Kamis 29 Maret 2007 jam 18:12 saya ditelpon oleh Bapak Adiwijaya, saya masih dalam perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta dan saat itu sudah memasuki tol bandara. Saya tidak terkejut karena sebelumnya sudah diberitahu oleh Bu Rahma untuk menyiapkan memorandum serah terima Ka. BKA, memang tidak secara jelas beliau (Bu Rahma) memberitahu, namun isu yang beredar dan hasil asessment yang beredar secara sembunyi-sembunyi, saya ada sedikit keyakinan bahwa hal ini akan terjadi, walaupun rekan saya yang sangat baik dan manis, Ibu Lita, memberikan berbagai argumen bahwa hal itu tidak mungkin. Bagiku semua itu adalah takdir dan ketentuan Ilahi Rabbi. Jabatan adalah amanah. Dan saya digantikan oleh mantan Kaur Kesejahteraan Mahasiswa dan Alumni, Ibu Endang Budiasih.
Kepada Pimpinan STT Telkom, baik masa kepemimpinan Pak Harsono, dan Pak Husni. Terima kasih atas bimbingannya, terima kasih atas segala petunjuknya.
Kepada Pak Harsono terima kasih atas kepercayaannya, walaupun saya ragu untuk melaksanakan amanah ini, namun Bapak tetap mempercayakan kepada saya. Terima kasih.
Kepada Pak Husni mohon maaf atas segala kesalahan yang telah saya perbuat, apalagi di masa awal kepemimpinan Bapak, sempat membuat pusing dan pemikiran yang cukup panjang dengan tulisan saya, yaitu: Perusahaan A dan Perusahaan B. Sekali lagi mohon maaf. Semoga apa yang telah dilakukan bermanfaat.
Ketakmampuan sayalah yang menyebabkan beredarnya sms yang bernada tidak enak dari para mahasiswa, kasar dan berkesan bukan dari gaya mahasiswa. Seandainya saya mampu mengendalikan diri dan mengatur kata-kata, tentunya sms yang demikian tidak terjadi. Sekali lagi mohon maaf.
Kepada Pak Imam Harjono, terima kasih atas kesabaran Bapak membimbing dan mengarahkan saya. Begitupun saya mohon maaf atas segala kekurangan saya. Masih ingat dibenak saya, di awal saya masuk BKA, nyaris seminggu saya tidak di BKA, karena masih harus sibuk mengajar dan menyesuaikan jadwal yang cukup padat untuk mengajar. Dan seterusnya pun masih sering begitu, karena penyakit asam urat (ah... ini mah lebih banyak karena ogoh). Sungguh semangat Bapak untuk mengubah paradigma cara berfikir kehidupan Perguruan Tinggi telah menjadi ide di sebagian perguruan tinggi lain: “Perguruan Tinggi harus dimenej dengan baik, harus profesional, dan diatur sebagaimana sebuah industri. Keuntungan bukanlah harus dihindari, harus diupayakan, harus diusahakan. Sepanjang keuntungan bukan untuk pemilik saham, namun digulirkan dalam bentuk penambahan fasilitas dan kemampuan organisasi dalam membentuk jati diri Perguruan Tinggi”. Sesuai dengan keinginan Bapak agar saya menyelesaikan proposal Jambore IT, dan begitupun pemberlakuan TNK, insya Allah ini adalah tetap menjadi tanggung jawab, saya tidak akan berlepas diri, tekad ini laksana yang dulu pernah pula aku sampaikan ke Pak Husni (saat beliau menjadi Puket 2), ketika beliau menanyakan status kuliah S2, maka saya tulis jawaban via e-mail: saya akan memperjuangkannya bahkan sampai mati sekalipun.
Kepada Pak Hendratno, terima kasih atas penerimaan yang baik, atas ide-ide yang saya sampaikan langsung ke Bapak dan terima kasih pula sarannya. Sungguh STT Telkom membutuhkan tenaga administrasi dan standard administrasi yang baik. Karenanya para pejabat mestinya dibekali dengan kemampuan, sebagaimana di PNS maupun di Telkom adalah Susmin (Kursus Administrasi), Suskeu (Kursus Administrasi Keuangan), dan Suspim (Kursus Pimpinan), dan seterusnya yang memberi bekal bagi mereka supaya tidak terkena disclaimer jika diaudit. Dan sungguh pula sarana dan prasarana kemahasiswaan masih sangat kurang. Jika Bapak mengingatkan kepada saya agar mengurangi kekumuhan di SC, maka sungguh pula masalahnya adalah karena kekurangan ruangan, mestinya ada gudang yang dapat menyimpan inventaris UKM yang berbentuk besar dan panjang, mereka akan sayang membuang bambu yang bisa digunakan untuk background acara. Karenanya ide untuk membangun lapangan serbaguna (dulu adalah lapangan futsal) amat dan sangat diperlukan. Ada sekitar 46 organisasi mahasiswa, sedangkan SC hanya berisi 26 ruang saja, kemana yang 20 lagi? Dan tahun 2006 ada kegiatan mahasiswa sebanyak 303 kegiatan. Bandingkan dengan sarana kurikuler (ruang kelas, lab., dll) yang anggaran operasionalnya per departemen nyaris atau bahkan memang menembus angka 10M lebih (perkiraan saya: 2M x 5 unit yang mengurusnya). Dan lagi sudah ada investor yang berminat, mengapa tidak segera ditindaklanjuti?
Kepada Pak Rendy, terima kasih atas bantuan dan pengertiannya, sehingga ide saya walaupun belum dilaksanakan namun telah Bapak terima. Yaitu tentang penilaian kegiatan mahasiswa (TNK) dan juga waktu khusus untuk kegiatan mahasiswa, yaitu dikosongkannya seluruh aktiftas kurikuler. Kasihan unit yang mengurusi kemahasiswaan, jika tidak ada waktu yang demikian ini, mereka harus bersedia bekerja 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu, anak-suami/istri mereka bagaimana?
Kepada seluruh teman-teman dosen dan karyawan yang lain, saya mohon maaf atas segala keisengan saya dan segala beban yang minta ditanggung bersama. Terima kasih kepada Pak Jangkung selaku Pembina UKM Djawa, Bapak telah berkenan hadir dalam pagelaran UKM Djawa, namun kok tidak sampai selesai sih... Begitupun kepada Bapak Ary Murti yang telah menyisihkan waktunya untuk menghidupkan robotic club, walaupun sampai saat ini belum mampu menembus sampai laga final. Pak Kemas yang masih muda dan energik, energi anda begitu besar sayang jika hanya digunakan untuk memikirkan dunia saja, peran anda telah nyata, programming club telah menunjukkan batang hidungnya, ayo lebih maju lagi !!! Ms Flo and Ms Retno, SEC go to internationally award!
Begitupun kepada para Ketua Departemen dan Ketua Prodi terima kasih segala bantuannya, semoga pemahaman yang semakin baik, bahwa manusia tidak hidup hanya dalam satu sisi, memberi perubahan wacana kurikulum yang lebih komprehensif dan mendalam.
Kepada para Staff BKA, Bu Lita yang manis, yang penuh ide untuk mengarahkan dan mengembangkan kemampuan kemahasiswaan STT Telkom, terima kasih atas bantuannya atas ide-ide cemerlangnya. Kita harus sabar, kita harus mampu membedakan mana yang dapat kita kerjakan dan mana yang hanya dapat dipikirkan dan wacanakan saja, dengan penyebaran kuisioner pekerjaan konseling semakin banyak, namun ruangan untuk konseling yang memang butuh ruang khusus, mosok menangis di depan banyak orang, mosok menguraikan masalah yang amat pribadi di depan banyak orang, semoga ruangan konseling bisa segera didapatkan.
Kepada Pak Adiwijaya terima kasih atas ide-ide cemerlang untuk menggerakkan seluruh staff bekerja bersama dalam menghadapi tingginya aktifitas di BKA. Selamat membuat proposal S3.
Kepada Pak Hari nu terlihat semakin matang, sepuh, terima kasih telah setia mendampingi para pejabat kemahasiswaan Kopertis sehingga beasiswa yang disalurkan melalui Kopertis semakin bertambah banyak, dan kita pun dapat semakin akrab dengan Kopertis. Pertandingan badminton dengan mereka mungkin lebih dipersering.
Pak Tatang yang masih muda, yang dengan keajegan kehadiran, tak terpengaruh oleh yang lain, tetap hadir sebelumnya jam 9.00 dan pulang setelah jam 16.30. Sungguh luar biasa konsistensi Pak Tatang, terima kasih atas segala bantuan pendataan kemahasiswaan sehingga saat awal tahun 2007 kita bisa mendapatkan data bahwa ada 303 kegiatan mahasiswa pada tahun 2006, dan hanya sekitar 100juta rupiah (di luar kegiatan yang dikomandani oleh BEM yaitu PDKT, LDKO, LDKO Lanjut, dan Kunjungan Industri) yang BKA keluarkan untuk membantu mahasiswa melakukan kegiatan tersebut (inilah kehebatan mahasiswa, dana sedikit tak jadi masalah, tetap melangkah dan sukses!) Terima kasih, anda adalah pegawai teladan. Asahlah terus kemampuan administrasi Pak Tatang, insya Allah, kemampuan Pak Tatang amat dibutuhkan STT Telkom, apalagi kemarin (Kamis 29 Maret 2007) Direktur P2M mengatakan bahwa kegiatan PKM pun akan dilakukan audit, perhatikan tanggal-tanggal penandatanganan, perhatikan arsip-arsip yang harus ada: surat-surat dari Dikti, pengumuman-pengumuman yang telag kita lakukan, lokakarya penulisan dengan mahasiswa, lokakarya dengan dosen, proposal PKM, laporan kegiatan pelaksanaan PKM, laporan keuangan, foto-foto kegiatan PKM, dll. Harus didokumentasikan dengan sebaik-baiknya. Selamat, Pak Tatang! O, ya, kapan menikah? (Saran: jangan buru-buru kalau memang belum matang)
Untuk Bu Nunu, sungguh Bu Nunu mempunyai kemampuan yang luar biasa, yang tidak biasa dibanding orang lain, jika Bu Nunu mau mengerjakannya yang berarti mengembangkan kemampuan diri, sungguh Bu Nunu akan lebih maju lagi. Saya dengar Bu Nunu mengajukan diri untuk kuliah lanjut, silakan Bu Nunu, bagus itu dilakukan. Terima kasih atas bantuannya. Kesalahan yang lalu, biarlah berlalu, yang penting di depan harus lebih baik lagi. Lupakanlah kesalahan itu, jangan diulangi.
Kepada Bapak Ruhiyat terima kasih telah menyediakan sarana olah raga bagi karyawan, yaitu badminton, dan saat ini pun kegiatan olah raga ini semakin banyak penggemarnya, sampai harus nunggu dua pertandingan baru bisa makin. Nuhun, Pak Ruhiyat. Saran saya: kalau fotocopi jangan terlalu lama, dan tidak diperlu ditungguin di tempat fotocopy, kecuali yang di fotocopy hanya sedikit saja.
Bu Oneng, bagaimanapun mahasiswi suka dengan Bu Oneng yang dengan gaya Sundanya membuat mahasiswi sebagian besar masih betah di asrama putri. Asrama yang baru akan membutuhkan sentuhan Bu Oneng dengan lebih baik lagi, asrama lebih baru bangunannya dan lebih bagus tata letaknya. Bu Oneng harus lebih rajin lagi olah raga.
Para mahasiswa STT Telkom, terutama yang telah bergabung dalam kepengurusan organisasi mahasiswa, terima kasih atas peran sertanya, sungguh tanpa keaktifan saudara, organisasi mahasiswa tidak akan semarak dan tidak akan bertambah banyak, prediksi saya saat ini ada sekitar 46 organisasi mahasiswa, baik yang telah mempunyai sekretariat di SC dan GSG, maupun yang tidak mempunyai sekretariat. Lahan ini memang untuk mengembangkan kemampuan anda. Jadi jangan sungkan untuk terus berkembang dan berusaha dengan sekuat tenaga. Aktifitas yang kreatif harus terus dikembangkan dan distrukturkan. Majulah mahasiswa STT Telkom! Dukunglah pengawakan yang baru, terus bantu mereka sehingga anda sendiri, teman-teman anda mampu meningkatkan kemampuan dan wawasan anda.
Para Alumni yang telah bersedia meluangkan waktu untuk mengurusnya teman-teman, terima kasih. Kekuatan alumni STT Telkom sungguh luar biasa, kemampuannya yang tinggi di bidang ICT tentunya memberi warna tersendiri kancah kehidupan di bumi Indonesia ini. Aktifitas harus segera dijalankan. Program kan sudah tersusun. Tentang sekretariat Pak Wakil Ketua Bidang Administrasi Umum telah bersedia mempersiapkan ruangan untuk sekretariat, tempat diskusi dan mengembangkan jalur networking diantara para alumni. Ayolah, alumni pasti bisa! Terima kasih atas kesempatan yang telah diluangkan.
IOM. Organisasi ini masih terasa baru di STT Telkom, padahal sejak awal berdiri STT Telkom pun organisasi ini sudah ada, aktifitas yang kurang terarah menyebabkan IOM kurang dikenal di kalangan mahasiswa maupun orang tua. Pak Gultom terima kasih telah bersedia menerima amanah ini. Terima kasih atas bantuannya.
Ke depan saya pribadi akan membantu mengurus berdirinya Prodi Matematika dan Fisika telah tahunan sejak STT Telkom mencanangkan akan mendirikan kedua prodi ini, memang belum tergarap dengan baik, namun saat ini telah ada tim yang bersedia mengurus untuk mewujudkannya. Dengan kedua prodi ini diharapkan riset di STT Telkom tidak lagi hanya sekedar mengaplikasikan teknologi yang ada, namun lebih jauh lagi dapat mengembangkan teknologi yang lebih baru. Begitupun riset-riset di ilmu dasar dapat berkembang lebih baik lagi. Selain itu, kemampuan berbahasa Inggris yang masih rendah harus ditingkatkan dan dikejar ketertinggalannya, insya Allah dengan tekad yang kuat dan bantuan rekan-rekan saya mampu mencapainya. Tambahan lagi, telah tercanangkan bahwa tahun 2008 saya harus mulai kuliah lagi, insya Allah, saya akan mempersiapkannya dengan baik.
Kemungkinan pengawakan di bagian ini, akan mempertemukan dua orang yang dulu pernah di bagian ini (yaitu Ibu Endang Budiasih) dan Ibu mantan kaur Minat dan Bakat (yaitu Ibu Litasari) kepemimpinan dua orang ini yang telah mempunyai pengalaman yang cukup banyak beraktifitas dengan mahasiswa akan menyebabkan lancarnya segala urusan dan meningkatnya aktifitas kemahasiswaan dan turunannya. Mari kita dukung bersama, sehingga prestasi, torehan kemampuan mahasiswa dapat semakin meningkat dan sesuai dengan cita-cita bersama, tidak hanya mengurusi dari sisi akademis saja, melainkan melibatkan pula kemampuan di luar akademis (bahasa kerennya: Softskill, eh... sop sikil)
Sekali lagi terima kasih atas segala bantuan, baik moril, waktu, tenaga, pemikiran dll sehingga tugas saya di BKA dapat berlangsung dengan baik. Terima kasih kepada semua pihak yang tak mampu saya sebutkan satu per satu.
Terima kasih.
Hatur nuhun.
Matur nuwun.
Thank you.
Ari gato.
Syukron.
Bandung, 30 Maret 2007
Drs. Mahmud ‘Imrona, MT
Teriring pula ucapan terima kasih dan permohonan maaf atas kesalahan-kesalahan Suamiku dan Bapakku:
1. Dini Handayani, ST (istri)
2. Fathiyyah Nur Azizah (anak pertama)
3. Nashir Idzharul Huda (anak kedua)
4 Ahshonat Izzatul Haq (anak ketiga)
5. Ilmi Diena Aliya (anak keempat)
6. Ayyida Aini Rahmah (anak kelima)
7. Umar Al Faruq (anak ketujuh)
30 March 2007
16 March 2007
Perjalanan Ke Banjarmasin
Tanggal 19 Februari 2007 kami berempat (IMH, MHD, ADW, dan putra IMH) naik Lion Air menuju Banjarmasin untuk studi banding tentang kemahasiswaan, dengan harga tiket Rp320.000,-
Rencana balik, karena banyak kegiatan, Selasa, 20 Februari 2007, jam 18.00, dengan harga Rp290rb. Untuk penginapan kita menginap di Hotel Rattan In: Rp 471rb,-.
Rencana pertemuan di Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat pada Selasa jam 9.00.
Tanggal 19 Februari 2007 perjalanan darat terasa begitu mencekam, karena ada info
Jakarta banjir kembali, kuatir jalan tol menuju bandara Soekrano-Hatta juga kebanjiran.
Ternyata jalan tol tidak banjir, yang berakibat kita sampai sekitar jam 13, nunggu cukup lama untuk bisa check in, waktu yg tertulis di tiket 15.40, namun pesawat berangkat jam 15.10 tepat waktu, yg berbeda hanya ditulisannya.
Pesawat yang kami naiki adalah Boeing MD90, tempat duduk di 25F tepat di sayap
Cuaca di atas ternyata cukup kurang bersahabat, hujan sempat terjadi beberapa saat menjelang take off.
Namun menjelang turun, suara air hujan mendera atap seeessss, pesawat turun dan berbelok ke kiri kemudian ke kanan. Bunyi roda telah diturunkan. Terasa pesawat tidak turun2. Awan terlihat sudah di atas pesawat. Rumah2, sawah terlihat. Dan run way. Roda menyentuh daratan. Rem bercuitan, kaca2 buram oleh air hujan, hujan deras. Alhamdulillah selamat. 18.12 Sjamsudin Nur.
Fakutas kedokteran Unlam mempunyai mahasiswa sebanyak 400 akademik + 200 koas
PD 3 Fak Kedokteran Unlam: Bapak Eko Suhartono.
========================
PR3 Unlam Bapak Sofyan menyempatkan diri hadir dan memberikan sambutan:
Fak Kedokteran berdiri sejak tahun 1990. Kegiatan kemahasiswaaan yg diselenggarakan secara terjadwal dari Dikti: PKM, LKTM, LKTM InTim
Di Kupang dalam rangka LKTM Indonesia Timur (Intim) maju dua finalis dari Unlam, yaitu: Kesehatan, Ekonomi. Dan untuk kesehatan menang juara 1.
Untuk Pimnas 2007: 24 judul lolos tahap pertama
Kegiatan mahasiswa diletakkan di fakultas, karena sumber kekuatan di fak. bukan di Universitas.
Ada fak lain yang belum ada respon, yg aktif eksata dan kedokteran. Fesiminas (Festival Seni Mahasiswa Nasional) 2tahun sekali. Pomnas tahun 2007 di Banjarmasin
UKM di bawah Universitas: Menwa, Palang Merah, Pramuka.
UKM di fak minimal spt Univ + yg lain
Dana terbatas tidak menjadi penghenti kegiatan, harus diakali per fakultas hanya 15 juta Rp, itupun dibagi dua, yaitu yang diselenggarakan secara langsung oleh mahasiswa dan yang diadakan oleh pihak Fakultas (misal: workshop proposal Pimnas).
Kemungkinan ada kunjungan balik ke STT Telkom.
Secara resmi PR3 Unlam acara studi banding ini.
==================
Puket 3 STT Telkom:
Menyambut dengan memperkenalkan diri: S1 TE, S1TK, S1 TI, S1IF, D3TE, D3IF, S2TE, S1 TT= 8 prodi.
Apakah perlu fak kedokteran belajar database? Mereka minta membuat perangkat lunak utk melakukan kegiatan spt apa dokter tsb.
Oleh-oleh dari Balikpapan: sekolah dianggap sudah jalan, jika sudah menerapkan copy
paste, kreatifitas tidak ditekankan, kegiatan kemahasiswaan dianggap terpinggirkan (suplemen saja).
Terima kasih kpd PR3. Semoga silaturahmi ini bisa berlanjut. Kami mengundang PR3 dan PD3 ke STT Telkom.
==========
Eko Suhartono, Fak Ked memberikan presentasi, bahwa di Fakultas Kedokteran terdapat:
TPKM yang diawaki oleh: Bambang Setiawan, SKed, Meitria Syahadatina Noor
Satu angkatan pertama 40 mhs, kemudian meningkat menjadi 80mhs
SKKM (Sistem Kredit Kegiatan Mahasiswa) mulai dari ITS, dinilai oleh PD3 dan dikoordinator
==> kegiatan kemahasiswaan membuat penilaian berbahaya, karena kemungkinan meninggalkan kuliah besar sekali, karena itu menggunakan jatah waktu 20% dari telah ditentukan.
Ide dasar SKKM kegiatan kemahasiswaan mandek, bahkan sempat tidak ada calon Presiden Mahasiswa.
Kurikulum baru ada yg berbicara ttg leardership dan kewirausahaan
Format SKKM:
Tri Darma (50%) dan Organisasi Mahasiswa (50%)
Juara Lomba Kompetisi dimasukkan menjadi TA 1 dan jika menang TA 2
Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia oleh LIPI bulan Juli, mulai bulan Februari
TPKM berdiri Agustus 2006
program pendampingan: 1 dosen 2 mahasiswa
PRISMA: 2juta per proposal yg disetujui
Usaha yg sungguh2 dari Pak Eko
3-5% dari dana DIPA
10-13 juta/ semeter utk seluruh kegiatan kemhsan
8juta
utk kemahasiswaan: termasuk lokakarya
dana utk mhs: dari fakultas
IOM
Sponsor
proposal dimajukan setiap semester diadu berapa biayanya, diseleksi
Komunikasi dgn pihak yg terkait harus baik
Beasiswa
BLM (badan legislatif mahasiswa)
Periode kepengurusan selama 2 semester (1 tahun)
Utk setiap kegiatan ada sosialisasi yg intensif dan adanya SKKM
Ada aturan menteri bahwa utk kegiatan yg bersifat nasional, mahasiswa mendapat dispensasi
Ketidakhadiran menggunakan jatah 20% yg disediakan
(kehadiran minimal 80%)
Metode getok tular
Harus dilakukan adalah sosialisasi ttg pentingnya kegiatan kemahasiswaan dan juga sistem penilaian kegiatan kemahasiswaaan.
=====
Makan di kedai Batu Panai Martapura ternyata amat murah. Kami berlima dengan sopi BRI, Pak Eka namanya, makan ikan bawal bakar 5 ekor, dada ayam goreng dgn ukuran lebih besar dari biasanya, minum es campur, es teler, jus nangka, jus jeruk, jeruk hangat dan jus tomat, ditambah dengan sayur asem yang diberi santan, krupuk satu plastik isi 10 buah, ditambah lagi, kripik tempe 2 plastik, air ades dua botol
500ml, nasi dua bakul, hanya menghabiskan 80ribu rupiah, membuat kami terkaget-kaget, murah banget!
============
Balik ke Bandung
Di bandara bayar peron 30ribu, dan dipaksa beli asuransi 20ribu, jika tidak beli petugas tidak membolehkan masuk ke tempat tunggu
Kami naik pesawat Wings Air, warna merah, Boeing MD82. waktu 1 jam 30 menit. Aris Rismanto kapten pilot. Jam 18.22 pesawat bergerak pelan.18.27 mesin pesawat bergerak
mencepat dan pesawat bergerak naik, goncangan akibatt landasan yg kurang mulus terasa amat besar, pesawat meninggalkan landasan mencapai ketinggian yg diinginkan, lapisan awan tertembus, gelap rasanya goncangan2 kecil masih sering terjadi, berganti warna putih mangkak awan yg tersorot lampu pesawat menambah kengerian tersendiri. Gomcangan2 masih kadang terjadi. Kilatan2 lampu yg dipantulkan awan ataukah kilatan petir. Suara sunyi penumpang pesawat, suara2 orang yg agak kuatir, cuaca buruk, ucapnya di belakang kursiku. Alhamdulillah akhirnya pramugari mengucapkan: lampu sabuk pengaman telah dimatikan, 18:36, dan batuk2 kecil bersangkutan berkesan penumpang agak lega, betapa pesawat mampu mencapai ketinggian yg diingnkan.
Pramugari (Setyarini) pun membagikan air minum, iseng aku bertanya: "kenapa sih, mbak belahan roknya kok tinggi amat". Mbaknya pun tidak menjawab, tersenyum pun tidak.
18.45 saya sempat kencing yang memang sejak tadi ditahan dibandara untuk dikeluarkan di pesawat, masa bayar 300-an ribu kok tanpa kencing di pesawat.
Sambil menuju ke toilet aku hitung jumlah tempat duduk: 37x5 dikurangi 2x3 tempat duduk yg tersedia. Dan tempat duduk yang dekat dengan jendela darurat adalah 24 dan 25. Yg paling nyaman nomor 25.
Di toilet ada pemberitahuan jangan merokok dan jika sampai membunyikan alarm asap kena denda $2000 US berdasarkan aturan internasional.
19.16 pramugari mengambil bekas gelas minum
19.31 dari jendela di bawah terlihat titik2 lampu bahkan ada sedertan lampu, apakah kapal atau pulau seribu?
19.35 ada pengumuman dari pramugari sebentar lagi pesawat mendarat di SH Airport, pakai sabuk pengaman, melipat meja, dan mengambil sisa2 gelas. Tekanan udara lumayan menganggu telinga, beberapa kali membuka mulut untuk memecahkan tutupan telinga tersebut. Cahaya lampu ruangan dikurangi.
Pesawat sedikit bergetar menembus awan menuju tempat yang lebih rendah. Lampu perahu2 kecil bertebaran dan setinggi pesawat bergelantungan awan hitam. Cahaya lampu Jakarta
memperlihatkan pesonanya. Wusss betapa indahnya lampu berjajar dengan tatanan yang dikehendaki oleh yang menatanya.
19.45 Terasa pesawat lebih merendah dan bauran pemandangan lampu, desisi keras suara angon, derotan rem roda, dan pesawat pun berjalan pelan, menuju tempat parkir pesawat.
