ataukah aku telah berbuat tidak baik pada orang lain? Ataukah ada sahabatku yang telah curangi? Tak mampu aku menemukan fakta-fakta ini. Sehingga aku buat kesimpulan, memang demikianlah adanya.

Inilah negeriku yang belum bebas dari penyembahan pada selain Allah, benda-benda masih disembah sebagai kekuatan yang mampu menolong dengan segala hakikinya. Sehingga jika tidak mempunyai benda yang namanya uang, rasanya hidup tinggal kehampaan saja. Mengambil adalah sebuah cara yang paling cepat untuk mendapatkan benda tersebut.

Terbersit, seandainya aku telah berlaku tak baik terhadap orang lain, laksana kasus yang pernah dialami oleh khalifah Umar RA, beliau membebaskan seorang pencuri dari hukuman, karena ternyata pencuri tersebut memang benar-benar mengambil hak-nya saja. Telah berbulan, bertahun, dia tidak dibayar oleh majikannya, karenanya dia ambil (curi), namun karena kesalahan majikan yang demikian ini, majikan ini yang akhirnya dihukum oleh Umar RA. Aku kuatir pencurian ini, karena hal yang demikian ini. Namun aku renungkan, aku kaji, rasanya tidak ada, yang ada adalah pembantuku yang mengambil barang dan uangku serta uang yang menjadi tanggung jawabku, padahal dia telah diberikan kelebihan dari seharusnya gaji pembantu, dan pembantuku yang ini telah aku pecat.

Memang negeri ini belum seaman yang dinyatakan Allah dalam surat Al-Quraisy.
1. Karena kebiasaan orang-orang Quraisy,
2. (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.
3. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah Ini (Ka'bah).
4. Yang Telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.

Masih mudah orang melakukan tindakan yang tak terpuji atau malah memang terpuji?

02 August 2007

Setahun Blogku

Tak terasa yang nyata, blog yang dibuat saat itu diajari oleh mahasiswaku yang amat pandai menjadi pemain politik kampus, yang telah merencanakan seluruh aktifitas perpolitikkannya secara matang, dan saat itu beliau memegang posisi sebagai Ketua Dewan (legislatif) mahasiswa yang diberi nama DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa). Saat itulah beliau mengajariku beberapa tips yang cukup menarik untuk membuat blog. Sebagai tempat mencurahkan segala unek-unek di kepala, unek-unek di pikiran yang sulit terlepas, jika tidak dilepaskan melalui tulisan. Mahasiswa itu bernama Arki Fariska.

Yah.... sudah setahun nyaris lebih sebulan blog ini menemaniku ngurai segala keluh kesah, segala semangat yang harus dibagikan kepada sesama. Tulisan pertamaku di blog ini bertanggal 7 Juli 2006, sedangkan saat ini tanggal 2 Agustus 2007, sehingga telah nyaris satu tahun satu bulan, blog ini mampu berkiprah di dunia maya.

Saat ini sudah ada 106 tulisan, baik tulisan yang serius membuatnya, maupun tulisan yang dibuat apadayanya. Namun saya ingin sekali untuk terus membuat tulisan yang berani memberikan semangat juang, terutama bagi mereka yang selama ini merasa terpuruk, merasa ada di bawah, padahal mereka bisa bangkit, bisa maju, bisa membedah diri untuk menyelamatkan diri-diri mereka dari kehidupan yang tanpa arah, tanpa tujuan. Tujuan hidup haruslah dicari, dipegang, ditangkap, dan terus dipelihara, sehingga benar-benar menjadi acuan dalam hidup di dunia ini.

Selamat berupaya mempertahankan diri bagi mereka-mereka yang telah menjalani hidup dengan tujuan hidup yang benar. Semoga anda mampu terus bertahan dalam kehidupan yang demikian ini. Dan semoga pula mampu mengajak yang lain, mampu meyakinkan kepada yang lain, bahwa inilah jalan kehidupan yang sebenar-benarnya.

Setahun blog ini telah terbangun, google pun nyaris menawari agar pada blog ini ditempeli oleh sponsor. Yang membaca sudah tergolong tak sedikit lagi, telah menembus angka 2400. Kehadiran sponsor tak jadi dilaksanakan karena google tidak mengenal bahasa Indonesia. Namun tak mengapa... tulisan tetap terjaga dengan baik.

Terima kasih sahabat, mahasiswaku, Arki Fariska yang telah memberikan pengetahuan dasar untuk membuat blog ini. Semoga blog ini mampu memberikan inspirasi dan kejelasan makna hidup bagi para pembacanya. Hatur nuhun Arki.

01 August 2007

Kemenangan Irak

Minggu 29 Juli 2007, sebuah kemenangan yang banyak tak diperkirakan kebanyakan orang, yaitu kesebelasan Irak mampu mengalahkan dengan skor 1-0 tanpa balas. Sebuah kecerdikan Younes melihat bola lambung yang tak mampu diambil oleh Kiper Arab Saudi, dengan sundulan kepala melesak masuk ke dalam jala Arab Saudi.

Tim Irak yang ditangani secara intensif hanya dalam waktu 1,5 bulan, walaupun mereka memang telah disatukan sejak 2004, ketika Irak mempersiapkan tim Olimpiade dan terus dipertahankan hingga sekarang dan terbukti membawa hasil yang amat dan sangat baik.

Sebuah hasil yang menarik, mengingat bangsa dan negara yang telah dan sedang dihancur-leburkan oleh Bush sang penjagal, yang awalnya ide menjajah Irak adalah karena perilaku Saddam Husein yang dianggap mempersulit kedamaian di dunia, karena menyimpan dan memproduksi senjata pemusnah massal, walaupun pihak IAEA membantah berulang kali akan berita dan data tersebut, namun tetap saja Bush berkehendak untuk memborbardir Irak dengan serangan mematikan, yang akhirnya menggulingkan Saddam Husein. Bahkan akhirnya Saddam pun berhasil ditangkap, dan dikenai hukuman mati, dengan cara digantung, yang saat pelaksanaan hukuman gantung terasa ada ketergesaan dari algojo, sebelum selesai dua kalimat syahadat diucapkan, tali gantungan sudah menjerat terlebih
dahulu.

