27 May 2007

Pemimpin Jujur

'Sudah saatnya kejujuran memimpin negeri ini' dinyanyikan Frankie Sahilatua saat kampanye Pilpres 2004. Namun kenyataannya belum jadi kenyataan. Hal ini bisa dilihat dalam tulisan ini.

Dana Departemen Kelautan dan Perikanan (yang kemudian disingkat DKP) bergulir begitu cepat dan memperlihatkan kejujuran belum jadi kenyataan. Pernyataan yg satu dibantah oleh pernyataan yg lain, namun segera ada pihak yg menyatakan bantahan tadi tidak benar.

SBY menyatakan bahwa apa yang diungkap oleh Amien Rais sebagai fitnah besar. Namun ternyata ada orang yang mengaku tim suksesnya menyatakan menerima dana DKP. Walaupun orang ini kemudian dibantah bahwa dia bukan tim sukses.

Sudah banyak yg mengakui menerima dana DKP, sejak Amin Rais membuka masalah ini. Bergulir Shalahuddin Wahid mengakui menerima, bahkan orang Golkar yang biasanya begitu ulet untuk tidak mengakui masalah-masalah yang demikian ikutan
buka suara, Slamet Effendi Yusuf.

Guliran ini semoga membuka kejujuran yg sesungguhnya sehingga semakin nampak negeri ini, borok yang harus diterima, dan harus diperbaiki.

Pengorbanan beberapa jiwa mahasiswa dan orang-orang yg mencoba berbuat negeri ini pada kisaran tahun 1997 ternyata belumlah menemukan pemimpin yang jujur.

Dalam mitos Jawa, kepemimpinan yang sesungguhnya akan muncul diantara kekacauan yang berdarah-darah. Secara nyata mampu lihat, bagaimana negeri ini terus berdarah dan
berurai air mata.

Sejak Aceh tenggelam oleh tsunami, berganti, bergilir daerah menerima bencana demi bencana. Bermacam bencana menghinggapi daerah-daerah di negeri ini: gempa, banjir
bandang, namun di sisi lain terjadi kekeringan, tanah longsor, pesawat jatuh, kecelakaan kereta api, kebakaran satu kampung/ wilayah, TKI yang disiksa, TKI yang diusir dari negeri tetangga, lumpur yang muncrat tanpa henti, demam berdarah, bahkan cikungunya yang bukan penyakit dalam negeri, flu burung, petani yang menangis karena harga jual panennya amat rendah, persoalan tanah yang tak jelas juntrungannya (double sertifikat), pertambangan yang merusak lingkungan, gedung sekolah yang ambruk, kesenjangan ekonomi yang amat tinggi (di satu sisi orang tidur di lantai tanah di sisi lain bermewah tinggal di gedung berAC), gelombang pasang, abrasi (pengikisan pantai oleh air laut), rob (air laut masuk menggantikan air tawar), keracunan makanan secara massal, begitupun kerasukan massal, pengangguran dan kemiskinan yang meningkat.

Perbuatan-perbuatan negatif yang lain: korupsi semakin merajalela, narkoba menyebar merata bahkan sampai di tempat yang mestinya menjadi tempat taubat yaitu penjara
sekalipun, janji bantuan 30juta yang sebagian tak dipenuhi, posko-posko bantuan yang muncul hanya saat menjelang pemilihan, perampokan yang amat ganas dengan bersenjata
api, tahanan yang terpaksa harus melihat jenasah istrinya di rumah tahanan karena hakim sudah kehilangan rasa kemanusiaannya, bentrok antar warga dusun, bentrok antar
preman karena rebutan lahan kekuasaan, polisi/ petugas keamanan yang tak mampu mengendalikan massa yang beringas, ikutan menjatuhkan sanksi pada negara yang ingin
mendapatkan sumber energi listrik yang murah padahal negeri ini pun butuh sumber energi yang dimaksud, aparat keamanan yang belum mampu memberikan keamanan sehingga pedagang kecil harus memberikan dana keamanan pada pihak swasta. Dan terus hal ini terjadi.

Apakah bencana yang demikian banyak dan terus terjadi belum cukup berhasil menyadarkan bangsa ini? Belum cukupkah? Untuk memberikan kesadaran bahwa mestinya negeri ini dipimpin oleh pemimpin yang jujur.

Tinggal kesiapan bangsa ini untuk menerima kejujuran atau kenestapaan yang terlihat secara langsung maupun tak langsung. Siapkah bangsa ini menerima pemimpin yang jujur?
Yang sudah pasti akan membawa perubahan yang sangat drastis terhadap bangsa ini. Pemimpin yang jujur tak mungkin muncul, jika bangsanya/ warganya tidak mau menerima
kehadirannya.

Pengalaman akan kemunculan pemimpin yang jujur bisa dibaca laksana Daud yang ditolak para pemimpin yang lain, karena muncul dari warga yang tak terduga-duga, miskin bahkan cenderung tak pernah dikenalnya, namun apakah ini menghalangi kita dipimpin manusia yang demikian ini?

Ayo! Apakah kita tetap tidak ingin dipimpin oleh orang yang jujur, meskipun kita tak pernah mengenalnya dengan baik? Ayolah mari kita bermohon kepadaNYA, baik pagi, siang, sore, malam dan subuh. Ya, Allah berilah kami pemimpin yang jujur...

21 May 2007

TOFA 2007

Saya tidak hafal dengan singkatan dari TOFA 2007, namun saya tahu bahwa ini adalah rangkaian kegiatan yang diadakan oleh UKM DJAWA. Kegiatan tersebut diantaranya Lomba Foto, Pelatihan Membatik, Lomba Mewarnai, Upacara Pembukaan, dan pagelaran Gatotkoco.

Pada hari Minggu kemarin (20/05/2007) dilakukan kegiatan Upacara Pembukaan. Dan berkenan ketua STT Telkom, Bapak Husni Amani, membuka secara resminya kegiatan TOFA 2007 ini. Hadir saat pembukaan Direktur Kemahasiswaan dan Pengembangan Kompetensi serta Kepala Bagian Kemahasiswaan.

Anakku ikut lomba mewarnai dan dapat juara Harapan 1.

Ini beberapa foto saat acara pembukaan, hasil jepretan dengan menggunakan kamera digital SONY.