Jam 19.52 pesawat berhenti. Orang2 bangun dari duduk, mengambil barang, padahal pintu belum dibuka, santai aja lagi.... Antrian terhenti.
==================
Oleh-oleh paling berharga dari perjalanan ini adalah adanya SKKM yang telah dilakukan di Faklutas Kdokteran Unlam ini, dan akan kami adopsi menjadi TNK (Transkrip Nilai Kemahasiswaan) sehingga aktifitas kemahasiswaan yang cukup padat di STT Telkom dan juga amat dibutuhkan di industri akan kemampuan tersebut, menjadi berharga, tidak sia-sia. TNK ini akan membuat batasan siapa-siapa yang bisa ikut wisuda dan mendapatkan beasiswa. Semoga semakin tumbuh dan semaraklah kehidupan kemahasiswaan di STT Telkom dan industri pun mengejar alumninya...
Rencana balik, karena banyak kegiatan, Selasa, 20 Februari 2007, jam 18.00, dengan harga Rp290rb. Untuk penginapan kita menginap di Hotel Rattan In: Rp 471rb,-.
Rencana pertemuan di Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat pada Selasa jam 9.00.
Tanggal 19 Februari 2007 perjalanan darat terasa begitu mencekam, karena ada info
Jakarta banjir kembali, kuatir jalan tol menuju bandara Soekrano-Hatta juga kebanjiran.
Ternyata jalan tol tidak banjir, yang berakibat kita sampai sekitar jam 13, nunggu cukup lama untuk bisa check in, waktu yg tertulis di tiket 15.40, namun pesawat berangkat jam 15.10 tepat waktu, yg berbeda hanya ditulisannya.
Pesawat yang kami naiki adalah Boeing MD90, tempat duduk di 25F tepat di sayap
Cuaca di atas ternyata cukup kurang bersahabat, hujan sempat terjadi beberapa saat menjelang take off.
Namun menjelang turun, suara air hujan mendera atap seeessss, pesawat turun dan berbelok ke kiri kemudian ke kanan. Bunyi roda telah diturunkan. Terasa pesawat tidak turun2. Awan terlihat sudah di atas pesawat. Rumah2, sawah terlihat. Dan run way. Roda menyentuh daratan. Rem bercuitan, kaca2 buram oleh air hujan, hujan deras. Alhamdulillah selamat. 18.12 Sjamsudin Nur.
Fakutas kedokteran Unlam mempunyai mahasiswa sebanyak 400 akademik + 200 koas
PD 3 Fak Kedokteran Unlam: Bapak Eko Suhartono.
========================
PR3 Unlam Bapak Sofyan menyempatkan diri hadir dan memberikan sambutan:
Fak Kedokteran berdiri sejak tahun 1990. Kegiatan kemahasiswaaan yg diselenggarakan secara terjadwal dari Dikti: PKM, LKTM, LKTM InTim
Di Kupang dalam rangka LKTM Indonesia Timur (Intim) maju dua finalis dari Unlam, yaitu: Kesehatan, Ekonomi. Dan untuk kesehatan menang juara 1.
Untuk Pimnas 2007: 24 judul lolos tahap pertama
Kegiatan mahasiswa diletakkan di fakultas, karena sumber kekuatan di fak. bukan di Universitas.
Ada fak lain yang belum ada respon, yg aktif eksata dan kedokteran. Fesiminas (Festival Seni Mahasiswa Nasional) 2tahun sekali. Pomnas tahun 2007 di Banjarmasin
UKM di bawah Universitas: Menwa, Palang Merah, Pramuka.
UKM di fak minimal spt Univ + yg lain
Dana terbatas tidak menjadi penghenti kegiatan, harus diakali per fakultas hanya 15 juta Rp, itupun dibagi dua, yaitu yang diselenggarakan secara langsung oleh mahasiswa dan yang diadakan oleh pihak Fakultas (misal: workshop proposal Pimnas).
Kemungkinan ada kunjungan balik ke STT Telkom.
Secara resmi PR3 Unlam acara studi banding ini.
==================
Puket 3 STT Telkom:
Menyambut dengan memperkenalkan diri: S1 TE, S1TK, S1 TI, S1IF, D3TE, D3IF, S2TE, S1 TT= 8 prodi.
Apakah perlu fak kedokteran belajar database? Mereka minta membuat perangkat lunak utk melakukan kegiatan spt apa dokter tsb.
Oleh-oleh dari Balikpapan: sekolah dianggap sudah jalan, jika sudah menerapkan copy
paste, kreatifitas tidak ditekankan, kegiatan kemahasiswaan dianggap terpinggirkan (suplemen saja).
Terima kasih kpd PR3. Semoga silaturahmi ini bisa berlanjut. Kami mengundang PR3 dan PD3 ke STT Telkom.
==========
Eko Suhartono, Fak Ked memberikan presentasi, bahwa di Fakultas Kedokteran terdapat:
TPKM yang diawaki oleh: Bambang Setiawan, SKed, Meitria Syahadatina Noor
Satu angkatan pertama 40 mhs, kemudian meningkat menjadi 80mhs
SKKM (Sistem Kredit Kegiatan Mahasiswa) mulai dari ITS, dinilai oleh PD3 dan dikoordinator
==> kegiatan kemahasiswaan membuat penilaian berbahaya, karena kemungkinan meninggalkan kuliah besar sekali, karena itu menggunakan jatah waktu 20% dari telah ditentukan.
Ide dasar SKKM kegiatan kemahasiswaan mandek, bahkan sempat tidak ada calon Presiden Mahasiswa.
Kurikulum baru ada yg berbicara ttg leardership dan kewirausahaan
Format SKKM:
Tri Darma (50%) dan Organisasi Mahasiswa (50%)
Juara Lomba Kompetisi dimasukkan menjadi TA 1 dan jika menang TA 2
Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia oleh LIPI bulan Juli, mulai bulan Februari
TPKM berdiri Agustus 2006
program pendampingan: 1 dosen 2 mahasiswa
PRISMA: 2juta per proposal yg disetujui
Usaha yg sungguh2 dari Pak Eko
3-5% dari dana DIPA
10-13 juta/ semeter utk seluruh kegiatan kemhsan
8juta
utk kemahasiswaan: termasuk lokakarya
dana utk mhs: dari fakultas
IOM
Sponsor
proposal dimajukan setiap semester diadu berapa biayanya, diseleksi
Komunikasi dgn pihak yg terkait harus baik
Beasiswa
BLM (badan legislatif mahasiswa)
Periode kepengurusan selama 2 semester (1 tahun)
Utk setiap kegiatan ada sosialisasi yg intensif dan adanya SKKM
Ada aturan menteri bahwa utk kegiatan yg bersifat nasional, mahasiswa mendapat dispensasi
Ketidakhadiran menggunakan jatah 20% yg disediakan
(kehadiran minimal 80%)
Metode getok tular
Harus dilakukan adalah sosialisasi ttg pentingnya kegiatan kemahasiswaan dan juga sistem penilaian kegiatan kemahasiswaaan.
=====
Makan di kedai Batu Panai Martapura ternyata amat murah. Kami berlima dengan sopi BRI, Pak Eka namanya, makan ikan bawal bakar 5 ekor, dada ayam goreng dgn ukuran lebih besar dari biasanya, minum es campur, es teler, jus nangka, jus jeruk, jeruk hangat dan jus tomat, ditambah dengan sayur asem yang diberi santan, krupuk satu plastik isi 10 buah, ditambah lagi, kripik tempe 2 plastik, air ades dua botol
500ml, nasi dua bakul, hanya menghabiskan 80ribu rupiah, membuat kami terkaget-kaget, murah banget!
============
Balik ke Bandung
Di bandara bayar peron 30ribu, dan dipaksa beli asuransi 20ribu, jika tidak beli petugas tidak membolehkan masuk ke tempat tunggu
Kami naik pesawat Wings Air, warna merah, Boeing MD82. waktu 1 jam 30 menit. Aris Rismanto kapten pilot. Jam 18.22 pesawat bergerak pelan.18.27 mesin pesawat bergerak
mencepat dan pesawat bergerak naik, goncangan akibatt landasan yg kurang mulus terasa amat besar, pesawat meninggalkan landasan mencapai ketinggian yg diinginkan, lapisan awan tertembus, gelap rasanya goncangan2 kecil masih sering terjadi, berganti warna putih mangkak awan yg tersorot lampu pesawat menambah kengerian tersendiri. Gomcangan2 masih kadang terjadi. Kilatan2 lampu yg dipantulkan awan ataukah kilatan petir. Suara sunyi penumpang pesawat, suara2 orang yg agak kuatir, cuaca buruk, ucapnya di belakang kursiku. Alhamdulillah akhirnya pramugari mengucapkan: lampu sabuk pengaman telah dimatikan, 18:36, dan batuk2 kecil bersangkutan berkesan penumpang agak lega, betapa pesawat mampu mencapai ketinggian yg diingnkan.
Pramugari (Setyarini) pun membagikan air minum, iseng aku bertanya: "kenapa sih, mbak belahan roknya kok tinggi amat". Mbaknya pun tidak menjawab, tersenyum pun tidak.
18.45 saya sempat kencing yang memang sejak tadi ditahan dibandara untuk dikeluarkan di pesawat, masa bayar 300-an ribu kok tanpa kencing di pesawat.
Sambil menuju ke toilet aku hitung jumlah tempat duduk: 37x5 dikurangi 2x3 tempat duduk yg tersedia. Dan tempat duduk yang dekat dengan jendela darurat adalah 24 dan 25. Yg paling nyaman nomor 25.
Di toilet ada pemberitahuan jangan merokok dan jika sampai membunyikan alarm asap kena denda $2000 US berdasarkan aturan internasional.
19.16 pramugari mengambil bekas gelas minum
19.31 dari jendela di bawah terlihat titik2 lampu bahkan ada sedertan lampu, apakah kapal atau pulau seribu?
19.35 ada pengumuman dari pramugari sebentar lagi pesawat mendarat di SH Airport, pakai sabuk pengaman, melipat meja, dan mengambil sisa2 gelas. Tekanan udara lumayan menganggu telinga, beberapa kali membuka mulut untuk memecahkan tutupan telinga tersebut. Cahaya lampu ruangan dikurangi.
Pesawat sedikit bergetar menembus awan menuju tempat yang lebih rendah. Lampu perahu2 kecil bertebaran dan setinggi pesawat bergelantungan awan hitam. Cahaya lampu Jakarta
memperlihatkan pesonanya. Wusss betapa indahnya lampu berjajar dengan tatanan yang dikehendaki oleh yang menatanya.
19.45 Terasa pesawat lebih merendah dan bauran pemandangan lampu, desisi keras suara angon, derotan rem roda, dan pesawat pun berjalan pelan, menuju tempat parkir pesawat.
Jam 19.52 pesawat berhenti. Orang2 bangun dari duduk, mengambil barang, padahal pintu belum dibuka, santai aja lagi.... Antrian terhenti.
==================
Oleh-oleh paling berharga dari perjalanan ini adalah adanya SKKM yang telah dilakukan di Faklutas Kdokteran Unlam ini, dan akan kami adopsi menjadi TNK (Transkrip Nilai Kemahasiswaan) sehingga aktifitas kemahasiswaan yang cukup padat di STT Telkom dan juga amat dibutuhkan di industri akan kemampuan tersebut, menjadi berharga, tidak sia-sia. TNK ini akan membuat batasan siapa-siapa yang bisa ikut wisuda dan mendapatkan beasiswa. Semoga semakin tumbuh dan semaraklah kehidupan kemahasiswaan di STT Telkom dan industri pun mengejar alumninya...
Membangun softskill melalui Masjid
Telah lama ternyata saya tidak menulis di blog ini, padahal ada dua tulisan yang nyaris selesai ditulis. Ini salah satunya.
Softskill sudah semakin digandrungi oleh pengguna lulusan Peguruan Tinggi. Tak bisa dipungkiri para pengguna menginginkan tenaga kerja yang masuk ke industri, harus
mempunyai kemampuan lebih dari sekedar kemampuan formal di pekerjaannya.
Memang industri pasti menginginkan tenaga kerja yang bekerja harus mempunyai kemampuan teknis yang sesuai dengan bidangnya. Petugas perencana jaringan, jelas harus mampu membuat rencana jaringan. Begitupun petugas bagian pemasaran harus mempunyai kemampuan yang cukup sehingga mampu menjual produk-produk yang dihasilkan oleh industri tersebut.
Namun selain itu, pegawai harus mempunyai kemampuan untuk menyampaikan ide-ide brilian yang akan menghasilkan tambahan inovasi baru bagi terus berkembangnya industri tersebut. Kemampuan menyampaikan ide adalah kemampuan dasar teknik berkomunikasi, tak ada gunanya ide cemerlang, jika tidak mampu menyampaikannya dengan baik. Jika menyampaikannya sembarangan, misalkan dengan cara menjatuhkan ide yang lain, jelas akan membuat pemiliki ide yang dijatuhkannya akan tersinggung, sehingga akan membangun kebencian dari pegawai lain, sedangkan dalam satu perusahaan adalah satu kesatuan, jika terbangun kelompok-kelompok yang saling bersaing tentunya dapat
membuat tidak efektifnya organisasi di perusahaan tersebut.
Softskill yang diungkapkan oleh Direktur PAK pada saat Sarasehan PR/PK/PD bidang Kemahasiswaan pada PIMNAS 2006 di UMM meliputi, tiga hal, yaitu:
1. Leadership
2. Lifeskill
3. Communication skill
Kawah candradimuka mengolah ketiga hal di atas tentunya dapat dilakukan di Masjid, sebagai pusat kegiatan Ummat Islam. Masjid yang sebagaimana dicontohkan oleh Nabi
Muhammad SAW, bukan hanya sekedar menjadi tempat sholat, namun juga tempat menggembleng para kader Islam, tempat berlatih menghadapi segala permasalahan ummat, tempat mendiskusikan langkah-langkah menuju perbaikan ummat. Sehingga memang harus ada perubahan-perubahan yang mesti dilakukan di kalangan ummat Islam sendiri.
Kesan yang selama ini bahwa Masjd tertutup dari kegiatan-kegiatan yang bersifat keduniawian, haruslah digeser. Kegiatan yang bersifat keduniawian harus digeser
menjadi kegiatan keduniawian yang dapat dipertanggungjawabkan di akhirat kelak, yang artinya kegiatan dunia yang berakhir di akhirat dengan baik.
Ketundukkan yang ditunjukkan oleh orang-orang di Masjid harus dibawanya bukan hanya di Masjid saja, namun sampai keluar Masjid dalam kehidupan sehari-hari.
Masjid tidak hanya menjadi sufi-sufi yang takut dengan dunia. Namun harus mampu menghadirkan sosok-sosok pemimpin yang tahu dunia, dan dia mampu menundukkan dunia tersebut. Sehingga warna kegiatan yang bersifat keduniawian menjadi ada nuansa ukhrowi, ada nuansa menuju keselamatan di dunia dan di akhirat kelak.
Masjid tidak bisa menjadi hanya sekedar tempat bersembunyinya orang-orang yang berlari dari dunia, karena takut tertelan oleh duniawi, tetapi terperosok menjadi
orang amat takut dengan dunia, laksana dunia lebih kuat dan lebih kokoh dibanding Allah Yang Maha Besar.
Karenanya Masjid pun wajar pula mendapatkan sarana komunikasi yang memadai sehingga peran masjid yang ingin mengirimkan berbagai gaya orang untuk berkecimpung di
duniawi tak kehilangan sentuhan duniawi, tetapi tetap dalam koridor kemasjidan.
Softskill sudah semakin digandrungi oleh pengguna lulusan Peguruan Tinggi. Tak bisa dipungkiri para pengguna menginginkan tenaga kerja yang masuk ke industri, harus
mempunyai kemampuan lebih dari sekedar kemampuan formal di pekerjaannya.
Memang industri pasti menginginkan tenaga kerja yang bekerja harus mempunyai kemampuan teknis yang sesuai dengan bidangnya. Petugas perencana jaringan, jelas harus mampu membuat rencana jaringan. Begitupun petugas bagian pemasaran harus mempunyai kemampuan yang cukup sehingga mampu menjual produk-produk yang dihasilkan oleh industri tersebut.
Namun selain itu, pegawai harus mempunyai kemampuan untuk menyampaikan ide-ide brilian yang akan menghasilkan tambahan inovasi baru bagi terus berkembangnya industri tersebut. Kemampuan menyampaikan ide adalah kemampuan dasar teknik berkomunikasi, tak ada gunanya ide cemerlang, jika tidak mampu menyampaikannya dengan baik. Jika menyampaikannya sembarangan, misalkan dengan cara menjatuhkan ide yang lain, jelas akan membuat pemiliki ide yang dijatuhkannya akan tersinggung, sehingga akan membangun kebencian dari pegawai lain, sedangkan dalam satu perusahaan adalah satu kesatuan, jika terbangun kelompok-kelompok yang saling bersaing tentunya dapat
membuat tidak efektifnya organisasi di perusahaan tersebut.
Softskill yang diungkapkan oleh Direktur PAK pada saat Sarasehan PR/PK/PD bidang Kemahasiswaan pada PIMNAS 2006 di UMM meliputi, tiga hal, yaitu:
1. Leadership
2. Lifeskill
3. Communication skill
Kawah candradimuka mengolah ketiga hal di atas tentunya dapat dilakukan di Masjid, sebagai pusat kegiatan Ummat Islam. Masjid yang sebagaimana dicontohkan oleh Nabi
Muhammad SAW, bukan hanya sekedar menjadi tempat sholat, namun juga tempat menggembleng para kader Islam, tempat berlatih menghadapi segala permasalahan ummat, tempat mendiskusikan langkah-langkah menuju perbaikan ummat. Sehingga memang harus ada perubahan-perubahan yang mesti dilakukan di kalangan ummat Islam sendiri.
Kesan yang selama ini bahwa Masjd tertutup dari kegiatan-kegiatan yang bersifat keduniawian, haruslah digeser. Kegiatan yang bersifat keduniawian harus digeser
menjadi kegiatan keduniawian yang dapat dipertanggungjawabkan di akhirat kelak, yang artinya kegiatan dunia yang berakhir di akhirat dengan baik.
Ketundukkan yang ditunjukkan oleh orang-orang di Masjid harus dibawanya bukan hanya di Masjid saja, namun sampai keluar Masjid dalam kehidupan sehari-hari.
Masjid tidak hanya menjadi sufi-sufi yang takut dengan dunia. Namun harus mampu menghadirkan sosok-sosok pemimpin yang tahu dunia, dan dia mampu menundukkan dunia tersebut. Sehingga warna kegiatan yang bersifat keduniawian menjadi ada nuansa ukhrowi, ada nuansa menuju keselamatan di dunia dan di akhirat kelak.
Masjid tidak bisa menjadi hanya sekedar tempat bersembunyinya orang-orang yang berlari dari dunia, karena takut tertelan oleh duniawi, tetapi terperosok menjadi
orang amat takut dengan dunia, laksana dunia lebih kuat dan lebih kokoh dibanding Allah Yang Maha Besar.
Karenanya Masjid pun wajar pula mendapatkan sarana komunikasi yang memadai sehingga peran masjid yang ingin mengirimkan berbagai gaya orang untuk berkecimpung di
duniawi tak kehilangan sentuhan duniawi, tetapi tetap dalam koridor kemasjidan.
06 February 2007
Banjir Jakarta
Sengaja judulnya dibalik, mungkin dari sisi hukum MD dan DM yang diikuti oleh bahasa Indonesia akan melakukan kesalahan. Namun dengan penyangatan ini, ada yang sempat kepikiran bahwa Jakartalah yang telah membanjiri koran-koran, TV-TV, radio-radio, e-mail e-mail, dst. Semua berbicara tentang Jakarta yang ketiban banjir demikian dahsyat: 39 orang meninggal, 1 hilang, dan 1 kritis (data tadi malam tanggal 06/02/2007 dari ANTV, dihitung juga yang terkena longsor).
Banjir kali ini memang amat luar biasa: lebih lebar, lebih luas, lebih deras, dan lebih dalam.
Rasanya paling cocok Ibukota Negara dipindah ke Pulau Lain atau Kota Lain.
Ketika aku tulis dan publish tulisan ini tanggal 6 Februari 2007, malam harinya aku kaget. Tulisan ini menjadi topik yang hangat pula dibicarakan di salah satu stasiun TV Nasional. Bahkan pada acara tersebut disebut-sebut Gubernur Jabar mencalonkan Bogor sebagai ibukota.
Sebuah kenyataan pula Jakarta memiliki area yang terletak di bawah permukaan laut dengan luasan yang amat luas. Daerah sekitar Thamrin pun setiap tahun mengalami penurunan permukaan tanah. Ada juga informasi bahwa tanah Jakarta hanya memiliki ketebalan sekitar 30 meter, setelah itu bolong. Andaikan kita membuat tiang pancang, dan membenamkannya dengan pukulan bertubi-tubi, seandainya kekuatannya begitu besar sehingga mencapai kedalaman 30 meter, maka hilanglah tiang pancang tersebut.
Kacaunya tata ruang-kota dengan pelaksanaannya, membuat Jakarta pun begitu sulit dipecahkan dari masalah kemacetan. Ruang hijau yang masih tergolong amat dan sangat sedikit membuat kesulitan nafas di setiap hari.
Padahal di Indonesia masih begitu banyak tempat kosong, lihatlah Kalimantan sehamparan tanah yang begitu luas, tak ada jeda oleh rumah dan jalan. Masih mudah ditata dari awal dibanding memperbaiki Jakarta yang sudah kacau balau. Mending Ibukota dipindah ke pulau ini.
Kalau mau melihat contoh, bisa dilihat pada negara adidaya, Amerika Serikat, mereka pun pernah melakukan hal yang demikian ini, memindah ibukota yang lebih sesuai dengan peruntukkan ibukota.
Ya! Pindah saja! Susah mengurai masalah Jakarta!
Banjir kali ini memang amat luar biasa: lebih lebar, lebih luas, lebih deras, dan lebih dalam.
Rasanya paling cocok Ibukota Negara dipindah ke Pulau Lain atau Kota Lain.
Ketika aku tulis dan publish tulisan ini tanggal 6 Februari 2007, malam harinya aku kaget. Tulisan ini menjadi topik yang hangat pula dibicarakan di salah satu stasiun TV Nasional. Bahkan pada acara tersebut disebut-sebut Gubernur Jabar mencalonkan Bogor sebagai ibukota.
Sebuah kenyataan pula Jakarta memiliki area yang terletak di bawah permukaan laut dengan luasan yang amat luas. Daerah sekitar Thamrin pun setiap tahun mengalami penurunan permukaan tanah. Ada juga informasi bahwa tanah Jakarta hanya memiliki ketebalan sekitar 30 meter, setelah itu bolong. Andaikan kita membuat tiang pancang, dan membenamkannya dengan pukulan bertubi-tubi, seandainya kekuatannya begitu besar sehingga mencapai kedalaman 30 meter, maka hilanglah tiang pancang tersebut.
Kacaunya tata ruang-kota dengan pelaksanaannya, membuat Jakarta pun begitu sulit dipecahkan dari masalah kemacetan. Ruang hijau yang masih tergolong amat dan sangat sedikit membuat kesulitan nafas di setiap hari.
Padahal di Indonesia masih begitu banyak tempat kosong, lihatlah Kalimantan sehamparan tanah yang begitu luas, tak ada jeda oleh rumah dan jalan. Masih mudah ditata dari awal dibanding memperbaiki Jakarta yang sudah kacau balau. Mending Ibukota dipindah ke pulau ini.
Kalau mau melihat contoh, bisa dilihat pada negara adidaya, Amerika Serikat, mereka pun pernah melakukan hal yang demikian ini, memindah ibukota yang lebih sesuai dengan peruntukkan ibukota.
Ya! Pindah saja! Susah mengurai masalah Jakarta!
Label:
jakarta banjir
02 February 2007
From Zero to Hero
Kompilasi: KOmunitas Mahasiswa PILihan ASal patI. Anggotanya ternyata memang benar-benar pilihan, hari ini Rabu 30 Januari 2007, sekembali dari SMA Negeri Juwana, kami menuju rumah salah satu anggota KOMPILASI yang bernama Heri Markoneng.
Berada di daerah Kecamatan Gembong nun di kaki Gunung Muria, dengan jarak dari Pati sekitar 10 km di jalan rayanya. Daerahnya di sekitar hutan kapuk randu, dan tegalan singkong.
Dari jalan raya nyaris menembus angka 5Km, melewati jalan aspal yang cukup sempit, hanya cukup untuk satu mobil, tidak bisa untuk papasan. Mobil dan sepeda motor masih bisa melaju bareng dengan perlahan.
Jalan yang berkelok naik turun, standard daerah pegunungan. Sesekali melewati jalan aspal yang telah terkelupas. Tanah merah terhampar, dengan aneka tanaman khas daerah tegalan, singkong, rambutan, kapuk randu, waru, tanaman pagar. Belok kanan, belok kiri, berkali-kali, naik tanjakan, turunan lembah, sungai, rimbun dan sejuk suasana udaranya. Beda rasanya dengan daerah perkotaan, yang panas, pengap.
Sempat terlontar: "Wah, ada listrik apa tidak di sini?" Ucapan ini rasanya wajar terlontar, karena jauh dari jalan raya.
Sesekali Heri Markoneng berhenti memberi petunjuk tiga mobil yang menyengaja datang ke rumahnya. "Lurus saja!" di lain waktu: "Belok kanan ya...", terus sepeda motornya beringsut menyalip para mobil. Berhenti kembali, dan memberi aba-aba: "Belok kiri!"
Jauh amat rumah Heri Markoneng ini dari jalan raya yang cukup sempit pula hanya bisa dilewat dua mobil jenis truk ukuran tanggung dengan minibus.