Ketika bukti senjata pemusnah massal tak terbukti ditemukan, maka pergeseran isu penyebab merajalelanya AS menghancurkan Irak menjadi karena Saddam menyebabkan ribuan manusia Irak dibantai habis oleh Saddam. Isu ini mestinya juga perlu diberikan bukti. Inilah tipe orang licik yang tak tahu malu. Yang selalu menganggap dirinyalah yang benar, yang lain salah.

Kesebelasan Irak luar biasa dari sisi teknik mengambil bola ketika sedang di kaki lawan. Lawan selalu didekati kemanapun mereka pergi. Tak diberikan kesempatan lawan untuk menendang bola tanpa halangan maupun kawalan. Apalagi digiring dengan ke arah teman-temannya. Kondisi pressure
yang demikian ketat menyebabkan pemain Arab kedodoran dalam menggiring ataupun salah dalam mengoper bola.

Arab Saudi yang menang dari kesebelasan Indonesia karena dinilai keberpihakkan dari wasit, mengalami lawan keduabelas yaitu penonton. Penonton memang cenderung membela Irak. Sorakan memnberi semangat diperagakan penonton melalui teriakan memanggil. Irak..... Irak.....

Ketika melawan kesebelasan Arab Saudi pun Indonesia menerapkan pola yang sama, tidak boleh pemain lawan dengan nyaman menggiring bola atau menendang dengan ancang-ancang. Saat itu, terbukti Arab Saudi kedodoran, ketakutan bola dapat diambil oleh lawan membuat pemain Arab tergesa-gesa mengoper bola dan berakibat bola tak mampu ditangkap temennya dengan baik atau bola teroper melenceng jauh dari sasaran. Namun permainan yang demikian ini bagi pemain Indonesia hanya mampu bertahan selama 70 menit, menginjak menit ke-70 pastilah stamina akan kedodoran yang berakibat gol dari bola mati terjadi, Indonesia kalah 1-2.



Namun patut diacungi jempol permainan tim Indonesia, jauh meningkat dibanding tahun-tahun yang lalu. Semoga ini mampu pula membangkitkan semangat Indonesia memperbaiki dirinya yang rasanya semakin lama semakin terpuruk. Lihatlah Presiden harus turun ke lapangan sepak bola, sepertinya
Presiden sudah tidak mempunyai agenda yang lebih penting. Lihat pula Presiden amat dan sangat mengurusi omongan dari Zaenal Ma'arif, terkesan Indonesia hanya sekadar gudang gosip. Nasib...

Kadang muncul pemikiran nakal, Indonesia akan mampu bangkit, kalau kondisinya sebagaimana kondisi di Irak. Perang terjadi hampir setiap hari, orang berlari kalang kabut, ketika tembakan-tembakan termuntahkan, atau bom-bom berhamburan meledak. Mungkin kondisi yang demikian akan
menyebabkan munculnya Indonesia yang baru. Tetapi bukankah kondisi yang demikian akan mengorbankan banyak nyawa yang tak berdosa?

Aku bingung ... Kapan nasib Indonesia semakin baik?

25 July 2007

Pimnas Lampung

STT Telkom sebuah perguruan tinggi swasta yang menjadi terkenal sebagai penggagas tuan rumah Pimnas dari PTS. Sebelumnya tidak pernah PTS menjadi tuan rumah PIMNAS. Alhamdulillah, setelah STT Telkom menjadi tuan rumah PIMNAS, maka sejak itu tuan rumah PIMNAS ditentukan secara bergantian. Tahun ini diselenggarakan di Kampus Universitas Lampung (UNILA), sebuah PTN, maka tahun depan akan dilaksanakan di PTS.

Keberangkatan ke Lampung dalam rangka mendampingi kelompok mahasiswa yang lolos dalam kegiatan PKM, memang dimulai dengan kesedihan demi kesedihan, ketidaksetujuan demi kedongkolan.

Awal keputusan Dikti untuk menentukan kelompok yang lolos ke tingkat PIMNAS sudah mengalami ketidakenakkan bagi kontingen STT Telkom, bayangkan ketika ada monitoring dan evaluasi dari Juri Dikti, dinyatakan ada 6 kelompok yang layak untuk mengajukan Paten, ternyata dari 11 kelompok hanya 2 kelompok yang lolos ke PIMNAS di Lampung, ditambah satu untuk PKMI.

Ditambah lagi dengan masalah yang diungkapkan dalam tulisan sebelumnya yang berjudul: Ketaatan pada Aturan.

Perjalanan yang dinyatakan akan berangkat Selasa jam 04 subuh ternyata berangkast Selasa jam 5.45.

Perjalanan dari Bandung sampai dengan Merak lancar-lancar saja, bahkan macet yang biasa terjadi sebelum gerbang Pondok Gede Timur, tidak terjadi, ada sedikit macet hanya begitu masuk gerbang tol Kota.

Dari Merak naik ferry, saya pikir ferry cukup bergoncangan, ternyata tidak terjadi rasanya tidak ada gelombang. Lancar... dan nyaman...

Begitu mulai dari pelabuhan Bakauheni, saya pikir Lampung datar-datar saja yang dekat dengan pantai, ternyata begitu keluar dari pelabuhan langsung disambut oleh tanjakan yang terpaksa dijalani dengan pelan, akibat di depan ada truk yang mengangkut barang yan berat.

Jauh juga jarak antara pelabuhan Bakauheni dan Kampus Unila. Apalagi dengan diperlambat oleh truk-truk besar yang berjalan lambat.