Dengan kegiatan yang berbau seni saya mengharapkan mahasiswa STT Telkom dapat mengolah seluruh kemampuan (potensi) yang diberikan oleh Yang Maha memberi, sehingga dapat bermakna dan berguna bagi kegiatan dan aktifitas pada suatu masa nanti. Manusia telah diberi panca indera: indera pendengaran, indera penglihatan, indera pengecap, indera peraba, dan indera pembau. Jelas dengan bentuk yang indah dan gerak yang menawan mengajari indra penglihatan untuk memainkan peran, dst. Tentunya jangan sampai panca indera ini menjadi dasar berlakunya satu hukum. Karenanya juga suatu cara menemukan kebenaran yang sejati.

14 May 2007

Menemukan Cita-cita Diri

Saya berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja, tidak kaya, tidak miskin. Bapakku pegawai negeri sipil bekerja di bagian administrasi tata usaha SMA Negeri di Pati, pangkat terakhir beliau menjelang pensiun adalah golongan 2A. Ibuku bekerja membuka warung untuk kebutuhan sehari-hari, di warung ada minyak tanah, gula pasir, pasta gigi, dll.

Bapakku terkenal sebagai santri di lingkungan rumah, karena beliau rajin melaksanakan sholat lima waktu, saat itu orang yang melaksanakan sholat waktu di lingkungan rumah tinggal kami amat sedikit, bahkan sampai saat ini. Beliau bisa membaca Al-Qur’an.

Ketika kecil, saya belajar mengaji di langgar (musholla) pada saat bulan puasa, biasanya akan mengaji dengan menggunakan metode menghafal huruf Arab, alif ba ta sa jim ... Rasanya saya tidak berhasil tammat belajar membaca Al-Qur’an. Sehingga saya sholat, bukan karena saya bisa membaca Al-Qur’an tetapi akibat menghafal yang memang diajarkan pada saat mengaji. Karena hafal, bukan karena bisa membaca.

Ketika merasa ada tuntutan untuk bisa membaca, saya membaca buku petunjuk sholat yang selain ada tulisan Arabnya terdapat pula tulisan dalam huruf latin, tetapi berbahasa Arab, semacam tulisan ini: bismillahir rahman nir rahiim.

Saya menetapkan untuk melaksanakan sholat lima waktu, ketika berada di kelas 6 SD. Entahlah, tiba-tiba bangkit untuk melaksanakannya. Dan tekad telah dikumandangkan.

Ketika di SMA, saya mulai membaca Al-Qur’an yang ada tulisan latin-nya. Seingat saya mushaf ini diterbitkan di Bandung. Jadi, selain ada tulisan Arab, ada tulisan latin dalam bahasa Arab. Tentunya lafaz yang saya ucapkan tidak benar 100%, sampai saat ini ada beberapa lafaz yang apabila dinilai oleh yang ahli, akan dikatakan kurang tepat.

Kegiatan membaca ini saya lakukan hampir setiap hari, dengan suara yang lantang, tanpa peduli mengganggu atau tidak pada lingkungan sekitar, biasanya waktunya setelah sholat Maghrib hingga Isya’, tidak peduli lafaz benar atau salah, yang penting membaca. Aku baca pula terjemahnya.

Perjalanan hidup, memang siapa yang tahu. Perilaku membaca ini ternyata berbuah semangat untuk mengetahui arti bacaan sholat. Dan aku baca: ihdinashshirotol mustaqiim, dst: Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat, bukan jalan-jalan mereka yang Engkau murkai dan bukan pula jalan-jalan orang-orang yang sesat. Terbentur, terperangah, menghujam ke dalam diri. Aku lihat, aku saksikan, aku dengar, kondisi lingkungan memang seperti jalan yang kedua dan ketiga. Kebanyakan dalam lingkungan kami, kawin dulu baru menikah, mengadu nasib dengan berjudi adalah kegiatan yang biasa saja, mabuk, dll. Aku bangkit, tidaaaak! Aku harus meraih jalan yang pertama.

Menjelang kelas tiga SMA, akhir dari kelas dua SMA, ketika lebaran telah tiba, seperti biasa orang-orang sungkem pada orang tua, dan seperti biasanya pula mereka akan meminta maaf pada orang tua. Aku telah bertekad! Saat sungkem itu, aku bukan meminta maaf, namun dengan berlinang air mata (padahal kakak-kakakku tidak ada yang menangis saat sungkem): “Wahai ayahanda, aku memohon dengan sangat, do’akanlah aku agar menemukan jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, bukan jalan orang-orang dimurkai, bukan pula jalan orang-orang yang sesat”. Mengucur deras air mataku, ketika aku meminta permohonan ini. Bapakku menekan kepalaku dalam dekapannya, aku dengar kakak-kakakku tertawa, tetapi aku tidak peduli.

Ya, Allah, tekad itu telah aku canangkan sejak akhir kelas dua SMA. Ya, Allah, selamatkanlah aku di dunia dan di akhirat kelak, selalu dalam jalan yang lurus, dalam nikmat-MU. Ampunilah kami Ya Allah...

11 May 2007

Kebangkitan Seorang Anak Desa

Minggu yang lalu, tanggal 2-3 Mei 2007, kami menyempatkan diri menengok kampung halaman. Kesempatan ini didapat berbarengan dengan meninggalnya orang tua dosen Teknik Elektro, yang rumahnya di Kudus. Kami berta'ziyah sekitar jam 16 di Kudus pada hari Rabu, 2 Mei 2007. Sebuah rumah dengan halaman yang luas, namun berkesan cukup tua. Di rumah ini ada 11 putra-putri, sungguh ramai.

Saya bersama Pak Wiyono pulang kampung dengan mengendarai Si Nia merahku. Berangkat Rabu jam 03.30 dari rumah Pak Wiyono di kompleks Cijambe Indah.

Cerita-cerita menarik mengenai pribadi beliau, terungkap dengan lancarnya. Bagaimana beliau berjuang dari underdog menjadi seseorang yang membuat banyak pihak terbelalak. Bayangkan, sampai di kelas 2 SMA, dia masih seenaknya sendiri sekolah, hampir setiap hari Sabtu dipakainya untuk melalang buana, naik turun gunung, atau ngelayap entah kemana, yang beliau tidak masuk sekolah.

Tentulah dengan kondisi yang demikian ini, nilai-nilai mata pelajaran amat hancur. Langgananlah bahasa Indonesia di bawah 6, dst.

Namun perubahan memang tak dinyana, di bawah asuhan guru yang suka merokok dan terkenal menakutkan, beliau mampu bangkit. Pelajaran Kimia dari kelas satu sampai dengan kelas tiga dibabat habis diakhir waktu sekolah SMA. Begitupun biologi dibabat dengan cara: merekam suaranya di kaset, dan menjelang tidur, didengarkannya sambil tiduran. Palajaran bahasa Inggris pun tak luput ditingkatkannya dengan momentum yang amat sangat mengharukan, saat ini nilai TOEFL beliau di atas 525, padahal pelajaran sampai menjelang kebangkitannya hanyalah di bawah 6 nilai raportnya. Sungguh mencengangkan.