Akhirnya belok kanan dan masuk jalan yang hanya sedikit tertutup aspal. Mobil Patria VW pak camat (safari) yang masuk Indonesia saat Suharto menjadi Presiden dan menjelang Pemilu akan dilangsungkan (wah aku lupa tahun berapa hal itu terjadi), berderit belok kiri dan menanjak tajam, masuk ke tanah Embahnya si Heri Markoneng yang masih tanah basah, sehabis diguyur hujan.
Roda mobil bertambah tebal oleh tanah basah, menempel tanah-tanah itu.
Bapaknya Heri Markoneng keluar dan setelah bersalaman dengan beberapa mahasiswa masuk kembali. Saya bersalaman dengan Heri Markoneng, sambil dia menunjuk yang di rumah sebelah adalah kakeknya. Menuju rumah kakek Heri, aku. Bersalaman dengan kakeknya dan neneknya. Dan bergerak menuju rumah Heri Markoneng.
Bersalaman dan mencoba mengetahui nama Bapaknya Markoneng, Kusin? Aduh ... aku lupa. Betapa mudahnya aku melupakan nama seseorang padahal baru beberapa jama saja, saat aku menulis cerita ini. O... ataukah Pak Kusnin? Tak ada kepastian aku.
Pak Kusnin (sebut saja begitu) mengajar di SD sejak tahun 80-an, dan telah beberapa tahun ini memegang kelas 6. Pangkatnya sudah 4A, kata beliau sudah mentok, berdasarkan aturan kepangkatan yang beliau ketahui. Jika beliau berminat naik lagi, harus membuat tulisan, dan hal itu berat bagi beliau.
Akibat begitu mudahnya terjadi perubahan kurikulum, membuat beliau kesulitan mengikutinya. Yang baru lalu kurikulum KBK, Kurikulum Berbasis Kompetensi, namun sekarang sudah muncul kurikulum 2004, yang beliau sampai lupa nama kurikulum tersebut.
Inilah kelemahan pemerintah cq Departemen Pendidikan Nasional cq lagi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Sosialisasi kurikulum tidak begitu tersampaikan dengan baik. Apakah ada? Biasanya memang ada, namun untuk tingkat daerah diserahkan per daerah yang bersangkutan. Tanpa dimonitoring dengan baik. Tentunya sosialisasi di tingkat pusat akan baik, karena pesertanya mendapatkan honor kepergian ke pusat, dan karena sosialisasi, biasanya tidak ada post test untuk mengukur seberapa tingkat penyerapan peserta sosialisasi. Jika penyerapan berhasil dengan predikat mencukupi saja, maka sosialisasi berikutnya di tingkat daerah tidak akan mungkin mampu menyerap dalam predikat baik, pasti di bawah mencukupi. Mestinya Depdiknas memikirkan pula efek samping dari ketidakberhasilan sosialisasi ini. Sudah pasti jika sosialisasi tidak berhasil akan menyebabkan kurikulum yang disusun dengan dana teramat besar, akan menyebabkan kebingungan di tingkat teknis penyampaian materi pelajaran. Akibat selanjutnya murid yang menjadi korban.
Karenanya tingkat penyerapan kurikulum (sosialisasi) di pusat haruslah tercapai amat baik atau sangat baik. Jika belum berhasil harus diulang atau diganti pesertanya. Keberjenjangan sosialisasi memang harus dilakukan, tidak mungkin semua guru didatangkan pada satu tempat dalam satu waktu. Kebertahapan sosialisasi kurikulum, dimulai dari Pusat, daerah tingkat 1, daerah tingkat 2, kecamatan dan terakhir tingkat sekolah.
Dengan perubahan yang amat kentara akibat kurangnya jumlah guru sehingga berubah kembali guru kelas, bukan lagi guru bidang studi, jelas membawa efek yang cukup besar.
Dengan segala kekurangan yang demikian banyak toh mampu menghasilkan seorang alumni dari SD tersebut melaju dengan baik bisa diterima di jurusan Teknik Informatika STT Telkom, sebuah prestasi yang sungguh gemilang dari Heri Markoneng. Selamat kepada Heri Markoneng, betapa usahamu demikian menarik untuk ditiru dan diikuti. Tiada penghalang yang menghadang, yang tak mampu ditundukkan. Maju terus, jangan melemah hanya karena berasal dari kampung thuk thuk ... yang jauh dari kota. Justru bibit unggul inilah yang nantinya mesti membuat perubahan yang gemilang dari negeri Indonesia yang kaya namun miskin, mental dan spiritualnya...
Berada di daerah Kecamatan Gembong nun di kaki Gunung Muria, dengan jarak dari Pati sekitar 10 km di jalan rayanya. Daerahnya di sekitar hutan kapuk randu, dan tegalan singkong.
Dari jalan raya nyaris menembus angka 5Km, melewati jalan aspal yang cukup sempit, hanya cukup untuk satu mobil, tidak bisa untuk papasan. Mobil dan sepeda motor masih bisa melaju bareng dengan perlahan.
Jalan yang berkelok naik turun, standard daerah pegunungan. Sesekali melewati jalan aspal yang telah terkelupas. Tanah merah terhampar, dengan aneka tanaman khas daerah tegalan, singkong, rambutan, kapuk randu, waru, tanaman pagar. Belok kanan, belok kiri, berkali-kali, naik tanjakan, turunan lembah, sungai, rimbun dan sejuk suasana udaranya. Beda rasanya dengan daerah perkotaan, yang panas, pengap.
Sempat terlontar: "Wah, ada listrik apa tidak di sini?" Ucapan ini rasanya wajar terlontar, karena jauh dari jalan raya.
Sesekali Heri Markoneng berhenti memberi petunjuk tiga mobil yang menyengaja datang ke rumahnya. "Lurus saja!" di lain waktu: "Belok kanan ya...", terus sepeda motornya beringsut menyalip para mobil. Berhenti kembali, dan memberi aba-aba: "Belok kiri!"
Jauh amat rumah Heri Markoneng ini dari jalan raya yang cukup sempit pula hanya bisa dilewat dua mobil jenis truk ukuran tanggung dengan minibus.
Akhirnya belok kanan dan masuk jalan yang hanya sedikit tertutup aspal. Mobil Patria VW pak camat (safari) yang masuk Indonesia saat Suharto menjadi Presiden dan menjelang Pemilu akan dilangsungkan (wah aku lupa tahun berapa hal itu terjadi), berderit belok kiri dan menanjak tajam, masuk ke tanah Embahnya si Heri Markoneng yang masih tanah basah, sehabis diguyur hujan.
Roda mobil bertambah tebal oleh tanah basah, menempel tanah-tanah itu.
Bapaknya Heri Markoneng keluar dan setelah bersalaman dengan beberapa mahasiswa masuk kembali. Saya bersalaman dengan Heri Markoneng, sambil dia menunjuk yang di rumah sebelah adalah kakeknya. Menuju rumah kakek Heri, aku. Bersalaman dengan kakeknya dan neneknya. Dan bergerak menuju rumah Heri Markoneng.
Bersalaman dan mencoba mengetahui nama Bapaknya Markoneng, Kusin? Aduh ... aku lupa. Betapa mudahnya aku melupakan nama seseorang padahal baru beberapa jama saja, saat aku menulis cerita ini. O... ataukah Pak Kusnin? Tak ada kepastian aku.
Pak Kusnin (sebut saja begitu) mengajar di SD sejak tahun 80-an, dan telah beberapa tahun ini memegang kelas 6. Pangkatnya sudah 4A, kata beliau sudah mentok, berdasarkan aturan kepangkatan yang beliau ketahui. Jika beliau berminat naik lagi, harus membuat tulisan, dan hal itu berat bagi beliau.
Akibat begitu mudahnya terjadi perubahan kurikulum, membuat beliau kesulitan mengikutinya. Yang baru lalu kurikulum KBK, Kurikulum Berbasis Kompetensi, namun sekarang sudah muncul kurikulum 2004, yang beliau sampai lupa nama kurikulum tersebut.
Inilah kelemahan pemerintah cq Departemen Pendidikan Nasional cq lagi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Sosialisasi kurikulum tidak begitu tersampaikan dengan baik. Apakah ada? Biasanya memang ada, namun untuk tingkat daerah diserahkan per daerah yang bersangkutan. Tanpa dimonitoring dengan baik. Tentunya sosialisasi di tingkat pusat akan baik, karena pesertanya mendapatkan honor kepergian ke pusat, dan karena sosialisasi, biasanya tidak ada post test untuk mengukur seberapa tingkat penyerapan peserta sosialisasi. Jika penyerapan berhasil dengan predikat mencukupi saja, maka sosialisasi berikutnya di tingkat daerah tidak akan mungkin mampu menyerap dalam predikat baik, pasti di bawah mencukupi. Mestinya Depdiknas memikirkan pula efek samping dari ketidakberhasilan sosialisasi ini. Sudah pasti jika sosialisasi tidak berhasil akan menyebabkan kurikulum yang disusun dengan dana teramat besar, akan menyebabkan kebingungan di tingkat teknis penyampaian materi pelajaran. Akibat selanjutnya murid yang menjadi korban.
Karenanya tingkat penyerapan kurikulum (sosialisasi) di pusat haruslah tercapai amat baik atau sangat baik. Jika belum berhasil harus diulang atau diganti pesertanya. Keberjenjangan sosialisasi memang harus dilakukan, tidak mungkin semua guru didatangkan pada satu tempat dalam satu waktu. Kebertahapan sosialisasi kurikulum, dimulai dari Pusat, daerah tingkat 1, daerah tingkat 2, kecamatan dan terakhir tingkat sekolah.
Dengan perubahan yang amat kentara akibat kurangnya jumlah guru sehingga berubah kembali guru kelas, bukan lagi guru bidang studi, jelas membawa efek yang cukup besar.
Dengan segala kekurangan yang demikian banyak toh mampu menghasilkan seorang alumni dari SD tersebut melaju dengan baik bisa diterima di jurusan Teknik Informatika STT Telkom, sebuah prestasi yang sungguh gemilang dari Heri Markoneng. Selamat kepada Heri Markoneng, betapa usahamu demikian menarik untuk ditiru dan diikuti. Tiada penghalang yang menghadang, yang tak mampu ditundukkan. Maju terus, jangan melemah hanya karena berasal dari kampung thuk thuk ... yang jauh dari kota. Justru bibit unggul inilah yang nantinya mesti membuat perubahan yang gemilang dari negeri Indonesia yang kaya namun miskin, mental dan spiritualnya...
Label:
Heri Markoneng
29 January 2007
Flu Burung
Ada banyak berita menarik yang terjadi berkaitan dengan flu burung di negeri yang begitu banyak sumber daya ini. Apapun yang dibutuhkan dari Bumi Indonesia semua bisa didapat. Barang tambang tak sedikit jumlah dan jenisnya. Tongkat kayu dan batu menjadi tanaman. Sungguh subur negeri ini. Sungguh kaya negeri ini. Kalau kemudian menjadi begitu mudah digoyang oleh negeri lain? Tak tahulah aku, walaupun mudah ditebak dan dirasa.
Setahun dua tahun tiga tahun yang lalu musibah ini terjadi nyaris berbarengan dengan ambisi Amerika Serikat menguasai perminyakan di negeri yang dulunya amat kesohor (Babilonia) yang saat ini bernama Irak. Amerika Serikat menyerbu Irak dengan dalih yang tak disetujui oleh Dewan Keamanan PBB, Irak mempunyai senjata pemusnah massal. Muncul wabah yang mematikan yaitu kasus flu burung, munculnya bukan dari negeri yang banyak memelihara atau men-ternakkan unggas. Dan bukan pula dari burung-burung yang beterbangan. Dan anehnya pula ternyata flu burung bukan virus yang sudah lama muncul. Rasanya tiba-tiba saja muncul dan sungguh mengagetkan: virus ini mematikan! Hanya tinggal 20% kesempatan hidup bagi yang terkena virus ini.
Di Indonesia orang-orang yang terkena virus ini sudah demikian banyak, bahkan Rumah Sakit yang telah dipilih oleh Pemerintah sebagai Rumah Sakit Rujukan, rasanya sudah mencapai angka seratusan. Hanya sedikit yang mampu melawan dan bertahan terhadap serangan virus ini. Menteri Kesehatan pun harus turun tangan langsung memperbincangkannya dan menebar upaya untuk mencegahnya.
Bahasa asingnya Avian Influenza, inilah flu burung, yang dalam terjemahan aslinya adalah flu yang terjadi pada unggas (burung, ayam, itik, dll yang mempunyai bentuk bersayap). Penyebab flu burung adalah sejenis virus H5N1. Kemampuan virus ini sungguh luar biasa, menyebabkan demam tinggi, napas terengah-engah, sesak napas. Awalanya virus ini tidak menular ke manusia. Namun dengan campur tangan manusialah, virus ini berubah menjadi suka untuk berkembang biak di tubuh manusia. Entahlah, manusia mana yang telah merangsang virus ini begitu suka ke tubuh manusia.
Beberapa pakar telah mengungkapkan bahwa begitu mudah menghancurkan virus flu burung. Virus ini tidak tahan terhadap air, artinya terhadap suhu air pun virus ini tidak mampu bertahan lama. Sehingga tak mampulah berkembang biak di negeri ini. Dan mati juga virus ini terhadap pemanasan yang baik saat memasak. Suhu masak-memasak biasanya berkisar pada 100-200 derajat Celcius. Artinya virus ini mampu dan suka hidup dalam suhu 20 - 100 derajat Celcius. Mudah sebenarnya virus ini dilawan. Cukup dengan membasuh, dicuci, dan dimasak. Namun mengapa kemudian menjadi amat mematikan di tubuh manusia? Siapakah yang telah berulah menjadikan virus ini menjadi demikian kuat dan berbahaya?
Setelah berbulan mereda kasus flu burung, kepanikan muncul lagi, beberapa orang telah terjangkit flu burung, mulai anak kecil umuur 3tahunan hingga orang dewasa, mulai hanya satu dua orang, hingga sekumpulan orang yag berjumlah tujuh orang. Artinya telah terjadi begitu banyak perubahan.
Dengan kondisi yang baru inilah, membuat pemerintah pusat dan daerah membuat kebijakan yang dalam pandangan saya amat tergesa-gesa dan penuh kontroversi. Semua unggas (burung dan ayam) yang dipelihara oleh orang per orang bukan dalam bentuk perusahaan yang cukup bermodal akan dihapuskan dari bumi Indonesia. Perusahaan-perusahaan besar (peternak unggas) dianggap telah memenuhi standart pemeliharaan yang mampu menjauhkan diri dari virus flu burung, sedangkan orang per orang dianggap tak memenuhi standard kesehatan.
Tentunya orang-orang yang dirugikan dengan kebijakan tersebut adalah orang-orang miskin, yang mencoba menambah gizi keluarganya atau menambah kemampuan ekonominya dengan sedikit memanfaatkan lahan yang ada, serta dengan memanfaatkan makanan orang-orang yang mungkin terbuang karena sudah merasa kenyang. Makanan kelebihan atau tak mampu dikonsumsi kembali oleh manusia inilah yang biasanya menjadi makanan bagi ayam-ayam yang dipelihara oleh orang-orang kecil ini. Namun dengan kebijakan ini membuat orang-orang kecil tak mempunyai kesempatan untuk menambah sedikit kemampuan ekonomi.
Dan yang lebih parah lagi adalah akan hilangnya ayam kampung yang dianggap lebih baik nilai gizinya dibanding ayam negeri (ayam peliharaan peternak). Tak terbayangkan olehku bagaimana jika yang ada nanti hanya ayam produk-produk peternak yang disebut banyak mempunyai kelemahan karena dipelihara dengan cara dirangsang menggunakan makanan yang amat dilebihkan nilai gizi bagi ayam. Kita pun bisa merasakan bagaimana nanti jika telur ayam yang ada adalah telur yang dirangsang dikeluarkan dari indung telur melalui makanan, bukan melalui rangsangan sperma ayam jantan. Telah banyak bukti-bukti yang diungkap tentang kelemahan dan ketidakbaikan dari produk ayam yang dirangsang dengan tidak wajar ini. Salah satunya lendir ayam yang tak mampu dilenyapkan atau diolah oleh tubuh.
Kebijakan ini tentunya dipengaruhi oleh kartel bisnis ayam potong yang bermodal kuat dan dekat dengan kekuasaan. Mereka tidak rela usahanya yang demikian besar modal kerjanya dikalahkan oleh orang-orang kecil yang bermodal ayam 2-3 ekor saja.
Karena penyebab flu burung adalah virus dan virus itu berada di luar tubuh manusia, maka terjangkitnya seseorang oleh flu burung dikarenakan kondisi tubuh kurang fit. Jika tubuh manusia kuat dan sehat maka virus tak akan mamu memoengaruhi tubuh tersebut. Dengan banyaknya pasien flu burung, berarti juga kondisi tubuh pasien tersebut kurang fit, sebelum terkena virus H5N1. Kalau kemudian dikaitkan dengan penambahan gizi orang kecil dengan menambah asupan daging ayam, melalui usaha kecil-kecilan beternak ayam kampung, maka dengan kebijakan pemerintah, maka gizi orang kecil akan semakin rendah. Oh ...
Solusi untuk mencegah terjangkit flu burung adalah jaga kondisi badan, makan sehat, olah raga, olah akal dan pikiran, istirahat yang cukup, ingat Yang Maha Berkehendak, karena rasa takut yang berlebihan akan menyebabkan sugesti yang boleh jadi menjadikan diri kita semakin rentan terhadap penyakit ini.
Setahun dua tahun tiga tahun yang lalu musibah ini terjadi nyaris berbarengan dengan ambisi Amerika Serikat menguasai perminyakan di negeri yang dulunya amat kesohor (Babilonia) yang saat ini bernama Irak. Amerika Serikat menyerbu Irak dengan dalih yang tak disetujui oleh Dewan Keamanan PBB, Irak mempunyai senjata pemusnah massal. Muncul wabah yang mematikan yaitu kasus flu burung, munculnya bukan dari negeri yang banyak memelihara atau men-ternakkan unggas. Dan bukan pula dari burung-burung yang beterbangan. Dan anehnya pula ternyata flu burung bukan virus yang sudah lama muncul. Rasanya tiba-tiba saja muncul dan sungguh mengagetkan: virus ini mematikan! Hanya tinggal 20% kesempatan hidup bagi yang terkena virus ini.
Di Indonesia orang-orang yang terkena virus ini sudah demikian banyak, bahkan Rumah Sakit yang telah dipilih oleh Pemerintah sebagai Rumah Sakit Rujukan, rasanya sudah mencapai angka seratusan. Hanya sedikit yang mampu melawan dan bertahan terhadap serangan virus ini. Menteri Kesehatan pun harus turun tangan langsung memperbincangkannya dan menebar upaya untuk mencegahnya.
Bahasa asingnya Avian Influenza, inilah flu burung, yang dalam terjemahan aslinya adalah flu yang terjadi pada unggas (burung, ayam, itik, dll yang mempunyai bentuk bersayap). Penyebab flu burung adalah sejenis virus H5N1. Kemampuan virus ini sungguh luar biasa, menyebabkan demam tinggi, napas terengah-engah, sesak napas. Awalanya virus ini tidak menular ke manusia. Namun dengan campur tangan manusialah, virus ini berubah menjadi suka untuk berkembang biak di tubuh manusia. Entahlah, manusia mana yang telah merangsang virus ini begitu suka ke tubuh manusia.
Beberapa pakar telah mengungkapkan bahwa begitu mudah menghancurkan virus flu burung. Virus ini tidak tahan terhadap air, artinya terhadap suhu air pun virus ini tidak mampu bertahan lama. Sehingga tak mampulah berkembang biak di negeri ini. Dan mati juga virus ini terhadap pemanasan yang baik saat memasak. Suhu masak-memasak biasanya berkisar pada 100-200 derajat Celcius. Artinya virus ini mampu dan suka hidup dalam suhu 20 - 100 derajat Celcius. Mudah sebenarnya virus ini dilawan. Cukup dengan membasuh, dicuci, dan dimasak. Namun mengapa kemudian menjadi amat mematikan di tubuh manusia? Siapakah yang telah berulah menjadikan virus ini menjadi demikian kuat dan berbahaya?
Setelah berbulan mereda kasus flu burung, kepanikan muncul lagi, beberapa orang telah terjangkit flu burung, mulai anak kecil umuur 3tahunan hingga orang dewasa, mulai hanya satu dua orang, hingga sekumpulan orang yag berjumlah tujuh orang. Artinya telah terjadi begitu banyak perubahan.
Dengan kondisi yang baru inilah, membuat pemerintah pusat dan daerah membuat kebijakan yang dalam pandangan saya amat tergesa-gesa dan penuh kontroversi. Semua unggas (burung dan ayam) yang dipelihara oleh orang per orang bukan dalam bentuk perusahaan yang cukup bermodal akan dihapuskan dari bumi Indonesia. Perusahaan-perusahaan besar (peternak unggas) dianggap telah memenuhi standart pemeliharaan yang mampu menjauhkan diri dari virus flu burung, sedangkan orang per orang dianggap tak memenuhi standard kesehatan.
Tentunya orang-orang yang dirugikan dengan kebijakan tersebut adalah orang-orang miskin, yang mencoba menambah gizi keluarganya atau menambah kemampuan ekonominya dengan sedikit memanfaatkan lahan yang ada, serta dengan memanfaatkan makanan orang-orang yang mungkin terbuang karena sudah merasa kenyang. Makanan kelebihan atau tak mampu dikonsumsi kembali oleh manusia inilah yang biasanya menjadi makanan bagi ayam-ayam yang dipelihara oleh orang-orang kecil ini. Namun dengan kebijakan ini membuat orang-orang kecil tak mempunyai kesempatan untuk menambah sedikit kemampuan ekonomi.
Dan yang lebih parah lagi adalah akan hilangnya ayam kampung yang dianggap lebih baik nilai gizinya dibanding ayam negeri (ayam peliharaan peternak). Tak terbayangkan olehku bagaimana jika yang ada nanti hanya ayam produk-produk peternak yang disebut banyak mempunyai kelemahan karena dipelihara dengan cara dirangsang menggunakan makanan yang amat dilebihkan nilai gizi bagi ayam. Kita pun bisa merasakan bagaimana nanti jika telur ayam yang ada adalah telur yang dirangsang dikeluarkan dari indung telur melalui makanan, bukan melalui rangsangan sperma ayam jantan. Telah banyak bukti-bukti yang diungkap tentang kelemahan dan ketidakbaikan dari produk ayam yang dirangsang dengan tidak wajar ini. Salah satunya lendir ayam yang tak mampu dilenyapkan atau diolah oleh tubuh.
Kebijakan ini tentunya dipengaruhi oleh kartel bisnis ayam potong yang bermodal kuat dan dekat dengan kekuasaan. Mereka tidak rela usahanya yang demikian besar modal kerjanya dikalahkan oleh orang-orang kecil yang bermodal ayam 2-3 ekor saja.
Karena penyebab flu burung adalah virus dan virus itu berada di luar tubuh manusia, maka terjangkitnya seseorang oleh flu burung dikarenakan kondisi tubuh kurang fit. Jika tubuh manusia kuat dan sehat maka virus tak akan mamu memoengaruhi tubuh tersebut. Dengan banyaknya pasien flu burung, berarti juga kondisi tubuh pasien tersebut kurang fit, sebelum terkena virus H5N1. Kalau kemudian dikaitkan dengan penambahan gizi orang kecil dengan menambah asupan daging ayam, melalui usaha kecil-kecilan beternak ayam kampung, maka dengan kebijakan pemerintah, maka gizi orang kecil akan semakin rendah. Oh ...
Solusi untuk mencegah terjangkit flu burung adalah jaga kondisi badan, makan sehat, olah raga, olah akal dan pikiran, istirahat yang cukup, ingat Yang Maha Berkehendak, karena rasa takut yang berlebihan akan menyebabkan sugesti yang boleh jadi menjadikan diri kita semakin rentan terhadap penyakit ini.
Label:
Flu Burung
Matematika di atas Daun
Sabtu ini, tanggal 27 Januari 2007, ada peristiwa yang saya hadiri (rencananya), yaitu: Sarasehan Tiga Pihak: Mahasiswa, Dosen dan Alumni Matematika ITB yang tergabung maupun tak tergabung dalam wadah yang dulu dan hingga sekarang bernama Himatika (Himpunan Mahasiswa Matematika) ITB. Sebuah wadah yang mempunyai yel-yel yang cukup menggetarkan hati, karena Himatika ingin jaya.
Ingin rasanya saya dapat hadir dengan waktu yang sesuai undangan panitia, yaitu mulai sekitar jam 13 sampai dengan jam 16 atau 17 dan dilanjut malam harinya. Namun apa daya kondisi badan tak sampai. Setelah sekeluarga (Diriku, Dua Anakku dan Istriku ditambah tetanggaku dan asistennya) pergi berobat di Cibaduyut, sampailah di rumah sekitar jam 12-an, ternyata badannya harus diistirahatkan terlebih dahulu, tidur. Istrku telah mencoba membangunkanku hingga tiga kali.
Akhirnya sekitar jam 15 aku mampu bangun, lemas rasanya, beberapa kali aku sms dengan temanku yang sering berfikir secara out of the box, bahwa sebaiknya Ketua Ikatan Alumni Matematika si Itu saja, namun temanku tadi menginginkan aku tetap hadir, bahkan ditunggu sama beliau.
Ya, di tempat mantan sekretariat LFM (Liga Film Mahasiswa) itulah aku akhirnya bertemu dengan teman-teman sejawatku, mantan para mahasiswa Matematika angkatan 86. Dia adalah: Maman si botak yang mempunyai kondisi badan masih tetap seperti saat kuliah dulu, hobbinya termasuk langka di Indonesia ini, yaitu Panjat Tebing, pernah dia jatuh hingga terpaksa menggendong tangannya beberapa hari (atau bulan) sambil kuliah yang setengah serius dan setengah tak serius. Saat itu dia seringkali berambut gondrong, dan sungguh jawaban dia yang membuat saya terhenyak: "Al-Ghozali pun berambut gondrong!".
