Showing posts with label ikhlas. Show all posts
Showing posts with label ikhlas. Show all posts

25 February 2009

Terimalah

Dalam salah satu ilmu tasawwuf (akhlak kepada Allah), kalimat: La ilaha illallah diberi makna dalam 4 serangkai, yang pertama adalah: La maujuda illallah (tidak ada yang wujud/ hakiki kecuali hanyalah Allah semata). Maka terimalah apa pun yang terjadi, baik terjadi karena sudah kita prediksi sebelumnya maupun yang tidak kebayang sebelumnya, bahkan yang tak terduga-duga sebelumnya. Semuanya terimalah.

Penjelasan lebih lanjut dari kalimat La maujuda illallah adalah:
Di sini
Begini
Saat ini
saya adalah ciptaan Allah

Tak ada jeda, mestinya, begitu ada kejadian atau terjadi kejadian seperti yang tidak kita inginkan langsung kita terima dengan baik. Ini adalah kondisi ideal. Mengapa? Karena banyak yang begitu menerima kejadian, maka ada jeda waktu untuk menerimanya, sedih dulu, aau gembira dulu, atau yang lainnya.

Demikianlah kejadian yang kurang baik bagi diriku juga terjadi. Hasil lab dari Rumah Sakit yang telah dilakukan hari Senin, ternyata cukup mengagetkan.

Nilaiku Standard
Kolesterol Total 250 < 200
Kolesterol LDL 141 < 130
Trigliserida 265 60 s/d 165
Asam Urat 9,8 3.4 s/d 7.0

Yang mengagetkan tentunya asam urat, sebulan sebelumnya hanya 7,9 (hasil lab dari Kimia Farma) dan sambil minum obat, memang Senin 23 Feb 2009 itu obat asam urat sudah habis, namun melonjak begitu tinggi padahal masih dalam hari-hari minum obat.

Dan yang patut disyukuri Trigliserida yang mengalami penurunan padahal sebelumnya mencapai angka di atas 300 (314).

Entahlah apa yang terjadi pada diriku. Apa yang aku makan, apa yang aku konsumsi, apa yang aku kerjakan. Memang jari tanganku sering terasa panas dan kaku, jempol kakiku pun sakit ketika terkena benda dengan agak keras.

Tetapi kejadian ini memang harus diterima. Inilah jika menerimanya karena Allah (sebagaimana La maujuda illallah), maka inilah ikhlas, semata menerima apapun yang diinginkan oleh Allah. Tentunya masih ada lanjutan untuk bisa disebut ikhlas. Namun yang pertama dari ikhlas adalah menerima ketentuan Allah, dan semua adalah dari Allah.

23 October 2007

Divide et Impera

Pulang mudik kali ini, aku menyempatkan berkumpul dengan mahasiswaku yang berasal dari Pati, dan memang rasanya inilah yang lebih aku tuju. Mereka telah mengundang beberapa hari sebelumnya bahwa mereka akan berkumpul pada hari Senin, 15 Oktober 2007, dan aku minta jangan terlalu siang, karena kuatir aku datang terlambat. Dan alhamdulillah mereka setuju untuk mengubah jadwal menjadi setelah Maghrib.

Kondisi fisik yang sakit, kemungkinan asam urat kambuh, memang membuat aku ragu untuk hadir ke Pati, karena waktu tempuh perjalanan yang lama, nyaris 14 jam atau 8 jam jika kondisi lalu lintas kosong. Namun sifat ingin selalu kumpul dengan generasi muda yang lebih fresh yang lebih mempunyai idealisme dibanding yang sudah tua-tua, menyebabkan aku sedikit memaksakan diri untuk hadir di Pati.

Alhamdulillah, kami berhasil sampai sebelum acara benar-benar dibubarkan, acara utama tentunya makan malam, dan semua tamu beserta tuan rumah sudah selesai makan. Kami datang sekitar jam 20-an yang memang sudah wajar hal itu terjadi.

Pertemuan ini membawa berkah tersendiri, betapa tidak kesulitan warga Indonesia bekerjasama agak sedikit terjawab, dalam pertemuan ini. Kami mendapatkan masukan dari orang tua mahasiswa yang sempat menjadi polisi dan kemudian undur diri dini, karena alasan yang kurang jelas aku terima, mungkin pendengaranku agak kurang, karena menempuh perjalanan selama 14jam. Intinya beliau memilih undur diri dari kepolisian karena budaya di keluarganya yang memang tidak menginginkan untuk berada dalam birokrasi.

Beliau menyampaikan pendapatnya: mengapa bangsa Indonesia demikian ini adanya?
  1. Penduduk menerima kondisi kesengsaraan yang tak ada habisnya akibat pimpinan yang tidak ikhlas mengelola negeri. Mestinya pimpinan mengambil peran yang utama, sehingga pengangguran tidak meningkat, yaitu dengan ikhlas hati mengelola negeri ini.
  2. Kesatuan dan persatuan hanyalah sebuah angan-angan, karena telah ratusan tahun diupayakan untuk tidak bersatu dengan politik Belanda, yaitu Divide Et Impera. Belanda memang sengaja dan terus berusaha agar langgeng kekuasaannya, dengan cara membenturkan pejuang Idonesia dengan orang Indonesia yang telah mampu dibeli oleh Belanda, melalui jabatan, duit dan fasilitas yang lain. Dan bekas penjajahan yang demikian ini ternyata tidak berkurang hingga sekarang. Karena orang Indonesia belum benar-benar mampu menemukan kesamaan yang mampu mempersatukan mereka.
Memang Belanda tidak usah disalahkan, mereka memang sudah salah, yang menjadi persoalan sekarang adalah bagaimana caranya supaya kita mampu menghilangkan ilmu Belanda itu, sehingga kita mampu bekerjasama, mampu mengelola negeri ini dengan sebaik-baiknya. Kekuatan dalam jalinan yang kokoh bukan pada kekuatan orang yang paling kuat, tetapi ada pada orang yang paling lemah. Kelebihan jika dikumpulkan dengan tepat akan membawa kekuatan yang lebih kuat lagi, sehingga kelemahan akan terkurangi karenanya.

Belanda memang licik, namun tak perlulah kita sebut yang demikian ini, yang kita perlukan sekarang adalah bagaimana kita mampu sadar diri, kelebihan kita pastilah ada kekurangannya, sehingga kita mampu menerima kelebihan orang lain untuk dapat membuat sebuah kekuatan yang amat dahsyat. Apa itu?