25 July 2007

Pimnas Lampung

STT Telkom sebuah perguruan tinggi swasta yang menjadi terkenal sebagai penggagas tuan rumah Pimnas dari PTS. Sebelumnya tidak pernah PTS menjadi tuan rumah PIMNAS. Alhamdulillah, setelah STT Telkom menjadi tuan rumah PIMNAS, maka sejak itu tuan rumah PIMNAS ditentukan secara bergantian. Tahun ini diselenggarakan di Kampus Universitas Lampung (UNILA), sebuah PTN, maka tahun depan akan dilaksanakan di PTS.

Keberangkatan ke Lampung dalam rangka mendampingi kelompok mahasiswa yang lolos dalam kegiatan PKM, memang dimulai dengan kesedihan demi kesedihan, ketidaksetujuan demi kedongkolan.

Awal keputusan Dikti untuk menentukan kelompok yang lolos ke tingkat PIMNAS sudah mengalami ketidakenakkan bagi kontingen STT Telkom, bayangkan ketika ada monitoring dan evaluasi dari Juri Dikti, dinyatakan ada 6 kelompok yang layak untuk mengajukan Paten, ternyata dari 11 kelompok hanya 2 kelompok yang lolos ke PIMNAS di Lampung, ditambah satu untuk PKMI.

Ditambah lagi dengan masalah yang diungkapkan dalam tulisan sebelumnya yang berjudul: Ketaatan pada Aturan.

Perjalanan yang dinyatakan akan berangkat Selasa jam 04 subuh ternyata berangkast Selasa jam 5.45.

Perjalanan dari Bandung sampai dengan Merak lancar-lancar saja, bahkan macet yang biasa terjadi sebelum gerbang Pondok Gede Timur, tidak terjadi, ada sedikit macet hanya begitu masuk gerbang tol Kota.

Dari Merak naik ferry, saya pikir ferry cukup bergoncangan, ternyata tidak terjadi rasanya tidak ada gelombang. Lancar... dan nyaman...

Begitu mulai dari pelabuhan Bakauheni, saya pikir Lampung datar-datar saja yang dekat dengan pantai, ternyata begitu keluar dari pelabuhan langsung disambut oleh tanjakan yang terpaksa dijalani dengan pelan, akibat di depan ada truk yang mengangkut barang yan berat.

Jauh juga jarak antara pelabuhan Bakauheni dan Kampus Unila. Apalagi dengan diperlambat oleh truk-truk besar yang berjalan lambat.

Hotel yang cukup manis, bagiku. Tempat menginap yang dipilih oleh kawan-kawan dari Bagian Kemahasiswaan. Berada di tengah kota. Tanda tengah kota bisa dilihat dari beradanya hotel tersebut di dekat pasar kota. Kecil kapasitasnya, tetapi manis bentuknya.

Begitu sampai kamar, langsung mandi dan minta diinjak-injak oleh anakku, langsung tertidur pulas. Bangun gara-gara telpon berdering.

Makan malam ini menjadi masalah tersendiri bagiku, operasi gigi bungsu belum sembuh benar, dan saat itu aku makan dengan rendang yang cukup keras.

Malamnya aku begadang untuk menyelesaikan proposal Jambore IT yang sudah dijanjikan saat penandatanganan kontrak PKM antara STT Telkom dan Dikti. Keinginan untuk memberi warna tak kesampaian akibat printernya hanya laserjet yang hitam-putih. Sedangkan keinginan untuk membuat logo terpaksa dihentikan karena waktu yang sudah amat mepet. Proposal ini memang ingin dimiliki oleh Dikti cq Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, dan pertama kali diadakan di STT Telkom dan disambungkan dengan hari kelahiran STT Telkom. Ada sekian banyak kegiatan dalam proposal ini, ada lomba yang harus dibuatkan terlebih dahulu analisis dan desainnya, hingga lomba yang dapat dilakukan langsung secara mendadak di tempat, namun ada juga yang berbentuk pelatihan, seminar dan workshop.

Penyelesaian proposal berhasil disampaikan kepada Direktur Penelitian dan Pengabdian Masyarakat saat Sarasehan Pembantu Rektor/ Ketua/ Direktur Bidang Kemahasiswaan. Dan diterima baik dan terbuka, mengingat PIMNAS load-nya sudah begitu banyak. Sehingga pemecahan PIMNAS boleh jadi menjadi salah satu solusi.

Balik tak mampu saya menemani mahasiswa, sakit gigi yang cukup berat, menyebabkan kami harus balik duluan.

Mau naik pesawat harganya antara 280ribu sampai dengan 490 ribu saya sudah siap dana, ternyata tiket habis. Alternatif lain, naik bis Patas dengan biaya Rp180ribu, namun dari yang jaga tiket aku nggak begitu percaya. Sehingga kau pilih: naik bis dari terminal Rajabasa ke Bakauheni Rp20ribu, naik ferry Rp10ribu ditambah kelas 2 sebesar Rp4ribu, naik bis Arimbi ke Leuwi Panjang sebesar Rp45ribu, kemudian sampai di Leuwi Panjang sudah mencanangkan untuk naik biskota sampai Cicaheum sebesar Rp2,5ribu, naik angkot ke Cijambe Rp2,5ribu, dan Ojek sebesar Rp2ribu. Namun istriku menelpon: "Janganlah, Pak, capek, naik taksi saja". Akhirnya aku naik taksi dengan argo sebesar Rp35.200,- namun gengsiku menghendaki memberikan Rp40.000,- tanpa kembalian.

24 July 2007

Ketaatan pada Aturan

Memang, aturan yang bersifat teknis bukanlah hasil langsung dari Firman Allah. Misalkan biaya Perjalanan Dinas sebesar Rp 150.000,- per hari jelas bukan hasil langsung dari Firman Allah, melainkan turunan yang ke berapa dari Firman Allah, dengan catatan jika aturan ini memang didasarkan dari aturan Allah.

Di Indonesia yang aku kenang dari seorang rekan yang saat itu sedang bermain di Perguruan Tinggi tempat aku menimba ilmu, muncul anekdot: "Aturan dibuat untuk dilanggar". Menyedihkan bagiku jika aturan dibuat dengan sengaja untuk dilanggar. Mestinya aturan dibuat untuk ditaati sehingga teraturlah kondisi suatu tempat yang telah menetapkan aturan tersebut.

Biasanya yang bisa melakukan dan menjalankan aturan yang utama adalah para pimpinan, bukan hanya sekedar untuk bawahan. Ketika aturan sudah ditetapkan bukanlah untuk kembali diubah, kecuali memang untuk forum yang memang menghendakinya. Artinya memang agenda yang dibawa adalah untuk mengubah aturan.

Dalam hal pelaksanaan tentunya aturan digunakan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, tidak boleh sebuah aturan diubah saat pelaksanaan, walaupun karena 'rasanya' tidak logis. Dalam hal pelaksana tidak mungkin kita mempertanyakan kok aturannya begini sih... bisakah diubah? Nggak bisa hal ini dilakukan. Jika mau dilakukan pengubahan aturan ya... saat membuat perubahan aturan...

Saat minggu yang lalu (17Juli sampai dengan 22 Juli 2007) ada dua aturan yang diubah ditengah jalan. Yang pertama aturan yang telah ditetapkan oleh Yayasan Pendidikan Telkom, yang dianalisis oleh seorang Pimpinan dianggap aturan tersebut tidak logis, sehingga harus dilanggar. Marah aku melihat hal ini, nyaris aku pundung tidak mau berangkat ke Lampung. Namun mengingat aku berangkat bukan hanya membawa nama diri pribadi, namun juga aku membawa nama STT Telkom, dan setelah ditelpon oleh Boss yang mengancam akan dipecat, akhirnya aku merelakan diri berangkat, walaupun dongkol hati belum terasa sirna.