Maman saat ini menjadi Presiden (Sekjen? aku agak lupa) Federasi Panjat Tebing Indonesia, membuat salah satu jalur panjat tebing di Citatah yang mempunyai kesulitan amat tinggi, yang orang awam jika melihat jalur tersebut akan terperanjat, ah, mana mungkin dipanjat! jalur tersebut diberi nama jalur Duloh!
Berikutnya Sucipto, orang keturunan Madura yang berasal dari Malang, dia orang yang sedikit kaku, pernah ikutan marching band, badannya tegap (pantas untuk bermain marching band), saat ini dia kerja di sekuritas, perusahaan pialang saham, setelah sebelumnya masuk juga ke jajaran penerbangan di Indonesia yang baru berdiri mengingati kasus beramai-ramainya orang-orang yang mempunyai modal untuk membangun maskapai penerbangan. Badannya sudah agak berkembang.
Dondi, asal Rumbai, Kepulauan Riau. Gaya biacaranya seperti kebiasaan orang seberang, suara yang terdengar agak dikulum, bagiku kurang jelas. Perawakannya hanya berubah sedikit dari yang dulu. Pengalaman kerjanya sungguh amat berharga, jatuh bangunnya dalam meraih kehidupan perekonomian begitu menarik hati. Pernah kerja di perusahaan yang saat ini pemiliknya menjadi menteri, yang terkenal dengan lambang bintangnya. Di perusahaan ini sempat merasa mapan bekerja, namun ketika krisis moneter di Indonesia, terjadilah kejadian yang sangat mengharukan, perusahaan kolaps, dan terpaksa melakukan Pemutusan Hubungan Kerja termasuk Dondi. Kegoncangan itu membuat dirinya sempat limbung dalam perjalanan pulang dari kantor ke rumahnya, namun kesadaran yang pelan-pelan tumbuh kembali bahwa Yang Maha Pemberi Rejeki tak akan melupakannya, membuat dirinya kembali tegar dan kokoh dalam menghadapi hidup ini. Dia bekerja di sekuritas. Dan sudah mulai enjoy bekerja di bidang ini, terbukti bisa menarik Cipto untuk bekerja di bidang ini.
Satu lagi yang saya temui dalam kesempatan ini adalah Arif MA'87, angkatan yang satu tahun lebih muda daripada diriku. Wajahnya yang cukup membuat para wanita kagum, memang gaya bicaranya amat santun. Rasanya sejak dulu masih seperti yang dulu, santun, agak mendekati gaya bicara kaum wanita. Pernah ikutan di STEMA (kelompok teater mahasiswa ITB), bekerja di PT Dirgantara Indonesia, perusahaan industri penerbangan di Indonesia yang saat ini terasa banyak masalah, karena PHK besar-besaran yang dilakukannya, karena para ekonom (yang menguasai peri kehidupan di negeri ini) tak menginginkan negara Indonesia mempunyai kemampuan di bidang yang tak menghasilkan dana dengan cukup, padahal tonggak sumber daya manusia untuk mengejar teknologi tinggi berasal dari perusahaan ini. Masih banyak perkerjaan yang dapat dikerjakan di perusahaan ini, namun tinggal orang-orangnya saja yang memandang: ini kewajiban atau tidak.
Memang saya hadir bukan dalam forum resmi yang diadakan oleh panitia, acara resminya sudah selesai yang akan dilanjut pada malam harinya, yaitu Ramah Tamah dalam bentuk yang kuduga akan ada pemilihan Ketua Ikatan Alumni Matematika ITB, namun entahlah aku belum tahu. Saat ini Ketua Ikatan Alumni Matematika ITB adalah dari angkatanku,
karena saat itu yang hadir terbanyak dari MA'86, jadi pantaslah jika Ketuanya dari angkatanku. Entah pada malam tanggal 27 itu, apakah terjadi pergantian atau tidak.
Di sekitar sekretariat LFM itulah dengan gayeng, kami ngobrol sambil menunggu Dondi mengobrol dengan Arif. Berbagai topik dibicarakan mulai dari Keprihatinan ITB terhadap lulusannya, hingga pekerjaan, dan tak lupa masa lalu yang penuh dengan keceriaan, keprihatinan, dan masa depan yang hendak diraih. Orang-orang yang hadir dalam kesempatan itupun sempat dibicarakan pula Isa (MA'85) yang menjadi salah satu Direktur di Departemen Keuangan, Desimon yang menjadi Direktur di TriMegah sekuritas, Yusman yang teman seangkatan dengan Isa dengan posisi jabatan yang jauh
tertinggal dengan Isa, dan saat kuliah lebih sering bertemu dengan angkatan '86. Sendang Drajat dan wow banyak lagi.
Ternyata alumni Matemtika telah tersebar begitu luas, bukan hanya dalam satu bidang pekerjaan saja, banyak diantaranya yang bekerja di Bank, di Perminyakan, di Saham, dosen, Industri manufaktur Penerbangan, dan lainnya.
Bicara kondisi Aceh saat tsunami yang membuat banyak orang tercengang, begitu banyak mayat, begitu banyak yang harus dibantu. Nah Maman inilah yang terjun langsung di Aceh, dia yang hanya membawa dua orang dokter dan sedikit obat-obatan tidak berani mengaku membawa dua hal itu. Dengan kemampuan membuka wacana out of the box-lah, berfikir di luar kotak yang sudah pakem, dia membuka diri. Nggak mungkin dia membantu masyarakat yang demikian banyak untuk dibantu dengan dua orang dokter dan sedikit obat-obatan, bisa-bisa dia akan dikerubungi oleh demikian banyak orang
dan mungkin sekali dia akan dikeroyok, bahkan mungkin sekali akan menyebabkan bencana baru bagi dirinya.Kemampuan berfikir di luar jalur itulah, yang membawanya ide untuk menemukan ide baru: apa yang dapat dilakukan oleh segelintir orang ini dengan sediki peralatan dan bantuan yang ada?
Sesaat merenung, sesaat berfikir apa yang mesti dilakukannya? Ide itu timbul dan muncul dengan gempita: pendataan! Maka dilakukan ide tersebut, dia dan hanya dalam hitungan jari orang yang bersama rombongannya, melakukan tugas pendataan yang belum dilakukan saat itu. Dia data orang-orang yang butuh bantuan dan apa jenis bantuan yang diperlukannya. Saat itu, ide ini tidak ada yang mengerjakannya.
Dalam kesempatan obrolan ini, muncul perbincangan tentang perubahan yang dilakukan ITB dalam penerimaan mahasiswa baru, mungkin setelah melihat Perguruan Tinggi lain. Dengan lebih mengedepankan Fakultas dan Sekolah, saat penerimaan, maka mahasiswa dikelompokkan pertama kali didalamnya. Tentunya ini memudahkan dalam rangka memberi bekal bagi mahasiswa baru yang tergabung dalam tahap pertama. Mahasiswa baru yang diberi bekal berdasarkan Fakultas atau Sekolahnya. Setelah setahun, barulah mahasiswa dimasukkan kedalam Departemen, dan persaingan pun akan muncul, untuk kasus Fakultas MIPA yang terdiri dari Departemen Matematika, Fisika, Kimia dan Astronomi terdapat 330 orang mahasiswa dan 130 memilih Departemen Matematika, sehingga kuota Departemen Matematika terpaksa dinaikkan menjadi 100 orang (dulu biasanya hanya 50-60 orang), artinya pula peminat di bidang Matematika yang terkenal rumit, sulit, tegas, hitam putih, semakin banyak dan menarik. Sebuah fenomena baru, orang Indonesia sebagian mulai tertarik dengan sesuatu yang bersifat kaku dan logis.
Dengan demikian, apakah STT Telkom yang Perguruan Tinggi Swasta berani mengambil langkah untuk membuka Departemen ini? Mengingat teknologi telekomunikasi begitu kental dengan Matematika, dan Statistik? Sebuah sokongan yang kuat untuk mengembangkan teknologi telekomunikasi. Bagaimana Departemen Sains STT Telkom? Siapkah untuk membuka Program Studi baru dengan basis Matematika dan Statistik? Ingatlah, saat ini masyarakat sudah berubah cara pandangnya. Lihatlah fenomena yang muncul di perguruan tinggi tetangga kita.
Ingin rasanya saya dapat hadir dengan waktu yang sesuai undangan panitia, yaitu mulai sekitar jam 13 sampai dengan jam 16 atau 17 dan dilanjut malam harinya. Namun apa daya kondisi badan tak sampai. Setelah sekeluarga (Diriku, Dua Anakku dan Istriku ditambah tetanggaku dan asistennya) pergi berobat di Cibaduyut, sampailah di rumah sekitar jam 12-an, ternyata badannya harus diistirahatkan terlebih dahulu, tidur. Istrku telah mencoba membangunkanku hingga tiga kali.
Akhirnya sekitar jam 15 aku mampu bangun, lemas rasanya, beberapa kali aku sms dengan temanku yang sering berfikir secara out of the box, bahwa sebaiknya Ketua Ikatan Alumni Matematika si Itu saja, namun temanku tadi menginginkan aku tetap hadir, bahkan ditunggu sama beliau.
Ya, di tempat mantan sekretariat LFM (Liga Film Mahasiswa) itulah aku akhirnya bertemu dengan teman-teman sejawatku, mantan para mahasiswa Matematika angkatan 86. Dia adalah: Maman si botak yang mempunyai kondisi badan masih tetap seperti saat kuliah dulu, hobbinya termasuk langka di Indonesia ini, yaitu Panjat Tebing, pernah dia jatuh hingga terpaksa menggendong tangannya beberapa hari (atau bulan) sambil kuliah yang setengah serius dan setengah tak serius. Saat itu dia seringkali berambut gondrong, dan sungguh jawaban dia yang membuat saya terhenyak: "Al-Ghozali pun berambut gondrong!".
Maman saat ini menjadi Presiden (Sekjen? aku agak lupa) Federasi Panjat Tebing Indonesia, membuat salah satu jalur panjat tebing di Citatah yang mempunyai kesulitan amat tinggi, yang orang awam jika melihat jalur tersebut akan terperanjat, ah, mana mungkin dipanjat! jalur tersebut diberi nama jalur Duloh!
Berikutnya Sucipto, orang keturunan Madura yang berasal dari Malang, dia orang yang sedikit kaku, pernah ikutan marching band, badannya tegap (pantas untuk bermain marching band), saat ini dia kerja di sekuritas, perusahaan pialang saham, setelah sebelumnya masuk juga ke jajaran penerbangan di Indonesia yang baru berdiri mengingati kasus beramai-ramainya orang-orang yang mempunyai modal untuk membangun maskapai penerbangan. Badannya sudah agak berkembang.
Dondi, asal Rumbai, Kepulauan Riau. Gaya biacaranya seperti kebiasaan orang seberang, suara yang terdengar agak dikulum, bagiku kurang jelas. Perawakannya hanya berubah sedikit dari yang dulu. Pengalaman kerjanya sungguh amat berharga, jatuh bangunnya dalam meraih kehidupan perekonomian begitu menarik hati. Pernah kerja di perusahaan yang saat ini pemiliknya menjadi menteri, yang terkenal dengan lambang bintangnya. Di perusahaan ini sempat merasa mapan bekerja, namun ketika krisis moneter di Indonesia, terjadilah kejadian yang sangat mengharukan, perusahaan kolaps, dan terpaksa melakukan Pemutusan Hubungan Kerja termasuk Dondi. Kegoncangan itu membuat dirinya sempat limbung dalam perjalanan pulang dari kantor ke rumahnya, namun kesadaran yang pelan-pelan tumbuh kembali bahwa Yang Maha Pemberi Rejeki tak akan melupakannya, membuat dirinya kembali tegar dan kokoh dalam menghadapi hidup ini. Dia bekerja di sekuritas. Dan sudah mulai enjoy bekerja di bidang ini, terbukti bisa menarik Cipto untuk bekerja di bidang ini.
Satu lagi yang saya temui dalam kesempatan ini adalah Arif MA'87, angkatan yang satu tahun lebih muda daripada diriku. Wajahnya yang cukup membuat para wanita kagum, memang gaya bicaranya amat santun. Rasanya sejak dulu masih seperti yang dulu, santun, agak mendekati gaya bicara kaum wanita. Pernah ikutan di STEMA (kelompok teater mahasiswa ITB), bekerja di PT Dirgantara Indonesia, perusahaan industri penerbangan di Indonesia yang saat ini terasa banyak masalah, karena PHK besar-besaran yang dilakukannya, karena para ekonom (yang menguasai peri kehidupan di negeri ini) tak menginginkan negara Indonesia mempunyai kemampuan di bidang yang tak menghasilkan dana dengan cukup, padahal tonggak sumber daya manusia untuk mengejar teknologi tinggi berasal dari perusahaan ini. Masih banyak perkerjaan yang dapat dikerjakan di perusahaan ini, namun tinggal orang-orangnya saja yang memandang: ini kewajiban atau tidak.
Memang saya hadir bukan dalam forum resmi yang diadakan oleh panitia, acara resminya sudah selesai yang akan dilanjut pada malam harinya, yaitu Ramah Tamah dalam bentuk yang kuduga akan ada pemilihan Ketua Ikatan Alumni Matematika ITB, namun entahlah aku belum tahu. Saat ini Ketua Ikatan Alumni Matematika ITB adalah dari angkatanku,
karena saat itu yang hadir terbanyak dari MA'86, jadi pantaslah jika Ketuanya dari angkatanku. Entah pada malam tanggal 27 itu, apakah terjadi pergantian atau tidak.
Di sekitar sekretariat LFM itulah dengan gayeng, kami ngobrol sambil menunggu Dondi mengobrol dengan Arif. Berbagai topik dibicarakan mulai dari Keprihatinan ITB terhadap lulusannya, hingga pekerjaan, dan tak lupa masa lalu yang penuh dengan keceriaan, keprihatinan, dan masa depan yang hendak diraih. Orang-orang yang hadir dalam kesempatan itupun sempat dibicarakan pula Isa (MA'85) yang menjadi salah satu Direktur di Departemen Keuangan, Desimon yang menjadi Direktur di TriMegah sekuritas, Yusman yang teman seangkatan dengan Isa dengan posisi jabatan yang jauh
tertinggal dengan Isa, dan saat kuliah lebih sering bertemu dengan angkatan '86. Sendang Drajat dan wow banyak lagi.
Ternyata alumni Matemtika telah tersebar begitu luas, bukan hanya dalam satu bidang pekerjaan saja, banyak diantaranya yang bekerja di Bank, di Perminyakan, di Saham, dosen, Industri manufaktur Penerbangan, dan lainnya.
Bicara kondisi Aceh saat tsunami yang membuat banyak orang tercengang, begitu banyak mayat, begitu banyak yang harus dibantu. Nah Maman inilah yang terjun langsung di Aceh, dia yang hanya membawa dua orang dokter dan sedikit obat-obatan tidak berani mengaku membawa dua hal itu. Dengan kemampuan membuka wacana out of the box-lah, berfikir di luar kotak yang sudah pakem, dia membuka diri. Nggak mungkin dia membantu masyarakat yang demikian banyak untuk dibantu dengan dua orang dokter dan sedikit obat-obatan, bisa-bisa dia akan dikerubungi oleh demikian banyak orang
dan mungkin sekali dia akan dikeroyok, bahkan mungkin sekali akan menyebabkan bencana baru bagi dirinya.Kemampuan berfikir di luar jalur itulah, yang membawanya ide untuk menemukan ide baru: apa yang dapat dilakukan oleh segelintir orang ini dengan sediki peralatan dan bantuan yang ada?
Sesaat merenung, sesaat berfikir apa yang mesti dilakukannya? Ide itu timbul dan muncul dengan gempita: pendataan! Maka dilakukan ide tersebut, dia dan hanya dalam hitungan jari orang yang bersama rombongannya, melakukan tugas pendataan yang belum dilakukan saat itu. Dia data orang-orang yang butuh bantuan dan apa jenis bantuan yang diperlukannya. Saat itu, ide ini tidak ada yang mengerjakannya.
Dalam kesempatan obrolan ini, muncul perbincangan tentang perubahan yang dilakukan ITB dalam penerimaan mahasiswa baru, mungkin setelah melihat Perguruan Tinggi lain. Dengan lebih mengedepankan Fakultas dan Sekolah, saat penerimaan, maka mahasiswa dikelompokkan pertama kali didalamnya. Tentunya ini memudahkan dalam rangka memberi bekal bagi mahasiswa baru yang tergabung dalam tahap pertama. Mahasiswa baru yang diberi bekal berdasarkan Fakultas atau Sekolahnya. Setelah setahun, barulah mahasiswa dimasukkan kedalam Departemen, dan persaingan pun akan muncul, untuk kasus Fakultas MIPA yang terdiri dari Departemen Matematika, Fisika, Kimia dan Astronomi terdapat 330 orang mahasiswa dan 130 memilih Departemen Matematika, sehingga kuota Departemen Matematika terpaksa dinaikkan menjadi 100 orang (dulu biasanya hanya 50-60 orang), artinya pula peminat di bidang Matematika yang terkenal rumit, sulit, tegas, hitam putih, semakin banyak dan menarik. Sebuah fenomena baru, orang Indonesia sebagian mulai tertarik dengan sesuatu yang bersifat kaku dan logis.
Dengan demikian, apakah STT Telkom yang Perguruan Tinggi Swasta berani mengambil langkah untuk membuka Departemen ini? Mengingat teknologi telekomunikasi begitu kental dengan Matematika, dan Statistik? Sebuah sokongan yang kuat untuk mengembangkan teknologi telekomunikasi. Bagaimana Departemen Sains STT Telkom? Siapkah untuk membuka Program Studi baru dengan basis Matematika dan Statistik? Ingatlah, saat ini masyarakat sudah berubah cara pandangnya. Lihatlah fenomena yang muncul di perguruan tinggi tetangga kita.
Label:
Matematika Wow
22 January 2007
Keprihatinan ITB
Hari Minggu kemarin, 21/01/007, sekitar jam 9 sampai dengan 13, saya menyempatkan diri hadir dalam ngariung gelar tikar bersama para dedengkot yang dulu ketika masih mahasiswa mampu menghasilkan karya yang salah satunya bernama Gamais ITB (keluarGA MAhasiswa ISlam ITB). Kegiatan ini dalam rangka syukuran atas kembalinya Saudara Putut Wijanarko (ITB’83) yang saat itu dan sekarang bekerja di Mizan, setelah melanglang buana di negeri Paman Sam, menempuh pencarian ilmu di bidang Media dalam tingkat PhD. Hadir saat itu orang-orang yang sudah cukup berumur dalam pandangan saya, karena yang hadir angkatan ’82 dan ’83, saya yang ’86 masih merasa muda.
Dalam obrolan di De'QUR yang gayeng dan penuh canda tawa, hina-menghina, jatuh-menjatuhkan, dll, ternyata terkuak pula informasi yang membuat saya miris.
1. Sebuah perusahaan meminta tolong ke ITB untuk mendapatkan tenaga kerja.
Namun dari seratusan yang mengajukan lamaran ternyata tak ada satupun yang lolos seleksi.
Apakah karena nilai akademik yang rendah? Bukan! Nilai akademik yang mengajukan lamaran sudah dipastikan minimal 3,00!
Apakah karena terlambat lulus? Bukan! Karena yang terlambat lulus umumnya sudah bekerja duluan sehingga tak mau lagi melakukan lamaran pekerjaan.
Ternyata yang tidak lulus, bukan dalam hal kemampuan hardskill, namun dalam kemampuan softskill. Kemampuan menyampaikan ide, kemampuan mendengar pertanyaan, kemampuan menjawab pertanyaan, kemampuan menalar dari masalah yang disampaikan dan pelamar menjawab dengan runutan yg telah terpatri sebelumnya.
2. Di cerita lain dalam obrolan di De’qur tadi, seseorang yang menjadi proyektor (ahli mendapatkan proyek) memberikan tawaran kepada mahasiswa ITB untuk mengerjakan proyek tersebut (maaf saat ngobrol itu tidak diungkapkan apa nama proyeknya). Beliau (si pemilik proyek) memberikan waktu satu bulan untuk menyelesaikan dua proyek tersebut. Ternyata sang mahasiswa ITB, sanggupnya tiga bulan, namun apa yang terjadi ketika ditawarkan ke mahasiswa ITHB? Mereka berhasil menyelesaikan dalam waktu dua minggu dan bukan hanya dua proyek, namun 10-an proyek. (Catatan: angka-angka ini tidak persis seperti yang diomongkan kemarin, namun sebagai gambaran saja, banyak dan sedikit saja).
3. Bahkan muncul statement alumni D3 Unpad lebih baik (lebih bisa dipercaya) dibanding lulusan ITB. STT Telkom pun sudah mengalami pula kondisi yang demikian ini. Apakah dapat dipercaya, karena faktor loyalitas? Ataukah kondisi masyarakat Indonesia yang sudah demikian terasuki nilai-nilai uang (materialistis)?
Evaluasi yang sempat terucap adalah dorongan untuk terus mempercepat masa studi, mendorong mereka tidak mampu mengembangkan kemampuan di luar yang tercantum dalam kurikulum. Karenanya ide yang coba dikembangkan oleh tim kurikulum ITB adalah membuat kurikulum ekstrakurikuler.
Dari sisi saya, ada kekwatiran jika kurikulum ekstrakuler dibuat rigid dan kaku akan membuat fleksibilitas yang mestinya muncul dalam kegiatan ekstrakurikuler akan hilang, sehingga semangat hidup, semangat berkompetisi, semangat bekerjasama, semangat saling menolong, semangat untuk berkomitmen, semangat loyal, dll yang dapat diperoleh dari kegiatan ekstrakurikuler, bisa muncul.
Kami (yah bisa disebut sebagai pendiri Gamais, walaupun yang hadir ternyata tak semua hadir saat deklarasi Gamais di BLK Lembang) pernah membangun sebuah LSM (beberapa tahun kemudian LSM sangat trend, saat kami sih biasa-biasa saja) yang bernama Megabit, mencoba untuk membangun/ membangkitkan kembali wadah ini. Di Megabit kami ada yang berkecimpung di bidang tulis-menulis, seperti Putut yang menjadi direktur di Mizan, ada juga bermain dalam bidang Latihan Kepemimpinan dan Organisasi. Semoga torehan Megabit dapat membangkitkan kembali semangat untuk mencari kesucian hati, tak dirundung dengan malang oleh kondisi masyarakat yang memang semakin matrialistis.
Mestinya sebagai penghasil lulusan yang sudah mulai diterima masyarakat, STT Telkom pun harus berbuat sesuatu yang sehingga lulusan dapat 'dijual' dengan baik, harga yang tinggi, mempunyai komitmen untuk memajukan bangsa sendiri, sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang dulunya belajar dari kita, dan saat ini telah jauh meninggalkan kita. Apa yang diperbuat?
Dalam obrolan di De'QUR yang gayeng dan penuh canda tawa, hina-menghina, jatuh-menjatuhkan, dll, ternyata terkuak pula informasi yang membuat saya miris.
1. Sebuah perusahaan meminta tolong ke ITB untuk mendapatkan tenaga kerja.
Namun dari seratusan yang mengajukan lamaran ternyata tak ada satupun yang lolos seleksi.
Apakah karena nilai akademik yang rendah? Bukan! Nilai akademik yang mengajukan lamaran sudah dipastikan minimal 3,00!
Apakah karena terlambat lulus? Bukan! Karena yang terlambat lulus umumnya sudah bekerja duluan sehingga tak mau lagi melakukan lamaran pekerjaan.
Ternyata yang tidak lulus, bukan dalam hal kemampuan hardskill, namun dalam kemampuan softskill. Kemampuan menyampaikan ide, kemampuan mendengar pertanyaan, kemampuan menjawab pertanyaan, kemampuan menalar dari masalah yang disampaikan dan pelamar menjawab dengan runutan yg telah terpatri sebelumnya.
2. Di cerita lain dalam obrolan di De’qur tadi, seseorang yang menjadi proyektor (ahli mendapatkan proyek) memberikan tawaran kepada mahasiswa ITB untuk mengerjakan proyek tersebut (maaf saat ngobrol itu tidak diungkapkan apa nama proyeknya). Beliau (si pemilik proyek) memberikan waktu satu bulan untuk menyelesaikan dua proyek tersebut. Ternyata sang mahasiswa ITB, sanggupnya tiga bulan, namun apa yang terjadi ketika ditawarkan ke mahasiswa ITHB? Mereka berhasil menyelesaikan dalam waktu dua minggu dan bukan hanya dua proyek, namun 10-an proyek. (Catatan: angka-angka ini tidak persis seperti yang diomongkan kemarin, namun sebagai gambaran saja, banyak dan sedikit saja).
3. Bahkan muncul statement alumni D3 Unpad lebih baik (lebih bisa dipercaya) dibanding lulusan ITB. STT Telkom pun sudah mengalami pula kondisi yang demikian ini. Apakah dapat dipercaya, karena faktor loyalitas? Ataukah kondisi masyarakat Indonesia yang sudah demikian terasuki nilai-nilai uang (materialistis)?
Evaluasi yang sempat terucap adalah dorongan untuk terus mempercepat masa studi, mendorong mereka tidak mampu mengembangkan kemampuan di luar yang tercantum dalam kurikulum. Karenanya ide yang coba dikembangkan oleh tim kurikulum ITB adalah membuat kurikulum ekstrakurikuler.
Dari sisi saya, ada kekwatiran jika kurikulum ekstrakuler dibuat rigid dan kaku akan membuat fleksibilitas yang mestinya muncul dalam kegiatan ekstrakurikuler akan hilang, sehingga semangat hidup, semangat berkompetisi, semangat bekerjasama, semangat saling menolong, semangat untuk berkomitmen, semangat loyal, dll yang dapat diperoleh dari kegiatan ekstrakurikuler, bisa muncul.