Hotel yang cukup manis, bagiku. Tempat menginap yang dipilih oleh kawan-kawan dari Bagian Kemahasiswaan. Berada di tengah kota. Tanda tengah kota bisa dilihat dari beradanya hotel tersebut di dekat pasar kota. Kecil kapasitasnya, tetapi manis bentuknya.

Begitu sampai kamar, langsung mandi dan minta diinjak-injak oleh anakku, langsung tertidur pulas. Bangun gara-gara telpon berdering.

Makan malam ini menjadi masalah tersendiri bagiku, operasi gigi bungsu belum sembuh benar, dan saat itu aku makan dengan rendang yang cukup keras.

Malamnya aku begadang untuk menyelesaikan proposal Jambore IT yang sudah dijanjikan saat penandatanganan kontrak PKM antara STT Telkom dan Dikti. Keinginan untuk memberi warna tak kesampaian akibat printernya hanya laserjet yang hitam-putih. Sedangkan keinginan untuk membuat logo terpaksa dihentikan karena waktu yang sudah amat mepet. Proposal ini memang ingin dimiliki oleh Dikti cq Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, dan pertama kali diadakan di STT Telkom dan disambungkan dengan hari kelahiran STT Telkom. Ada sekian banyak kegiatan dalam proposal ini, ada lomba yang harus dibuatkan terlebih dahulu analisis dan desainnya, hingga lomba yang dapat dilakukan langsung secara mendadak di tempat, namun ada juga yang berbentuk pelatihan, seminar dan workshop.

Penyelesaian proposal berhasil disampaikan kepada Direktur Penelitian dan Pengabdian Masyarakat saat Sarasehan Pembantu Rektor/ Ketua/ Direktur Bidang Kemahasiswaan. Dan diterima baik dan terbuka, mengingat PIMNAS load-nya sudah begitu banyak. Sehingga pemecahan PIMNAS boleh jadi menjadi salah satu solusi.

Balik tak mampu saya menemani mahasiswa, sakit gigi yang cukup berat, menyebabkan kami harus balik duluan.

Mau naik pesawat harganya antara 280ribu sampai dengan 490 ribu saya sudah siap dana, ternyata tiket habis. Alternatif lain, naik bis Patas dengan biaya Rp180ribu, namun dari yang jaga tiket aku nggak begitu percaya. Sehingga kau pilih: naik bis dari terminal Rajabasa ke Bakauheni Rp20ribu, naik ferry Rp10ribu ditambah kelas 2 sebesar Rp4ribu, naik bis Arimbi ke Leuwi Panjang sebesar Rp45ribu, kemudian sampai di Leuwi Panjang sudah mencanangkan untuk naik biskota sampai Cicaheum sebesar Rp2,5ribu, naik angkot ke Cijambe Rp2,5ribu, dan Ojek sebesar Rp2ribu. Namun istriku menelpon: "Janganlah, Pak, capek, naik taksi saja". Akhirnya aku naik taksi dengan argo sebesar Rp35.200,- namun gengsiku menghendaki memberikan Rp40.000,- tanpa kembalian.

24 July 2007

Ketaatan pada Aturan

Memang, aturan yang bersifat teknis bukanlah hasil langsung dari Firman Allah. Misalkan biaya Perjalanan Dinas sebesar Rp 150.000,- per hari jelas bukan hasil langsung dari Firman Allah, melainkan turunan yang ke berapa dari Firman Allah, dengan catatan jika aturan ini memang didasarkan dari aturan Allah.

Di Indonesia yang aku kenang dari seorang rekan yang saat itu sedang bermain di Perguruan Tinggi tempat aku menimba ilmu, muncul anekdot: "Aturan dibuat untuk dilanggar". Menyedihkan bagiku jika aturan dibuat dengan sengaja untuk dilanggar. Mestinya aturan dibuat untuk ditaati sehingga teraturlah kondisi suatu tempat yang telah menetapkan aturan tersebut.

Biasanya yang bisa melakukan dan menjalankan aturan yang utama adalah para pimpinan, bukan hanya sekedar untuk bawahan. Ketika aturan sudah ditetapkan bukanlah untuk kembali diubah, kecuali memang untuk forum yang memang menghendakinya. Artinya memang agenda yang dibawa adalah untuk mengubah aturan.

Dalam hal pelaksanaan tentunya aturan digunakan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, tidak boleh sebuah aturan diubah saat pelaksanaan, walaupun karena 'rasanya' tidak logis. Dalam hal pelaksana tidak mungkin kita mempertanyakan kok aturannya begini sih... bisakah diubah? Nggak bisa hal ini dilakukan. Jika mau dilakukan pengubahan aturan ya... saat membuat perubahan aturan...

Saat minggu yang lalu (17Juli sampai dengan 22 Juli 2007) ada dua aturan yang diubah ditengah jalan. Yang pertama aturan yang telah ditetapkan oleh Yayasan Pendidikan Telkom, yang dianalisis oleh seorang Pimpinan dianggap aturan tersebut tidak logis, sehingga harus dilanggar. Marah aku melihat hal ini, nyaris aku pundung tidak mau berangkat ke Lampung. Namun mengingat aku berangkat bukan hanya membawa nama diri pribadi, namun juga aku membawa nama STT Telkom, dan setelah ditelpon oleh Boss yang mengancam akan dipecat, akhirnya aku merelakan diri berangkat, walaupun dongkol hati belum terasa sirna.

Memang, aku memikirkan efek, jika aku tidak hadir sudah pasti proposal Jambore IT tidak akan sampai ke tangan Direktur Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, yang berakibat nama STT Telkom dipandang berbohong, karena tak juga mengumpulkan proposal yang sudah dijanjikan sebelumnya, ketika Penandatanganan Kontrak PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa). Nyaris aku melakukan hal itu: Aku tidak mati, kalau STT Telkom mati.

