04 September 2006

Wong Pati

Pati, nama sebuah kota besar yang ditenggelamkan, dan menjadi kecil. Harusnya besar, karena kota Pati adalah Ibukota Karesidenan Pati yang meliputi Kabupaten Pati, Kudus, Jepara, Rembang, dan Blora. Namun menjadi tenggelam karena kalah memikat dari sisi pendapatan daerah dan dari sisi peluang usaha yang mampu diraihnya. Pati menjadi kalah terkenal disbanding, Jepara karena ada ukiran, Kudus ada pabrik rokok, Rembang sebagai tempat lahir Kartini, dan Blora tempat jati dan minyak.

Sebuah surat kabar pernah menuliskan, tentunya berdasarkan informasi yang diterimanya, memberi gelar pada kota Pati sebagai Kota Pensiunan. Sebuah alasan yang menarik, bahwa kota ini banyak ditinggalkan oleh kaum mudanya. Anak-anak muda pergi merantau dan kembali ketika memasuki usia pensiun.

Beberapa tokoh yang ikut andil mengharu biru negeri ini, nggak tahu nih apakah ikut membangun negeri ataukah menghancurkan negeri, tokoh-tokoh tersebut umumnya berperan melalui partai politik. Cerdas memang, mereka mengajukan berbagai gagasan dan wacana, namun kadang kurang memperhitungkan kekuatan politik yang mendukungnya. Harus disadari negeri ini memang telah ratusan tahun dijajah, sehingga gaya berfikir penduduk ini sangat tidak logis. Tokoh-tokoh tersebut diantaranya: Mashuri mantan Menteri Penerangan dan yang baru saja mengemban menjadi menteri di masa Gus Dur, dan Megawati adalah Kwik Kian Gie.

Maka kami berkumpul kembali dengan harapan kami mampu mengembangkan visi dan misi kami, menemukan jati diri sebagai Wong Pati atau Cah Pati. Kami ingin eksis, tidak hanya sebagai penonton dangdut, Rhoma Irama saja, namun kami ingin memberi kontribusi untuk negeri ini, agar tak semakin terpuruk, tak semakin tenggelam bahkan oleh Lumpur yang ada di dalam perut bumi.

Kami ingin maju, kami ingin bersama membangun negeri, bersama menjadikan setiap diri selamat dunia dan akhirat.

Kumpulan mahasiswa STT Telkom yang berasal dari Pati ternyata tidak sedikit juga, saat kemarin (3 September 2006) berhasil menghadirkan 17 orang mahasiswa, sebuah jumlah yang cukup banyak dibandingkan dengan asal kota yang mungkin berkategori kota besar.

Acara jalan-jalan ke Situ Patengan adalah pembuka dari kegiatan Wong Pati ini. Acara diawali dengan Perkenalan. Dengan Acara ini diharapkan semua saling kenal dan tak sungkan menyapa. Kemudian foto-foto dan naik perahu bersama, lumayan ongkosnya 120ribu. O, iya, setelah perkenalan ada lagi satu acara yaitu arisan yang besarnya lumayan menarik hati, yaitu 2000rupiah. Semoga acara ini bukan acara yang pertama dan terakhir, terus berlanjut dan terus ada sepanjang masa. Membangun kesatuan, membangun kebersamaan.

Dua minggu lagi (17 September 2006), namun sebaiknya diundur seminggu lagi karena saat itu saya ada acara di Unpad, mereka akan arisan di rumahku. Ayo majulah, Pati, kotaku!

14 comments:

  1. Menantang Kerasnya Ibukota

    Buat kawula muda di Jawa Tengah dan sekitarnya, nggak usah kaget kalo bentar lagi bakal akrab dengan 2 wajah asal Bumi Mina Tani alias Pati. Cozzzz, dua remaja ini telah bertekad dan bisa dibilang nekat juga, sihhh, untuk berkiprah di dunia etertainment. Yah, meski tanpa dukungan masyarakat, pemerintah daerah bahkan orangtua, mereka berani menantang kerasnya Ibu Kota di dunia enteraint.
    Tau nggak, berkat tekad dan semangat mereka itu, akhirnya dua remaja ini mampu mengharumkan nama kabupaten Pati di pentas nasional.
    Tio Felixio, yang nama kecilnya Sukartiyo, adalah Finalis Calon Bintang Televisi 2007 yang diadain oleh Famous Enterprise Jakarta. Doski ini lahir di Pati, 29 September 1986. karena prestasinya yang udah sampe menjadi finalis itu, tetangga Bapak Bupati Pati alias Bapak Tasiman ini, juga udah terlibat dalam beberapa sinetron FTV. Selain itu, ia juga sudah sering diminta pemotretan untuk majalah dan tabloid-tabloid remaja di Ibukota dan sekitarnya.
    Saat ini, Tio masih bertahan di Jakarta dan terus berjuang untuk menjadi yang terbaik. “Hidup adalah perjuangan dan bekerja keras. Nah, apapun, kalau kita pengin sukses, maka jangan takut berjuang. Bahkan jangan takut gagal,” ujar Tio.
    Ceiileeeh. Sok argumentative, nih. Tapi bener, kok. Apapun, kalau kita mau berusaha, pasti akan menuai sukses.
    Tak jauh dengan beda dengan Tio, adalah Ema. Dara asal Pati yang lahir di Singapura 29 September 1989, adalah Juara Favorit Bintang Televisi 2007. Tau nggak, sih, sosok centil yang sekarang lagi nerusin studinya di sebuah SMA di Surabaya ini, saat ini kabarnya juga lagi dikontrak sebuah PH (house production) untuk membintangi salah satu sinetron yang bakal ditayangin di sebuah TV Swasta Nasional.
    Hebatnya, nih, gadis ayu berdarah Tionghoa – Jawa yang punya nama asli Margareth Emalina Caroline ini, dipercaya oleh sang sutradara buat jadi pemeran utamanya. Wah, keren banget, nih …..
    So, apapun hasilnya, yang jelas, dua remaja kelahiran Pati ini telah mengharumkan nama kabupaten Pati dan Jawa Tengah dalam pemilihan calon bintang TV 2007. Oopss, kita do’ain, deh, moga merka semakin berkibar dan sukses.