Kami (yah bisa disebut sebagai pendiri Gamais, walaupun yang hadir ternyata tak semua hadir saat deklarasi Gamais di BLK Lembang) pernah membangun sebuah LSM (beberapa tahun kemudian LSM sangat trend, saat kami sih biasa-biasa saja) yang bernama Megabit, mencoba untuk membangun/ membangkitkan kembali wadah ini. Di Megabit kami ada yang berkecimpung di bidang tulis-menulis, seperti Putut yang menjadi direktur di Mizan, ada juga bermain dalam bidang Latihan Kepemimpinan dan Organisasi. Semoga torehan Megabit dapat membangkitkan kembali semangat untuk mencari kesucian hati, tak dirundung dengan malang oleh kondisi masyarakat yang memang semakin matrialistis.
Mestinya sebagai penghasil lulusan yang sudah mulai diterima masyarakat, STT Telkom pun harus berbuat sesuatu yang sehingga lulusan dapat 'dijual' dengan baik, harga yang tinggi, mempunyai komitmen untuk memajukan bangsa sendiri, sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang dulunya belajar dari kita, dan saat ini telah jauh meninggalkan kita. Apa yang diperbuat?
Label:
ITB prihatin
16 January 2007
Tahun Baru, Bencana Baru
Mengagetkan memang, tahun 2007 ini. Tanggal awal tahun baru dimulai dengan jatuhnya pesawat Boeing 737 seri 400 milik Maskapai Adam Air. Padahal saya ketika ke Balikpapan juga naik pesawat jenis ini dan dari maskapai ini pula.
Berita yang saya dapatkan sampai hari ini, masih hanya seputar ditemukannya remukan, atau runtuhan atau kepingan dan sedikit informasi sekelumit lainnya. Ada potogan meja lipat yang biasa dipakai untuk makan, ada busa yang ternyata ada rambutnya, ada kerlipan avtur yang diduga milik pesawat tersebut, dll yang jumlahnya sudah tidak sedikit lagi, nyaris menembus angka 200 kepingan. Namun tetap saja keberadaan pesawat Boeing 737-400 masih tertelan bumi. Belum jelas dimana letaknya.
Tak kalah ributnya adalah tenggelamnya KMP Senopati Nusantara, kapal laut yang diperkirakan memuat nyaris angka 800 orang penumpang, yang saat ini baru ditemukan korban baik hidup maupun meninggal tak kurang dari 300-an orang, jadi masih menyisakan tak sedikit penumpang yang lain, nyaris menembus angka 500 orang.
Tak seperti dua di atas, terdapat pula kecelakaan kapal laut yang lain, yang tak begitu ramai diperbincangkan, baik kapal dalam ukuran cukup besar, maupun ukuran cukup kecil. Di sekitar pula Sulawesi bagian bawah, terdengar berita KM Mandiri juga tenggelam dan bahkan yang lebih mengharukan kapal lain yang berupaya melakukan kegiatan SAR, malah ikutan hilang.
Ada juga pesawat terbang lain, yang tergelincir di bandara Makassar, pesawat ini dioperasikan oleh Maskapai Penerbangan Lion Air.
Barusan tadi aku dengar di radio sepanjang perjalanan dari rumah ke STT Telkom, serangkaian gerbong Kereta Api mengalami anjlok, bahkan satu gerbong dikabarkan terguling masuk sungai sedalam 5 meter.
Di Sumatera Barat longsor membawa petaka bagi tak sedikit orang, mestinya kasus bencana walaupun hanya mengorbankan satu orang, terasa amat dan sangat hebat bencana tersebut. Di Aceh, pulau yang malang yang terlalu sering dilanda air, baik tsunami yang menghancur luluhkan seluruh bagian pantai kepulauan Aceh, ternyat masih juga merasakan banjir.
Di Kalimantan, banjir pun terjadi pula.
Di Poso pergolakan berdarah pun terjadi kembali, akibat polisi salah menembak orang yang dikira DPO, sehingga masyarakat menyerang polisi preman hingga tewas, dan dilanjut tadi malam sempat terjadi baku tembak.
Jadi? Pada lima belasan hari, sejak tahun baru, sudah tak sedikit lagi bencana yang terjadi. Puluhan bencana terjadi. Apakah ini kita sebut bukan kesalahan manusia? Ataukah alam yang memang digariskan untuk men-tasbih-kan meMaha Sucikan Allah dalam bentuk yang demikian ini, kita sebut sebagai biang keladinya?
Negeri ini memang luar biasa, tak sedikit potensi yang dikandungnya. Namun jika hanya dikenang, dianggap sesuatu yang terus luar biasa, tanpa dapat dikelola dengan sebaik-baiknya, menghindarkan dengan segala kemungkinan untuk mengurangi bencana yang dapat ditimbulkannya, maka inilah akibatnya.
Padahal potensi yang demikian kaya raya membuat sesuatu yang kadangkala terasa menyayat hati, bayangkan di negeri yang tongkat batu pun dapat jadi tanaman, ada orang-orang yang mendiaminya harus makan nasi aking, karena harga beras begitu melonjak, tetapi harga beras yang melonjak itu tidak dibarengi dengan pendapatan yang melonjak pula. Dan harga beras yang melonjak ini, bukan dirasakan oleh petani penggarap, melainkan pihak lain yang rasanya sampai saat ini belum ketahuan batang hidungnya. Siapakah dia?
Bahkan untuk kasus pesawat Adam Air dan KMP Senopati Nusantara, siapa yang diuntungkan? Amerika katanya memberi bantuan kapal yang mempunyai kemampuan sonar, namun harus gigit jari, karena kemampuannya ternyata tak seberapa. Begitupun Singapura mengirimkan pesawat Fokker 28-nya untuk membantu, namun apa yang bisa diperbuat oleh pesawat yang pabriknya saja sudah tutup? Apakah benar mereka (AS dan Singapura) benar-benar membantu dengan ikhlas ataukah ada udang dibalik kawasan pantai dan daratan Sulawesi? Bukankah misi pesawat Fokker Singapura salah satunya akan melakukan foto udara kawasan Sulawesi? Siapakah yang menanggung beban operasional kedua kendaraan dari dua negara tersebut? Mengapa KM Baruna milik BPPT kalah canggih dengan Kapal milik AS yang harus gigit jari? Apakah kedua negara ini benar-benar membantu? Ataukah ngrepotin saja?
Bagi orang cerdas, dia tahu apa yang dilakukannya....
Berita yang saya dapatkan sampai hari ini, masih hanya seputar ditemukannya remukan, atau runtuhan atau kepingan dan sedikit informasi sekelumit lainnya. Ada potogan meja lipat yang biasa dipakai untuk makan, ada busa yang ternyata ada rambutnya, ada kerlipan avtur yang diduga milik pesawat tersebut, dll yang jumlahnya sudah tidak sedikit lagi, nyaris menembus angka 200 kepingan. Namun tetap saja keberadaan pesawat Boeing 737-400 masih tertelan bumi. Belum jelas dimana letaknya.
Tak kalah ributnya adalah tenggelamnya KMP Senopati Nusantara, kapal laut yang diperkirakan memuat nyaris angka 800 orang penumpang, yang saat ini baru ditemukan korban baik hidup maupun meninggal tak kurang dari 300-an orang, jadi masih menyisakan tak sedikit penumpang yang lain, nyaris menembus angka 500 orang.
Tak seperti dua di atas, terdapat pula kecelakaan kapal laut yang lain, yang tak begitu ramai diperbincangkan, baik kapal dalam ukuran cukup besar, maupun ukuran cukup kecil. Di sekitar pula Sulawesi bagian bawah, terdengar berita KM Mandiri juga tenggelam dan bahkan yang lebih mengharukan kapal lain yang berupaya melakukan kegiatan SAR, malah ikutan hilang.
Ada juga pesawat terbang lain, yang tergelincir di bandara Makassar, pesawat ini dioperasikan oleh Maskapai Penerbangan Lion Air.
Barusan tadi aku dengar di radio sepanjang perjalanan dari rumah ke STT Telkom, serangkaian gerbong Kereta Api mengalami anjlok, bahkan satu gerbong dikabarkan terguling masuk sungai sedalam 5 meter.
Di Sumatera Barat longsor membawa petaka bagi tak sedikit orang, mestinya kasus bencana walaupun hanya mengorbankan satu orang, terasa amat dan sangat hebat bencana tersebut. Di Aceh, pulau yang malang yang terlalu sering dilanda air, baik tsunami yang menghancur luluhkan seluruh bagian pantai kepulauan Aceh, ternyat masih juga merasakan banjir.
Di Kalimantan, banjir pun terjadi pula.
Di Poso pergolakan berdarah pun terjadi kembali, akibat polisi salah menembak orang yang dikira DPO, sehingga masyarakat menyerang polisi preman hingga tewas, dan dilanjut tadi malam sempat terjadi baku tembak.
Jadi? Pada lima belasan hari, sejak tahun baru, sudah tak sedikit lagi bencana yang terjadi. Puluhan bencana terjadi. Apakah ini kita sebut bukan kesalahan manusia? Ataukah alam yang memang digariskan untuk men-tasbih-kan meMaha Sucikan Allah dalam bentuk yang demikian ini, kita sebut sebagai biang keladinya?
Negeri ini memang luar biasa, tak sedikit potensi yang dikandungnya. Namun jika hanya dikenang, dianggap sesuatu yang terus luar biasa, tanpa dapat dikelola dengan sebaik-baiknya, menghindarkan dengan segala kemungkinan untuk mengurangi bencana yang dapat ditimbulkannya, maka inilah akibatnya.
Padahal potensi yang demikian kaya raya membuat sesuatu yang kadangkala terasa menyayat hati, bayangkan di negeri yang tongkat batu pun dapat jadi tanaman, ada orang-orang yang mendiaminya harus makan nasi aking, karena harga beras begitu melonjak, tetapi harga beras yang melonjak itu tidak dibarengi dengan pendapatan yang melonjak pula. Dan harga beras yang melonjak ini, bukan dirasakan oleh petani penggarap, melainkan pihak lain yang rasanya sampai saat ini belum ketahuan batang hidungnya. Siapakah dia?
Bahkan untuk kasus pesawat Adam Air dan KMP Senopati Nusantara, siapa yang diuntungkan? Amerika katanya memberi bantuan kapal yang mempunyai kemampuan sonar, namun harus gigit jari, karena kemampuannya ternyata tak seberapa. Begitupun Singapura mengirimkan pesawat Fokker 28-nya untuk membantu, namun apa yang bisa diperbuat oleh pesawat yang pabriknya saja sudah tutup? Apakah benar mereka (AS dan Singapura) benar-benar membantu dengan ikhlas ataukah ada udang dibalik kawasan pantai dan daratan Sulawesi? Bukankah misi pesawat Fokker Singapura salah satunya akan melakukan foto udara kawasan Sulawesi? Siapakah yang menanggung beban operasional kedua kendaraan dari dua negara tersebut? Mengapa KM Baruna milik BPPT kalah canggih dengan Kapal milik AS yang harus gigit jari? Apakah kedua negara ini benar-benar membantu? Ataukah ngrepotin saja?
Bagi orang cerdas, dia tahu apa yang dilakukannya....
Label:
Bencana Baru
04 January 2007
Alumni STT Telkom
Setelah bertemu pada bulan Nopember pada saat TEMANS 2006, yang menelorkan web site www.temans.org (waduh aku lupa nama persisnya). Ada yang ingat?
Kemudian dilanjut pertemuan di MCC jl. Cisanggarung, dan berikutnya bertemu dengan Ketua STT Telkom, maka saat ini mereka telah membuat kesekretariatan yang merupakan bagian yang bermain di bidang kesekretariatan.
Tadi malam saya telah mendapat info, bahwa semalam mereka telah bertemu kembali yang salah satunya mereka membutuhkan ruangan untuk sekretariat. Wuih, cukup sulit juga, karena tingkat okupansi ruangan di STT Telkom pun demikian padat. Memang akan segera ada gedung baru yang berupa asrama. Sayang disebut sayang, asrama ini akan digunakan untuk asrama putri, akibatnya jika mereka ingin membuat sekretariat di situ akan rikuh juga, jika yang hadir lelaki. Berita ini diperoleh dari Pak Catur (alumni yang bekerja di STT Telkom)
Maka mereka diminta membuat surat kebutuhan sekretariat termasuk perabotnya, namun dilampiri dengan program kerja yang telah disusun mereka, serta juga kemampuan dalam mewujukan program kerja ini. Semoga mereka berhasil mewujudkan alumni yang guyub, yang akrab, sehingga berguna bagi nusa, bangsa dan agama, dengan berdasarkan asas: dari, untuk dan oleh alumni. Monggoo... Ditunggu suratnya.
Tak lupa ternyata mereka ingin me-launching kepengurusan ini pada bulan Februari 2007, semoga berhasil acara ini. Selamat!
Kemudian dilanjut pertemuan di MCC jl. Cisanggarung, dan berikutnya bertemu dengan Ketua STT Telkom, maka saat ini mereka telah membuat kesekretariatan yang merupakan bagian yang bermain di bidang kesekretariatan.
Tadi malam saya telah mendapat info, bahwa semalam mereka telah bertemu kembali yang salah satunya mereka membutuhkan ruangan untuk sekretariat. Wuih, cukup sulit juga, karena tingkat okupansi ruangan di STT Telkom pun demikian padat. Memang akan segera ada gedung baru yang berupa asrama. Sayang disebut sayang, asrama ini akan digunakan untuk asrama putri, akibatnya jika mereka ingin membuat sekretariat di situ akan rikuh juga, jika yang hadir lelaki. Berita ini diperoleh dari Pak Catur (alumni yang bekerja di STT Telkom)
Maka mereka diminta membuat surat kebutuhan sekretariat termasuk perabotnya, namun dilampiri dengan program kerja yang telah disusun mereka, serta juga kemampuan dalam mewujukan program kerja ini. Semoga mereka berhasil mewujudkan alumni yang guyub, yang akrab, sehingga berguna bagi nusa, bangsa dan agama, dengan berdasarkan asas: dari, untuk dan oleh alumni. Monggoo... Ditunggu suratnya.
Tak lupa ternyata mereka ingin me-launching kepengurusan ini pada bulan Februari 2007, semoga berhasil acara ini. Selamat!
Tata Aturan Penulisan Ilmiah
Tata Aturan ini dikeluarkan oleh Direktorat Akademik dan Kemahasiswaan untuk semua lomba yang diadakan oleh Direktorat ini.
PENULISAN KARYA TULIS
A. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan hendaknya berisi rancangan yang teratur sebagai berikut:
1. Bagian Awal
a Halaman judul
(1) Judul diketik dengan huruf besar (capital), hendaknya ekspresif, sesuai dan tepat dengan masalah yang ditulis dan tidak membuka peluang untuk penafsiran ganda.
(2) Nama penulis dan nomor induk mahasiswa ditulis dengan jelas.
(3) Perguruan tinggi asal ditulis dengan jelas.
(4) Tahun penulisan
b Lembar Pengesahan.
(1) Lembar pengesahan memuat judul, nama penulis, dan nomor induk
(2) Lembar pengesahan ditandatangani oleh Dosen Pembimbing, dan Wakl/ Pembantu Rektor/Ketua/Direktur Bidang Kemahasiswaan lengkap dengan stempel perguruan tinggi.
(3) Lembar pengesahaan diberi tanggal sesuai dengan tanggal pengesahan.
c Kata Pengantar dari penulis
d Daftar isi dan daftar lain yang diperlukan seperti daftar gambar, daftar table, dan daftar lampiran.
e Ringkasan karya tulis disusun sebanyak-banyaknya dua halaman yang mencerminkan isi keseluruhan karya tulis, mulai dari latar belakang, tujuan, landasan teori yang mendukung, metoda penulisan, pembahasan, kesimpulan dan rekomendasi.
2. Bagian Inti
a Pendahuluan
Bagian Pendahluan berisi hal-hal sebagai berikut :
(1) Perumusan masalah yang mencakup latar belakang tentang alasan mengangkat masalah tersebut menjadi karya tulis, dan penjelasan tentang makna penting serta menariknya masalah tersebut untuk ditelaah.
(2) Uraian singkat mengenai gagasan kreatif yang ingin disampaikan.
(3) Mengandung pertanyaan yang akan dijawab melalui penulisan.
(4) Tujuan dan manfaat yang ingin dicapai melalui penulisan.
b Landasan Teori
Landasan Teori berisi :
(1) Uraian yang menunjukkan landasan teori dan konsep-konsep yang relevan dengan masalah yang dikritisi/dibahas.
(2) Uraian mengenai pendapat orang lain yang yang berkaitan dengan caramencari jalan keluar dari masalah yang diajukan.
(3) Uraian mengenai implementasi kebijakan atau pengalaman – pengalaman yang sudah berhasil diterapkan pada tempat lain.
c Bagian isi/Pembahasan
(1) Analisis permasalahan didasarkan pada data dan / atau informasi serta telaah pustaka untuk menghasilkan alternative model pemecahan masalah atau gagasan/ ide yang kreatif, inovatif, idealis, logis dan dinamis serta realistis untuk dapat diimplementasikan.
(2) Simpulan harus konsisten dengan analisis permasalahan
(3) Rekomendasi berupa transfer gagasan, langkah-langkah kegiatan untk menjawab permasalahan dan implementasinya di masyarakat.
3. Bagian Akhir
a Daftar pustaka ditulis untuk memberi informasi sehingga membaca dapat dengan mudah menemukan sumber yang disebutkan.
(1) Penulisan daftar pustaka untuk buku dimulai dengan menulis nama pengarang, tahun penerbitan, judul buku, tempat terbit, dan nama penerbit.
(2) Penulisan daftar pustaka untuk jurnal dimulai dengan nama penulis, tahun, judul tulisan, nama jurnal, volume dan nomor halaman.
(3) Penulisan daftar pustaka yang diperoleh dari internet ditulis alamat web site-nya dan tanggal pengambilan informasi.
b Daftar Riwayat Hidup (bio data atau curriculum vitae) peserta minimal mencakup nama lengkap, tempat dan tangal lahir, karya-karya ilmiah yang pernah dibuat, penghargaan-penghargaan ilmiah yang pernah diraih.
c Lampiran (jika diperlukan)
B. Persyaratan Penulisan:
1. Naskah ditulis mengunakan Bahasa Indonesia yang baku, minimal 10 halaman dan maksimal 20 halaman. Jumlah halaman yang tidak sesuai dengan ketentuan jumlah halaman tersebut dapat mengurangi penilaian.
2. Bahasa Indonesia yang digunakan hendaknya baku dengan tata bahasa dan ejaan yang disempurnakan, sederhana, jelas, satu kesatuan, mengutamakan istilah yang mudah dimengerti, tidak menggunakan singkatan seperti tdk, tsb, yg, dgn, dll., dsb.
C. Pengetikan
1. Tata Letak
a Karya tulis 1,5 spasi pada kertas berukuran A4, (font 12, times New Roman style).
b Batas pengetikan :
(1) Samping kiri 4 cm
(2) Samping kanan 3 cm
(3) Batas atas dan bawah masing-masing 3 cm
(4) Batas pengetikan 2 cm pada bagian bawah
c Jarak pengetikan, Bab, Sub-sub dan perinciannya
(1) Jarak pengetikan antara Bab, danSub-bab 3 spasi, Sub-bab dan kalimat dibawahnya 2 spasi.
(2) Judul Bab diketik-ditengah tengah dengan huruf besar dan dengan jarak 4 cm dari tepi atas tanpa digaris-bawahi
(3) Judul Sub-bab ditulis mulai dari sebelah kiri, huruf pertama setiap kata ditulis dengan huruf besar (huruf capital), kecuali kata-kata tugas, seperti yang, dari, dan.
(4) Judul anak Sub-bab ditulis mulai dari sebelah kiri dengan indensi 5 (lima) pukulan yang diberi garis bawah. Huruf pertama setiap kata ditulis dengan huruf besar (huruf capital) kecuali kata-kata tugas, seperti yang, dari, dan.
(5) Jika sudah ada sub judul dalam tingkatan yang lebih rendah, ditulis seperti pada butir (3) di atas, lalu diikuti oleh kalimat berikutnya.
2. Pengetikan Kalimat
Alinea baru diketik sebaris dengan baris di atasnya dengan jarak 2 spasi. Pengetikan kutipan langsung yang lebih dari 3 baris diketik 1 spasi menjorok kedalam dan semuanya tanpa diberi tanda petik.
3. Penomoran Halaman
a Bagian pendahuluan yang meliputi halaman judul, nama/daftar anggota kelompok, kata daftar dan daftar isi memakai angka romawi kecil dan diketik sebelah kanan bawah (i, ii dan seterusnya)
b Bagian tubuh / pokok sampaimdengan bagian penutup memakai angka arab dan diketik dengan jarak 3 cm dari tepi kanan dan 1.5 cm dari tepi atas (1,2,3 dan seterusnya)
c Nomor halaman pertama dari tiap Bab tidak ditulis tetapi tetap diperhitungkan.
PENULISAN KARYA TULIS
A. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan hendaknya berisi rancangan yang teratur sebagai berikut:
1. Bagian Awal
a Halaman judul
(1) Judul diketik dengan huruf besar (capital), hendaknya ekspresif, sesuai dan tepat dengan masalah yang ditulis dan tidak membuka peluang untuk penafsiran ganda.
(2) Nama penulis dan nomor induk mahasiswa ditulis dengan jelas.
(3) Perguruan tinggi asal ditulis dengan jelas.
(4) Tahun penulisan
b Lembar Pengesahan.
(1) Lembar pengesahan memuat judul, nama penulis, dan nomor induk
(2) Lembar pengesahan ditandatangani oleh Dosen Pembimbing, dan Wakl/ Pembantu Rektor/Ketua/Direktur Bidang Kemahasiswaan lengkap dengan stempel perguruan tinggi.
(3) Lembar pengesahaan diberi tanggal sesuai dengan tanggal pengesahan.
c Kata Pengantar dari penulis
d Daftar isi dan daftar lain yang diperlukan seperti daftar gambar, daftar table, dan daftar lampiran.
e Ringkasan karya tulis disusun sebanyak-banyaknya dua halaman yang mencerminkan isi keseluruhan karya tulis, mulai dari latar belakang, tujuan, landasan teori yang mendukung, metoda penulisan, pembahasan, kesimpulan dan rekomendasi.
2. Bagian Inti
a Pendahuluan
Bagian Pendahluan berisi hal-hal sebagai berikut :
(1) Perumusan masalah yang mencakup latar belakang tentang alasan mengangkat masalah tersebut menjadi karya tulis, dan penjelasan tentang makna penting serta menariknya masalah tersebut untuk ditelaah.
(2) Uraian singkat mengenai gagasan kreatif yang ingin disampaikan.
(3) Mengandung pertanyaan yang akan dijawab melalui penulisan.
(4) Tujuan dan manfaat yang ingin dicapai melalui penulisan.
b Landasan Teori
Landasan Teori berisi :
(1) Uraian yang menunjukkan landasan teori dan konsep-konsep yang relevan dengan masalah yang dikritisi/dibahas.
(2) Uraian mengenai pendapat orang lain yang yang berkaitan dengan caramencari jalan keluar dari masalah yang diajukan.
(3) Uraian mengenai implementasi kebijakan atau pengalaman – pengalaman yang sudah berhasil diterapkan pada tempat lain.
c Bagian isi/Pembahasan
(1) Analisis permasalahan didasarkan pada data dan / atau informasi serta telaah pustaka untuk menghasilkan alternative model pemecahan masalah atau gagasan/ ide yang kreatif, inovatif, idealis, logis dan dinamis serta realistis untuk dapat diimplementasikan.
(2) Simpulan harus konsisten dengan analisis permasalahan
(3) Rekomendasi berupa transfer gagasan, langkah-langkah kegiatan untk menjawab permasalahan dan implementasinya di masyarakat.
3. Bagian Akhir
a Daftar pustaka ditulis untuk memberi informasi sehingga membaca dapat dengan mudah menemukan sumber yang disebutkan.
(1) Penulisan daftar pustaka untuk buku dimulai dengan menulis nama pengarang, tahun penerbitan, judul buku, tempat terbit, dan nama penerbit.
(2) Penulisan daftar pustaka untuk jurnal dimulai dengan nama penulis, tahun, judul tulisan, nama jurnal, volume dan nomor halaman.
(3) Penulisan daftar pustaka yang diperoleh dari internet ditulis alamat web site-nya dan tanggal pengambilan informasi.
b Daftar Riwayat Hidup (bio data atau curriculum vitae) peserta minimal mencakup nama lengkap, tempat dan tangal lahir, karya-karya ilmiah yang pernah dibuat, penghargaan-penghargaan ilmiah yang pernah diraih.
c Lampiran (jika diperlukan)
B. Persyaratan Penulisan:
1. Naskah ditulis mengunakan Bahasa Indonesia yang baku, minimal 10 halaman dan maksimal 20 halaman. Jumlah halaman yang tidak sesuai dengan ketentuan jumlah halaman tersebut dapat mengurangi penilaian.
2. Bahasa Indonesia yang digunakan hendaknya baku dengan tata bahasa dan ejaan yang disempurnakan, sederhana, jelas, satu kesatuan, mengutamakan istilah yang mudah dimengerti, tidak menggunakan singkatan seperti tdk, tsb, yg, dgn, dll., dsb.
C. Pengetikan
1. Tata Letak
a Karya tulis 1,5 spasi pada kertas berukuran A4, (font 12, times New Roman style).
b Batas pengetikan :
(1) Samping kiri 4 cm
(2) Samping kanan 3 cm
(3) Batas atas dan bawah masing-masing 3 cm
(4) Batas pengetikan 2 cm pada bagian bawah
c Jarak pengetikan, Bab, Sub-sub dan perinciannya
(1) Jarak pengetikan antara Bab, danSub-bab 3 spasi, Sub-bab dan kalimat dibawahnya 2 spasi.
(2) Judul Bab diketik-ditengah tengah dengan huruf besar dan dengan jarak 4 cm dari tepi atas tanpa digaris-bawahi
(3) Judul Sub-bab ditulis mulai dari sebelah kiri, huruf pertama setiap kata ditulis dengan huruf besar (huruf capital), kecuali kata-kata tugas, seperti yang, dari, dan.