Ada juga peran istri yang membuat aku luluh juga untuk berangkat. Padahal fisikku belumlah sehat, operasi gigi bungsu yang telah dilaksanakan pada hari Sabtunya (sebelum berangkat) ternyata tak juga baik kondisinya. Jadilah di Lampung tidak bisa konsentrasi terhadap kegiatan PIMNAS.

Kejadian yang kedua adalah Perkataan yang dikeluarkan oleh anggota Dewan Juri yang terhormat. Mestinya juri sadar bahwa Panduan PKM yang sudah digariskan dan sudah ditetapkan menjadi acuan yang utama, meskipun tidak terasa logis. Kelompok Susu Sari Biji Munggur, terkena masalah. Juri dengan gagah berani mengatakan tak selayaknya mahasiswa yang mengambil jurusan Teknik Telekomunikasi membuat PKMK (Kewirausahaan) mengurusi Susu, sehingga keluar kata-kata yang menurut saya tak ilmiah dan tak layak dikeluarkan oleh seorang juri terhormat di kancah Ilmiah PIMNAS. Mestinya juri membaca panduan dengan baik. Di Panduan PKM memang mahasiswa yang mengambil PKM Kewirausahaan tidak harus dari latar belakang ilmu yang dipelajarinya. Tetapi juri ngotot bahwa PKMK pun harus berdasarkan latar belakang yang dipelajarinya.

Logisnya begini Pak Juri (yang dari Gajah Duduk) manakah mungkin membuat PKMK BTS Terapung dengan dana hanya Rp6juta?

Semoga Indonesia semakin baik, dalam makna aturan yang telah ditetapkan jangan diubah lagi, cukup dilaksanakan saja, walaupun logika kita merasa tidak sesuai! Jika mau diubah, ubahlah di forum perubahan aturan! Jangan dipelaksanaan kegiatan!

11 July 2007

Serbuan Negeri Jiran

Sungguh membuat aku kelimpungan yang menangani Kerjasama dan Layanan Industri. Dalam beberapa hari ini, ternyata beberapa perusahaan maupun lembag gencar mendatangi STT Telkom untuk melakukan kerjasama. Ada lembaga pendidikan, ada perusahaan manufaktur, ada pula lembaga sertifikasi, ada pula lembaga kursus yang ingin menjalin hubungan dengan STT Telkom.

Memang sih STT Telkom mempunyai posisi tawar yang agak baik saat ini, yaitu lembaga pendidikan tinggi yang spesifikasi bermain dalam fokus yang baik, yaitu: IT atau ICT. Tak kurang, sudah tiga lembaga dari Malaysia yang ingin menjalin kerjasama tersebut. Satu lembaga yang bermain di pelatihan, satu lagi perusahaan manufaktur yang bermain di optik serta satu lagi yang bermain dengan Pendidikan Tinggi.

Lembaga pelatihan akan mencoba melakukan kerjasama dalam bidang penyediaan dan penyaluran tenaga kerja di Malaysia dalam bidang kerja IT. Sedangkan perusahaan manufaktur mempersiapkan laboratorium dan peralatan yang lain dengan bidang kerja optik. Sedangkan dengan lembaga pendidikan tinggi dalam bidang kerjasama pertukaran mahasiswa, dosen dan staf.

Semoga kerjasama ini dapat mempermudah kita dalam mengelola kemampuan IT di Indonesia, dan juga memajukan segala hal yang berbau IT di Indonesia.

Memang ada wanti-wanti dari temen yang pernah bergaul dengan temen-temen dari negeri jira, yaitu: hati-hati. Menurut saya sih... hati-hati bukan berarti tidak melakukannya, namun membaca dengan detil dan mengelaborasi setiap ayat perjanjian yang ada. Ayoh... majulah STT Telkom

09 July 2007

Sertifikasi Kompetensi

Ijazah sebagai tanda lulusnya seseorang dari bangku pendidikan, saat ini dipandang sudah tidak layak lagi, maka bermunculanlah fenomena sertifikasi. Program sertifikasi
juga dalam bentuk mengeluarkan ijazah yang sesuai dengan ujian yang dilaksanakan oleh lembaga sertifikasi.

Rasanya begitu banyaknya lembaga pendidikan yang tak begitu baik perilakunya menyebabkan kegagalan produk-produk pendidikan. Kegagalan atau ketakmampuan yang terselubung inilah yang memicu bermunculannya lembaga sertifikasi. Dan yang membuat lebih membingungkan lagi, siapa yang akan melegalkan lembaga sertifikasi? Ada yang menyebut ISO, dst. Kalau mensertifikasi ISO siapa? Masyarakat? Kalau masyarakat yang mensertifikasi siapa? Waduh, nggak selesai-selesai ternyata.

Inilah bukti masyarakat yang dikembangkan dengan asumsi 'pada dasarnya manusia tidak bisa dipercaya' atau kata yang lebih kasar 'pada dasarnya manusia itu tukang tipu'. Mbulet susah ditebak, kemana arah langkah yang akan ditempuh.

Memang dibutuhkan yang namanya lembaga yang dapat dipercaya, tetapi manakah ada lembaga yang saat ini dapat dipercaya? Padahal lembaga-lembaga sertifikasi juga
merupakan lembaga yang baru dibentuk, bagaimana lembaga yang seumur jagung dapat lebih dipercaya dibanding lembaga pendidikan yang sudah lama muncul?

Mereka ingin lulusan Perguruan Tinggi mempunyai bidang kompetensi yang bersifat teknis semata, paahal hidup bukan hanya sekedar urusan teknis. Bagaimana menemukan ide baru dari yang sebelumnya tidak ada. Apakah mungkin hal yang demikian diujikan? Ah, rasanya nggak mungkin hal ini dilakukan. Hal ini juga termasuk skenario negara adidaya sehingga yang miskin, yang bisa dikendalikan mereka suruh kita mengurusi yang detil yang teknis semata, sedangkan yang merupakan fondamen yang susah dipelajari, tetap bisa milik mereka semata saja.