Memang, aku memikirkan efek, jika aku tidak hadir sudah pasti proposal Jambore IT tidak akan sampai ke tangan Direktur Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, yang berakibat nama STT Telkom dipandang berbohong, karena tak juga mengumpulkan proposal yang sudah dijanjikan sebelumnya, ketika Penandatanganan Kontrak PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa). Nyaris aku melakukan hal itu: Aku tidak mati, kalau STT Telkom mati.

Ada juga peran istri yang membuat aku luluh juga untuk berangkat. Padahal fisikku belumlah sehat, operasi gigi bungsu yang telah dilaksanakan pada hari Sabtunya (sebelum berangkat) ternyata tak juga baik kondisinya. Jadilah di Lampung tidak bisa konsentrasi terhadap kegiatan PIMNAS.

Kejadian yang kedua adalah Perkataan yang dikeluarkan oleh anggota Dewan Juri yang terhormat. Mestinya juri sadar bahwa Panduan PKM yang sudah digariskan dan sudah ditetapkan menjadi acuan yang utama, meskipun tidak terasa logis. Kelompok Susu Sari Biji Munggur, terkena masalah. Juri dengan gagah berani mengatakan tak selayaknya mahasiswa yang mengambil jurusan Teknik Telekomunikasi membuat PKMK (Kewirausahaan) mengurusi Susu, sehingga keluar kata-kata yang menurut saya tak ilmiah dan tak layak dikeluarkan oleh seorang juri terhormat di kancah Ilmiah PIMNAS. Mestinya juri membaca panduan dengan baik. Di Panduan PKM memang mahasiswa yang mengambil PKM Kewirausahaan tidak harus dari latar belakang ilmu yang dipelajarinya. Tetapi juri ngotot bahwa PKMK pun harus berdasarkan latar belakang yang dipelajarinya.

Logisnya begini Pak Juri (yang dari Gajah Duduk) manakah mungkin membuat PKMK BTS Terapung dengan dana hanya Rp6juta?

Semoga Indonesia semakin baik, dalam makna aturan yang telah ditetapkan jangan diubah lagi, cukup dilaksanakan saja, walaupun logika kita merasa tidak sesuai! Jika mau diubah, ubahlah di forum perubahan aturan! Jangan dipelaksanaan kegiatan!

11 July 2007

Serbuan Negeri Jiran

Sungguh membuat aku kelimpungan yang menangani Kerjasama dan Layanan Industri. Dalam beberapa hari ini, ternyata beberapa perusahaan maupun lembag gencar mendatangi STT Telkom untuk melakukan kerjasama. Ada lembaga pendidikan, ada perusahaan manufaktur, ada pula lembaga sertifikasi, ada pula lembaga kursus yang ingin menjalin hubungan dengan STT Telkom.

Memang sih STT Telkom mempunyai posisi tawar yang agak baik saat ini, yaitu lembaga pendidikan tinggi yang spesifikasi bermain dalam fokus yang baik, yaitu: IT atau ICT. Tak kurang, sudah tiga lembaga dari Malaysia yang ingin menjalin kerjasama tersebut. Satu lembaga yang bermain di pelatihan, satu lagi perusahaan manufaktur yang bermain di optik serta satu lagi yang bermain dengan Pendidikan Tinggi.

Lembaga pelatihan akan mencoba melakukan kerjasama dalam bidang penyediaan dan penyaluran tenaga kerja di Malaysia dalam bidang kerja IT. Sedangkan perusahaan manufaktur mempersiapkan laboratorium dan peralatan yang lain dengan bidang kerja optik. Sedangkan dengan lembaga pendidikan tinggi dalam bidang kerjasama pertukaran mahasiswa, dosen dan staf.

Semoga kerjasama ini dapat mempermudah kita dalam mengelola kemampuan IT di Indonesia, dan juga memajukan segala hal yang berbau IT di Indonesia.

Memang ada wanti-wanti dari temen yang pernah bergaul dengan temen-temen dari negeri jira, yaitu: hati-hati. Menurut saya sih... hati-hati bukan berarti tidak melakukannya, namun membaca dengan detil dan mengelaborasi setiap ayat perjanjian yang ada. Ayoh... majulah STT Telkom

09 July 2007

Sertifikasi Kompetensi

Ijazah sebagai tanda lulusnya seseorang dari bangku pendidikan, saat ini dipandang sudah tidak layak lagi, maka bermunculanlah fenomena sertifikasi. Program sertifikasi
juga dalam bentuk mengeluarkan ijazah yang sesuai dengan ujian yang dilaksanakan oleh lembaga sertifikasi.

Rasanya begitu banyaknya lembaga pendidikan yang tak begitu baik perilakunya menyebabkan kegagalan produk-produk pendidikan. Kegagalan atau ketakmampuan yang terselubung inilah yang memicu bermunculannya lembaga sertifikasi. Dan yang membuat lebih membingungkan lagi, siapa yang akan melegalkan lembaga sertifikasi? Ada yang menyebut ISO, dst. Kalau mensertifikasi ISO siapa? Masyarakat? Kalau masyarakat yang mensertifikasi siapa? Waduh, nggak selesai-selesai ternyata.

Inilah bukti masyarakat yang dikembangkan dengan asumsi 'pada dasarnya manusia tidak bisa dipercaya' atau kata yang lebih kasar 'pada dasarnya manusia itu tukang tipu'. Mbulet susah ditebak, kemana arah langkah yang akan ditempuh.

Memang dibutuhkan yang namanya lembaga yang dapat dipercaya, tetapi manakah ada lembaga yang saat ini dapat dipercaya? Padahal lembaga-lembaga sertifikasi juga
merupakan lembaga yang baru dibentuk, bagaimana lembaga yang seumur jagung dapat lebih dipercaya dibanding lembaga pendidikan yang sudah lama muncul?

Mereka ingin lulusan Perguruan Tinggi mempunyai bidang kompetensi yang bersifat teknis semata, paahal hidup bukan hanya sekedar urusan teknis. Bagaimana menemukan ide baru dari yang sebelumnya tidak ada. Apakah mungkin hal yang demikian diujikan? Ah, rasanya nggak mungkin hal ini dilakukan. Hal ini juga termasuk skenario negara adidaya sehingga yang miskin, yang bisa dikendalikan mereka suruh kita mengurusi yang detil yang teknis semata, sedangkan yang merupakan fondamen yang susah dipelajari, tetap bisa milik mereka semata saja.

26 June 2007

Foto-foto Anakku

Sejak membeli kamera yang baru. Yang harganya 2juta 9ratus 9puluh ribu rupiah. Anak-anakku begitu penuh keyakinan mencoba kamera tersebut. Berikut beberapa eksperimen mereka dalam menggunakannya.



Memotret di tempat yang sempit tentunya mempunyai kendala yang cukup besar. Anakku mampu memanfaatkan ruang sempit tersebut untuk memotret adik-adiknya yang bergaya manis, penuh senyum.



Lihat! Penataan pengambilan sudut gambar yang menarik, sesuai teori klasik yang umum. Obyek dijepret tepat ditengah keseluruhan gambar. Sayangnya mimik obyek foto kurang terlihat.



Bergaya seperti penyanyi yang amat lanyah dalam melantunkan lagu, padahal hanya bermodalkan gagang pompa sepeda. Bagus.



Inilah salah satu cara untuk melihat diri sendiri. Tanpa menggunakan blitz, menghadap ke cermin, dan jepret. Jadilah foto diri. Karena melihat gambar ini, bapaknya ikutan memotret diri dengan cara yang serupa. Inilah kreatifitas anak usia kelas 5 SD. Bagus!

19 June 2007

Mahasiswiku Menjadi Selebrities

Hari Jum'at yg lalu (15 Juni 2007) pertama kali aku dapat kabar, bahwa ada wartawan infotainment yang mencari data seorang mahasiswi STT Telkom, karena akan menikah dengan seorang selebrities muda yang sedang naik daun.

"Pak, kenal dengan Della, nggak?"
"Lho, itu kan pernah aku jadi walinya"
"Dia pacarnya Irfan Hakiem!"
"Ah, masa?"