Guru tersebut memang luar biasa pengabdiannya, beliau perokok berat, dalam satu pertemuan belajar, tak kurang 3-4 linting rokok beliau hisap habis. Tetapi daya membangkitkan siswa-siswa yang kurang beruntung semacam Pak Wiyono, memang menakjubkan. Beliau bersedia memberikan private di rumahnya setelah acara sekolah selesai, gratis pula. Saya nggak kebayang Pak Wiyono saat itu sanggup membayar private-nya.

Kebangkitan tersebut mengantarkan beliau untuk lulus ujian masuk perguruan tinggi Gajah Duduk Bersila (GDB). Banyak orang tercengang mengetahui beliau bisa lolos masuk GDB. Tidak percaya! Bahkan guru-gurunya saat itu pada kondisi saat ini. Bagaimana seorang siswa yang ogah-ogahan sekolah tiba-tiba melejit, menyentak.

Dan beliau saat ini kerja di STT Telkom mendapat predikat terbaik saat acara assessment para calon pejabat kampus STT Telkom, pada awal tahun 2007 ini.

Saya menyempatkan diri mengantar beliau sampai di rumah orang tuanya. Sungguh biaya sekolah beliau di Bandung ternyata tidak sedikit jika dikonversi saat ini, bayangkan beliau bisa sekolah di GDB, orang tuanya harus menjual tanahnya (yang saat ini tanah yang mirip dengan tanah tersebut laku dijual 300juta). Saat-saat beliau menjelang lulus dari GDB ternyata, rumah orang tuanya dijual kembali, dan hanya menyisakan dapur saja.

Dari sisi lokasi tidak sejauh rumah Heri Markoneng. Jalan dari Pati ke arah Tayu, ada pertigaan yang jika diikuti ke kiri maka sampai Tayu, sedangkan rumah orang tua Pak Wiyono ke kanan. Belokan ini tajam, berbahaya, jika dari arah Pati ke jalan menuju rumah orang tua Pak wiyono, pandangan ke kiri tertutup. Sekitar setengah kilometer dari jalan raya ini, sampai di rumah Pak Wiyono.

Ayo bangkit!

24 April 2007

Kejadian Senin 23 April 2007

Pagi ini akau datang ke ruang kelas sekitar jam 07 (sengaja, nggak berani nulis jam 7), dengan penuh semangat seperti biasanya dua meja itu akan ditaruh pas di tengah dan saya tidak suka jika kedua meja ditaruh di tengah, karena jika aku duduk di tengah maka pasti banyak mahasiswa yang aku petengi (tertutup oleh badanku), maka satu meja yang biasanya meja yang diisi over head projector aku geser ke sebelah kanan, dan mahasiswa itu dengan cekatan membantu menggeser, namun apakah karena terlalu semangat atau karena lantai licin, aku terjatuh, waooo, rasanya engkel kaki kiriku sakit cleeeeng, waduh… Mahasiswa yang lain pun pada teriak: ada apa, Pak? Alhamdulillah, ternyata kaki agak sakit saja, dan rasanya organ kaki masih tak ada masalah, namun ketika aku menulis ini pinggang tengah (mungkin istilah ekor) agak terasa pegal dan sakit. Ruang itu adalah A 205. Lantainya memang terlihat masih basah dan terlihat dibersihkan menggunakan obat pembersih keramik, karena nat (sambungan antar keramik) terlihat bersih.

Selesai mengajar aku ke ATM, wah, ada perubahan ATM-nya ada yang menggunakan pecahan 100ribu dan 50ribu. Aku antri di yang 100ribu karena sedikit yang antri di situ. Mahasiswi yang antri di 50ribu-an yang menghampiriku: “Pak, kenapa yang kampanye diperbolehkan di koridor gedung B, Pak? “

Aku jawab: “Sebaiknya kamu tanyakan ke BAA itu, karena penguasa gedung B kan BAA. Mengapa mereka kampanye di gedung B. Mungkin pula karena kamu nggak pernah ke SC, sehingga mereka yang kampanye mengejar gerombolan masa yang ada. Dan gerombolan masa paling banyak kan di gedung B. Wajar, toh.”

”Tapi kan menganggu kuliah, Pak?”

”Saya pikir waktu kampanye sudah disesuaikan dengan saat jam pergantian kuliah, jadi kuliah tidak terganggu. Dan lagi jika masih merasa ada ganjalan sampaikan ke BAA, tetapi jangan sendirian, sekali-kali dengan banyak orang, kalian demo: kami cinta kuliah, jangan diganggu kuliah kami. Ha ha ha ...”

Dengan munculnya Direktorat Dukungan Manajemen, sebaiknya direktorat ini membuat pemetaan dan penanggung jawab setiap ruangan atau gedung. Jangan sampai seperti gedung C lantai 1 yang sayap utara-selatan, seperti tanpa penanggung jawab, siapa yang harus mengurusi, kabel terlihat dimana-mana, plafon bolong dimana-2 terkesan kumuh dan sarang tikus. Dengan direktorat Dukman ini, juga melakukan sosialisasi siapa pemilik (penanggung jawab ruangan dan/ atau sarana yang ada). Ketika aku di BKA sebenarnya aku hanya main feeling saja, wong tidak ada pegangan tertulis, ruang lab Ooo milik jurusan. Gedung A dan B milik BAA (padahal ada IF segala), lapangan parkir milik BAU, dst.

Selamat bekerja!

Kemahasiswaan STT Telkom

Hampir tiada hari tanpa ada kegiatan kemahasiswaan di STT Telkom ini. Smeoga ini adalah sebuah kesadaran yang terus didengungkan selama ini mulai mendapat sambutan. Dengungan tadi adalah tidak cukup kuliah itu hanya sekedar megejar nilai-nilai akademik saja, kemampuan di luar itu yang amat dan sangat penting dalam pergaulan kehidupan selanjutnya dan juga saat ini, di dalam pergaulan bermasyarakat amat dan sangat penting, bahasa kerennya diistilah dengan sop sikil (softskill).