26 June 2007

Foto-foto Anakku

Sejak membeli kamera yang baru. Yang harganya 2juta 9ratus 9puluh ribu rupiah. Anak-anakku begitu penuh keyakinan mencoba kamera tersebut. Berikut beberapa eksperimen mereka dalam menggunakannya.



Memotret di tempat yang sempit tentunya mempunyai kendala yang cukup besar. Anakku mampu memanfaatkan ruang sempit tersebut untuk memotret adik-adiknya yang bergaya manis, penuh senyum.



Lihat! Penataan pengambilan sudut gambar yang menarik, sesuai teori klasik yang umum. Obyek dijepret tepat ditengah keseluruhan gambar. Sayangnya mimik obyek foto kurang terlihat.



Bergaya seperti penyanyi yang amat lanyah dalam melantunkan lagu, padahal hanya bermodalkan gagang pompa sepeda. Bagus.



Inilah salah satu cara untuk melihat diri sendiri. Tanpa menggunakan blitz, menghadap ke cermin, dan jepret. Jadilah foto diri. Karena melihat gambar ini, bapaknya ikutan memotret diri dengan cara yang serupa. Inilah kreatifitas anak usia kelas 5 SD. Bagus!

19 June 2007

Mahasiswiku Menjadi Selebrities

Hari Jum'at yg lalu (15 Juni 2007) pertama kali aku dapat kabar, bahwa ada wartawan infotainment yang mencari data seorang mahasiswi STT Telkom, karena akan menikah dengan seorang selebrities muda yang sedang naik daun.

"Pak, kenal dengan Della, nggak?"
"Lho, itu kan pernah aku jadi walinya"
"Dia pacarnya Irfan Hakiem!"
"Ah, masa?"

Irfan Hakim, selebrities muda yang berwajah imut, awet muda, dan terasa ada darah timur tengah, saat ini beberapa acara di TV dia muncul, sebagai MC maupun pemain lawak, serta MC tayangan gosip artis.

Sedangkan Della, seorang mahasiswi yang cukup mampu dalam bidang akademis, dia mahasiswi D3 Informatika ketika saya menjadi wali kelasnya. Pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkannya memang cukup sering membuat aku kelabakan. Setelah lulus D3 dia membuat usaha software house, kabar usahanya saya kurang tahu, dari informasi yang saya dapatkan dari temennya cukup banyak proyek yang dikerjakannya.

Aktifitas yang lain dia bergabung dalam web forum students, sebuah web forum yang diawaki oleh mahasiswa STT Telkom, yang saat ini nyaris menembus predikat web forum mahasiswa tersibuk di Indonesia. Dia mengelola thread Sarjana Cinta dengan nick name dee_cium. Pernah aku sms karena aku kaget dia mengelola thread ini, sepertinya dia amat menguasai masalah percintaan.

Keinginan untuk kembali ke bangku kuliah, terwujud pada tahun-tahun ini, yaitu menjadi mahasiswi Pindahan D3 ke S1 di program studi Teknik Informatika STT Telkom. Kata istri temennya sih kemampuan akademiknya bagus.

Ketidakpercayaanku agak terjawab, ketika melihat Was-was pada minggu pagi. Iseng aku sms dia tentang kebenaran berita gosip tersebut. Dia membenarkan dan mengundang kami
(aku, istriku, dan 6 anakku) untuk hadir dalam resepsi pernikahannya di Balai Sudirman. Walah ...

Dunia selebrities memang dunia yang pernah gemerlap, baik gemerlap dalam bentuk kegiatannya, maupun gemerlap dalam berita yang terus menyertai langkah seorang seleb,
sampai-sampai tidur pun akan diganggu oleh kamera. Dunia yang penuh kesibukan, dunia yang rasanya tidak pernah tidur. Sanggupkah dee_cium memenej-nya? Mengikuti alur kepadatan acara yang demikian? Sanggupkah menghela nafas untuk mampu mengontrol diri, sehingga tak ada kata-kata yang terlepas liar? Mampukah dee_cium menyembunyikan sebagian kegiatan pribadinya dan sebagian kehidupannya untuk dirinya dan keluarganya saja? Ooo, bukankah Irfan Hakim pernah mempunyai pacar sebelumnya yang juga seleb,
yang dikatakan oleh Irfan bahwa pacarnya itu lebih dewasa? Berita-berita yang demikian mampukah diredam oleh dee_cium, untuk melangkah dengan tegar?

Memang kesangsian itu, ada berkecamuk dalam diriku. Oh, mahasiswiku semoga engkau mampu menemukan jatidirimu.

Menikah adalah mempersatukan dua jiwa, bahkan dua keluarga. Perbedaan pastilah ada, latar belakang yang berbeda, cara pandang yang berbeda, cara berfikir yang berbeda (satu seleb yang bersifat ilmu sosial, satu lagi ilmuwan yang nyaris sering mengatakan kepastian). Namun jika telah mampu menemukan tujuan hidup yang benar, yang kemudian disepakati berdua, tentunya akan mampu mempertahankan biduk yang sedang dilayari untuk mencapai tujuan tersebut. Tujuan ini tidaklah cukup hanya sekedar yang penting disepakati berdua, namun haruslah telah ditetapkan oleh Yang Maha Mengatur, Yang Maha Mendidik, Yang Maha Menetapkan. Rasanya tujuan itu hanya satu, tak ada yang lain.

Mampukah biduk yang dilayari menemukan tujuan yang hanya demikian ini. Kesungguhan, kesabaran, tak mudah menyerah, dan selalu meyakini bahwa hanya Yang Maha-lah yang mampu memberikannya, pasti akan mampu kita menemukannya dan terus melayarinya.