Irfan Hakim, selebrities muda yang berwajah imut, awet muda, dan terasa ada darah timur tengah, saat ini beberapa acara di TV dia muncul, sebagai MC maupun pemain lawak, serta MC tayangan gosip artis.

Sedangkan Della, seorang mahasiswi yang cukup mampu dalam bidang akademis, dia mahasiswi D3 Informatika ketika saya menjadi wali kelasnya. Pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkannya memang cukup sering membuat aku kelabakan. Setelah lulus D3 dia membuat usaha software house, kabar usahanya saya kurang tahu, dari informasi yang saya dapatkan dari temennya cukup banyak proyek yang dikerjakannya.

Aktifitas yang lain dia bergabung dalam web forum students, sebuah web forum yang diawaki oleh mahasiswa STT Telkom, yang saat ini nyaris menembus predikat web forum mahasiswa tersibuk di Indonesia. Dia mengelola thread Sarjana Cinta dengan nick name dee_cium. Pernah aku sms karena aku kaget dia mengelola thread ini, sepertinya dia amat menguasai masalah percintaan.

Keinginan untuk kembali ke bangku kuliah, terwujud pada tahun-tahun ini, yaitu menjadi mahasiswi Pindahan D3 ke S1 di program studi Teknik Informatika STT Telkom. Kata istri temennya sih kemampuan akademiknya bagus.

Ketidakpercayaanku agak terjawab, ketika melihat Was-was pada minggu pagi. Iseng aku sms dia tentang kebenaran berita gosip tersebut. Dia membenarkan dan mengundang kami
(aku, istriku, dan 6 anakku) untuk hadir dalam resepsi pernikahannya di Balai Sudirman. Walah ...

Dunia selebrities memang dunia yang pernah gemerlap, baik gemerlap dalam bentuk kegiatannya, maupun gemerlap dalam berita yang terus menyertai langkah seorang seleb,
sampai-sampai tidur pun akan diganggu oleh kamera. Dunia yang penuh kesibukan, dunia yang rasanya tidak pernah tidur. Sanggupkah dee_cium memenej-nya? Mengikuti alur kepadatan acara yang demikian? Sanggupkah menghela nafas untuk mampu mengontrol diri, sehingga tak ada kata-kata yang terlepas liar? Mampukah dee_cium menyembunyikan sebagian kegiatan pribadinya dan sebagian kehidupannya untuk dirinya dan keluarganya saja? Ooo, bukankah Irfan Hakim pernah mempunyai pacar sebelumnya yang juga seleb,
yang dikatakan oleh Irfan bahwa pacarnya itu lebih dewasa? Berita-berita yang demikian mampukah diredam oleh dee_cium, untuk melangkah dengan tegar?

Memang kesangsian itu, ada berkecamuk dalam diriku. Oh, mahasiswiku semoga engkau mampu menemukan jatidirimu.

Menikah adalah mempersatukan dua jiwa, bahkan dua keluarga. Perbedaan pastilah ada, latar belakang yang berbeda, cara pandang yang berbeda, cara berfikir yang berbeda (satu seleb yang bersifat ilmu sosial, satu lagi ilmuwan yang nyaris sering mengatakan kepastian). Namun jika telah mampu menemukan tujuan hidup yang benar, yang kemudian disepakati berdua, tentunya akan mampu mempertahankan biduk yang sedang dilayari untuk mencapai tujuan tersebut. Tujuan ini tidaklah cukup hanya sekedar yang penting disepakati berdua, namun haruslah telah ditetapkan oleh Yang Maha Mengatur, Yang Maha Mendidik, Yang Maha Menetapkan. Rasanya tujuan itu hanya satu, tak ada yang lain.

Mampukah biduk yang dilayari menemukan tujuan yang hanya demikian ini. Kesungguhan, kesabaran, tak mudah menyerah, dan selalu meyakini bahwa hanya Yang Maha-lah yang mampu memberikannya, pasti akan mampu kita menemukannya dan terus melayarinya.

Jika tujuan yang hanya satu-satunya itu telah ditemukan, maka halangan, rintangan, dan hambatan tentulah dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan semanis-manisnya.
Sebagai sebuah pegangan, pengembalian segala masalah yang akan dilayari.

Tidak cukup memang hanya dengan tujuan saja, mestinya dilengkapi dengan dasar dan proses yang benar pula. Istilah-istilah ini bukanlah dalam makna kegiatan teknis
semata, tetapi istilah yang bermakna strategis.

Semoga Irfan dan Della mampu meraihnya, dan hanya mungkin hal itu teraih melalui cara yang telah disebut oleh Sunan Kalijogo dengan Tombo Ati-nya. Tombo Ati... iku limo ing wernane, kaping pisan moco Qur'an lan angan-angan ing maknane, kaping pindone sholat wengi lakon ono, kaping telune wong sholeh kumpul ono, kaping papate kudu weteng ingkang luwe, kaping limo dzikir wengi ingkang suwe.

18 June 2007

Nyaris Tembus 2000

Yah... aku tak begitu memperhatikan tentang diperlukannya blog ini. Aku hanya ingin menuliskan apa yang ingin aku tulis. Itu saja sebenarnya aku membuka blog ini.

Awal-awalnya aku masih amat sibuk menata lay out dll dari blog ini, setelah rasanya telah begitu banyak menu bertengger aku sudah mulai meninggalkan cara menata blog. Sekarang aku lebih suka menulis, walaupun belumlah terhitung amat rajin, paling dalam sebulan 2-3 tulisan yang ada. Padahal di kepala-ku begitu banyak ide untuk menulis.

Lama-lama aku perhatikan blog-ku semakin banyak pula counter pengunjung blog ini. Saat aku tulis tulisan ini, telah nyaris menembus angka 2000, tepatnya 1992, tinggal 8 lagi.

Apa makna 2000? Yah, bagiku yang pernah merasakan kecemasan akan pergantian tahun 19ratusan ke tahun 20ratusan tentunya angka ini ada nilai lebihnya.

Saat itu temen-temen banyak yang mengatakan terjadi perubahan yang amat mendasar ketika negeri ini berubah ke tahun 2000. Dan ternyata menjelang angka tahun tersebut, benar terjadi sebuah perubahan yang cukup besar. Tahun 1997 negeri ini digoncang dengan amat dahsyatnya oleh sebuah perkara yang dipandang sepele yaitu nilai tukar Rupiah terhadap dollar, demikian terpuruknya, yaitu nyaris menembus angka 15000Rp per dollar, padahal ketika saya menginjakkan kaki di Bandung paling 1500Rp per dollar. Saat itu aku nggak paham mengapa begitu tergoncang, Suharto yang telah puluhan tahun memimpin negeri ini, tiba-tiba tergoyahkan untuk terus menerus menjadi presiden seumur hidup, dengan cara setiap lima tahun dipilih kembali. Saat itulah Mei 1998 Beliau menyatakan Berhenti sebagai presiden.

Sungguh luar biasa setelah itu, sebagai lanjutan dari kisah sebelumnya, inilah barangkali yang diberi makna bahwa sejarah itu akan berulang, setelah beliau diganti, ternyata pengganti tak mampu bertahan lebih lama, segera diganti kembali lantaran pidato pertanggung-jawabannya tidak bisa diterima oleh MPR. Lantas apakah pengganti Habibie langgeng berkuasa? Tidak juga! Ternyata Gus Dur, yang terpilih akibat kondisi suhu politik yang meninggi, mayoritas menyatakan: "Tidak mau dipimpin oleh wanita", dan ketika mau diambil sumpahnya beliau (Gus Dur) nyaris melangkah naik ke atas meja, tak juga mampu memperbaiki kondisi yang ada, jalan-jalan dia ke manca negara yang berhari-hari ternyata hanya berisi banyolan dan dagelan saja, lihatlah bagaimana beliau diwawancara oleh Jaya Suprana, begitu bangganya beliau membuat Bill Clinton berlama-lama mendengarkan banyolannya, namun apa manfaat bagi negeri ini? Karena itu beliau digantikan oleh Megawati, seorang presiden yang walaupun perempuan ternyata tak mampu menyuarakan suara dengan lantang, seperti biasanya para wanita.

