Subuh sekitar jam 02, rasanya ada yang membisikku untuk segera bangun sholat. Aku ogah-ogahan untuk bangun, kembali sekitar jam 04 suara itu membisikkan kembali. Aku terbangun, tetapi kakiku terasa sakit, mungkinkah asam uratku kembali kambuh. Aku bangunkan istri untuk mengambilkan air minum. Dengan berat istriku mengambil air minum. Alhamdulillah, setelah minum beberapa teguk, aku mulai merasa ringan kaki. Kulangkahkan kakiku ke kamar mandi, ambil air wudlu.
Sholatlah aku. Selesai sholat aku nyalakan TV untuk melihat berita-berita yang memang lebih pagi sekarang penyajiannya. Diantara sajian berita, Teteh (pembantu di rumah) memanggil-manggil nama anakku... Tiba-tiba anakku yang besar mengatakan kalau sepeda hilang.
Saya lari ke bawah dan keluar rumah, dan ... benar! Tiga sepeda yang dirantai jadi satu bengket hilang semua. Luar biasa yang pencuri ini. Tiga buah sepeda diambil sekaligus. Tak habis pikir aku, bagaimana pencuri itu mengambil tiga buah sepeda secara ambil bareng? Padahal ada pagar yang memang tidak dikunci tetapi dislot.
Anak-anakku ikutan melihat dan ... yah... mulai hari ini mereka tidak bisa main sepeda lagi. Anakku yang paling kecil ketika diberitahu bahwa sepedanya hilang, dengan santai menjawab: yah... pakai sepeda yang lebih gede saja. Dengan sabar aku jelaskan maksud hilangnya sepeda padahal matanya masih setengah merem. Aku turun, duduk di sofa, beberapa saat kemudian anakku yang terkecil yang menginginkan main sepeda muncul, setengah mengantuk dia melihat keluar, sepedanya sudah hilang.
Ada rasa salut pada pencuri yang mampu membawa sepeda sekaligus tiga dalam sekali angkut. Luar biasa.
Ada perenungan yang aku lakukan, apa salahku? Apakah aku telah mencuri pula? Ataukah aku telah berbuat tidak baik pada orang lain? Ataukah ada sahabatku yang telah curangi? Tak mampu aku menemukan fakta-fakta ini. Sehingga aku buat kesimpulan, memang demikianlah adanya.
Inilah negeriku yang belum bebas dari penyembahan pada selain Allah, benda-benda masih disembah sebagai kekuatan yang mampu menolong dengan segala hakikinya. Sehingga jika tidak mempunyai benda yang namanya uang, rasanya hidup tinggal kehampaan saja. Mengambil adalah sebuah cara yang paling cepat untuk mendapatkan benda tersebut.
Terbersit, seandainya aku telah berlaku tak baik terhadap orang lain, laksana kasus yang pernah dialami oleh khalifah Umar RA, beliau membebaskan seorang pencuri dari hukuman, karena ternyata pencuri tersebut memang benar-benar mengambil hak-nya saja. Telah berbulan, bertahun, dia tidak dibayar oleh majikannya, karenanya dia ambil (curi), namun karena kesalahan majikan yang demikian ini, majikan ini yang akhirnya dihukum oleh Umar RA. Aku kuatir pencurian ini, karena hal yang demikian ini. Namun aku renungkan, aku kaji, rasanya tidak ada, yang ada adalah pembantuku yang mengambil barang dan uangku serta uang yang menjadi tanggung jawabku, padahal dia telah diberikan kelebihan dari seharusnya gaji pembantu, dan pembantuku yang ini telah aku pecat.
Memang negeri ini belum seaman yang dinyatakan Allah dalam surat Al-Quraisy.
1. Karena kebiasaan orang-orang Quraisy,
2. (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.
3. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah Ini (Ka'bah).
4. Yang Telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.
Masih mudah orang melakukan tindakan yang tak terpuji atau malah memang terpuji?
Showing posts with label pencuri. Show all posts
Showing posts with label pencuri. Show all posts
16 August 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)