Jika tujuan yang hanya satu-satunya itu telah ditemukan, maka halangan, rintangan, dan hambatan tentulah dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan semanis-manisnya.
Sebagai sebuah pegangan, pengembalian segala masalah yang akan dilayari.

Tidak cukup memang hanya dengan tujuan saja, mestinya dilengkapi dengan dasar dan proses yang benar pula. Istilah-istilah ini bukanlah dalam makna kegiatan teknis
semata, tetapi istilah yang bermakna strategis.

Semoga Irfan dan Della mampu meraihnya, dan hanya mungkin hal itu teraih melalui cara yang telah disebut oleh Sunan Kalijogo dengan Tombo Ati-nya. Tombo Ati... iku limo ing wernane, kaping pisan moco Qur'an lan angan-angan ing maknane, kaping pindone sholat wengi lakon ono, kaping telune wong sholeh kumpul ono, kaping papate kudu weteng ingkang luwe, kaping limo dzikir wengi ingkang suwe.

18 June 2007

Nyaris Tembus 2000

Yah... aku tak begitu memperhatikan tentang diperlukannya blog ini. Aku hanya ingin menuliskan apa yang ingin aku tulis. Itu saja sebenarnya aku membuka blog ini.

Awal-awalnya aku masih amat sibuk menata lay out dll dari blog ini, setelah rasanya telah begitu banyak menu bertengger aku sudah mulai meninggalkan cara menata blog. Sekarang aku lebih suka menulis, walaupun belumlah terhitung amat rajin, paling dalam sebulan 2-3 tulisan yang ada. Padahal di kepala-ku begitu banyak ide untuk menulis.

Lama-lama aku perhatikan blog-ku semakin banyak pula counter pengunjung blog ini. Saat aku tulis tulisan ini, telah nyaris menembus angka 2000, tepatnya 1992, tinggal 8 lagi.

Apa makna 2000? Yah, bagiku yang pernah merasakan kecemasan akan pergantian tahun 19ratusan ke tahun 20ratusan tentunya angka ini ada nilai lebihnya.

Saat itu temen-temen banyak yang mengatakan terjadi perubahan yang amat mendasar ketika negeri ini berubah ke tahun 2000. Dan ternyata menjelang angka tahun tersebut, benar terjadi sebuah perubahan yang cukup besar. Tahun 1997 negeri ini digoncang dengan amat dahsyatnya oleh sebuah perkara yang dipandang sepele yaitu nilai tukar Rupiah terhadap dollar, demikian terpuruknya, yaitu nyaris menembus angka 15000Rp per dollar, padahal ketika saya menginjakkan kaki di Bandung paling 1500Rp per dollar. Saat itu aku nggak paham mengapa begitu tergoncang, Suharto yang telah puluhan tahun memimpin negeri ini, tiba-tiba tergoyahkan untuk terus menerus menjadi presiden seumur hidup, dengan cara setiap lima tahun dipilih kembali. Saat itulah Mei 1998 Beliau menyatakan Berhenti sebagai presiden.

Sungguh luar biasa setelah itu, sebagai lanjutan dari kisah sebelumnya, inilah barangkali yang diberi makna bahwa sejarah itu akan berulang, setelah beliau diganti, ternyata pengganti tak mampu bertahan lebih lama, segera diganti kembali lantaran pidato pertanggung-jawabannya tidak bisa diterima oleh MPR. Lantas apakah pengganti Habibie langgeng berkuasa? Tidak juga! Ternyata Gus Dur, yang terpilih akibat kondisi suhu politik yang meninggi, mayoritas menyatakan: "Tidak mau dipimpin oleh wanita", dan ketika mau diambil sumpahnya beliau (Gus Dur) nyaris melangkah naik ke atas meja, tak juga mampu memperbaiki kondisi yang ada, jalan-jalan dia ke manca negara yang berhari-hari ternyata hanya berisi banyolan dan dagelan saja, lihatlah bagaimana beliau diwawancara oleh Jaya Suprana, begitu bangganya beliau membuat Bill Clinton berlama-lama mendengarkan banyolannya, namun apa manfaat bagi negeri ini? Karena itu beliau digantikan oleh Megawati, seorang presiden yang walaupun perempuan ternyata tak mampu menyuarakan suara dengan lantang, seperti biasanya para wanita.

Saat ini, negeri ini dipimpin oleh seorang mantan jenderal. Ternyata aman, pelahan, dan lembut, gejolak pun tak terlihat dengan nyata. Walaupun beberapa hari yang lalu banyak pula analisis yang menyatakan bahwa negeri ini bisa mengalami kasus 1997 karena begitu banyaknya dana dari luar yang mengalir ke dalam negeri. Namun, sampai saat ini tak terbukti hal itu terjadi.

Apakah menjelang angka pengunjung 2000, blog ini pun akan mengalami perubahan yang amat drastis? Tak tahulah aku, rasanya aku sudah mulai malas untuk mengubah tampilan dari blog ini. Aku hanya ingin konsentrasi untuk menulis apa yang ada dipikiranku, dan apa yang aku lihat.

Mari, tembuslah angka 2000 dan tanpa sesuatu yang fundamental terjadi...

06 June 2007

Mohon Maaf

Kepada rekan-rekan yang menulis di SHOUT BOX mohon maaf saya belum berhasil membalas menggunakan media yang sama. Beberapa kali aku menulis di SHOUT BOX he.... ternyata tidak ter-Up Load.

Namun bagi yang sedang jalan-jalan mencari ide, silakan saja semoga tulisan-tulisan yang penuh semangat mampu menggerakkan diri untuk tetap mencari tujuan yang sebenarnya dalam hidup ini.

Bagi yang sedang iseng-iseng jalan-jalan membuka blog ini monggo juga, mungkin ada yang baik yang bisa didapat didalam blog ini. Yang penting dan kuinginkan selama ini, semoga blog ini berguna bagi kita sekalian. Berguna di dunia dan juga berguna di akhirat kelak.