Saat ini, negeri ini dipimpin oleh seorang mantan jenderal. Ternyata aman, pelahan, dan lembut, gejolak pun tak terlihat dengan nyata. Walaupun beberapa hari yang lalu banyak pula analisis yang menyatakan bahwa negeri ini bisa mengalami kasus 1997 karena begitu banyaknya dana dari luar yang mengalir ke dalam negeri. Namun, sampai saat ini tak terbukti hal itu terjadi.

Apakah menjelang angka pengunjung 2000, blog ini pun akan mengalami perubahan yang amat drastis? Tak tahulah aku, rasanya aku sudah mulai malas untuk mengubah tampilan dari blog ini. Aku hanya ingin konsentrasi untuk menulis apa yang ada dipikiranku, dan apa yang aku lihat.

Mari, tembuslah angka 2000 dan tanpa sesuatu yang fundamental terjadi...

06 June 2007

Mohon Maaf

Kepada rekan-rekan yang menulis di SHOUT BOX mohon maaf saya belum berhasil membalas menggunakan media yang sama. Beberapa kali aku menulis di SHOUT BOX he.... ternyata tidak ter-Up Load.

Namun bagi yang sedang jalan-jalan mencari ide, silakan saja semoga tulisan-tulisan yang penuh semangat mampu menggerakkan diri untuk tetap mencari tujuan yang sebenarnya dalam hidup ini.

Bagi yang sedang iseng-iseng jalan-jalan membuka blog ini monggo juga, mungkin ada yang baik yang bisa didapat didalam blog ini. Yang penting dan kuinginkan selama ini, semoga blog ini berguna bagi kita sekalian. Berguna di dunia dan juga berguna di akhirat kelak.

Silakan juga bagi yang ingin bagi-bagi pengalaman dengan menggunakan blog ini, juga saya persilakan. Monggo jangan takut-takut.

Bagi yang kebingungan menentukan TA (yang teu anggeus-anggeus) silakan juga mencari ide, mencari semangat yang mungkin nyaris agak hilang. Ayo....

27 May 2007

Pemimpin Jujur

'Sudah saatnya kejujuran memimpin negeri ini' dinyanyikan Frankie Sahilatua saat kampanye Pilpres 2004. Namun kenyataannya belum jadi kenyataan. Hal ini bisa dilihat dalam tulisan ini.

Dana Departemen Kelautan dan Perikanan (yang kemudian disingkat DKP) bergulir begitu cepat dan memperlihatkan kejujuran belum jadi kenyataan. Pernyataan yg satu dibantah oleh pernyataan yg lain, namun segera ada pihak yg menyatakan bantahan tadi tidak benar.

SBY menyatakan bahwa apa yang diungkap oleh Amien Rais sebagai fitnah besar. Namun ternyata ada orang yang mengaku tim suksesnya menyatakan menerima dana DKP. Walaupun orang ini kemudian dibantah bahwa dia bukan tim sukses.

Sudah banyak yg mengakui menerima dana DKP, sejak Amin Rais membuka masalah ini. Bergulir Shalahuddin Wahid mengakui menerima, bahkan orang Golkar yang biasanya begitu ulet untuk tidak mengakui masalah-masalah yang demikian ikutan
buka suara, Slamet Effendi Yusuf.

Guliran ini semoga membuka kejujuran yg sesungguhnya sehingga semakin nampak negeri ini, borok yang harus diterima, dan harus diperbaiki.

Pengorbanan beberapa jiwa mahasiswa dan orang-orang yg mencoba berbuat negeri ini pada kisaran tahun 1997 ternyata belumlah menemukan pemimpin yang jujur.

Dalam mitos Jawa, kepemimpinan yang sesungguhnya akan muncul diantara kekacauan yang berdarah-darah. Secara nyata mampu lihat, bagaimana negeri ini terus berdarah dan
berurai air mata.

Sejak Aceh tenggelam oleh tsunami, berganti, bergilir daerah menerima bencana demi bencana. Bermacam bencana menghinggapi daerah-daerah di negeri ini: gempa, banjir
bandang, namun di sisi lain terjadi kekeringan, tanah longsor, pesawat jatuh, kecelakaan kereta api, kebakaran satu kampung/ wilayah, TKI yang disiksa, TKI yang diusir dari negeri tetangga, lumpur yang muncrat tanpa henti, demam berdarah, bahkan cikungunya yang bukan penyakit dalam negeri, flu burung, petani yang menangis karena harga jual panennya amat rendah, persoalan tanah yang tak jelas juntrungannya (double sertifikat), pertambangan yang merusak lingkungan, gedung sekolah yang ambruk, kesenjangan ekonomi yang amat tinggi (di satu sisi orang tidur di lantai tanah di sisi lain bermewah tinggal di gedung berAC), gelombang pasang, abrasi (pengikisan pantai oleh air laut), rob (air laut masuk menggantikan air tawar), keracunan makanan secara massal, begitupun kerasukan massal, pengangguran dan kemiskinan yang meningkat.

Perbuatan-perbuatan negatif yang lain: korupsi semakin merajalela, narkoba menyebar merata bahkan sampai di tempat yang mestinya menjadi tempat taubat yaitu penjara
sekalipun, janji bantuan 30juta yang sebagian tak dipenuhi, posko-posko bantuan yang muncul hanya saat menjelang pemilihan, perampokan yang amat ganas dengan bersenjata
api, tahanan yang terpaksa harus melihat jenasah istrinya di rumah tahanan karena hakim sudah kehilangan rasa kemanusiaannya, bentrok antar warga dusun, bentrok antar
preman karena rebutan lahan kekuasaan, polisi/ petugas keamanan yang tak mampu mengendalikan massa yang beringas, ikutan menjatuhkan sanksi pada negara yang ingin
mendapatkan sumber energi listrik yang murah padahal negeri ini pun butuh sumber energi yang dimaksud, aparat keamanan yang belum mampu memberikan keamanan sehingga pedagang kecil harus memberikan dana keamanan pada pihak swasta. Dan terus hal ini terjadi.

Apakah bencana yang demikian banyak dan terus terjadi belum cukup berhasil menyadarkan bangsa ini? Belum cukupkah? Untuk memberikan kesadaran bahwa mestinya negeri ini dipimpin oleh pemimpin yang jujur.

Tinggal kesiapan bangsa ini untuk menerima kejujuran atau kenestapaan yang terlihat secara langsung maupun tak langsung. Siapkah bangsa ini menerima pemimpin yang jujur?
Yang sudah pasti akan membawa perubahan yang sangat drastis terhadap bangsa ini. Pemimpin yang jujur tak mungkin muncul, jika bangsanya/ warganya tidak mau menerima
kehadirannya.

Pengalaman akan kemunculan pemimpin yang jujur bisa dibaca laksana Daud yang ditolak para pemimpin yang lain, karena muncul dari warga yang tak terduga-duga, miskin bahkan cenderung tak pernah dikenalnya, namun apakah ini menghalangi kita dipimpin manusia yang demikian ini?

Ayo! Apakah kita tetap tidak ingin dipimpin oleh orang yang jujur, meskipun kita tak pernah mengenalnya dengan baik? Ayolah mari kita bermohon kepadaNYA, baik pagi, siang, sore, malam dan subuh. Ya, Allah berilah kami pemimpin yang jujur...

21 May 2007

TOFA 2007

Saya tidak hafal dengan singkatan dari TOFA 2007, namun saya tahu bahwa ini adalah rangkaian kegiatan yang diadakan oleh UKM DJAWA. Kegiatan tersebut diantaranya Lomba Foto, Pelatihan Membatik, Lomba Mewarnai, Upacara Pembukaan, dan pagelaran Gatotkoco.