(4) Judul anak Sub-bab ditulis mulai dari sebelah kiri dengan indensi 5 (lima) pukulan yang diberi garis bawah. Huruf pertama setiap kata ditulis dengan huruf besar (huruf capital) kecuali kata-kata tugas, seperti yang, dari, dan.
(5) Jika sudah ada sub judul dalam tingkatan yang lebih rendah, ditulis seperti pada butir (3) di atas, lalu diikuti oleh kalimat berikutnya.
2. Pengetikan Kalimat
Alinea baru diketik sebaris dengan baris di atasnya dengan jarak 2 spasi. Pengetikan kutipan langsung yang lebih dari 3 baris diketik 1 spasi menjorok kedalam dan semuanya tanpa diberi tanda petik.
3. Penomoran Halaman
a Bagian pendahuluan yang meliputi halaman judul, nama/daftar anggota kelompok, kata daftar dan daftar isi memakai angka romawi kecil dan diketik sebelah kanan bawah (i, ii dan seterusnya)
b Bagian tubuh / pokok sampaimdengan bagian penutup memakai angka arab dan diketik dengan jarak 3 cm dari tepi kanan dan 1.5 cm dari tepi atas (1,2,3 dan seterusnya)
c Nomor halaman pertama dari tiap Bab tidak ditulis tetapi tetap diperhitungkan.
2007!
Tak kukira umurku sudah nambah lagi, rambut pun harus bertambah jumlah putihnya. Yah... tak terasa rambutnya sudah semakin panjang, dan terasa awut-awutan, istriku pun sudah berkali-kali meminta untuk memotong. Aku suka potongan rambut pendek sekitar 1/2 cm, sehingga nggak perlu membawa sisir atau susah payah menyisir, lumayan ngirit, sampho dan sebangsanya.
Dan bagiku tak terasa sudah meninggalkan tanggal 1 Januari 2007, karena libur dan harus menyelesaikan kegiatan di perdombaan, sehingga tanggal 2 pun ikutan terlewat. Sekarang udah tanggal 4 Januari 2007.
Semangat! Itu yang mesti terus dibawa, karena secara fisik pun sudah agak lemah, badan rasanya sudah cepat lelah. Tadi aku sempat tertidur di kursi, sehingga harus bangun, menelpon untuk beli Coca Cola! Ternyata coca cola kurang terasa nyesss-nya. Nggak tahu apakah karena badan begitu lelah ataukah terbuka tutupnya? Atau sudah dikocok berkali-kali?
Yang jelas sekarang aku bangun dan mencoba berbuat sesuatu dan sesuatu itu adalah menulis blog! Ha ha ha... terasa lucu juga aku ... menulis blog tanpa konsep dan terasa hanya menulis untuk menghilangkan kejenuhan. Padahal di kepala di dada dan dimana-mana terasa begitu banyak hal yang harus ditulis.
Ada lomba PPKM yang telah ditawarkan oleh Direktorat Akademik dan Kemahasiswaan di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Namun rasanya peminat dalam kegiatan ini masih amat kosong dan belum memiliki semangat untuk menulis. Duh... keselnya. Padahal kegiatan tulis menulis dirasa menjadi kelemahan yang semakin menjadi di kalangan mahasiswa. Masih sangat kesulitan mereka untuk menuliskan apa yang dipikirkan dan apa yang dinyatakan. Apa lagi yang mesti dilakukan? Agar mahasiswa berminat dalam menulis?
Memang web forum students.stttelkom.ac.id demikian ramai, bahkan mencapai bilangan 608 pengakses pada hari ini jam segini 15:40. Betapa dalam sehari mereka mampu mencapai ribuan. Namun tetap saja apa yang ditulis banyak kurang berbobot. Kapan ya mahasiswa STT Telkom mau menggeser agak serius dalam menulis?
Yah, lumayan aku sudah mulai semangat kembali... Jika kondisi down begini sering aku bertanya, dimanakah Syurga-ku? Dapatkah aku mencapainya? Padahal mungkin karena fisik yang kurang terolah dengan baik.
Selamat berkarya dan bekerja!
Dan bagiku tak terasa sudah meninggalkan tanggal 1 Januari 2007, karena libur dan harus menyelesaikan kegiatan di perdombaan, sehingga tanggal 2 pun ikutan terlewat. Sekarang udah tanggal 4 Januari 2007.
Semangat! Itu yang mesti terus dibawa, karena secara fisik pun sudah agak lemah, badan rasanya sudah cepat lelah. Tadi aku sempat tertidur di kursi, sehingga harus bangun, menelpon untuk beli Coca Cola! Ternyata coca cola kurang terasa nyesss-nya. Nggak tahu apakah karena badan begitu lelah ataukah terbuka tutupnya? Atau sudah dikocok berkali-kali?
Yang jelas sekarang aku bangun dan mencoba berbuat sesuatu dan sesuatu itu adalah menulis blog! Ha ha ha... terasa lucu juga aku ... menulis blog tanpa konsep dan terasa hanya menulis untuk menghilangkan kejenuhan. Padahal di kepala di dada dan dimana-mana terasa begitu banyak hal yang harus ditulis.
Ada lomba PPKM yang telah ditawarkan oleh Direktorat Akademik dan Kemahasiswaan di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Namun rasanya peminat dalam kegiatan ini masih amat kosong dan belum memiliki semangat untuk menulis. Duh... keselnya. Padahal kegiatan tulis menulis dirasa menjadi kelemahan yang semakin menjadi di kalangan mahasiswa. Masih sangat kesulitan mereka untuk menuliskan apa yang dipikirkan dan apa yang dinyatakan. Apa lagi yang mesti dilakukan? Agar mahasiswa berminat dalam menulis?
Memang web forum students.stttelkom.ac.id demikian ramai, bahkan mencapai bilangan 608 pengakses pada hari ini jam segini 15:40. Betapa dalam sehari mereka mampu mencapai ribuan. Namun tetap saja apa yang ditulis banyak kurang berbobot. Kapan ya mahasiswa STT Telkom mau menggeser agak serius dalam menulis?
Yah, lumayan aku sudah mulai semangat kembali... Jika kondisi down begini sering aku bertanya, dimanakah Syurga-ku? Dapatkah aku mencapainya? Padahal mungkin karena fisik yang kurang terolah dengan baik.
Selamat berkarya dan bekerja!
Label:
2007
31 December 2006
Iedul Adha 1427H
Allahu akbar
Allahu akbar
Allahu akbar
Laa ilaha illa Allah
Allahu akbar
Allahu akbar
Walillahil hamd
Alahamdulillah, akhirnya pada tahun ini, saya dapat melaksanakan sholat ied di STT Telkom. Kondisi hujan, menyebabkan sholat tidak dilaksanakan di lapangan depan gedung D, namun dilaksanakan di Masjid Syamsul Ulum.
Sholat yang dilaksanakan sekitar jam 06 lebih 15 menit, rasanya masih terlalu pagi, apalagi suasana gerimis, yang membuat dingin suhu udara dan membuat suasana semakin malas untuk berbuat.
Padahal hari raya ini, didasarkan atas ibrah Nabi Ibrahim AS, seorang nabi yang istimewa, yang telah teruji kemampuan dan juga kesabarannya, sehingga digolongkan ke dalam nabi Ulul Azmi.
Langkah-langkah beliau menjadi suri tauladan semua manusia yang ingin selamat dunia dan akhirat, kisah-kisahnya begitu memenuhi lubuk hati yang paling dalam, untuk terus mengikutinya, untuk terus membangun kesadaran diri, agar kita mampu selamat dunia akhirat.
Ketika muda, beliau telah membuat gempar, namun membuat orang-orang di sekelilingnya mengembangkan cara berfikir mereka. Dihancurkannya ratusan patung berhala dan ditinggalkan utuh satu saja, yang terbesar, dari yang lainnya. Masyarakatnya kaget, gempar, tergoncang, dan mereka pun sepakat untuk curiga hanya pada satu orang saja, yaitu Ibrahim, karena perilakunya yang tidak suka terhadap berhala-berhala.
Pengadilan kilat di hadapan langsung ratusan orang dan di depan patung nan kokoh, dan indah, teguh laksana tak mampu dirubuhkan, Ibrahim diadili. Di hadapan sekian banyak orang ada juga rasa gentar di hati Ibrahim (laksana Nabi Musa AS yang tergetar karena ahli sihir telah menjatuhkan ular-ular yang berbisa), namun Nabi Ibrahim bukan orang sembarangan, dengan ketenangannya beliau menyatakan: "Tanyakan pada patung yang besar ini!".
Ributlah khalayak ramai. Benar, patung ini demikian besar, demikian kokoh, tak mudah dihancurkan, namun dia tak dapat berbicara, bahkan untuk membela diripun tak sanggup dilakukannya, kalaulah dia tidak rubuh, bukan karena kesanggupannya membela diri, namun memang tidak dirubuhkan. Orang-orang berpikir, untuk apa menyembah sesuatu yang tak mampu memberi petunjuk? Untuk apa menyembah sesuatu yang tak mampu membela diri? Beberapa saat mereka terkesima dengan jawaban Nabi Ibrahim AS.
Terkesimaan itu dialami juga oleh para penguasa, namun para penguasa yang takut kehilangan jabatan, para penguasa yang takut kehilangan pengaruh, para penguasa yang takut harta kekayaan, telah menutupi dirinya dengan tabir, untuk memperoleh jawaban yang benar. Maka dengan bersegara mereka menyatakan: "Bakar Ibrahim! Dia telah menghancurkan sesembahan kita, dia tidak menghormati budaya dan adat istiadat kebiasaan nenek moyang kita!"
Tentunya kisah ini, bukan hanya sekedar membuat tertidur para anak-anak yang kesulitan tidur sehingga harus didongengin, tetapi lebih jauh dari itu, mestinya membawa kesadaran diri kita, agar kita tak menyembah, tidak tunduk pada benda-benda yang dikiranya mampu menyelamatkan diri kita di dunia dan akhirat. Mungkinkah kita telah melakukannya? Na'udzu billahi min dzalik!
Dikisahkan lain. Siti Hajar dan bayinya yang bernama Ismail, diantar oleh suami dan bapaknya, yaitu Ibrahim AS, ke suatu lembah yang suatu saat nanti akan berubah nama menjadi Mekkah. Saat itu, lembah ini tidak ada pohon-pohonan, yang ada hanya hamparan batu dan pasir belaka, panasnya pastilah menyengat di siang hari. Di tempat seperti inilah Ibrahim AS, hendak meninggalkan Istri kedua dan bayinya. Sungguh secara rasio, hal ini tidak masuk akal, mana tega seorang suami yang telah lama mengidamkan mempunyai generasi pelanjut, dan ketika telah berhasil mendapatkan anak, generasi pelanjutnya, kemudian istri dan bayinya ditinggalkan di tempat yang sedemikian gersang, tak ada teman, tak ada makanan? Manusia jenis apa ini? Kegundahan ini pun menggelayut juga pada pikiran istrinya, tak mampu pula sang istri menahan keheranan: "Wahai, suamiku Nabi Ibrahim yang aku sayangi, apakah Kakanda meninggalkan diriku dan bayiku di tempat yang seperti ini karena perintah Allah?". Nabi Ibrahim pun ada rasa tak sanggup melaksanakannya pula. Namun dengan ketegaran seorang Nabi yang telah terpilih, beliau menjawab: "Benar, ini adalah perintah Allah". Jawaban sang suami meneguhkan dirinya untuk bersegera mematuhinya.
Sungguh ketaatan kepada siapa lagi yang mesti diikuti? Jika bukan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah? Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Pemurah, yang tak ada sekutu bagi-NYA, yang tak ada saingan bagi-NYA, yang tak ada yang menyerupai-NYA. Yang janji-NYA tak pernah diingkari-NYA, selalu tepat dan dipenuhi-NYA. Lantas, mengapa kita kadang kala enggan mengikuti perintah-NYA, dan menjauhi larangan-NYA?
Allah tempat bergantung segala makhluk, segala yang diciptakan, baik kebergantungan karena keterpaksaan, maupun kerelaan. Tak ada yang berkuasa secara hakiki kecuali hanya Beliau saja. Tak ada yang memiliki kejayaan yang hakiki kecuali hanya Beliau saja.
Karena itulah dengan rela hati Siti Hajar menerima keputusan ini. Keinginan untuk taat dan patuh, serta tunduk kepada-NYA saja, tak ada keinginan untuk menolaknya.
Pelaksanaan tugas, tentunya membawa konsekwensi. Tidak, tidak ada kemudahan yang bersegera ketika kita telah menyatakan hendak dan mau melaksanakan perintah Allah. Hadangan pertama mulai dirasakan Siti Hajar, tatkala air susunya sudah tak sanggup lagi mengurangi haus sang bayi. Menangislah sang bayi menuntut haknya, tangisnya begitu keras terdengar. Sang Ibu, bukanlah seorang wanita, yang lemah karena tangis, namun dengan bersegera tanggap atas keluhan sang bayi. Maka dilihatlah disekelilinginya, barangkali ada air yang dapat diminumkannya untuk sang bayi. Ooo di sana di bukit itu, bukit Shofa, tampak air beriak, larilah sang Ibu, namun ternyata air yang tampak di pandangan itu tak ada, ketika sampai di bukit. Maka kembali sang Ibu memandang sekeliling, wah, alhamdulillah sepanjang mata memandang di bukit Marwa terlihat riak air, demi sang anak yang telah kehausan, sang Ibu kembali berlari untuk mendapatkan air. Tujuh kali bolak-balik berlari dari satu bukit ke bukit yang lain, dalam rangka mendapatkan air bagi sang bayi yang menjadi tanggung jawabnya, dalam udara yang amat panas, membuat dirinya tak sanggup lagi. Maka mengalirlah air di lubang tanah yang terkena sentuh sang bayi, alhamdulillah, perjuangan untuk mengantarkan generasi penerus, pelanjut risalah, mendapatkan sedikit kemudahan, mata air ini, suatu saat diberi nama Air Zam-zam, mata air yang tak surut setelah kian ribu tahun, hingga hari ini, masih mengalirkan air dengan jernih dan nikmat, inilah kelebihan hasil dari derap langkah para pejuang di jalan Allah, menyenangkan dan menggembirakan semua pihak, baik yang kufur dengan malu-malu, kufur dengan terang-terangan maupun yang taat hanya kepada Allah semata-mata.
Tahun berganti tahun. Usia sang bayi telah menginjak 11 tahun, sang ayah datang berkunjung. Rasa sayang, rasa kangen, sang ayah, yang menginginkan generasi pelanjut, generasi penerusnya, sehingga mampu mendhohirkan din yang haq di seluruh muka bumi, ditumpahkan. Namun kembali perintah Allah mengumandang melalui mimpi seorang Nabi, yang pasti syaithan tak mampu memasukinya. Perintah itu tak tanggung-tanggung, yaitu: menyembelih pewaris dan pelanjut risalah. Allahu akbar!
Keraguan? Jelas ada, karenanya ditunggu sampai tiga kali, sehingga keyakinan sang Nabi mantap, dan tak ada lagi keraguan. Apakah sang anak yang telah menginjak remaja sanggup melaksanakan perintah ini?
"Wahai, Bapakku, ketika perintah Allah telah berkumandang, mana lagi yang sanggup menahannya, manalah mungkin saya mengingkarinya? Saya ingin selamat di dunia dan selamat di akhirat. Wahai, Ayahanda, laksanakanlah perintah Allah itu. Supaya Ayahanda tidak menghentikan perintah Allah, janganlah aku ditelentangkan, jangan pula dimiringkan, namun telungkupkanlah aku, sehingga wajahku tak terlihat oleh Ayahanda, kuatir hal itu akan menghalangi Ayahanda dalam melaksanakan perintah-NYA. Lantas tutuplah mulutku, sehingga suaraku tak keluar, yang akan menyebabkan Ayahanda menghentikan melaksanakan perintah-NYA. Dan ikatlah tangan dan kakiku dengan kuat, sehingga aku tak meronta yang menyebabkan Ayahanda urung melaksanakan perintah-NYA"
Keikhlasan seorang anak yang telah terdidik dengan sempurna, tak ada syirik di dalam dirinya, tak ada keraguan dalam melaksanakan perintah Allah Azza wa Jalla.
Lantas, dimanakah aku? Apakah aku bersegera melaksanakan perintah Allah, ataukah masih ada keraguan untuk melaksanakannya? Ya, Allah, bersihkanlah diriku dari sifat egois, dari sifat ingin dipuji dan dipuja, dari sifat angkuh (bukan karena perintah-MU), dari sifat selalu mengukur keberhasilan hanya dari bendawi, materialisme, sosialisme. Mudahkanlah kami dalam melaksanakan taat. 'Ati'ullaha, wa 'ati'u rasul, wa ulil amri minkum.
Allahu akbar
Allahu akbar
Laa ilaha illa Allah
Allahu akbar
Allahu akbar
Walillahil hamd
Alahamdulillah, akhirnya pada tahun ini, saya dapat melaksanakan sholat ied di STT Telkom. Kondisi hujan, menyebabkan sholat tidak dilaksanakan di lapangan depan gedung D, namun dilaksanakan di Masjid Syamsul Ulum.
Sholat yang dilaksanakan sekitar jam 06 lebih 15 menit, rasanya masih terlalu pagi, apalagi suasana gerimis, yang membuat dingin suhu udara dan membuat suasana semakin malas untuk berbuat.
Padahal hari raya ini, didasarkan atas ibrah Nabi Ibrahim AS, seorang nabi yang istimewa, yang telah teruji kemampuan dan juga kesabarannya, sehingga digolongkan ke dalam nabi Ulul Azmi.
Langkah-langkah beliau menjadi suri tauladan semua manusia yang ingin selamat dunia dan akhirat, kisah-kisahnya begitu memenuhi lubuk hati yang paling dalam, untuk terus mengikutinya, untuk terus membangun kesadaran diri, agar kita mampu selamat dunia akhirat.
Ketika muda, beliau telah membuat gempar, namun membuat orang-orang di sekelilingnya mengembangkan cara berfikir mereka. Dihancurkannya ratusan patung berhala dan ditinggalkan utuh satu saja, yang terbesar, dari yang lainnya. Masyarakatnya kaget, gempar, tergoncang, dan mereka pun sepakat untuk curiga hanya pada satu orang saja, yaitu Ibrahim, karena perilakunya yang tidak suka terhadap berhala-berhala.
Pengadilan kilat di hadapan langsung ratusan orang dan di depan patung nan kokoh, dan indah, teguh laksana tak mampu dirubuhkan, Ibrahim diadili. Di hadapan sekian banyak orang ada juga rasa gentar di hati Ibrahim (laksana Nabi Musa AS yang tergetar karena ahli sihir telah menjatuhkan ular-ular yang berbisa), namun Nabi Ibrahim bukan orang sembarangan, dengan ketenangannya beliau menyatakan: "Tanyakan pada patung yang besar ini!".
Ributlah khalayak ramai. Benar, patung ini demikian besar, demikian kokoh, tak mudah dihancurkan, namun dia tak dapat berbicara, bahkan untuk membela diripun tak sanggup dilakukannya, kalaulah dia tidak rubuh, bukan karena kesanggupannya membela diri, namun memang tidak dirubuhkan. Orang-orang berpikir, untuk apa menyembah sesuatu yang tak mampu memberi petunjuk? Untuk apa menyembah sesuatu yang tak mampu membela diri? Beberapa saat mereka terkesima dengan jawaban Nabi Ibrahim AS.
Terkesimaan itu dialami juga oleh para penguasa, namun para penguasa yang takut kehilangan jabatan, para penguasa yang takut kehilangan pengaruh, para penguasa yang takut harta kekayaan, telah menutupi dirinya dengan tabir, untuk memperoleh jawaban yang benar. Maka dengan bersegara mereka menyatakan: "Bakar Ibrahim! Dia telah menghancurkan sesembahan kita, dia tidak menghormati budaya dan adat istiadat kebiasaan nenek moyang kita!"
Tentunya kisah ini, bukan hanya sekedar membuat tertidur para anak-anak yang kesulitan tidur sehingga harus didongengin, tetapi lebih jauh dari itu, mestinya membawa kesadaran diri kita, agar kita tak menyembah, tidak tunduk pada benda-benda yang dikiranya mampu menyelamatkan diri kita di dunia dan akhirat. Mungkinkah kita telah melakukannya? Na'udzu billahi min dzalik!
Dikisahkan lain. Siti Hajar dan bayinya yang bernama Ismail, diantar oleh suami dan bapaknya, yaitu Ibrahim AS, ke suatu lembah yang suatu saat nanti akan berubah nama menjadi Mekkah. Saat itu, lembah ini tidak ada pohon-pohonan, yang ada hanya hamparan batu dan pasir belaka, panasnya pastilah menyengat di siang hari. Di tempat seperti inilah Ibrahim AS, hendak meninggalkan Istri kedua dan bayinya. Sungguh secara rasio, hal ini tidak masuk akal, mana tega seorang suami yang telah lama mengidamkan mempunyai generasi pelanjut, dan ketika telah berhasil mendapatkan anak, generasi pelanjutnya, kemudian istri dan bayinya ditinggalkan di tempat yang sedemikian gersang, tak ada teman, tak ada makanan? Manusia jenis apa ini? Kegundahan ini pun menggelayut juga pada pikiran istrinya, tak mampu pula sang istri menahan keheranan: "Wahai, suamiku Nabi Ibrahim yang aku sayangi, apakah Kakanda meninggalkan diriku dan bayiku di tempat yang seperti ini karena perintah Allah?". Nabi Ibrahim pun ada rasa tak sanggup melaksanakannya pula. Namun dengan ketegaran seorang Nabi yang telah terpilih, beliau menjawab: "Benar, ini adalah perintah Allah". Jawaban sang suami meneguhkan dirinya untuk bersegera mematuhinya.
Sungguh ketaatan kepada siapa lagi yang mesti diikuti? Jika bukan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah? Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Pemurah, yang tak ada sekutu bagi-NYA, yang tak ada saingan bagi-NYA, yang tak ada yang menyerupai-NYA. Yang janji-NYA tak pernah diingkari-NYA, selalu tepat dan dipenuhi-NYA. Lantas, mengapa kita kadang kala enggan mengikuti perintah-NYA, dan menjauhi larangan-NYA?
Allah tempat bergantung segala makhluk, segala yang diciptakan, baik kebergantungan karena keterpaksaan, maupun kerelaan. Tak ada yang berkuasa secara hakiki kecuali hanya Beliau saja. Tak ada yang memiliki kejayaan yang hakiki kecuali hanya Beliau saja.
Karena itulah dengan rela hati Siti Hajar menerima keputusan ini. Keinginan untuk taat dan patuh, serta tunduk kepada-NYA saja, tak ada keinginan untuk menolaknya.
Pelaksanaan tugas, tentunya membawa konsekwensi. Tidak, tidak ada kemudahan yang bersegera ketika kita telah menyatakan hendak dan mau melaksanakan perintah Allah. Hadangan pertama mulai dirasakan Siti Hajar, tatkala air susunya sudah tak sanggup lagi mengurangi haus sang bayi. Menangislah sang bayi menuntut haknya, tangisnya begitu keras terdengar. Sang Ibu, bukanlah seorang wanita, yang lemah karena tangis, namun dengan bersegera tanggap atas keluhan sang bayi. Maka dilihatlah disekelilinginya, barangkali ada air yang dapat diminumkannya untuk sang bayi. Ooo di sana di bukit itu, bukit Shofa, tampak air beriak, larilah sang Ibu, namun ternyata air yang tampak di pandangan itu tak ada, ketika sampai di bukit. Maka kembali sang Ibu memandang sekeliling, wah, alhamdulillah sepanjang mata memandang di bukit Marwa terlihat riak air, demi sang anak yang telah kehausan, sang Ibu kembali berlari untuk mendapatkan air. Tujuh kali bolak-balik berlari dari satu bukit ke bukit yang lain, dalam rangka mendapatkan air bagi sang bayi yang menjadi tanggung jawabnya, dalam udara yang amat panas, membuat dirinya tak sanggup lagi. Maka mengalirlah air di lubang tanah yang terkena sentuh sang bayi, alhamdulillah, perjuangan untuk mengantarkan generasi penerus, pelanjut risalah, mendapatkan sedikit kemudahan, mata air ini, suatu saat diberi nama Air Zam-zam, mata air yang tak surut setelah kian ribu tahun, hingga hari ini, masih mengalirkan air dengan jernih dan nikmat, inilah kelebihan hasil dari derap langkah para pejuang di jalan Allah, menyenangkan dan menggembirakan semua pihak, baik yang kufur dengan malu-malu, kufur dengan terang-terangan maupun yang taat hanya kepada Allah semata-mata.
Tahun berganti tahun. Usia sang bayi telah menginjak 11 tahun, sang ayah datang berkunjung. Rasa sayang, rasa kangen, sang ayah, yang menginginkan generasi pelanjut, generasi penerusnya, sehingga mampu mendhohirkan din yang haq di seluruh muka bumi, ditumpahkan. Namun kembali perintah Allah mengumandang melalui mimpi seorang Nabi, yang pasti syaithan tak mampu memasukinya. Perintah itu tak tanggung-tanggung, yaitu: menyembelih pewaris dan pelanjut risalah. Allahu akbar!
Keraguan? Jelas ada, karenanya ditunggu sampai tiga kali, sehingga keyakinan sang Nabi mantap, dan tak ada lagi keraguan. Apakah sang anak yang telah menginjak remaja sanggup melaksanakan perintah ini?