Silakan juga bagi yang ingin bagi-bagi pengalaman dengan menggunakan blog ini, juga saya persilakan. Monggo jangan takut-takut.

Bagi yang kebingungan menentukan TA (yang teu anggeus-anggeus) silakan juga mencari ide, mencari semangat yang mungkin nyaris agak hilang. Ayo....

27 May 2007

Pemimpin Jujur

'Sudah saatnya kejujuran memimpin negeri ini' dinyanyikan Frankie Sahilatua saat kampanye Pilpres 2004. Namun kenyataannya belum jadi kenyataan. Hal ini bisa dilihat dalam tulisan ini.

Dana Departemen Kelautan dan Perikanan (yang kemudian disingkat DKP) bergulir begitu cepat dan memperlihatkan kejujuran belum jadi kenyataan. Pernyataan yg satu dibantah oleh pernyataan yg lain, namun segera ada pihak yg menyatakan bantahan tadi tidak benar.

SBY menyatakan bahwa apa yang diungkap oleh Amien Rais sebagai fitnah besar. Namun ternyata ada orang yang mengaku tim suksesnya menyatakan menerima dana DKP. Walaupun orang ini kemudian dibantah bahwa dia bukan tim sukses.

Sudah banyak yg mengakui menerima dana DKP, sejak Amin Rais membuka masalah ini. Bergulir Shalahuddin Wahid mengakui menerima, bahkan orang Golkar yang biasanya begitu ulet untuk tidak mengakui masalah-masalah yang demikian ikutan
buka suara, Slamet Effendi Yusuf.

Guliran ini semoga membuka kejujuran yg sesungguhnya sehingga semakin nampak negeri ini, borok yang harus diterima, dan harus diperbaiki.

Pengorbanan beberapa jiwa mahasiswa dan orang-orang yg mencoba berbuat negeri ini pada kisaran tahun 1997 ternyata belumlah menemukan pemimpin yang jujur.

Dalam mitos Jawa, kepemimpinan yang sesungguhnya akan muncul diantara kekacauan yang berdarah-darah. Secara nyata mampu lihat, bagaimana negeri ini terus berdarah dan
berurai air mata.

Sejak Aceh tenggelam oleh tsunami, berganti, bergilir daerah menerima bencana demi bencana. Bermacam bencana menghinggapi daerah-daerah di negeri ini: gempa, banjir
bandang, namun di sisi lain terjadi kekeringan, tanah longsor, pesawat jatuh, kecelakaan kereta api, kebakaran satu kampung/ wilayah, TKI yang disiksa, TKI yang diusir dari negeri tetangga, lumpur yang muncrat tanpa henti, demam berdarah, bahkan cikungunya yang bukan penyakit dalam negeri, flu burung, petani yang menangis karena harga jual panennya amat rendah, persoalan tanah yang tak jelas juntrungannya (double sertifikat), pertambangan yang merusak lingkungan, gedung sekolah yang ambruk, kesenjangan ekonomi yang amat tinggi (di satu sisi orang tidur di lantai tanah di sisi lain bermewah tinggal di gedung berAC), gelombang pasang, abrasi (pengikisan pantai oleh air laut), rob (air laut masuk menggantikan air tawar), keracunan makanan secara massal, begitupun kerasukan massal, pengangguran dan kemiskinan yang meningkat.

Perbuatan-perbuatan negatif yang lain: korupsi semakin merajalela, narkoba menyebar merata bahkan sampai di tempat yang mestinya menjadi tempat taubat yaitu penjara
sekalipun, janji bantuan 30juta yang sebagian tak dipenuhi, posko-posko bantuan yang muncul hanya saat menjelang pemilihan, perampokan yang amat ganas dengan bersenjata
api, tahanan yang terpaksa harus melihat jenasah istrinya di rumah tahanan karena hakim sudah kehilangan rasa kemanusiaannya, bentrok antar warga dusun, bentrok antar
preman karena rebutan lahan kekuasaan, polisi/ petugas keamanan yang tak mampu mengendalikan massa yang beringas, ikutan menjatuhkan sanksi pada negara yang ingin
mendapatkan sumber energi listrik yang murah padahal negeri ini pun butuh sumber energi yang dimaksud, aparat keamanan yang belum mampu memberikan keamanan sehingga pedagang kecil harus memberikan dana keamanan pada pihak swasta. Dan terus hal ini terjadi.

Apakah bencana yang demikian banyak dan terus terjadi belum cukup berhasil menyadarkan bangsa ini? Belum cukupkah? Untuk memberikan kesadaran bahwa mestinya negeri ini dipimpin oleh pemimpin yang jujur.

Tinggal kesiapan bangsa ini untuk menerima kejujuran atau kenestapaan yang terlihat secara langsung maupun tak langsung. Siapkah bangsa ini menerima pemimpin yang jujur?
Yang sudah pasti akan membawa perubahan yang sangat drastis terhadap bangsa ini. Pemimpin yang jujur tak mungkin muncul, jika bangsanya/ warganya tidak mau menerima
kehadirannya.

Pengalaman akan kemunculan pemimpin yang jujur bisa dibaca laksana Daud yang ditolak para pemimpin yang lain, karena muncul dari warga yang tak terduga-duga, miskin bahkan cenderung tak pernah dikenalnya, namun apakah ini menghalangi kita dipimpin manusia yang demikian ini?

Ayo! Apakah kita tetap tidak ingin dipimpin oleh orang yang jujur, meskipun kita tak pernah mengenalnya dengan baik? Ayolah mari kita bermohon kepadaNYA, baik pagi, siang, sore, malam dan subuh. Ya, Allah berilah kami pemimpin yang jujur...