Pada hari Minggu kemarin (20/05/2007) dilakukan kegiatan Upacara Pembukaan. Dan berkenan ketua STT Telkom, Bapak Husni Amani, membuka secara resminya kegiatan TOFA 2007 ini. Hadir saat pembukaan Direktur Kemahasiswaan dan Pengembangan Kompetensi serta Kepala Bagian Kemahasiswaan.

Anakku ikut lomba mewarnai dan dapat juara Harapan 1.

Ini beberapa foto saat acara pembukaan, hasil jepretan dengan menggunakan kamera digital SONY.







Dengan kegiatan yang berbau seni saya mengharapkan mahasiswa STT Telkom dapat mengolah seluruh kemampuan (potensi) yang diberikan oleh Yang Maha memberi, sehingga dapat bermakna dan berguna bagi kegiatan dan aktifitas pada suatu masa nanti. Manusia telah diberi panca indera: indera pendengaran, indera penglihatan, indera pengecap, indera peraba, dan indera pembau. Jelas dengan bentuk yang indah dan gerak yang menawan mengajari indra penglihatan untuk memainkan peran, dst. Tentunya jangan sampai panca indera ini menjadi dasar berlakunya satu hukum. Karenanya juga suatu cara menemukan kebenaran yang sejati.

14 May 2007

Menemukan Cita-cita Diri

Saya berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja, tidak kaya, tidak miskin. Bapakku pegawai negeri sipil bekerja di bagian administrasi tata usaha SMA Negeri di Pati, pangkat terakhir beliau menjelang pensiun adalah golongan 2A. Ibuku bekerja membuka warung untuk kebutuhan sehari-hari, di warung ada minyak tanah, gula pasir, pasta gigi, dll.

Bapakku terkenal sebagai santri di lingkungan rumah, karena beliau rajin melaksanakan sholat lima waktu, saat itu orang yang melaksanakan sholat waktu di lingkungan rumah tinggal kami amat sedikit, bahkan sampai saat ini. Beliau bisa membaca Al-Qur’an.

Ketika kecil, saya belajar mengaji di langgar (musholla) pada saat bulan puasa, biasanya akan mengaji dengan menggunakan metode menghafal huruf Arab, alif ba ta sa jim ... Rasanya saya tidak berhasil tammat belajar membaca Al-Qur’an. Sehingga saya sholat, bukan karena saya bisa membaca Al-Qur’an tetapi akibat menghafal yang memang diajarkan pada saat mengaji. Karena hafal, bukan karena bisa membaca.

Ketika merasa ada tuntutan untuk bisa membaca, saya membaca buku petunjuk sholat yang selain ada tulisan Arabnya terdapat pula tulisan dalam huruf latin, tetapi berbahasa Arab, semacam tulisan ini: bismillahir rahman nir rahiim.

Saya menetapkan untuk melaksanakan sholat lima waktu, ketika berada di kelas 6 SD. Entahlah, tiba-tiba bangkit untuk melaksanakannya. Dan tekad telah dikumandangkan.

Ketika di SMA, saya mulai membaca Al-Qur’an yang ada tulisan latin-nya. Seingat saya mushaf ini diterbitkan di Bandung. Jadi, selain ada tulisan Arab, ada tulisan latin dalam bahasa Arab. Tentunya lafaz yang saya ucapkan tidak benar 100%, sampai saat ini ada beberapa lafaz yang apabila dinilai oleh yang ahli, akan dikatakan kurang tepat.

Kegiatan membaca ini saya lakukan hampir setiap hari, dengan suara yang lantang, tanpa peduli mengganggu atau tidak pada lingkungan sekitar, biasanya waktunya setelah sholat Maghrib hingga Isya’, tidak peduli lafaz benar atau salah, yang penting membaca. Aku baca pula terjemahnya.

Perjalanan hidup, memang siapa yang tahu. Perilaku membaca ini ternyata berbuah semangat untuk mengetahui arti bacaan sholat. Dan aku baca: ihdinashshirotol mustaqiim, dst: Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat, bukan jalan-jalan mereka yang Engkau murkai dan bukan pula jalan-jalan orang-orang yang sesat. Terbentur, terperangah, menghujam ke dalam diri. Aku lihat, aku saksikan, aku dengar, kondisi lingkungan memang seperti jalan yang kedua dan ketiga. Kebanyakan dalam lingkungan kami, kawin dulu baru menikah, mengadu nasib dengan berjudi adalah kegiatan yang biasa saja, mabuk, dll. Aku bangkit, tidaaaak! Aku harus meraih jalan yang pertama.

Menjelang kelas tiga SMA, akhir dari kelas dua SMA, ketika lebaran telah tiba, seperti biasa orang-orang sungkem pada orang tua, dan seperti biasanya pula mereka akan meminta maaf pada orang tua. Aku telah bertekad! Saat sungkem itu, aku bukan meminta maaf, namun dengan berlinang air mata (padahal kakak-kakakku tidak ada yang menangis saat sungkem): “Wahai ayahanda, aku memohon dengan sangat, do’akanlah aku agar menemukan jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, bukan jalan orang-orang dimurkai, bukan pula jalan orang-orang yang sesat”. Mengucur deras air mataku, ketika aku meminta permohonan ini. Bapakku menekan kepalaku dalam dekapannya, aku dengar kakak-kakakku tertawa, tetapi aku tidak peduli.

Ya, Allah, tekad itu telah aku canangkan sejak akhir kelas dua SMA. Ya, Allah, selamatkanlah aku di dunia dan di akhirat kelak, selalu dalam jalan yang lurus, dalam nikmat-MU. Ampunilah kami Ya Allah...

11 May 2007

Kebangkitan Seorang Anak Desa

Minggu yang lalu, tanggal 2-3 Mei 2007, kami menyempatkan diri menengok kampung halaman. Kesempatan ini didapat berbarengan dengan meninggalnya orang tua dosen Teknik Elektro, yang rumahnya di Kudus. Kami berta'ziyah sekitar jam 16 di Kudus pada hari Rabu, 2 Mei 2007. Sebuah rumah dengan halaman yang luas, namun berkesan cukup tua. Di rumah ini ada 11 putra-putri, sungguh ramai.

Saya bersama Pak Wiyono pulang kampung dengan mengendarai Si Nia merahku. Berangkat Rabu jam 03.30 dari rumah Pak Wiyono di kompleks Cijambe Indah.

Cerita-cerita menarik mengenai pribadi beliau, terungkap dengan lancarnya. Bagaimana beliau berjuang dari underdog menjadi seseorang yang membuat banyak pihak terbelalak. Bayangkan, sampai di kelas 2 SMA, dia masih seenaknya sendiri sekolah, hampir setiap hari Sabtu dipakainya untuk melalang buana, naik turun gunung, atau ngelayap entah kemana, yang beliau tidak masuk sekolah.

Tentulah dengan kondisi yang demikian ini, nilai-nilai mata pelajaran amat hancur. Langgananlah bahasa Indonesia di bawah 6, dst.

Namun perubahan memang tak dinyana, di bawah asuhan guru yang suka merokok dan terkenal menakutkan, beliau mampu bangkit. Pelajaran Kimia dari kelas satu sampai dengan kelas tiga dibabat habis diakhir waktu sekolah SMA. Begitupun biologi dibabat dengan cara: merekam suaranya di kaset, dan menjelang tidur, didengarkannya sambil tiduran. Palajaran bahasa Inggris pun tak luput ditingkatkannya dengan momentum yang amat sangat mengharukan, saat ini nilai TOEFL beliau di atas 525, padahal pelajaran sampai menjelang kebangkitannya hanyalah di bawah 6 nilai raportnya. Sungguh mencengangkan.

Guru tersebut memang luar biasa pengabdiannya, beliau perokok berat, dalam satu pertemuan belajar, tak kurang 3-4 linting rokok beliau hisap habis. Tetapi daya membangkitkan siswa-siswa yang kurang beruntung semacam Pak Wiyono, memang menakjubkan. Beliau bersedia memberikan private di rumahnya setelah acara sekolah selesai, gratis pula. Saya nggak kebayang Pak Wiyono saat itu sanggup membayar private-nya.