Kesadaran bahwa manusia bukan hanya dapat dilihat dari satu sisi saja, melainkan harus dilihat dari keseluruhan sisi yang ada pada diri manusia. Manusia dibekali oleh Yang Maha Membekali bukan hanya akal saja yang tergabung dalam ruhaniyah semata, namun pula ada jasmaniyah. Di golongan ruhaniyah selain akal, terdapat pula hati dan nafsu. Sedangkan jasmaniyah merupakan potensi fisik manusia, jantung, hati (fisik hati, limpha), tangan, kaki, nafas, paru-paru, dll. Dimana pada jasmaniyah menyangkut organ fisik pendengaran, dan penglihatan. Walaupun penglihatan dan pendengaran tidak hanya dalam bentuk fisik. Mengingati pula walaupun orang buta, tetap saja mereka mempunyai kemampuan untuk melihat yang salah satunya direpresentasikan dengan meraba atau mendengar. Begitupun pendengaran, walaupun tuli, manusia masih mempunyai kemampuan mendengar, baik dari gerak bibir ataupun dengan melihat gerak tubuh lawan bicaranya atau obyek yang didengarnya.

Kedua potensi tersebut mestilah diupayakan untuk terus digunakan dan dikembangkan lebih lanjut sehingga mampu optimal dalam menopang kehidupannya. Jika hanya salah satu saja yang diolah, yang dikembangkan, maka akan terjadi kepincangan-kepincangan dan akan membuat kondisi yang tidak baik pada suatu saat nanti.

Potensi ruhaniyah akal, sebagian telah diolah dan dikembangkan dalam bentuk kegiatan akademik dan penalaran. Panalaran merupakan pencarian metodologi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya, mulai dari membaca situasi hingga menemukan masalah, yang dinyatakan dalam rumusan masalah, membayangkan bagaimana masalah tertulis dengan batasan yang harus dibuat agar masalah tidak melebar kemana-mana, merumuskan solusi yang dibuat dari masalah tersebut, membuat alternatif solusi yang bisa menjawab masalah-masalah tersebut, membuat ukuran ketercapaian masalah, membuat solusi, dan mengukur kinerja solusi yang dihasilkan. Semua ini dicoba didekati dengan kemampuan-kemampuan akademik yang tertulis dalam apa yang disebut kurikulum. Perkembangan tentang definisi kurikulum mulai bukan hanya dalam bentuk daftar matakuliah. Telah berkembang kurikulum di Indonesia harus disusun dalam bentuk silabus singkat, keterkaitan antar matakuliah, matakuliah prasyarat dapat dilihat dari diagram pohon kurikulum, bahkan telah pula diminta membuat tujuan (objektif) dari kurikulum, lebih detil lagi tujuan per mata kuliah, bahkan diminta pula metode dan/ atau cara evaluasi per matakuliah. Lebih jauh lagi, diminta pula untuk membuat metode penyampaian matakuliah. Semua ini hanya mampu membentuk sebagian kecil dari potensi ruhaniyah-akal. Namun biasanya akan menyangkut jumlah waktu yang terbesar dan terberat di bangku kuliah.

Padahal patut disadari, industri ataupun wirausaha yang akan dilakoni oleh mantan mahasiswa ternyata, tidak hanya sekedar kemampuan akademik tersebut. Berbagai kasus dari alumni STT Telkom yang terpaksa diminta pindah kerja, bukan karena ketakmampuan akademik (hardskill) namun lebih dikarenakan masalah kemampuan sosialisasi, masalah kemampuan komunikasi, masalah kemampuan kerjasama dengan orang lain, masalah kemampuan berdaptasi, dll (yang cenderung tak mampu dibangun/ dikembangkan di bangku kuliah yang cenderung statis). Kemampuan-kemampuan ini kemudian diberi nama softskill sebagai komplemen dari hardskill (akademik).

Hardskill dan softskill saling komplemen untuk saling melengkapi, kemampuan yang satu tak mampu dipisahkan dari kemampuan yang satunya lagi. Karenanya tidak boleh mahasiswa mempunyai hanya satu kecenderungan saja.

Masalahnya softskill, lebih merupakan skill (kemampuan) bukan dalam makna wawasan, pengetahuan (knowldge), tetapi berupa tindakan, dan kegiatan. Softskill dikelompokkan oleh Pak Iwan (Dir. PAK Dikti) menjadi tiga kelompok, yaitu: leadership, communication skill, dan lifeskill (kemampuan berdaya tahan terhadap segala kemungkinan lingkungan yang dihadapinya). Masalah kemudian timbul, bagaimana men-deploy kemampuan yang bersifat lunak ini dalam kancah kehidupan mahasiswa. Salah satunya sebenarnya dengan memberikan pengertian tentang pentingnya kegiatan kemahasiswaan, dan memberikan reward and punishment terhadap mahasiswa yang melakukan dan/ atau tak melakukan kegiatan kemahasiswaan. Tentunya pula kegiatan kemahasiswaan ini jangan hanya sekedar didikte oleh para pejabat kampus, namun pejabat kampus lebih banyak memberikan arahan, dan menjamin kesopanan dan bertutur dan bertindak.

Hari Senin, 23 April 2007 aku tersenyum melihat halaman gedung I, yang terkenal diubah wajahnya oleh Kopma STT Telkom menjadi BIP (saya tidak tahu apa singkatan dari BIP, mungkin nama ini terinspirasi sebagai Bandung Indah Plasa-nya STT Telkom) di situ berbagai macam kegiatan bisnis dan sosial versi mahasiswa diadakan. Tiang-tiang koridor yang sudah kusam dilapisi dengan kertas warna-warni sungguh meanrik hati. Inilah mahasiswa STT Telkom! Hari ini, Selasa 24 April 2007 saya lebih tersenyum lagi. BIP lebih semarak. Inilah mahasiswa STT Telkom! Dengan segala kemampuannya mereka mengerahkan segala daya dan upaya untuk keberhasilan kegiatannya.

Saya ingat, bagaimana pejabat kampus tunduk pada kemampuan mahasiswa melakukan negoisasi dengan paksa, dan ketundukkan ini mengakibatkan keluarnya dana yang begitu dan amat besar bagi suatu kegiatan mahasiswa. Luar biasa mereka!

Mahasiswa penuh dengan kreatifitas dan kemampuan yang luar biasa! Mereka mampu menyelenggarakan kegiatan yang jika dilakukan oleh dosennya akan memakan biaya jauh dan amat jauh lebih besar, namun jika mahasiswa yang menyelenggarakan sungguh cukup 5jutaan, dan kegiatan itu berlangsung dengan baik.