21 May 2007

TOFA 2007

Saya tidak hafal dengan singkatan dari TOFA 2007, namun saya tahu bahwa ini adalah rangkaian kegiatan yang diadakan oleh UKM DJAWA. Kegiatan tersebut diantaranya Lomba Foto, Pelatihan Membatik, Lomba Mewarnai, Upacara Pembukaan, dan pagelaran Gatotkoco.

Pada hari Minggu kemarin (20/05/2007) dilakukan kegiatan Upacara Pembukaan. Dan berkenan ketua STT Telkom, Bapak Husni Amani, membuka secara resminya kegiatan TOFA 2007 ini. Hadir saat pembukaan Direktur Kemahasiswaan dan Pengembangan Kompetensi serta Kepala Bagian Kemahasiswaan.

Anakku ikut lomba mewarnai dan dapat juara Harapan 1.

Ini beberapa foto saat acara pembukaan, hasil jepretan dengan menggunakan kamera digital SONY.







Dengan kegiatan yang berbau seni saya mengharapkan mahasiswa STT Telkom dapat mengolah seluruh kemampuan (potensi) yang diberikan oleh Yang Maha memberi, sehingga dapat bermakna dan berguna bagi kegiatan dan aktifitas pada suatu masa nanti. Manusia telah diberi panca indera: indera pendengaran, indera penglihatan, indera pengecap, indera peraba, dan indera pembau. Jelas dengan bentuk yang indah dan gerak yang menawan mengajari indra penglihatan untuk memainkan peran, dst. Tentunya jangan sampai panca indera ini menjadi dasar berlakunya satu hukum. Karenanya juga suatu cara menemukan kebenaran yang sejati.

14 May 2007

Menemukan Cita-cita Diri

Saya berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja, tidak kaya, tidak miskin. Bapakku pegawai negeri sipil bekerja di bagian administrasi tata usaha SMA Negeri di Pati, pangkat terakhir beliau menjelang pensiun adalah golongan 2A. Ibuku bekerja membuka warung untuk kebutuhan sehari-hari, di warung ada minyak tanah, gula pasir, pasta gigi, dll.

Bapakku terkenal sebagai santri di lingkungan rumah, karena beliau rajin melaksanakan sholat lima waktu, saat itu orang yang melaksanakan sholat waktu di lingkungan rumah tinggal kami amat sedikit, bahkan sampai saat ini. Beliau bisa membaca Al-Qur’an.

Ketika kecil, saya belajar mengaji di langgar (musholla) pada saat bulan puasa, biasanya akan mengaji dengan menggunakan metode menghafal huruf Arab, alif ba ta sa jim ... Rasanya saya tidak berhasil tammat belajar membaca Al-Qur’an. Sehingga saya sholat, bukan karena saya bisa membaca Al-Qur’an tetapi akibat menghafal yang memang diajarkan pada saat mengaji. Karena hafal, bukan karena bisa membaca.

Ketika merasa ada tuntutan untuk bisa membaca, saya membaca buku petunjuk sholat yang selain ada tulisan Arabnya terdapat pula tulisan dalam huruf latin, tetapi berbahasa Arab, semacam tulisan ini: bismillahir rahman nir rahiim.

Saya menetapkan untuk melaksanakan sholat lima waktu, ketika berada di kelas 6 SD. Entahlah, tiba-tiba bangkit untuk melaksanakannya. Dan tekad telah dikumandangkan.

Ketika di SMA, saya mulai membaca Al-Qur’an yang ada tulisan latin-nya. Seingat saya mushaf ini diterbitkan di Bandung. Jadi, selain ada tulisan Arab, ada tulisan latin dalam bahasa Arab. Tentunya lafaz yang saya ucapkan tidak benar 100%, sampai saat ini ada beberapa lafaz yang apabila dinilai oleh yang ahli, akan dikatakan kurang tepat.

Kegiatan membaca ini saya lakukan hampir setiap hari, dengan suara yang lantang, tanpa peduli mengganggu atau tidak pada lingkungan sekitar, biasanya waktunya setelah sholat Maghrib hingga Isya’, tidak peduli lafaz benar atau salah, yang penting membaca. Aku baca pula terjemahnya.

Perjalanan hidup, memang siapa yang tahu. Perilaku membaca ini ternyata berbuah semangat untuk mengetahui arti bacaan sholat. Dan aku baca: ihdinashshirotol mustaqiim, dst: Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat, bukan jalan-jalan mereka yang Engkau murkai dan bukan pula jalan-jalan orang-orang yang sesat. Terbentur, terperangah, menghujam ke dalam diri. Aku lihat, aku saksikan, aku dengar, kondisi lingkungan memang seperti jalan yang kedua dan ketiga. Kebanyakan dalam lingkungan kami, kawin dulu baru menikah, mengadu nasib dengan berjudi adalah kegiatan yang biasa saja, mabuk, dll. Aku bangkit, tidaaaak! Aku harus meraih jalan yang pertama.

Menjelang kelas tiga SMA, akhir dari kelas dua SMA, ketika lebaran telah tiba, seperti biasa orang-orang sungkem pada orang tua, dan seperti biasanya pula mereka akan meminta maaf pada orang tua. Aku telah bertekad! Saat sungkem itu, aku bukan meminta maaf, namun dengan berlinang air mata (padahal kakak-kakakku tidak ada yang menangis saat sungkem): “Wahai ayahanda, aku memohon dengan sangat, do’akanlah aku agar menemukan jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, bukan jalan orang-orang dimurkai, bukan pula jalan orang-orang yang sesat”. Mengucur deras air mataku, ketika aku meminta permohonan ini. Bapakku menekan kepalaku dalam dekapannya, aku dengar kakak-kakakku tertawa, tetapi aku tidak peduli.

Ya, Allah, tekad itu telah aku canangkan sejak akhir kelas dua SMA. Ya, Allah, selamatkanlah aku di dunia dan di akhirat kelak, selalu dalam jalan yang lurus, dalam nikmat-MU. Ampunilah kami Ya Allah...