Kebangkitan tersebut mengantarkan beliau untuk lulus ujian masuk perguruan tinggi Gajah Duduk Bersila (GDB). Banyak orang tercengang mengetahui beliau bisa lolos masuk GDB. Tidak percaya! Bahkan guru-gurunya saat itu pada kondisi saat ini. Bagaimana seorang siswa yang ogah-ogahan sekolah tiba-tiba melejit, menyentak.

Dan beliau saat ini kerja di STT Telkom mendapat predikat terbaik saat acara assessment para calon pejabat kampus STT Telkom, pada awal tahun 2007 ini.

Saya menyempatkan diri mengantar beliau sampai di rumah orang tuanya. Sungguh biaya sekolah beliau di Bandung ternyata tidak sedikit jika dikonversi saat ini, bayangkan beliau bisa sekolah di GDB, orang tuanya harus menjual tanahnya (yang saat ini tanah yang mirip dengan tanah tersebut laku dijual 300juta). Saat-saat beliau menjelang lulus dari GDB ternyata, rumah orang tuanya dijual kembali, dan hanya menyisakan dapur saja.

Dari sisi lokasi tidak sejauh rumah Heri Markoneng. Jalan dari Pati ke arah Tayu, ada pertigaan yang jika diikuti ke kiri maka sampai Tayu, sedangkan rumah orang tua Pak Wiyono ke kanan. Belokan ini tajam, berbahaya, jika dari arah Pati ke jalan menuju rumah orang tua Pak wiyono, pandangan ke kiri tertutup. Sekitar setengah kilometer dari jalan raya ini, sampai di rumah Pak Wiyono.

Ayo bangkit!

24 April 2007

Kejadian Senin 23 April 2007

Pagi ini akau datang ke ruang kelas sekitar jam 07 (sengaja, nggak berani nulis jam 7), dengan penuh semangat seperti biasanya dua meja itu akan ditaruh pas di tengah dan saya tidak suka jika kedua meja ditaruh di tengah, karena jika aku duduk di tengah maka pasti banyak mahasiswa yang aku petengi (tertutup oleh badanku), maka satu meja yang biasanya meja yang diisi over head projector aku geser ke sebelah kanan, dan mahasiswa itu dengan cekatan membantu menggeser, namun apakah karena terlalu semangat atau karena lantai licin, aku terjatuh, waooo, rasanya engkel kaki kiriku sakit cleeeeng, waduh… Mahasiswa yang lain pun pada teriak: ada apa, Pak? Alhamdulillah, ternyata kaki agak sakit saja, dan rasanya organ kaki masih tak ada masalah, namun ketika aku menulis ini pinggang tengah (mungkin istilah ekor) agak terasa pegal dan sakit. Ruang itu adalah A 205. Lantainya memang terlihat masih basah dan terlihat dibersihkan menggunakan obat pembersih keramik, karena nat (sambungan antar keramik) terlihat bersih.

Selesai mengajar aku ke ATM, wah, ada perubahan ATM-nya ada yang menggunakan pecahan 100ribu dan 50ribu. Aku antri di yang 100ribu karena sedikit yang antri di situ. Mahasiswi yang antri di 50ribu-an yang menghampiriku: “Pak, kenapa yang kampanye diperbolehkan di koridor gedung B, Pak? “

Aku jawab: “Sebaiknya kamu tanyakan ke BAA itu, karena penguasa gedung B kan BAA. Mengapa mereka kampanye di gedung B. Mungkin pula karena kamu nggak pernah ke SC, sehingga mereka yang kampanye mengejar gerombolan masa yang ada. Dan gerombolan masa paling banyak kan di gedung B. Wajar, toh.”

”Tapi kan menganggu kuliah, Pak?”

”Saya pikir waktu kampanye sudah disesuaikan dengan saat jam pergantian kuliah, jadi kuliah tidak terganggu. Dan lagi jika masih merasa ada ganjalan sampaikan ke BAA, tetapi jangan sendirian, sekali-kali dengan banyak orang, kalian demo: kami cinta kuliah, jangan diganggu kuliah kami. Ha ha ha ...”

Dengan munculnya Direktorat Dukungan Manajemen, sebaiknya direktorat ini membuat pemetaan dan penanggung jawab setiap ruangan atau gedung. Jangan sampai seperti gedung C lantai 1 yang sayap utara-selatan, seperti tanpa penanggung jawab, siapa yang harus mengurusi, kabel terlihat dimana-mana, plafon bolong dimana-2 terkesan kumuh dan sarang tikus. Dengan direktorat Dukman ini, juga melakukan sosialisasi siapa pemilik (penanggung jawab ruangan dan/ atau sarana yang ada). Ketika aku di BKA sebenarnya aku hanya main feeling saja, wong tidak ada pegangan tertulis, ruang lab Ooo milik jurusan. Gedung A dan B milik BAA (padahal ada IF segala), lapangan parkir milik BAU, dst.

Selamat bekerja!

Kemahasiswaan STT Telkom

Hampir tiada hari tanpa ada kegiatan kemahasiswaan di STT Telkom ini. Smeoga ini adalah sebuah kesadaran yang terus didengungkan selama ini mulai mendapat sambutan. Dengungan tadi adalah tidak cukup kuliah itu hanya sekedar megejar nilai-nilai akademik saja, kemampuan di luar itu yang amat dan sangat penting dalam pergaulan kehidupan selanjutnya dan juga saat ini, di dalam pergaulan bermasyarakat amat dan sangat penting, bahasa kerennya diistilah dengan sop sikil (softskill).

Kesadaran bahwa manusia bukan hanya dapat dilihat dari satu sisi saja, melainkan harus dilihat dari keseluruhan sisi yang ada pada diri manusia. Manusia dibekali oleh Yang Maha Membekali bukan hanya akal saja yang tergabung dalam ruhaniyah semata, namun pula ada jasmaniyah. Di golongan ruhaniyah selain akal, terdapat pula hati dan nafsu. Sedangkan jasmaniyah merupakan potensi fisik manusia, jantung, hati (fisik hati, limpha), tangan, kaki, nafas, paru-paru, dll. Dimana pada jasmaniyah menyangkut organ fisik pendengaran, dan penglihatan. Walaupun penglihatan dan pendengaran tidak hanya dalam bentuk fisik. Mengingati pula walaupun orang buta, tetap saja mereka mempunyai kemampuan untuk melihat yang salah satunya direpresentasikan dengan meraba atau mendengar. Begitupun pendengaran, walaupun tuli, manusia masih mempunyai kemampuan mendengar, baik dari gerak bibir ataupun dengan melihat gerak tubuh lawan bicaranya atau obyek yang didengarnya.

Kedua potensi tersebut mestilah diupayakan untuk terus digunakan dan dikembangkan lebih lanjut sehingga mampu optimal dalam menopang kehidupannya. Jika hanya salah satu saja yang diolah, yang dikembangkan, maka akan terjadi kepincangan-kepincangan dan akan membuat kondisi yang tidak baik pada suatu saat nanti.

Potensi ruhaniyah akal, sebagian telah diolah dan dikembangkan dalam bentuk kegiatan akademik dan penalaran. Panalaran merupakan pencarian metodologi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya, mulai dari membaca situasi hingga menemukan masalah, yang dinyatakan dalam rumusan masalah, membayangkan bagaimana masalah tertulis dengan batasan yang harus dibuat agar masalah tidak melebar kemana-mana, merumuskan solusi yang dibuat dari masalah tersebut, membuat alternatif solusi yang bisa menjawab masalah-masalah tersebut, membuat ukuran ketercapaian masalah, membuat solusi, dan mengukur kinerja solusi yang dihasilkan. Semua ini dicoba didekati dengan kemampuan-kemampuan akademik yang tertulis dalam apa yang disebut kurikulum. Perkembangan tentang definisi kurikulum mulai bukan hanya dalam bentuk daftar matakuliah. Telah berkembang kurikulum di Indonesia harus disusun dalam bentuk silabus singkat, keterkaitan antar matakuliah, matakuliah prasyarat dapat dilihat dari diagram pohon kurikulum, bahkan telah pula diminta membuat tujuan (objektif) dari kurikulum, lebih detil lagi tujuan per mata kuliah, bahkan diminta pula metode dan/ atau cara evaluasi per matakuliah. Lebih jauh lagi, diminta pula untuk membuat metode penyampaian matakuliah. Semua ini hanya mampu membentuk sebagian kecil dari potensi ruhaniyah-akal. Namun biasanya akan menyangkut jumlah waktu yang terbesar dan terberat di bangku kuliah.