Dan pejabat itu tunduk dengan tekanan kata-kata dari mahasiswa: Lho ini kan demi nama STT Telkom. Saya tersenyum kembali. Inilah mahasiswa STT Telkom, kreatif, inovatif, dan lihatlah setiap hari tiada kata, kecuali mahasiswa STT Telkom penuh dengan kegiatan kemahasiswaan.

Selamat bagi mahasiswa STT Telkom! Maju terus pantang mundur!
Perjuangan? Tiada kata henti, kecuali mati!

23 April 2007

Reshuffle

Hari-hari ini begitu ramai perbincangan akan adanya reshuffle kabinet. Tak tanggung-tanggung para politisi senior, Amien Rais, Try Sutrisno, Megawati, dll angkat bicara. Bahkan partai pun ikutan nimbrung dengan mengadakan konsultasi nasional. Luar biasa gaungnya.

Beberapa menteri oleh media massa dicalonkan untuk diganti. Ada yang karena sakit-sakitan, ada yang terkena kasus uang Tommy Suharto, ada yang diindikasikan kena kasus KPU, juga ada yang terkena kasus korupsi, dan yang banyak menimbulkan polemik adalah berkinerja tidak baik.

Tentang kasus uang Tommy Suharto, aku kurang paham bagaimana asal muasalnya, yang juga melibatkan Wapres Yusuf Kalla, sempat juga berkomentar bahwa penduduk Indonesia jangan kaget, Indonesia akan kemasukan dana yang amat besar, namun bukan hasil korupsi, sungguh luar biasa kasus ini.

Nama-nama pengganti pun sudah pula beredar luas. Si A digeser dari menteri yang banyak menangani keuangan ke mentri yang banyak menangani masalah sosial, dst.

Guliran ini pun menuai kemampuan Presiden untuk menjawabnya, beliau menjawab dalam satu hari sampai dua kali, ketika panen durian dan ketika sebelum sholat Jum'at. Yang akhirnya dikatakan oleh beliau: "Akan diputuskan pada awal bulan Mei"

Semua tiba-tiba terdiam, sambil menunggu-nunggu apa yang akan terjadi.

Semoga reshuffle ini membawa angin yang bagi Indonesia, yang terus menerus ditimpa berbagai macam masalah. Lumpur Lapindo yang tak kunjung selesai, dan akhirnya agak terdiam setelah diberikan 20%, bencana transportasi yang silih berganti, bahkan Sabtu kemarin sekaligus dua kecelakaan kereta api terjadi, sekarang di Bandung mulai banyak kabut pada hari yang cenderung membuat masalah, pesawat terbang yang mengalami berbagai macam kecelakaan, jatuh, tidak bisa terbang, mendarat darurat, dll, juga ada masalah yang juga bergantian tempatnya, yaitu banjir dan tanah longsor.

Di bidang penanganan hubungan luar negeri pun pemerintah cenderung memusuhi rakyatnya sendiri, bayangkan di satu sisi membutuhkan pembangkit listrik tenaga nuklir yang terkenal murah, namun memberikan persetujuan agar Iran dikenai sanksi karena mengembangkan nuklir untuk tujuan damai. Di sisi yang lain, masyarakat Indonesia masih alergi dengan Israel yang terkenal dengan pembantaian etnis dirinya saat Nazi, padahal banyak fakta yang menyatakan bahwa pembunuhan itu hanya karangan orang Yahudi, tetapi dengan relahati pemerintah menyetujui kunjungan Israel ke Indonesia.

Walaupun aku pesimis, mungkinkah Indonesia mampu bangkit dari keterpurukan yang terus terjadi? Dengan melakukan reshuffle kabinet?

20 April 2007

I, Me and My Self..Silvi_lho: Everything is Thinking

I, Me and My Self..Silvi_lho: Everything is ThinkingTidak cukup hanya berfikir, hidup harus dijalani dalam makna benar-benar dilakoni. Hanya berfikir saja akan tidak membuat badan sehat, malah membuat badan gemuk tidak karuan, yang berarti sakit.

Pemikir itu penting tetapi lebih penting lagi adalah menggunakan seluruh sarana dan prasarana, potensi internal yang dimiliki manusia pemberian Yang Maha Memberi dengan sebaik-baiknya sehingga hijab (penutup) matahati dapat terbuka, sehingga nampaklah kebenaran itu mesti masih terlihat kecil (karena kondisi).

Ayo gunakan seluruh potensi yang telah diberikan! Jangan hanya mikir doang! Nanti jangan-jangan hanya jadi pejuang dalam pikiran, padahal Rasulullah pun bergerak, bertindak, berucap, berfikir, dst untuk mewujudkan dan melaksanakan Islam dengan sesungguh-sungguhnya.

Bangun!

gelisah

Beberapa saat yang lalu, aku ada ide untuk menulis, namun begitu masuk ruangan aku sudah lupa apa yang akan aku tulis. Inilah aku yang terkadang terasa belum mampu menguasai diri untuk tidak terpengaruh oleh lingkungan.

Namun usaha untuk melakukannya aku usahakan pula, salah satunya dengan menulis ini, walaupun nggak jelas arahnya, karena memang sedang belum ketemu apa yang sebenarnya ingin aku tulis. Dengan menulis sembarangan yang demikian ini, aku berharap ingat kembali apa ide yang tadi.

Dengan menulis pula aku berharap resah gelisah yang menghantui diriku dapat diselesaikan dengan baik. Bagaimana tidak gelisah jika aku mempunyai ide namun hilang entah kemana? Jadi aku tulsi saja apa yang ada di benakku sekarang ini, tidak perlu menunggu kembalinya pikiran dan gambaran ide.

Kadangkala di benakku terngiang untuk menulis TNK (Trnaskrip Nilai Kemahasiswaan), namun segera lenyap dan muncul yang lainnya: Jambore IT, atau sebuah yang ringan-ringan saja (tulislah apa yang dikepala saat ini). Oh, betapa sulitnya mengingat-ingat, apakah ini hanya karena faktor usia ataukah karena ada kegelisahan yang belum terjawab?

Sewaktu mendengarkan khotabah Jum'at tadi aku sempat melalang buana ke pemikiran tentang apa yang disampaikan khotib, mau menambahi apa yang disampaikannya, tetapi apa ya... yang tadi aku pikirkan? Apa yang aku sempat munculkan di benakku? Oh... apa... Begitu mudahnya aku lupa, begitu mudahnya aku tak mampu menyatukan pengalaman-pengalaman yang ada pada diriku, apakah pengalaman batin maupun pengalaman fisik, terus dan terus mampu mengutarakan apa yang mampu aku utarakan, jangan berhenti untuk menulis, jangan berhenti untuk berujar. Karena dengan begitu diharapkan memunculkan jatidiri dan mampu melenyapkan kekisruhan diri.