"Wahai, Bapakku, ketika perintah Allah telah berkumandang, mana lagi yang sanggup menahannya, manalah mungkin saya mengingkarinya? Saya ingin selamat di dunia dan selamat di akhirat. Wahai, Ayahanda, laksanakanlah perintah Allah itu. Supaya Ayahanda tidak menghentikan perintah Allah, janganlah aku ditelentangkan, jangan pula dimiringkan, namun telungkupkanlah aku, sehingga wajahku tak terlihat oleh Ayahanda, kuatir hal itu akan menghalangi Ayahanda dalam melaksanakan perintah-NYA. Lantas tutuplah mulutku, sehingga suaraku tak keluar, yang akan menyebabkan Ayahanda menghentikan melaksanakan perintah-NYA. Dan ikatlah tangan dan kakiku dengan kuat, sehingga aku tak meronta yang menyebabkan Ayahanda urung melaksanakan perintah-NYA"
Keikhlasan seorang anak yang telah terdidik dengan sempurna, tak ada syirik di dalam dirinya, tak ada keraguan dalam melaksanakan perintah Allah Azza wa Jalla.
Lantas, dimanakah aku? Apakah aku bersegera melaksanakan perintah Allah, ataukah masih ada keraguan untuk melaksanakannya? Ya, Allah, bersihkanlah diriku dari sifat egois, dari sifat ingin dipuji dan dipuja, dari sifat angkuh (bukan karena perintah-MU), dari sifat selalu mengukur keberhasilan hanya dari bendawi, materialisme, sosialisme. Mudahkanlah kami dalam melaksanakan taat. 'Ati'ullaha, wa 'ati'u rasul, wa ulil amri minkum.
19 December 2006
Diskusiku dengan TW
Benar, apa yang TW tulis. Inilah keseimbangan yang ingin dilakukan terhadap pembinaan kemahasiswaan. Dalam kondisi saat ini, saya melihat terlalu sedikit yang aktif di aktifitas selain yang wajib (kuliah, praktikum), karenanya untuk saat ini yang didorong dilakukan adalah yang penting mau beraktifitas dulu.
Coba TW bayangkan, orang yang mengantar proposal ke BKA adalah mahasiswa baru (angkatan 2006 atau yang jika angkatan cukup usia, mereka nggak ngerti isi proposal), akibatnya jika ditanya proposal ini apa isinya, mau kemana kegunaannya apa, bagaimana cara mengukur tingkat keberhasilannya? Mereka nggak bisa menjawab, dan jika ada yang bisa menjawab: yang muncul adalah pokoknya begini! lho kalau nggak ngerti isi proposal kok mau presentasi isi proposal? Opo ora lucu?
Keyakinan saya saat ini, masih dalam tahap dorongan untuk berakfitas selain yang wajib, karena dimanapun tempatnya, baik sebagai pemilik perusahaan, ataupun sebagai pekerja (seperti saya) tidak cukup pengetahuan akademik saja.
Nah, nanti (saya belum bisa memprediksi) jika sebagian besar mahasiswa telah ikut serta dalam kegiatan di luar akademik, kita melangkah ke tahap seleksi yang lebih bermakna.
http:\\mahmud-imrona.blogspot.com
-------Original Message-------
From: tw yunianto
Date: 19/12/2006 12:13:15
To: Mahmud 'Imrona
Subject: Re: mohon klarifikasi
maksud saya tidak untuk mematikan kreativitas mhs.
memang harus didorong, tapi setidaknya juga harus diarahkan.
memang antara membuat orang cerdas dan mengerti itu hampir sama. tapi keduanya memiliki substansi yang berbeda.
saya kira filosofi 'mengerti' akan sangat terkait dengan nilai dan pemahaman.
sedangkan membuat orang 'cerdas' hanyalah dibutuhkan usaha untuk membuat orang mau melaksanakan sesuatu tanpa mengerti substansinya.
saya kira, dalam pembinaan pun kita juga harus efektif, efisien, dan sistemik.
tidak hanya membuat orang untuk sekedar banyak bekerja, tetapi tidak memiliki pemahaman akan ekspektasi hasil kerja.
hasilnya, ya boleh dikatakan itulah nantinya yang akan menjadi orang2 pragmatis.
membuat orang pinter dan paham dibutuhkan sebuah sentuhan tersendiri.
banyak aktivitas yang memiliki tujuan yang sama, namun memiliki jalur yang berbeda-beda dalam mencapainya.
bagaimanapun, menurut saya, membuat orang mengerti itu lebih utama dari pada membuat orang pinter.
begitu pula jika hal itu kita terapkan dalam pembinaan kemahasiswaan di kampus ini.
On 12/19/06, Mahmud 'Imrona < mhd@stttelkom.ac.id> wrote:
Saya pikir tidak begitu cara berfikirnya. Antisipasi keadaan sudah dilakukan, sekecil apapun itu. Sudah diminta mereka untuk tidak membawa sponsor alat kontrasepsi, itu pu telah dilakukan, jika ada di luar kampus, maka kemudian ditarik, dst. Kalau tanggung menanggung, hal itu sudah pasti pula dilakukan, siapa berbuat harus berani bertanggung jawab. Tetapi kalau kemudian mematikan kreatifitas mahasiswa yang ingin rasanya kok tidak pada tempatnya. Yang harus dilakukan adalah mendorong mahasiswa yang hanya kutu buku, kutu kuliah, kutu rumah, tidak bisa bergaul, tidak mengerti kemana hendak melangkah selain kuliah-rumah-kantin, didorong agar berani membuka diri untuk membuat aktifitas yang lain.
http:\\mahmud-imrona.blogspot.com
-------Original Message-------
From: tw yunianto
Date: 19/12/2006 11:28:34
To: Mahmud 'Imrona
Subject: Re: mohon klarifikasi
saya tahunya juga baru tadi pagi ketika ngobrol dgn pemuda pga.
mereka menyesalkan tragedi itu.
mengevaluasi kegiatan semacam konser band kok banyak yang bikin kita susah.
kalaupun ada konser musik, mending diganti saja dgn musik yg lebih 'intelek'.
saya juga denger dr kawan2 katanya ada dari personel band yang manggung kemarin mengeluarkan kata2 kotor yang nggak pantas.
wuh.. bikin pusing saja.
ditambah lagi, satpam yang nggak salah harus kena batunya (batu beneran....).
saya kira stt juga harus bertanggung jawab dgn meminta 'pertanggungjawaban' panitia.
paling tidak mengevaluasi untuk selanjutnya mengeluarkan kebijakan yang sekiranya mampu menjadi solusi bagi semua, bagi kita mhs, warga kampus dan masy sekitar.
--
TW Yunianto
Mobile Comm Researcher
Telkom School of Technology
E Buildings Kav. 203
Telekomunikasi, Dayeuhkolot, Bandung 40257
Ph. +62-22-7564108
Mob. +62-8562231510/+62-22-91293382
www.twyunianto.co.nr
Coba TW bayangkan, orang yang mengantar proposal ke BKA adalah mahasiswa baru (angkatan 2006 atau yang jika angkatan cukup usia, mereka nggak ngerti isi proposal), akibatnya jika ditanya proposal ini apa isinya, mau kemana kegunaannya apa, bagaimana cara mengukur tingkat keberhasilannya? Mereka nggak bisa menjawab, dan jika ada yang bisa menjawab: yang muncul adalah pokoknya begini! lho kalau nggak ngerti isi proposal kok mau presentasi isi proposal? Opo ora lucu?
Keyakinan saya saat ini, masih dalam tahap dorongan untuk berakfitas selain yang wajib, karena dimanapun tempatnya, baik sebagai pemilik perusahaan, ataupun sebagai pekerja (seperti saya) tidak cukup pengetahuan akademik saja.
Nah, nanti (saya belum bisa memprediksi) jika sebagian besar mahasiswa telah ikut serta dalam kegiatan di luar akademik, kita melangkah ke tahap seleksi yang lebih bermakna.
http:\\mahmud-imrona.blogspot.com
-------Original Message-------
From: tw yunianto
Date: 19/12/2006 12:13:15
To: Mahmud 'Imrona
Subject: Re: mohon klarifikasi
maksud saya tidak untuk mematikan kreativitas mhs.
memang harus didorong, tapi setidaknya juga harus diarahkan.
memang antara membuat orang cerdas dan mengerti itu hampir sama. tapi keduanya memiliki substansi yang berbeda.
saya kira filosofi 'mengerti' akan sangat terkait dengan nilai dan pemahaman.
sedangkan membuat orang 'cerdas' hanyalah dibutuhkan usaha untuk membuat orang mau melaksanakan sesuatu tanpa mengerti substansinya.
saya kira, dalam pembinaan pun kita juga harus efektif, efisien, dan sistemik.
tidak hanya membuat orang untuk sekedar banyak bekerja, tetapi tidak memiliki pemahaman akan ekspektasi hasil kerja.
hasilnya, ya boleh dikatakan itulah nantinya yang akan menjadi orang2 pragmatis.
membuat orang pinter dan paham dibutuhkan sebuah sentuhan tersendiri.
banyak aktivitas yang memiliki tujuan yang sama, namun memiliki jalur yang berbeda-beda dalam mencapainya.
bagaimanapun, menurut saya, membuat orang mengerti itu lebih utama dari pada membuat orang pinter.
begitu pula jika hal itu kita terapkan dalam pembinaan kemahasiswaan di kampus ini.
On 12/19/06, Mahmud 'Imrona < mhd@stttelkom.ac.id> wrote:
Saya pikir tidak begitu cara berfikirnya. Antisipasi keadaan sudah dilakukan, sekecil apapun itu. Sudah diminta mereka untuk tidak membawa sponsor alat kontrasepsi, itu pu telah dilakukan, jika ada di luar kampus, maka kemudian ditarik, dst. Kalau tanggung menanggung, hal itu sudah pasti pula dilakukan, siapa berbuat harus berani bertanggung jawab. Tetapi kalau kemudian mematikan kreatifitas mahasiswa yang ingin rasanya kok tidak pada tempatnya. Yang harus dilakukan adalah mendorong mahasiswa yang hanya kutu buku, kutu kuliah, kutu rumah, tidak bisa bergaul, tidak mengerti kemana hendak melangkah selain kuliah-rumah-kantin, didorong agar berani membuka diri untuk membuat aktifitas yang lain.
http:\\mahmud-imrona.blogspot.com
-------Original Message-------
From: tw yunianto
Date: 19/12/2006 11:28:34
To: Mahmud 'Imrona
Subject: Re: mohon klarifikasi
saya tahunya juga baru tadi pagi ketika ngobrol dgn pemuda pga.
mereka menyesalkan tragedi itu.
mengevaluasi kegiatan semacam konser band kok banyak yang bikin kita susah.
kalaupun ada konser musik, mending diganti saja dgn musik yg lebih 'intelek'.
saya juga denger dr kawan2 katanya ada dari personel band yang manggung kemarin mengeluarkan kata2 kotor yang nggak pantas.
wuh.. bikin pusing saja.
ditambah lagi, satpam yang nggak salah harus kena batunya (batu beneran....).
saya kira stt juga harus bertanggung jawab dgn meminta 'pertanggungjawaban' panitia.
paling tidak mengevaluasi untuk selanjutnya mengeluarkan kebijakan yang sekiranya mampu menjadi solusi bagi semua, bagi kita mhs, warga kampus dan masy sekitar.
--
TW Yunianto
Mobile Comm Researcher
Telkom School of Technology
E Buildings Kav. 203
Telekomunikasi, Dayeuhkolot, Bandung 40257
Ph. +62-22-7564108
Mob. +62-8562231510/+62-22-91293382
www.twyunianto.co.nr
Label:
Diskusi TW
Kematian Artis Alda Risma
Artis menjadi amat terkenang oleh diriku, bukan menjadi idola, tetapi membuat selalu ingat, karena kasus-kasus yang menyertainya.
Pelantun lagu 'Aku Tak Biasa' yang bernada melankolis, romantis, dan dinyanyikan dalam video klipnya, dinyanyikan di atas kasur dengan latar belakang air terjun. Sungguh suasana di video klip tersebut amat dan sangat sesuai. Belum lagi ditambah dengan pakaian yang dikenakannya yang memang cukup menonjolkan bentuk tubuhnya.
Aku tak biasa ... ne ne ne ne ... aku tak biasa ...
Suatu saat dia tampil menyanyi dan temanku yang saat itu belum menikah (mungkin saat itu sekitar tahun '92-an), melihat ada keanehan di daerah perutnya. Walaupun dia (temanku) belum menikah, tetapi amat dan sangat yakin bahwa si Alda seperti pernah hamil atau bahkan sedang hamil, padahal kami tahu dia belum menikah.
Entah mengapa sejak saat itu, aku terus ingat.
Heh... kemudian ada acara ulang tahun dirinya yang dirayakan di rumah orang tuanya, rasanya seperti aku masih ingat dia diwawancara di sekitar rumahnya tetapi di latar belakang tanah kosong (atau mungkin lapangan). Di acara ini dia memakai kerudung (jilbab) dan acaranya pun pengajian ibu-ibu. Sungguh aku kaget, di satu sisi temanku mengatakan jika dia seperti wanita yang pernah hamil atau sedang hamil, tetapi dia memakai kerudung, yang berkesan orang sholehah.
Kepenasaranku atas pernyataan temanku bahwa dia begitu, akhirnya terjawab, ketika kemunculan berikutnya adalah berita Alda menikah, padahal dari sisi usia saat itu Alda masih terhitung amat muda, sehingga berita menikahnya tentunya mengundang kontroversi juga. Begitupun kasus Alda memakai kerudung saat acara ulang tahunnya.
Lama aku tidak memperhatikan lagi kiprahnya, bahkan yang katanya dia mengeluarkan album kedua, aku nggak tahu juga.
Tadi pagi (13 Desember 2006) aku lihat di TV si Alda meninggal, dengan luka-luka lebam, dan ada beberapa titik bekas suntik di tangannya. Kontroversinya yang dibuatnya ternyata belum berakhir juga, apalagi ketika berita tentang Alda ditambah dengan kasus tabrakan yang dia lakukan, sehingga BMW warna merah yang ditumpanginya rusak parah.
Inilah kenyataan hidup yang harus dijalani oleh para artis, di persimpangan jalan, padahal kata Ibunya, Alda pernah ingin pulang ke rumah orang tuanya.
Selamat jalan Alda, semoga aku dan keturunanku tidak menjalani hidup sepertimu, na'udzu billahi min dzalik, hidup penuh kontroversi, penuh lika liku.
Pelantun lagu 'Aku Tak Biasa' yang bernada melankolis, romantis, dan dinyanyikan dalam video klipnya, dinyanyikan di atas kasur dengan latar belakang air terjun. Sungguh suasana di video klip tersebut amat dan sangat sesuai. Belum lagi ditambah dengan pakaian yang dikenakannya yang memang cukup menonjolkan bentuk tubuhnya.
Aku tak biasa ... ne ne ne ne ... aku tak biasa ...
Suatu saat dia tampil menyanyi dan temanku yang saat itu belum menikah (mungkin saat itu sekitar tahun '92-an), melihat ada keanehan di daerah perutnya. Walaupun dia (temanku) belum menikah, tetapi amat dan sangat yakin bahwa si Alda seperti pernah hamil atau bahkan sedang hamil, padahal kami tahu dia belum menikah.
Entah mengapa sejak saat itu, aku terus ingat.
Heh... kemudian ada acara ulang tahun dirinya yang dirayakan di rumah orang tuanya, rasanya seperti aku masih ingat dia diwawancara di sekitar rumahnya tetapi di latar belakang tanah kosong (atau mungkin lapangan). Di acara ini dia memakai kerudung (jilbab) dan acaranya pun pengajian ibu-ibu. Sungguh aku kaget, di satu sisi temanku mengatakan jika dia seperti wanita yang pernah hamil atau sedang hamil, tetapi dia memakai kerudung, yang berkesan orang sholehah.
Kepenasaranku atas pernyataan temanku bahwa dia begitu, akhirnya terjawab, ketika kemunculan berikutnya adalah berita Alda menikah, padahal dari sisi usia saat itu Alda masih terhitung amat muda, sehingga berita menikahnya tentunya mengundang kontroversi juga. Begitupun kasus Alda memakai kerudung saat acara ulang tahunnya.
Lama aku tidak memperhatikan lagi kiprahnya, bahkan yang katanya dia mengeluarkan album kedua, aku nggak tahu juga.
Tadi pagi (13 Desember 2006) aku lihat di TV si Alda meninggal, dengan luka-luka lebam, dan ada beberapa titik bekas suntik di tangannya. Kontroversinya yang dibuatnya ternyata belum berakhir juga, apalagi ketika berita tentang Alda ditambah dengan kasus tabrakan yang dia lakukan, sehingga BMW warna merah yang ditumpanginya rusak parah.
Inilah kenyataan hidup yang harus dijalani oleh para artis, di persimpangan jalan, padahal kata Ibunya, Alda pernah ingin pulang ke rumah orang tuanya.
Selamat jalan Alda, semoga aku dan keturunanku tidak menjalani hidup sepertimu, na'udzu billahi min dzalik, hidup penuh kontroversi, penuh lika liku.
Label:
Alda
18 December 2006
Bandung - Jakarta - Balikpapan
Masih terasa mengantuk, walaupun waktu tidur rasanya sudah cukup, wong tidur sekitar jam 22. Alarm yang aku isi dgn suara anakku yang kelima Ayyida Aini Rahmah: Pak Janjian Pak janjian ... terus berulang ditambah dengan istriku membangunkanku, membuat aku memaksakan diri bangun juga.
Aku ingat mesti mengambil file dari notebook. Aku ambil file Data Pa Mahmud yang dibuat oleh Pak Tatang. Sementara istriku membuat air panas untuk mandi. Dan mandilah aku dengan air hangat.
Persiapanku rasanya sudah cukup. Dan Usman pun telah hadir. Aku mencoba mengingat apa saja yang aku butuhkan, cukup.
Mobil bergerak dengan gaya Usman, agak pelan, karena aku mewanti agar mencari ATM Mandiri dulu, uang SPPD belum cair. ATM ditemukan di jalan Pasteur.
Aduh, Man, aku mengantuk, aku tidur ya ... Aku mempunyai kebiasaan sulit tidur di kendaraan, namun dengan usaha memaksakan diri, aku tertidur pula. Tol Cipularang yang kondisi jalannya memang kurang rata, menggoncang-goncang diriku. Terasa ada kemacetan yang cukup membuat aku terbangun di tol Jakarta-Cikampek, ada tiang lampu penerangan yang sedang diperbaiki.
Sampai tempatnya Adam Air pas jam 05. Check in selesai, dapat boarding pass, dan duduk di ruang tunggu. Baca koran sambil mengingat dan berfikir, bagaimana caranya sholat subuh. Lihat kondisi sekeliling dan ... oh diantara jeruji tangga kutemukan petunjuk musholla. Sholat dan ah... rasanya tenang.
Saat itu jam menunjukkan angka 05.38 ketika ada pemberitahuan untuk masuk pesawat. Lama pesawat Boeing 737 seri 400 berjalan pelan menuju landas pacu. Di belakang beberapa pesawat, Garuda, Merpati (kalau tidak salah ingat), dan Philipines ikut antri, ikut mengiringi langkah Adam Air untuk take off.
Suara mesin bergerak mengeras, dan berlari semakin lama semakin kencang ... wuih ... naik sedikit demi sedikit, suara gesekan roda dengan landas pacu pun menghilang ... naik dan naik dan naik sambil berbelok ke kanan, tol telah di bawah, rumah-rumah, kotak-kotak sawah, garis pantai, gerombolan awan putih, pulau-pulau kecil, ombak laut yang laksana rambut ikal dan posisi pesawat pun mendatar.
Perjalanan yang mungkin akan terasa membosankan, karena hanya melihat awan di bawah, dan bentuk gulungan kapas, eh lebih tepatnya arum manis yang berwarna putih.
Aku mencoba mengoreksi UTS yang sudah lama nyaris terlupakan oleh kegiatan berkomunikasi dengan mahasiswa, merencanakan dan melaksanakan executive gathering, temu alumni, mengurai masalah beasiswa, dll Ah ternyata tidak ada soal, nasib, nggak mungkin aku bisa mengoreksi tanpa lembar soal, karena di lembar soal aku cantumkan nilai maksimal setiap soal.
Suara lirih dari pramugari melalui speaker terdengar tidak jelas, kalau dengan suara mesin pesawat, AC, dan entah suara apalagi di pesawat ini. Aku habiskan segera makanan yang disajikan, roti dan air minum.
Garis pantai pulau Kalimantan terlihat jelas. Awan terlihat bertumpuk berlapis selang beberapa meter atau puluh meter 'kali. Garis-garis yang tersusun dengan baik, lurus dan membentuk kotak-kotak dengan bagus, aku tidak tahu apa itu sebenarnya, kalau sawah, rasanya nggak mungkin. Jauh di bawah awan terlihat putih, silau memantulkan sinar matahari. Kalau tidak salah pramugari atau kapten pesawat menyatakan akan terbang dengan ketinggian 33ribu kaki. Sungai lebar terbentang dengan lekuk gaya laksana ular meliuk, hutan hijau Kalimantan yang amat terkenal itu terlihat jauh di bawah, aku seperti mengingati Google Earth dalam posisi stabil ketinggian.
Rasa bosan mulai menghinggapiku, ngantuk agak terasa, namun tidak terlalu kuat, orang-orang rasanya tertidur semua, tak ada suara orang berbicara, bahkan suara anak kecil yang tadi menangis sejak di ruang tunggu bandara pun tak terdengar, sakit 'kali dia. Ada juga suara bicara terdengar lirih, seperti berbisik, nggak jelas suara gaduh di pesawat ini memang luar biasa. Kadang bergetar menumbuk awan, atau ruang kosong hampa udara. Wow ... sepanjang mata pemandang hanya putih yang terlihat, menyilaukan, karena pantulan sinar matahari, sakit di mata.
Rasa ingin buang air kecil, aku tahan, susah lewat, karena orang disampingku tertidur sejak naik pesawat, bahkan saat take off pun.
Suara pramugari seperti biasa tidak terdengar dengan baik. Pesawat bergetar, bunyi deritan kursi terdengar berkali-kali. Kadang getarannya agak keras. Telinga mulai kusadari ada rasa sakit. Ngantuk menyerang sekali, tetapi memang sulit aku tidur... aku ingin menulis.
Aku menulis sejak koreksian aku tutup. Silau putih kehijauan yang terbayang, sejauh mata memandang putih melulu, kadang awan tipis dilewat, bawah pun tak terlihat.
Wow jauh di bawah awan-awan kecil terlihat seperti kapas yang disebar, hijau hutan Kalimantan beberapa terlihat kosong, ada aliran sungai, oh... apa itu guratan berwarna kuning kemerahan.

Ada pemberitahuan pramugari untuk menata tempat duduk, mungkin mau turun. Wus dingin. Jalan-jalan tanah terlihat jelas. Hijau itu tak merata ada muda, tua. Di seberang depan terlihat air dalam skala, danau mungkin. Tanah terlihat dan bulatan, seperti tandon minyak ada 7 jumlah, 5 besar, 2 lebih kecil. Aku di atas air terlihat kapal-kapal kecil seperti tak bergerak, padahal riak air ada di belakang kapal itu. Aku tdk tahu apakah danau atau laut, aku hanya bisa melihat dari sisi pesawat, tetapi kalau danau betapa besarnya. Warna air pun berbeda, walaupun sama-sama hijau. Terasa roda pesawat dikeluarkan, suara desing terdengar, berbelok ke kiri, pesawat miring. Maka terlihatlah sekarang ternyata laut, bukan danau. Mana bandaranya aku cari, belum ketemu juga. Oh ... itu ...
Warna genting rumah berganti. Dan ... goncangan roda menyentuh landasan. Ada rasa takut juga. Alhamdulillah, pesawat berjalan pelan, berbelok menuju peron. Aku ingat Lion AIr ngejungkel saat seperti ini.

Sepinggan International Airport menyambut dengan tulisan yang besar, pesawat pun berlagu, setelah tadi hanya mendengungkan suara yang tidak nyaman. Jam 08:10 masuk ke peron.
Naik taksi dengan driver Weli, sopir taksi yang ramah, sehingga dengan mudahnya menceritakan kondisi keluarganya: anak 8 (5 dari istri pertama Dayak, 2 dari istri kedua yang berasal dari Buton, 1 dr istri ketiga yang berasal dari Batak), istri 3 (1 cerai yang mempunyai darah Batak). No HP Weli 081520377487.
Hotel Grand Tiga Mustika cukup kecil, jika dibanding dengan Novotel yang berdiri megah di depan seberang atau Hotel Gran Senyiur tepat persis di depannya. Suasana nyaman yang penuh keramahan menyergapku, yang membuatku terasa menyukainya. Panitia pun sudah standy by, walaupun seperti biasa aku kesulitan menerangkan bahwa STT Telkom menghendaki menggunakan kwitansi yang bermeterai, tetapi untuk sementara rasanya tidak ada masalah, begitu kantukku hilang, aku ingin jalan-jalan mencari kwitansi dan meterai.
Aku ingat mesti mengambil file dari notebook. Aku ambil file Data Pa Mahmud yang dibuat oleh Pak Tatang. Sementara istriku membuat air panas untuk mandi. Dan mandilah aku dengan air hangat.
Persiapanku rasanya sudah cukup. Dan Usman pun telah hadir. Aku mencoba mengingat apa saja yang aku butuhkan, cukup.
Mobil bergerak dengan gaya Usman, agak pelan, karena aku mewanti agar mencari ATM Mandiri dulu, uang SPPD belum cair. ATM ditemukan di jalan Pasteur.
Aduh, Man, aku mengantuk, aku tidur ya ... Aku mempunyai kebiasaan sulit tidur di kendaraan, namun dengan usaha memaksakan diri, aku tertidur pula. Tol Cipularang yang kondisi jalannya memang kurang rata, menggoncang-goncang diriku. Terasa ada kemacetan yang cukup membuat aku terbangun di tol Jakarta-Cikampek, ada tiang lampu penerangan yang sedang diperbaiki.
Sampai tempatnya Adam Air pas jam 05. Check in selesai, dapat boarding pass, dan duduk di ruang tunggu. Baca koran sambil mengingat dan berfikir, bagaimana caranya sholat subuh. Lihat kondisi sekeliling dan ... oh diantara jeruji tangga kutemukan petunjuk musholla. Sholat dan ah... rasanya tenang.