Padahal patut disadari, industri ataupun wirausaha yang akan dilakoni oleh mantan mahasiswa ternyata, tidak hanya sekedar kemampuan akademik tersebut. Berbagai kasus dari alumni STT Telkom yang terpaksa diminta pindah kerja, bukan karena ketakmampuan akademik (hardskill) namun lebih dikarenakan masalah kemampuan sosialisasi, masalah kemampuan komunikasi, masalah kemampuan kerjasama dengan orang lain, masalah kemampuan berdaptasi, dll (yang cenderung tak mampu dibangun/ dikembangkan di bangku kuliah yang cenderung statis). Kemampuan-kemampuan ini kemudian diberi nama softskill sebagai komplemen dari hardskill (akademik).

Hardskill dan softskill saling komplemen untuk saling melengkapi, kemampuan yang satu tak mampu dipisahkan dari kemampuan yang satunya lagi. Karenanya tidak boleh mahasiswa mempunyai hanya satu kecenderungan saja.

Masalahnya softskill, lebih merupakan skill (kemampuan) bukan dalam makna wawasan, pengetahuan (knowldge), tetapi berupa tindakan, dan kegiatan. Softskill dikelompokkan oleh Pak Iwan (Dir. PAK Dikti) menjadi tiga kelompok, yaitu: leadership, communication skill, dan lifeskill (kemampuan berdaya tahan terhadap segala kemungkinan lingkungan yang dihadapinya). Masalah kemudian timbul, bagaimana men-deploy kemampuan yang bersifat lunak ini dalam kancah kehidupan mahasiswa. Salah satunya sebenarnya dengan memberikan pengertian tentang pentingnya kegiatan kemahasiswaan, dan memberikan reward and punishment terhadap mahasiswa yang melakukan dan/ atau tak melakukan kegiatan kemahasiswaan. Tentunya pula kegiatan kemahasiswaan ini jangan hanya sekedar didikte oleh para pejabat kampus, namun pejabat kampus lebih banyak memberikan arahan, dan menjamin kesopanan dan bertutur dan bertindak.

Hari Senin, 23 April 2007 aku tersenyum melihat halaman gedung I, yang terkenal diubah wajahnya oleh Kopma STT Telkom menjadi BIP (saya tidak tahu apa singkatan dari BIP, mungkin nama ini terinspirasi sebagai Bandung Indah Plasa-nya STT Telkom) di situ berbagai macam kegiatan bisnis dan sosial versi mahasiswa diadakan. Tiang-tiang koridor yang sudah kusam dilapisi dengan kertas warna-warni sungguh meanrik hati. Inilah mahasiswa STT Telkom! Hari ini, Selasa 24 April 2007 saya lebih tersenyum lagi. BIP lebih semarak. Inilah mahasiswa STT Telkom! Dengan segala kemampuannya mereka mengerahkan segala daya dan upaya untuk keberhasilan kegiatannya.

Saya ingat, bagaimana pejabat kampus tunduk pada kemampuan mahasiswa melakukan negoisasi dengan paksa, dan ketundukkan ini mengakibatkan keluarnya dana yang begitu dan amat besar bagi suatu kegiatan mahasiswa. Luar biasa mereka!

Mahasiswa penuh dengan kreatifitas dan kemampuan yang luar biasa! Mereka mampu menyelenggarakan kegiatan yang jika dilakukan oleh dosennya akan memakan biaya jauh dan amat jauh lebih besar, namun jika mahasiswa yang menyelenggarakan sungguh cukup 5jutaan, dan kegiatan itu berlangsung dengan baik.

Dan pejabat itu tunduk dengan tekanan kata-kata dari mahasiswa: Lho ini kan demi nama STT Telkom. Saya tersenyum kembali. Inilah mahasiswa STT Telkom, kreatif, inovatif, dan lihatlah setiap hari tiada kata, kecuali mahasiswa STT Telkom penuh dengan kegiatan kemahasiswaan.

Selamat bagi mahasiswa STT Telkom! Maju terus pantang mundur!
Perjuangan? Tiada kata henti, kecuali mati!

23 April 2007

Reshuffle

Hari-hari ini begitu ramai perbincangan akan adanya reshuffle kabinet. Tak tanggung-tanggung para politisi senior, Amien Rais, Try Sutrisno, Megawati, dll angkat bicara. Bahkan partai pun ikutan nimbrung dengan mengadakan konsultasi nasional. Luar biasa gaungnya.

Beberapa menteri oleh media massa dicalonkan untuk diganti. Ada yang karena sakit-sakitan, ada yang terkena kasus uang Tommy Suharto, ada yang diindikasikan kena kasus KPU, juga ada yang terkena kasus korupsi, dan yang banyak menimbulkan polemik adalah berkinerja tidak baik.

Tentang kasus uang Tommy Suharto, aku kurang paham bagaimana asal muasalnya, yang juga melibatkan Wapres Yusuf Kalla, sempat juga berkomentar bahwa penduduk Indonesia jangan kaget, Indonesia akan kemasukan dana yang amat besar, namun bukan hasil korupsi, sungguh luar biasa kasus ini.

Nama-nama pengganti pun sudah pula beredar luas. Si A digeser dari menteri yang banyak menangani keuangan ke mentri yang banyak menangani masalah sosial, dst.

Guliran ini pun menuai kemampuan Presiden untuk menjawabnya, beliau menjawab dalam satu hari sampai dua kali, ketika panen durian dan ketika sebelum sholat Jum'at. Yang akhirnya dikatakan oleh beliau: "Akan diputuskan pada awal bulan Mei"

Semua tiba-tiba terdiam, sambil menunggu-nunggu apa yang akan terjadi.

Semoga reshuffle ini membawa angin yang bagi Indonesia, yang terus menerus ditimpa berbagai macam masalah. Lumpur Lapindo yang tak kunjung selesai, dan akhirnya agak terdiam setelah diberikan 20%, bencana transportasi yang silih berganti, bahkan Sabtu kemarin sekaligus dua kecelakaan kereta api terjadi, sekarang di Bandung mulai banyak kabut pada hari yang cenderung membuat masalah, pesawat terbang yang mengalami berbagai macam kecelakaan, jatuh, tidak bisa terbang, mendarat darurat, dll, juga ada masalah yang juga bergantian tempatnya, yaitu banjir dan tanah longsor.

Di bidang penanganan hubungan luar negeri pun pemerintah cenderung memusuhi rakyatnya sendiri, bayangkan di satu sisi membutuhkan pembangkit listrik tenaga nuklir yang terkenal murah, namun memberikan persetujuan agar Iran dikenai sanksi karena mengembangkan nuklir untuk tujuan damai. Di sisi yang lain, masyarakat Indonesia masih alergi dengan Israel yang terkenal dengan pembantaian etnis dirinya saat Nazi, padahal banyak fakta yang menyatakan bahwa pembunuhan itu hanya karangan orang Yahudi, tetapi dengan relahati pemerintah menyetujui kunjungan Israel ke Indonesia.

Walaupun aku pesimis, mungkinkah Indonesia mampu bangkit dari keterpurukan yang terus terjadi? Dengan melakukan reshuffle kabinet?