Apa ya .... Ya, Allah, betapa lemahnya diriku, pandaikanlah aku memahami diriku...

17 April 2007

Sepi

Hari ini, Selasa 17 April 2007, bagiku terasa sepi.
Blog ini pun tak banyak lagi yang memberi komentar.
Entahlah aku juga merasa sepi.
Aku coba untuk mengoreksi UTS mahasiswa, namun rasanya kurang semangat.
Semoga besok hari aku bisa semangat kembali sebagaimana pada hari-hari sebelum aku ke Semarang yang dengan penuh semangat, menyelesaikan koreksian hanya dalam waktu satu hari. Sungguh saat itu luar biasa semangatnya.
Namun semenjak aku menerima berkas ujian ini kok terasa aneh, memang sih banyak kecewa.
Yang pertama, aku kecewa bahwa di berkas jawaban ternyata tidak ada soal, akibatnya aku harus pontang panting mendapatkannya. Karena di ruanganku belum ada printer yang memadai, terpaksa harus ngeprint di tempat lain. Di admin ternyata tidak punya flash disk. Ya aku tambah bingung, aku mau pakai flash diskku kok terasa sayang, karena PC di admin sudah pasti banyak virus. Akhirnya semangat untuk mengeprint kembali timbul ketika aku ke meja Jondri ada printer BC 265SP, namun walaupun sudah dipasang konverter USB tetap saja tak dapat digunakan, kemungkinan konverternya tidak benar. Saya ke admin barangkali ada printer yang dapat dipinjam, nah, Bu Endah kemudian menjanjikan mendapat printer baru, namun kemudian berubah Danang bersedia menukar printer yang ada di dia untuk aku bawa. Senang aku. Tetapi drivernya nggak ketemu-ketemu. Aku down load. Berhasil di down load. Namun setiap kali di-install selalu juga error ada dll yang nggak kebaca. Nasib... Bu Endah pun menjanjikan sudah besok (Selasa hari ini) saya bawakan dari rumah. Nah, jadi hari ini aku dapat drivernya. Namun tetap saja error. Jengkel ... deh! Akhirnya aku bisa ngeprint karena ada CD kosong yang bisa aku pakai untuk menyimpan file soal. Berhasil diprint. Tetapi rasanya sudah kadung mangkel. Jadi ngoreksinya juga agak malas.

Srikaton yang memang sudah langganan untuk mengurusi printer ini, akhirnya datang dan mengatakan ini adalah printernya yang rusak. Jadi ketidakbisaan install ternyata dari situ.

Yah, aku mau mengajar saja...

09 April 2007

Kuda

Menunjukkan kegagahan dan kejantanan, itulah kuda.
Dengan kulit yang berwarna coklat tua dan penuh pesona, itulah kuda.
Tak sengaja aku searching di google dan mendapatkan gambar kuda.
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Bandung Timur

Hari ini aku berangkat seperti biasa sekitar jam 6 pagi karena harus mengantar anak ke sekolah terlebih dahulu. Mungkin terlalu pagi bagi sementara orang, namun jika dilihat dari ramainya arus lalu lintas, tentunya tidak terlalu pagi.

Sepeda motor telah begitu banyak memenuhi jalanan jalan raya Ujung Berung yang termasuk jalan besar karena menghubungkan antara Cicaheum dan Cibiru, termasuk jalan arteri, banyak penduduk yang berasal dari daerah Timur Bandung menuju ke tengah kota. Jalanan terasa istimewa, karena penuh dengan perkembangan yang menarik, katanya Bandung pun akan bergeser ke Timur, bukan ke Barat.

Isu tersebut pun sudah terdengar lebih nyaring, sebuah pengembang perumahan di daerah Barat Bandung ternyata mengalami paceklik, padahal dari sisi fasilitas perumahan, sungguh amat menakjubkan sekolahan dari TK, SD, SMP bahkan SMA sudah didirikan, bahkan rumah sakit pun sudah pula berdiri, pusat riset (dalam makna untuk membantu pelajar melihat fenomena alam) ada pula, jam matahari yang berukuran amat besar sudah dipasang, namun tingkat penjualan ternyata amat seret. Bahkan penghuni yang sudah membeli pun harus menjual kembali rumahnya, namun ya itu tadi ternyata pembelinya tidak ada. Sehingga menumpuk data penjualan rumah.

Di daerah Gede Bage sekarang sedang ramai jual beli tanah mengingati pergeseran pertumbuhan kota Bandung ini. Memang dari sisi perkembangan jalan tol agak memalukan pula Bandung membangunnya. Bayangkan saja diantara jalan Pasirkoja hingga Buah Batu begitu banyak tol gate, namun diantara Buah Batu dan Cileunyi tak ada satupun tol gate-nya, berapa kilometer jalan tersebut. Isu memang telah diedarkan bahwa di sekitar Gede Bage akan dibangun tol gate, jika hal ini dilaksanakan dapat dipastikan harga tanah di sekitarnya akan lebih menjulang lagi.

Ya... inilah gonta gantinya jaman...

30 March 2007

Ucapan Terima kasih

Kamis 29 Maret 2007 jam 18:12 saya ditelpon oleh Bapak Adiwijaya, saya masih dalam perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta dan saat itu sudah memasuki tol bandara. Saya tidak terkejut karena sebelumnya sudah diberitahu oleh Bu Rahma untuk menyiapkan memorandum serah terima Ka. BKA, memang tidak secara jelas beliau (Bu Rahma) memberitahu, namun isu yang beredar dan hasil asessment yang beredar secara sembunyi-sembunyi, saya ada sedikit keyakinan bahwa hal ini akan terjadi, walaupun rekan saya yang sangat baik dan manis, Ibu Lita, memberikan berbagai argumen bahwa hal itu tidak mungkin. Bagiku semua itu adalah takdir dan ketentuan Ilahi Rabbi. Jabatan adalah amanah. Dan saya digantikan oleh mantan Kaur Kesejahteraan Mahasiswa dan Alumni, Ibu Endang Budiasih.

Kepada Pimpinan STT Telkom, baik masa kepemimpinan Pak Harsono, dan Pak Husni. Terima kasih atas bimbingannya, terima kasih atas segala petunjuknya.

Kepada Pak Harsono terima kasih atas kepercayaannya, walaupun saya ragu untuk melaksanakan amanah ini, namun Bapak tetap mempercayakan kepada saya. Terima kasih.

