09 July 2007

Sertifikasi Kompetensi

Ijazah sebagai tanda lulusnya seseorang dari bangku pendidikan, saat ini dipandang sudah tidak layak lagi, maka bermunculanlah fenomena sertifikasi. Program sertifikasi
juga dalam bentuk mengeluarkan ijazah yang sesuai dengan ujian yang dilaksanakan oleh lembaga sertifikasi.

Rasanya begitu banyaknya lembaga pendidikan yang tak begitu baik perilakunya menyebabkan kegagalan produk-produk pendidikan. Kegagalan atau ketakmampuan yang terselubung inilah yang memicu bermunculannya lembaga sertifikasi. Dan yang membuat lebih membingungkan lagi, siapa yang akan melegalkan lembaga sertifikasi? Ada yang menyebut ISO, dst. Kalau mensertifikasi ISO siapa? Masyarakat? Kalau masyarakat yang mensertifikasi siapa? Waduh, nggak selesai-selesai ternyata.

Inilah bukti masyarakat yang dikembangkan dengan asumsi 'pada dasarnya manusia tidak bisa dipercaya' atau kata yang lebih kasar 'pada dasarnya manusia itu tukang tipu'. Mbulet susah ditebak, kemana arah langkah yang akan ditempuh.

Memang dibutuhkan yang namanya lembaga yang dapat dipercaya, tetapi manakah ada lembaga yang saat ini dapat dipercaya? Padahal lembaga-lembaga sertifikasi juga
merupakan lembaga yang baru dibentuk, bagaimana lembaga yang seumur jagung dapat lebih dipercaya dibanding lembaga pendidikan yang sudah lama muncul?

Mereka ingin lulusan Perguruan Tinggi mempunyai bidang kompetensi yang bersifat teknis semata, paahal hidup bukan hanya sekedar urusan teknis. Bagaimana menemukan ide baru dari yang sebelumnya tidak ada. Apakah mungkin hal yang demikian diujikan? Ah, rasanya nggak mungkin hal ini dilakukan. Hal ini juga termasuk skenario negara adidaya sehingga yang miskin, yang bisa dikendalikan mereka suruh kita mengurusi yang detil yang teknis semata, sedangkan yang merupakan fondamen yang susah dipelajari, tetap bisa milik mereka semata saja.

No comments:

Post a Comment