Saat itu jam menunjukkan angka 05.38 ketika ada pemberitahuan untuk masuk pesawat. Lama pesawat Boeing 737 seri 400 berjalan pelan menuju landas pacu. Di belakang beberapa pesawat, Garuda, Merpati (kalau tidak salah ingat), dan Philipines ikut antri, ikut mengiringi langkah Adam Air untuk take off.
Suara mesin bergerak mengeras, dan berlari semakin lama semakin kencang ... wuih ... naik sedikit demi sedikit, suara gesekan roda dengan landas pacu pun menghilang ... naik dan naik dan naik sambil berbelok ke kanan, tol telah di bawah, rumah-rumah, kotak-kotak sawah, garis pantai, gerombolan awan putih, pulau-pulau kecil, ombak laut yang laksana rambut ikal dan posisi pesawat pun mendatar.
Perjalanan yang mungkin akan terasa membosankan, karena hanya melihat awan di bawah, dan bentuk gulungan kapas, eh lebih tepatnya arum manis yang berwarna putih.
Aku mencoba mengoreksi UTS yang sudah lama nyaris terlupakan oleh kegiatan berkomunikasi dengan mahasiswa, merencanakan dan melaksanakan executive gathering, temu alumni, mengurai masalah beasiswa, dll Ah ternyata tidak ada soal, nasib, nggak mungkin aku bisa mengoreksi tanpa lembar soal, karena di lembar soal aku cantumkan nilai maksimal setiap soal.
Suara lirih dari pramugari melalui speaker terdengar tidak jelas, kalau dengan suara mesin pesawat, AC, dan entah suara apalagi di pesawat ini. Aku habiskan segera makanan yang disajikan, roti dan air minum.
Garis pantai pulau Kalimantan terlihat jelas. Awan terlihat bertumpuk berlapis selang beberapa meter atau puluh meter 'kali. Garis-garis yang tersusun dengan baik, lurus dan membentuk kotak-kotak dengan bagus, aku tidak tahu apa itu sebenarnya, kalau sawah, rasanya nggak mungkin. Jauh di bawah awan terlihat putih, silau memantulkan sinar matahari. Kalau tidak salah pramugari atau kapten pesawat menyatakan akan terbang dengan ketinggian 33ribu kaki. Sungai lebar terbentang dengan lekuk gaya laksana ular meliuk, hutan hijau Kalimantan yang amat terkenal itu terlihat jauh di bawah, aku seperti mengingati Google Earth dalam posisi stabil ketinggian.
Rasa bosan mulai menghinggapiku, ngantuk agak terasa, namun tidak terlalu kuat, orang-orang rasanya tertidur semua, tak ada suara orang berbicara, bahkan suara anak kecil yang tadi menangis sejak di ruang tunggu bandara pun tak terdengar, sakit 'kali dia. Ada juga suara bicara terdengar lirih, seperti berbisik, nggak jelas suara gaduh di pesawat ini memang luar biasa. Kadang bergetar menumbuk awan, atau ruang kosong hampa udara. Wow ... sepanjang mata pemandang hanya putih yang terlihat, menyilaukan, karena pantulan sinar matahari, sakit di mata.
Rasa ingin buang air kecil, aku tahan, susah lewat, karena orang disampingku tertidur sejak naik pesawat, bahkan saat take off pun.
Suara pramugari seperti biasa tidak terdengar dengan baik. Pesawat bergetar, bunyi deritan kursi terdengar berkali-kali. Kadang getarannya agak keras. Telinga mulai kusadari ada rasa sakit. Ngantuk menyerang sekali, tetapi memang sulit aku tidur... aku ingin menulis.
Aku menulis sejak koreksian aku tutup. Silau putih kehijauan yang terbayang, sejauh mata memandang putih melulu, kadang awan tipis dilewat, bawah pun tak terlihat.
Wow jauh di bawah awan-awan kecil terlihat seperti kapas yang disebar, hijau hutan Kalimantan beberapa terlihat kosong, ada aliran sungai, oh... apa itu guratan berwarna kuning kemerahan.

Ada pemberitahuan pramugari untuk menata tempat duduk, mungkin mau turun. Wus dingin. Jalan-jalan tanah terlihat jelas. Hijau itu tak merata ada muda, tua. Di seberang depan terlihat air dalam skala, danau mungkin. Tanah terlihat dan bulatan, seperti tandon minyak ada 7 jumlah, 5 besar, 2 lebih kecil. Aku di atas air terlihat kapal-kapal kecil seperti tak bergerak, padahal riak air ada di belakang kapal itu. Aku tdk tahu apakah danau atau laut, aku hanya bisa melihat dari sisi pesawat, tetapi kalau danau betapa besarnya. Warna air pun berbeda, walaupun sama-sama hijau. Terasa roda pesawat dikeluarkan, suara desing terdengar, berbelok ke kiri, pesawat miring. Maka terlihatlah sekarang ternyata laut, bukan danau. Mana bandaranya aku cari, belum ketemu juga. Oh ... itu ...
Warna genting rumah berganti. Dan ... goncangan roda menyentuh landasan. Ada rasa takut juga. Alhamdulillah, pesawat berjalan pelan, berbelok menuju peron. Aku ingat Lion AIr ngejungkel saat seperti ini.

Sepinggan International Airport menyambut dengan tulisan yang besar, pesawat pun berlagu, setelah tadi hanya mendengungkan suara yang tidak nyaman. Jam 08:10 masuk ke peron.
Naik taksi dengan driver Weli, sopir taksi yang ramah, sehingga dengan mudahnya menceritakan kondisi keluarganya: anak 8 (5 dari istri pertama Dayak, 2 dari istri kedua yang berasal dari Buton, 1 dr istri ketiga yang berasal dari Batak), istri 3 (1 cerai yang mempunyai darah Batak). No HP Weli 081520377487.
Hotel Grand Tiga Mustika cukup kecil, jika dibanding dengan Novotel yang berdiri megah di depan seberang atau Hotel Gran Senyiur tepat persis di depannya. Suasana nyaman yang penuh keramahan menyergapku, yang membuatku terasa menyukainya. Panitia pun sudah standy by, walaupun seperti biasa aku kesulitan menerangkan bahwa STT Telkom menghendaki menggunakan kwitansi yang bermeterai, tetapi untuk sementara rasanya tidak ada masalah, begitu kantukku hilang, aku ingin jalan-jalan mencari kwitansi dan meterai.
Label:
BDG-JKT-BLKP
12 December 2006
Executive Gathering STT Telkom 2006
Dalam rangka mendapatkan masukan dari industri, STT Telkom mengadakan acara executive gathering, beberapa pejabat dari industri jasa dan manufaktur hadir dalam acara ini, tercatat sekitar 8 perusahaan hadir (ada Telkom, Telkomsel, ZTE, Indosat, Microsoft, Lintas Arta, Gratika, Bakrie Telkom). Dengan total 30 orang yang hadir.
Acara diawali dengan sambutan dari Ketua STT Telkom, yang memberikan gambaran akan kedudukan STT Telkom dan apa-apa yang akan dilakukan oleh STT Telkom. STT Telkom telah menghasilkan 8000-an alumni yang bergerak di berbagai bidang pekerjaan, beberapa telah mampu tampil sebagai middle manager.
Kemudian Pak Suryatin Setiawan membawakan keynote speech, yang sungguh membuat para hadirin terperangah. Pertumbuhan industri ICT akan pesat hingga tahun 2010, bahkan tahun-tahun ini disebut sebagai golden year. STT Telkom pun mempunyai keuntungan dengan mengambil fokus pada dunia IT saja, sehingga amat dan sangat jelas aktifitas yang akan dilakukannya. Namun beliau mengungkapkan harapan agar STT Telkom mampu menghasilkan calon-calon leader di dunia IT, mengingat saat ini kebanyak leader diambilkan dari LN, seperti Thailand, Taiwan, China, Malaysia, dan Singapore. Hal ini disebabkan orang-orang Indonesia belum mampu mengambil peran yang setara dengan hal itu.
Di lain pihak, persaingan di dunia seluler, amat dan sangat tinggi, sehingga ada berani bermain dengan harga Rp7,- per 30 detik. Melihat ini berarti margin yang didapat amat kecil, nah, agar mampu mengambil keuntungan yang cukup besar harus bermain pada skala besar.
Untuk tahun 2007 ini dibutuhkan 1000 orang new profesional untuk menangani kebutuhan pendirian sekitar 15ribu BTS.
Kekosongan tenaga kerja:
1. RF Planning
2. Radio Network Optimization
3. Operator High Level
4. Network and service more IP
Selain itu, diharapkan STT Telkom dapat semakin dekat dengan industri, sehingga konsep link and match yang sejak tahun 1990-an namun gerakan ini belum tampak dengan lebih jelas. STT Telkom harus mampu memanfaatkan peluang yang amat besar ini.
Sedangkan dari perwakilan industri masalah-masalah yang muncul (kekurangan dari alumni) adalah:
1. Communication skill (contohnya dalam berbahasa Inggris, dan cara menyampaikan pendapat dengan tidak menjatuhkan orang lain)
2. Kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan yang baru
3. Pendekatan ke Industri Telekomunikasi untuk mendekatkan calon alumni dengan kondisi real world (dunia kerja), jangan hanya ke PT Telkom saja
4. Kurang mandiri (jika diberikan pekerjaan masih terlalu banyak bertanya, namun hasil masih kurang, ini dibandingkan dengan lulusan dari satu perguruan tinggi yang lebih lama hadir di Indonesia)
5. Kurang mampu bersegera untuk tune in
6. Beberapa alumni tak lulus seleksi karena masalah kesehatan (seperti kolesterol, asam urat, dan fungsi hati)
7. Kurang Percaya Diri untuk menjadi leader
8. Tidak siap menghadapi kondisi darurat (24 jam on call, kerja shift)
9. Budaya kuliah masih melekat dengan erat, sehingga mengganggu kondisi kerja
10. Kegiatan Kerja Praktek ternyata terlalu banyak yang berorientasi pada nilai saja (bukan kegiatan yang lebih bermanfaat, seperti mengenal dunia kerja, dll)
11. Sikap yang kurang matang: misalkan angkuh atau sombong
Kelebihan dan usulan:
1. Ada satu alumni STT Telkom yang menjadi Kakandatel di PT Telkom yang termasuk terbaik.
2. Untuk tahun 2006 ini, STT Telkom menduduki tempat pertama jumlah alumni yang diterima di PT Telkom, walaupun jumlahnya sama dengan UGM, namun STT Telkom fokus pada Teknik, sedangkan UGM tersebar pada berbagai bidang ilmu, teknik dan non teknik
3. Perusahaan-perusahaan yang hadir menyanggupi untuk menerima KP, Tugas Akhir, Coop, dll yang mampu mendekatkan mahasiswa (calon alumni) ke dunia kerja
4. Pinter-pinter dan mudah diajari
5. Kualitas lulusan harus tetap dipertahankan
6. Di Telkomsel dari 10 sarjana, satu dari STT Telkom. Saat ini alumni STT Telkom di PT Telkomsel ada sebanyak 237 orang dari 4000 orang karyawan, dan 34 diantaranya menduduki posisi struktural. Di Telkomsel ada alumni STT Telkom yang selalu dibawa direksi untuk melakukan presentasi (terpakai)
7. Sekitar 30 orang/ tahun alumni STT Telkom masuk ke Telkomsel
8. STT Telkom melakukan road show tentang kemampuannya ke industri telekomunikasi
9. Dosen terjun langsung ke industri untuk menemukan masalah, merumuskan masalah, membagi masalah menjadi sesuatu yang dapat dipecahkan, dan mahasiswa dengan bimbingan dosenlah yang membuat solusi dari masalah-masalah yang telah terbagi tersebut.
Jawaban dari Pak Husni (Ketua STT Telkom):
1. Dosen akan dikirim ke industri atau mendatangkan orang-orang yang berkompeten di industri untuk memberikan matakuliah
2. Akan dikembangkan language center
3. Penambahan fasilitas olah raga
Label:
Executive Gathering 2006
04 December 2006
Audensi Ikatan Alumni STT Telkom 2006
Alhamdulillah, setelah berkali-kali bertemu dengan alumni, baik yang ingin menyelenggarakan temu alumni maupun yang ingin memberikan andil dalam membentuk Ikatan Alumni, maka hari ini Senin 4 Desember 2006 pukul 9-13 STT Telkom kehadiran Pengurus Inti Ikatan Alumni STT Telkom, yaitu:
1. Tri Wiyasa (TI'91) sebagai Presiden Ikatan Alumni STT Telkom
2. Imam Suhadi (TE'91) sebagai Sekjen Ikatan Alumni STT Telkom
beserta rombongan total sebanyak 9 orang.
Mereka mengadakan musyawarah pada hari Sabtu 2 Desember 2006 di Jl. R Rapat Sabilululang, PT Telkom MCC, Jl. Cisanggarung.
Sehingga tersusun struktur organisasi sementara, sebagai berikut:
Presiden
Bendahara
Sekjen
Deputi Bidang Konsolidasi Internal
Deputi Bidang Pemberdayaan Alumni
Deputi Bidang Pengembangan Almamater
Deputi Bidang Pengembangan Masyarakat
Struktur ini masih memungkinkan untuk diperbaiki dan masih mungkin pula mendapatkan masukan siapa-siapa yang akan mengisi kotak-kotak yang ada. Perkiraan waktu struktur organisasi dapat tetap adalah 2 minggu sejak tanggal 2 Desember 2006.
Pak Husni, selaku Ketua STT Telkom memperkenalkan tentang rencana ke depan STT Telkom dalam menghadapi situasi yang selama ini ada. Diantaranya STT Telkom akan membangun fasilitas fisik berupa: Gedung Asrama, Training Centre, Rektorat, dan Perpustakaan.
Kerjasama dengan perusahaan internasional dari China yaitu ZTE, dan nantinya kerjasama internasional akan diperbanyak. Pada tanggal 18 Desember 2006 akan berkunjung ke Malaysia untuk menjajaki kerjasama dengan Telkom Malaysia, UMM, Universitas Negeri Malaysia dan jika memungkinkan akan melakukan kerjasama dengan Nanyang University Singapore.
Dalam membuat program kerja, Ikatan Alumni STT Telkom akan membuat workshop untuk bisa mendapatkan masukan dari seluruh warga STT Telkom, baik mahasiswa, alumni, dosen dan karyawan STT Telkom.
Banyak program yang dibicarakan dalam pertemuan ini, seperti riset, pelatihan, dll. Untuk itu Ketua STT Telkom mengharapkan agar dibuat MOU antara STT Telkom dengan Ikatan Alumni STT Telkom.
Sekretariat Ikatan Alumni akan disediakan di STT Telkom. Ikatan Alumni mengharapkan sekretariat ini dapat mudah diakses oleh Alumni sendiri maupun mahasiswa. Alternatif ruangan: ruang KIKK yang saat ini belum digunakan secara maksimal, atau menggunakan ruangan yang ada di Students Centre (untuk ini harus dibicarakan dengan pihak pengelola teknis, yaitu BEM STT Telkom).
Alumni menginginkan adanya upacara pelantikan Pengurus Ikatan Alumni, perkiraan waktu 2 minggu sejak 4 Desember 2006 ini.
Di struktur Ikatan Alumni, selain ada di pusat (Bandung) yang berdasarkan fungsional, terdapat kepengurusan di wilayah (daerah).
Bagi Ka. BKA semoga kepengurusan Ikatan Alumni STT Telkom yang sekarang dapat bekerja dengan baik, sehingga Ikatan Alumni dapat eksis di dunia Pendidikan Tinggi dan tempat yang lain di Indoensia ini. Setelah begitu lama, Ikatan ALumni hanya terdengar kabarnya tanpa aktifitas yang nyata. Selamat berkiprah IKatan Alumni STT Telkom!
Label:
Audensi IA STT Telkom 2006
Kegiatan Mahasiswa STT Telkom
Dari survei yang Diterbitkan oleh National Association of Colleges and Employers, USA, 2002 (disurvei dari 457 pimpinan). Dengan menggunakan skala 1-5, didapat data sebagai berikut:
1 Kemampuan Komunikasi 4.69
2 Kejujuran/Integritas 4.59
3 Kemampuan Bekerja Sama 4.54
4 Kemampuan Interpersonal 4.5
5 Beretika 4.46
6 Motivasi/Inisiatif 4.42
7 Kemampuan Beradaptasi 4.41
8 Daya Analitik 4.36
9 Kemampuan Komputer 4.21
10 Kemampuan Berorganisasi 4.05
11 Berorientasi pada Detail 4
12 Kepemimpinan 3.97
13 Kepercayaan Diri 3.95
14 Ramah 3.85
15 Sopan 3.82
16 Bijaksana 3.75
17 Indeks Prestasi (>=3.0) 3.68
18 Kreatif 3.59
19 Humoris 3.25
20 Kemampuan Berwirausaha 3.23
Dari 20 item tersebut, ternyata yang benar-benar menunjukkan kemampuan akademik hanya satu item saja itupun pada urutan ke-17, sebuah urutan yang jauh di bawah.
Karena itu kemampuan akademik saja tidak cukup (hal ini bukan berarti, mengecilkan arti IPK), tetapi kemampuan mahasiswa (alumni) haruslah ditambah dengan sekian kemampuan yang lain.
Kemampuan-kemampuan yang lain dapat diperoleh baik di tengah masyarakat, maupun saat mengikuti kegiatan akademik dan non akademik.
Di STT Telkom organisasi mahasiswa yang dapat menunjang kegiatan non akademik ada sekitar 36 organisasi mahasiswa. Sebuah jumlah yang cukup banyak. Sebagiannya berkegiatan hanya bersifat rutin semata, latihan dan latihan, contohnya: Hikmatul Iman (tenaga dalam), Kei Shin Kan (karate), Tae Kwon Do, USBM (Minang), dan beberapa yang lain. Namun ada juga yang kiprah di STT Telkom kurang menonjol tetapi di tempat lain cukup menonjol seperti Judo yang malah mahasiswa menjadi atlet dari dojo yang lain.
Beberapa yang lain amat aktif. Salah satunya BEM yang saat ini menyelenggarakan kegiatan Olimpiade Mahasiswa STT Telkom, banyak cabang yang dipertandingkan diantaranya: Tenis Lapangan, Bulutangkis, Bola Basket, Futsal (di tahun-tahun sebelumnya rawan terhadap perkelahian), Tarik Tambang, dll.
Pada hari Jum'at yang lalu (1 Desember 2006) saya diminta membuka Warung Komputer HMTI (Himpunan Mahasiswa Teknik Industri), mereka memberi nama warung tersebut: Mc S (wah aku lupa singkatannya, kalau nggak salah S-nya berarti Solution). Sebuah upaya baru dari organisasi mahasiswa untuk mendapatkan dana dan juga kemampuan berwirausaha. Semoga mereka sukses!
Sabtu malam (2 Desember 2006) di GSG dilakukan Grand Opening Genia Returns, dari sisi nama Genia sebenarnya sudah pula diselenggarakan pada tahun 2006 ini, namun dengan pertimbangan penyebaran waktu yang terlalu mepet dengan Himpunan yang lain, maka HMIF menggeser waktunya menjadi bulan Desember ini. Banyak kegiatan dalam Genia Returns, ada Telkom Cyber Cup, Who wants to be Rich ST2 Telkom, Telkom Programming Contest, dan yang kemungkinan terbesar adalah XL Jambore IT. Genia Returns termasuk sukses dalam menghimpunan pendanaan, banyak sponsor yang ikut serta dalam kegiatan ini.
Tanggal 29 Nopember 2006 mahasiswa yang berasal dari UKM Basket menyelenggarakan STT Telkom Againts AIDS sebuah upaya untuk membukakan mata mahasiswa dan masyarakat umum tentang HIV/ AIDS. Kegiatan yang dilakukan adalah Kampanye Simpatik di dalam kampus dn di luar kampus, Seminar tentang AIDS pada hari Rabu (6 Desember 2006) dan pertandingan persahabatan Basket antara tim STT Telkom dengan Aspac.
Begitu banyak kegiatan mahasiswa, begitu padat kegiatannya sehingga diharapkan mereka (para mahasiswa) dapat memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dari keseluruhan kegiatan ini. Mengasah softskill, menambah kemampuan/ wawasan, dll sehingga mereka meningkat dalam berbuat yang positif bagi diri mereka sendiri dan bagi masyarakat pada umumnya. Harapan pula mereka tidak hanya capek dalam mengurus yang bersifat keduniaan semata, namun lebih jauh lagi dengan kegiatan-kegiatan ini merangsang kemampuan dan upaya mereka untuk terus mencapai kesejatian hidup yang sejati, yaitu kehidupan di akhirat nanti. Amiin.
1 Kemampuan Komunikasi 4.69
2 Kejujuran/Integritas 4.59
3 Kemampuan Bekerja Sama 4.54
4 Kemampuan Interpersonal 4.5
5 Beretika 4.46
6 Motivasi/Inisiatif 4.42
7 Kemampuan Beradaptasi 4.41
8 Daya Analitik 4.36
9 Kemampuan Komputer 4.21
10 Kemampuan Berorganisasi 4.05
11 Berorientasi pada Detail 4
12 Kepemimpinan 3.97
13 Kepercayaan Diri 3.95
14 Ramah 3.85
15 Sopan 3.82
16 Bijaksana 3.75
17 Indeks Prestasi (>=3.0) 3.68
18 Kreatif 3.59
19 Humoris 3.25
20 Kemampuan Berwirausaha 3.23
Dari 20 item tersebut, ternyata yang benar-benar menunjukkan kemampuan akademik hanya satu item saja itupun pada urutan ke-17, sebuah urutan yang jauh di bawah.
Karena itu kemampuan akademik saja tidak cukup (hal ini bukan berarti, mengecilkan arti IPK), tetapi kemampuan mahasiswa (alumni) haruslah ditambah dengan sekian kemampuan yang lain.
Kemampuan-kemampuan yang lain dapat diperoleh baik di tengah masyarakat, maupun saat mengikuti kegiatan akademik dan non akademik.
Di STT Telkom organisasi mahasiswa yang dapat menunjang kegiatan non akademik ada sekitar 36 organisasi mahasiswa. Sebuah jumlah yang cukup banyak. Sebagiannya berkegiatan hanya bersifat rutin semata, latihan dan latihan, contohnya: Hikmatul Iman (tenaga dalam), Kei Shin Kan (karate), Tae Kwon Do, USBM (Minang), dan beberapa yang lain. Namun ada juga yang kiprah di STT Telkom kurang menonjol tetapi di tempat lain cukup menonjol seperti Judo yang malah mahasiswa menjadi atlet dari dojo yang lain.
Beberapa yang lain amat aktif. Salah satunya BEM yang saat ini menyelenggarakan kegiatan Olimpiade Mahasiswa STT Telkom, banyak cabang yang dipertandingkan diantaranya: Tenis Lapangan, Bulutangkis, Bola Basket, Futsal (di tahun-tahun sebelumnya rawan terhadap perkelahian), Tarik Tambang, dll.
Pada hari Jum'at yang lalu (1 Desember 2006) saya diminta membuka Warung Komputer HMTI (Himpunan Mahasiswa Teknik Industri), mereka memberi nama warung tersebut: Mc S (wah aku lupa singkatannya, kalau nggak salah S-nya berarti Solution). Sebuah upaya baru dari organisasi mahasiswa untuk mendapatkan dana dan juga kemampuan berwirausaha. Semoga mereka sukses!
Sabtu malam (2 Desember 2006) di GSG dilakukan Grand Opening Genia Returns, dari sisi nama Genia sebenarnya sudah pula diselenggarakan pada tahun 2006 ini, namun dengan pertimbangan penyebaran waktu yang terlalu mepet dengan Himpunan yang lain, maka HMIF menggeser waktunya menjadi bulan Desember ini. Banyak kegiatan dalam Genia Returns, ada Telkom Cyber Cup, Who wants to be Rich ST2 Telkom, Telkom Programming Contest, dan yang kemungkinan terbesar adalah XL Jambore IT. Genia Returns termasuk sukses dalam menghimpunan pendanaan, banyak sponsor yang ikut serta dalam kegiatan ini.
Tanggal 29 Nopember 2006 mahasiswa yang berasal dari UKM Basket menyelenggarakan STT Telkom Againts AIDS sebuah upaya untuk membukakan mata mahasiswa dan masyarakat umum tentang HIV/ AIDS. Kegiatan yang dilakukan adalah Kampanye Simpatik di dalam kampus dn di luar kampus, Seminar tentang AIDS pada hari Rabu (6 Desember 2006) dan pertandingan persahabatan Basket antara tim STT Telkom dengan Aspac.
Begitu banyak kegiatan mahasiswa, begitu padat kegiatannya sehingga diharapkan mereka (para mahasiswa) dapat memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dari keseluruhan kegiatan ini. Mengasah softskill, menambah kemampuan/ wawasan, dll sehingga mereka meningkat dalam berbuat yang positif bagi diri mereka sendiri dan bagi masyarakat pada umumnya. Harapan pula mereka tidak hanya capek dalam mengurus yang bersifat keduniaan semata, namun lebih jauh lagi dengan kegiatan-kegiatan ini merangsang kemampuan dan upaya mereka untuk terus mencapai kesejatian hidup yang sejati, yaitu kehidupan di akhirat nanti. Amiin.
Label:
Kegiatan Mahasiswa
01 December 2006
Sudah Desember 2006
Tak terasa waktu terus berlalu, sekarang sudah tanggal 1 Desember 2006.
Luar biasa...
Aku nggak merasa menghitung hari
Ketika hari ini sudah bulan Desember 2006
Apa yang telah aku lakukan?
Apakah aku semakin mendekati jannah?
Ya, Allah aku takut jika hari-hariku hanya sia-sia belaka
Luar biasa...
Aku nggak merasa menghitung hari
Ketika hari ini sudah bulan Desember 2006
Apa yang telah aku lakukan?
Apakah aku semakin mendekati jannah?
Ya, Allah aku takut jika hari-hariku hanya sia-sia belaka
Subscribe to:
Posts (Atom)