Kepada Pak Husni mohon maaf atas segala kesalahan yang telah saya perbuat, apalagi di masa awal kepemimpinan Bapak, sempat membuat pusing dan pemikiran yang cukup panjang dengan tulisan saya, yaitu: Perusahaan A dan Perusahaan B. Sekali lagi mohon maaf. Semoga apa yang telah dilakukan bermanfaat.

Ketakmampuan sayalah yang menyebabkan beredarnya sms yang bernada tidak enak dari para mahasiswa, kasar dan berkesan bukan dari gaya mahasiswa. Seandainya saya mampu mengendalikan diri dan mengatur kata-kata, tentunya sms yang demikian tidak terjadi. Sekali lagi mohon maaf.

Kepada Pak Imam Harjono, terima kasih atas kesabaran Bapak membimbing dan mengarahkan saya. Begitupun saya mohon maaf atas segala kekurangan saya. Masih ingat dibenak saya, di awal saya masuk BKA, nyaris seminggu saya tidak di BKA, karena masih harus sibuk mengajar dan menyesuaikan jadwal yang cukup padat untuk mengajar. Dan seterusnya pun masih sering begitu, karena penyakit asam urat (ah... ini mah lebih banyak karena ogoh). Sungguh semangat Bapak untuk mengubah paradigma cara berfikir kehidupan Perguruan Tinggi telah menjadi ide di sebagian perguruan tinggi lain: “Perguruan Tinggi harus dimenej dengan baik, harus profesional, dan diatur sebagaimana sebuah industri. Keuntungan bukanlah harus dihindari, harus diupayakan, harus diusahakan. Sepanjang keuntungan bukan untuk pemilik saham, namun digulirkan dalam bentuk penambahan fasilitas dan kemampuan organisasi dalam membentuk jati diri Perguruan Tinggi”. Sesuai dengan keinginan Bapak agar saya menyelesaikan proposal Jambore IT, dan begitupun pemberlakuan TNK, insya Allah ini adalah tetap menjadi tanggung jawab, saya tidak akan berlepas diri, tekad ini laksana yang dulu pernah pula aku sampaikan ke Pak Husni (saat beliau menjadi Puket 2), ketika beliau menanyakan status kuliah S2, maka saya tulis jawaban via e-mail: saya akan memperjuangkannya bahkan sampai mati sekalipun.

Kepada Pak Hendratno, terima kasih atas penerimaan yang baik, atas ide-ide yang saya sampaikan langsung ke Bapak dan terima kasih pula sarannya. Sungguh STT Telkom membutuhkan tenaga administrasi dan standard administrasi yang baik. Karenanya para pejabat mestinya dibekali dengan kemampuan, sebagaimana di PNS maupun di Telkom adalah Susmin (Kursus Administrasi), Suskeu (Kursus Administrasi Keuangan), dan Suspim (Kursus Pimpinan), dan seterusnya yang memberi bekal bagi mereka supaya tidak terkena disclaimer jika diaudit. Dan sungguh pula sarana dan prasarana kemahasiswaan masih sangat kurang. Jika Bapak mengingatkan kepada saya agar mengurangi kekumuhan di SC, maka sungguh pula masalahnya adalah karena kekurangan ruangan, mestinya ada gudang yang dapat menyimpan inventaris UKM yang berbentuk besar dan panjang, mereka akan sayang membuang bambu yang bisa digunakan untuk background acara. Karenanya ide untuk membangun lapangan serbaguna (dulu adalah lapangan futsal) amat dan sangat diperlukan. Ada sekitar 46 organisasi mahasiswa, sedangkan SC hanya berisi 26 ruang saja, kemana yang 20 lagi? Dan tahun 2006 ada kegiatan mahasiswa sebanyak 303 kegiatan. Bandingkan dengan sarana kurikuler (ruang kelas, lab., dll) yang anggaran operasionalnya per departemen nyaris atau bahkan memang menembus angka 10M lebih (perkiraan saya: 2M x 5 unit yang mengurusnya). Dan lagi sudah ada investor yang berminat, mengapa tidak segera ditindaklanjuti?

Kepada Pak Rendy, terima kasih atas bantuan dan pengertiannya, sehingga ide saya walaupun belum dilaksanakan namun telah Bapak terima. Yaitu tentang penilaian kegiatan mahasiswa (TNK) dan juga waktu khusus untuk kegiatan mahasiswa, yaitu dikosongkannya seluruh aktiftas kurikuler. Kasihan unit yang mengurusi kemahasiswaan, jika tidak ada waktu yang demikian ini, mereka harus bersedia bekerja 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu, anak-suami/istri mereka bagaimana?

Kepada seluruh teman-teman dosen dan karyawan yang lain, saya mohon maaf atas segala keisengan saya dan segala beban yang minta ditanggung bersama. Terima kasih kepada Pak Jangkung selaku Pembina UKM Djawa, Bapak telah berkenan hadir dalam pagelaran UKM Djawa, namun kok tidak sampai selesai sih... Begitupun kepada Bapak Ary Murti yang telah menyisihkan waktunya untuk menghidupkan robotic club, walaupun sampai saat ini belum mampu menembus sampai laga final. Pak Kemas yang masih muda dan energik, energi anda begitu besar sayang jika hanya digunakan untuk memikirkan dunia saja, peran anda telah nyata, programming club telah menunjukkan batang hidungnya, ayo lebih maju lagi !!! Ms Flo and Ms Retno, SEC go to internationally award!

Begitupun kepada para Ketua Departemen dan Ketua Prodi terima kasih segala bantuannya, semoga pemahaman yang semakin baik, bahwa manusia tidak hidup hanya dalam satu sisi, memberi perubahan wacana kurikulum yang lebih komprehensif dan mendalam.

Kepada para Staff BKA, Bu Lita yang manis, yang penuh ide untuk mengarahkan dan mengembangkan kemampuan kemahasiswaan STT Telkom, terima kasih atas bantuannya atas ide-ide cemerlangnya. Kita harus sabar, kita harus mampu membedakan mana yang dapat kita kerjakan dan mana yang hanya dapat dipikirkan dan wacanakan saja, dengan penyebaran kuisioner pekerjaan konseling semakin banyak, namun ruangan untuk konseling yang memang butuh ruang khusus, mosok menangis di depan banyak orang, mosok menguraikan masalah yang amat pribadi di depan banyak orang, semoga ruangan konseling bisa segera didapatkan.

Kepada Pak Adiwijaya terima kasih atas ide-ide cemerlang untuk menggerakkan seluruh staff bekerja bersama dalam menghadapi tingginya aktifitas di BKA. Selamat membuat proposal S3.