    ReplyDelete
  2. Dari Anak Mertokusuman Tambahan info untuk kota pati.Kota pati tidaklah sepi sebentar lagi kota pati akan mendunia lewat film Lari dari Blora yang tempat pembuatannya di kota pati dengan homebase Hotel kurnia pati
    dan juga salah satu tempat billiard dikota pati yang menjadi Host Liga billiard di indonesia

    Semoga pati tetap rame bukan kota pensiunan

    ReplyDelete
  3. Semoga kota Pati semakin ramai dan menuju arah yang benar. Kalau hanya sekedar ramai saja, tetapi seperti Jakarta yang carut marut, kan malas juga kita

    ReplyDelete
  4. saya bangga jadi orang pati, walaupun saat ini saya tidak lagi tinggal di Pati. Minimal 1 tahun sekali, saya sempatkan untuk pulang kampung, melihat bumi mita tani tercinta.

    ReplyDelete
  5. saya lahir dikota kecil ini,tepatnya didesa mbendan dan saya besar di desa Randukuning,sekarang menetap di Bandung hampir 25 tahun, saya kePati minimal satu tahun sekali......salam buat saudara-saudara kita yang berasal dari Pati.

    ReplyDelete
  6. Saya juga orang Pati.Sekarang bekerja di Kab.Tangerang,biasanya mudik setahun sekali.Saya bangga dengan Pati.Salam.

    ReplyDelete
  7. salam kenal bung...
    saya dari juwana

    ReplyDelete
  8. Salam Kenal,
    Aku bukan wong Pati, tapi anak Jakarta, setelah kuliah di Bandung, cari kerja ke Ibukota. Sekarang malah dapat tugas ke Kota Pati. Sudah 3 bulan sejak Agustus, aku tinggal di Pati tapi kerjaan ada di Juwana. Maklum di Juwana sulit cari tempat kos.
    Kota pensiunan?, memang betul, banyak pensiunan yang bermukim kembali di Pati. Kota yang setiap minggu malahan senyap, dan sehari-haripun lebih banyak tinggal tidur oleh sebagian penduduknya. Kecuali penumpang bus AKAP yang baru turun.
    Aniway, di PAti sudah mulai diajak maju, buktinya, minimarket sudah banyak, bahkan ada ATM-air di depan Plasa yang sepi.
    Salam kenal aja ya Wong Pati, gua mau numpang hidup.

    ReplyDelete
  9. Bang, kita memang mesti bangga lho jadi tek iyek (tempat kelahiran) Pati. Grengseng dari kota Pati abang sering liat di TV khan? Mungkin akhir-akhir ini berita yang kurang bagus cuman orang udah pernah dengar dan tahu dimana Kota Pati itu.
    Mulai dari Gang Nero, Kabar Kyai Nasikin, kabar tentang menjamurnya cafe dan karaoke. Sampai kota kita tambah pangkat lagi "Pati Kota Karaoke". Dan yang sekarang ini jadi fokus adalah dengan pro dan kontra pembangunan semen gresik di sukolilo.
    Namun etos sejarah kebesaran kota Pati tetap disegani. Dari Saridin, Kembang Joyo dan Kyai Sahal Mahfud dll...
    Seperti aku juga bangga jadi cah pati, dan mungkin kebanggaan besar untuk kami, bahwa ternyata orang-orang besar dari Pati masih ingat Kota kecil Kelahirannya. Kita galang terus persatuan orang-orang Pati, kita coba tunjukan kehebatan orang Pati dimata Dunia. Setuju Khan bang...

    ReplyDelete
  10. AKUU CAH PATI SING WIS ILANG PATIKU
    AKU LAHIR 27 / 5 1998 DI PATI
    UMUR 7 BULAN AKU DIAJAK TRANSMIGRASI MAMAKU
    DI UJUNG INDONESIA . MAMAKU ASLI KARABAN GABUS
    AKU PINGIN BANGET KUMPUL KARO WONG PATI

    ReplyDelete
  11. wong pati kenalan entok ora, aku wong jollong kerjo neng solo saiki neng papua....

    ReplyDelete
  12. aku juga wong pati lek, awit lulus SMA mrantau mek jakarta...pingin kumpul2 nggawe aliansi wong pati sing nek sekitar jabodetabek

    ReplyDelete
  13. Ayo, monggo-monggo wong Pati bisa selalu kontak. Mohon maaf, lebaran kali ini (1 Syawal 1430H) aku belum bisa balik, karena kerjaan yang menumpuk. Maaf ya...
    Jika ada tahu rumahku di Kalidoro sampaikan ke ibuku, aku belum bisa pulang

    ReplyDelete
  14. aku cah Pati, lahir sampai tamat sma umur 17 tahun. belajar berenang di sungai ngantru dan nggodi, setiap siang bersama abang saya. Aku bangga jadi anak Pati dan aku bangga jadi anak guru. Ikuti kisahnya di : serial Anak Guru (1) sampai (10). gsumariyono.wordpress.com
    Selamat hari raya Idul Fitri 1430 H. Taqabalallahu mina wa minkum, taqabalallahu ya Karim. Mohon maaf lahir batin.

    ReplyDelete