20 April 2007

I, Me and My Self..Silvi_lho: Everything is Thinking

I, Me and My Self..Silvi_lho: Everything is ThinkingTidak cukup hanya berfikir, hidup harus dijalani dalam makna benar-benar dilakoni. Hanya berfikir saja akan tidak membuat badan sehat, malah membuat badan gemuk tidak karuan, yang berarti sakit.

Pemikir itu penting tetapi lebih penting lagi adalah menggunakan seluruh sarana dan prasarana, potensi internal yang dimiliki manusia pemberian Yang Maha Memberi dengan sebaik-baiknya sehingga hijab (penutup) matahati dapat terbuka, sehingga nampaklah kebenaran itu mesti masih terlihat kecil (karena kondisi).

Ayo gunakan seluruh potensi yang telah diberikan! Jangan hanya mikir doang! Nanti jangan-jangan hanya jadi pejuang dalam pikiran, padahal Rasulullah pun bergerak, bertindak, berucap, berfikir, dst untuk mewujudkan dan melaksanakan Islam dengan sesungguh-sungguhnya.

Bangun!

gelisah

Beberapa saat yang lalu, aku ada ide untuk menulis, namun begitu masuk ruangan aku sudah lupa apa yang akan aku tulis. Inilah aku yang terkadang terasa belum mampu menguasai diri untuk tidak terpengaruh oleh lingkungan.

Namun usaha untuk melakukannya aku usahakan pula, salah satunya dengan menulis ini, walaupun nggak jelas arahnya, karena memang sedang belum ketemu apa yang sebenarnya ingin aku tulis. Dengan menulis sembarangan yang demikian ini, aku berharap ingat kembali apa ide yang tadi.

Dengan menulis pula aku berharap resah gelisah yang menghantui diriku dapat diselesaikan dengan baik. Bagaimana tidak gelisah jika aku mempunyai ide namun hilang entah kemana? Jadi aku tulsi saja apa yang ada di benakku sekarang ini, tidak perlu menunggu kembalinya pikiran dan gambaran ide.

Kadangkala di benakku terngiang untuk menulis TNK (Trnaskrip Nilai Kemahasiswaan), namun segera lenyap dan muncul yang lainnya: Jambore IT, atau sebuah yang ringan-ringan saja (tulislah apa yang dikepala saat ini). Oh, betapa sulitnya mengingat-ingat, apakah ini hanya karena faktor usia ataukah karena ada kegelisahan yang belum terjawab?

Sewaktu mendengarkan khotabah Jum'at tadi aku sempat melalang buana ke pemikiran tentang apa yang disampaikan khotib, mau menambahi apa yang disampaikannya, tetapi apa ya... yang tadi aku pikirkan? Apa yang aku sempat munculkan di benakku? Oh... apa... Begitu mudahnya aku lupa, begitu mudahnya aku tak mampu menyatukan pengalaman-pengalaman yang ada pada diriku, apakah pengalaman batin maupun pengalaman fisik, terus dan terus mampu mengutarakan apa yang mampu aku utarakan, jangan berhenti untuk menulis, jangan berhenti untuk berujar. Karena dengan begitu diharapkan memunculkan jatidiri dan mampu melenyapkan kekisruhan diri.

Apa ya .... Ya, Allah, betapa lemahnya diriku, pandaikanlah aku memahami diriku...

17 April 2007

Sepi

Hari ini, Selasa 17 April 2007, bagiku terasa sepi.
Blog ini pun tak banyak lagi yang memberi komentar.
Entahlah aku juga merasa sepi.
Aku coba untuk mengoreksi UTS mahasiswa, namun rasanya kurang semangat.
Semoga besok hari aku bisa semangat kembali sebagaimana pada hari-hari sebelum aku ke Semarang yang dengan penuh semangat, menyelesaikan koreksian hanya dalam waktu satu hari. Sungguh saat itu luar biasa semangatnya.
Namun semenjak aku menerima berkas ujian ini kok terasa aneh, memang sih banyak kecewa.
Yang pertama, aku kecewa bahwa di berkas jawaban ternyata tidak ada soal, akibatnya aku harus pontang panting mendapatkannya. Karena di ruanganku belum ada printer yang memadai, terpaksa harus ngeprint di tempat lain. Di admin ternyata tidak punya flash disk. Ya aku tambah bingung, aku mau pakai flash diskku kok terasa sayang, karena PC di admin sudah pasti banyak virus. Akhirnya semangat untuk mengeprint kembali timbul ketika aku ke meja Jondri ada printer BC 265SP, namun walaupun sudah dipasang konverter USB tetap saja tak dapat digunakan, kemungkinan konverternya tidak benar. Saya ke admin barangkali ada printer yang dapat dipinjam, nah, Bu Endah kemudian menjanjikan mendapat printer baru, namun kemudian berubah Danang bersedia menukar printer yang ada di dia untuk aku bawa. Senang aku. Tetapi drivernya nggak ketemu-ketemu. Aku down load. Berhasil di down load. Namun setiap kali di-install selalu juga error ada dll yang nggak kebaca. Nasib... Bu Endah pun menjanjikan sudah besok (Selasa hari ini) saya bawakan dari rumah. Nah, jadi hari ini aku dapat drivernya. Namun tetap saja error. Jengkel ... deh! Akhirnya aku bisa ngeprint karena ada CD kosong yang bisa aku pakai untuk menyimpan file soal. Berhasil diprint. Tetapi rasanya sudah kadung mangkel. Jadi ngoreksinya juga agak malas.

Srikaton yang memang sudah langganan untuk mengurusi printer ini, akhirnya datang dan mengatakan ini adalah printernya yang rusak. Jadi ketidakbisaan install ternyata dari situ.

Yah, aku mau mengajar saja...

09 April 2007

Kuda

Menunjukkan kegagahan dan kejantanan, itulah kuda.
Dengan kulit yang berwarna coklat tua dan penuh pesona, itulah kuda.
Tak sengaja aku searching di google dan mendapatkan gambar kuda.
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Bandung Timur

Hari ini aku berangkat seperti biasa sekitar jam 6 pagi karena harus mengantar anak ke sekolah terlebih dahulu. Mungkin terlalu pagi bagi sementara orang, namun jika dilihat dari ramainya arus lalu lintas, tentunya tidak terlalu pagi.

Sepeda motor telah begitu banyak memenuhi jalanan jalan raya Ujung Berung yang termasuk jalan besar karena menghubungkan antara Cicaheum dan Cibiru, termasuk jalan arteri, banyak penduduk yang berasal dari daerah Timur Bandung menuju ke tengah kota. Jalanan terasa istimewa, karena penuh dengan perkembangan yang menarik, katanya Bandung pun akan bergeser ke Timur, bukan ke Barat.

Isu tersebut pun sudah terdengar lebih nyaring, sebuah pengembang perumahan di daerah Barat Bandung ternyata mengalami paceklik, padahal dari sisi fasilitas perumahan, sungguh amat menakjubkan sekolahan dari TK, SD, SMP bahkan SMA sudah didirikan, bahkan rumah sakit pun sudah pula berdiri, pusat riset (dalam makna untuk membantu pelajar melihat fenomena alam) ada pula, jam matahari yang berukuran amat besar sudah dipasang, namun tingkat penjualan ternyata amat seret. Bahkan penghuni yang sudah membeli pun harus menjual kembali rumahnya, namun ya itu tadi ternyata pembelinya tidak ada. Sehingga menumpuk data penjualan rumah.

Di daerah Gede Bage sekarang sedang ramai jual beli tanah mengingati pergeseran pertumbuhan kota Bandung ini. Memang dari sisi perkembangan jalan tol agak memalukan pula Bandung membangunnya. Bayangkan saja diantara jalan Pasirkoja hingga Buah Batu begitu banyak tol gate, namun diantara Buah Batu dan Cileunyi tak ada satupun tol gate-nya, berapa kilometer jalan tersebut. Isu memang telah diedarkan bahwa di sekitar Gede Bage akan dibangun tol gate, jika hal ini dilaksanakan dapat dipastikan harga tanah di sekitarnya akan lebih menjulang lagi.

Ya... inilah gonta gantinya jaman...