Kepada Pak Hari nu terlihat semakin matang, sepuh, terima kasih telah setia mendampingi para pejabat kemahasiswaan Kopertis sehingga beasiswa yang disalurkan melalui Kopertis semakin bertambah banyak, dan kita pun dapat semakin akrab dengan Kopertis. Pertandingan badminton dengan mereka mungkin lebih dipersering.

Pak Tatang yang masih muda, yang dengan keajegan kehadiran, tak terpengaruh oleh yang lain, tetap hadir sebelumnya jam 9.00 dan pulang setelah jam 16.30. Sungguh luar biasa konsistensi Pak Tatang, terima kasih atas segala bantuan pendataan kemahasiswaan sehingga saat awal tahun 2007 kita bisa mendapatkan data bahwa ada 303 kegiatan mahasiswa pada tahun 2006, dan hanya sekitar 100juta rupiah (di luar kegiatan yang dikomandani oleh BEM yaitu PDKT, LDKO, LDKO Lanjut, dan Kunjungan Industri) yang BKA keluarkan untuk membantu mahasiswa melakukan kegiatan tersebut (inilah kehebatan mahasiswa, dana sedikit tak jadi masalah, tetap melangkah dan sukses!) Terima kasih, anda adalah pegawai teladan. Asahlah terus kemampuan administrasi Pak Tatang, insya Allah, kemampuan Pak Tatang amat dibutuhkan STT Telkom, apalagi kemarin (Kamis 29 Maret 2007) Direktur P2M mengatakan bahwa kegiatan PKM pun akan dilakukan audit, perhatikan tanggal-tanggal penandatanganan, perhatikan arsip-arsip yang harus ada: surat-surat dari Dikti, pengumuman-pengumuman yang telag kita lakukan, lokakarya penulisan dengan mahasiswa, lokakarya dengan dosen, proposal PKM, laporan kegiatan pelaksanaan PKM, laporan keuangan, foto-foto kegiatan PKM, dll. Harus didokumentasikan dengan sebaik-baiknya. Selamat, Pak Tatang! O, ya, kapan menikah? (Saran: jangan buru-buru kalau memang belum matang)

Untuk Bu Nunu, sungguh Bu Nunu mempunyai kemampuan yang luar biasa, yang tidak biasa dibanding orang lain, jika Bu Nunu mau mengerjakannya yang berarti mengembangkan kemampuan diri, sungguh Bu Nunu akan lebih maju lagi. Saya dengar Bu Nunu mengajukan diri untuk kuliah lanjut, silakan Bu Nunu, bagus itu dilakukan. Terima kasih atas bantuannya. Kesalahan yang lalu, biarlah berlalu, yang penting di depan harus lebih baik lagi. Lupakanlah kesalahan itu, jangan diulangi.

Kepada Bapak Ruhiyat terima kasih telah menyediakan sarana olah raga bagi karyawan, yaitu badminton, dan saat ini pun kegiatan olah raga ini semakin banyak penggemarnya, sampai harus nunggu dua pertandingan baru bisa makin. Nuhun, Pak Ruhiyat. Saran saya: kalau fotocopi jangan terlalu lama, dan tidak diperlu ditungguin di tempat fotocopy, kecuali yang di fotocopy hanya sedikit saja.

Bu Oneng, bagaimanapun mahasiswi suka dengan Bu Oneng yang dengan gaya Sundanya membuat mahasiswi sebagian besar masih betah di asrama putri. Asrama yang baru akan membutuhkan sentuhan Bu Oneng dengan lebih baik lagi, asrama lebih baru bangunannya dan lebih bagus tata letaknya. Bu Oneng harus lebih rajin lagi olah raga.

Para mahasiswa STT Telkom, terutama yang telah bergabung dalam kepengurusan organisasi mahasiswa, terima kasih atas peran sertanya, sungguh tanpa keaktifan saudara, organisasi mahasiswa tidak akan semarak dan tidak akan bertambah banyak, prediksi saya saat ini ada sekitar 46 organisasi mahasiswa, baik yang telah mempunyai sekretariat di SC dan GSG, maupun yang tidak mempunyai sekretariat. Lahan ini memang untuk mengembangkan kemampuan anda. Jadi jangan sungkan untuk terus berkembang dan berusaha dengan sekuat tenaga. Aktifitas yang kreatif harus terus dikembangkan dan distrukturkan. Majulah mahasiswa STT Telkom! Dukunglah pengawakan yang baru, terus bantu mereka sehingga anda sendiri, teman-teman anda mampu meningkatkan kemampuan dan wawasan anda.

Para Alumni yang telah bersedia meluangkan waktu untuk mengurusnya teman-teman, terima kasih. Kekuatan alumni STT Telkom sungguh luar biasa, kemampuannya yang tinggi di bidang ICT tentunya memberi warna tersendiri kancah kehidupan di bumi Indonesia ini. Aktifitas harus segera dijalankan. Program kan sudah tersusun. Tentang sekretariat Pak Wakil Ketua Bidang Administrasi Umum telah bersedia mempersiapkan ruangan untuk sekretariat, tempat diskusi dan mengembangkan jalur networking diantara para alumni. Ayolah, alumni pasti bisa! Terima kasih atas kesempatan yang telah diluangkan.

IOM. Organisasi ini masih terasa baru di STT Telkom, padahal sejak awal berdiri STT Telkom pun organisasi ini sudah ada, aktifitas yang kurang terarah menyebabkan IOM kurang dikenal di kalangan mahasiswa maupun orang tua. Pak Gultom terima kasih telah bersedia menerima amanah ini. Terima kasih atas bantuannya.

Ke depan saya pribadi akan membantu mengurus berdirinya Prodi Matematika dan Fisika telah tahunan sejak STT Telkom mencanangkan akan mendirikan kedua prodi ini, memang belum tergarap dengan baik, namun saat ini telah ada tim yang bersedia mengurus untuk mewujudkannya. Dengan kedua prodi ini diharapkan riset di STT Telkom tidak lagi hanya sekedar mengaplikasikan teknologi yang ada, namun lebih jauh lagi dapat mengembangkan teknologi yang lebih baru. Begitupun riset-riset di ilmu dasar dapat berkembang lebih baik lagi. Selain itu, kemampuan berbahasa Inggris yang masih rendah harus ditingkatkan dan dikejar ketertinggalannya, insya Allah dengan tekad yang kuat dan bantuan rekan-rekan saya mampu mencapainya. Tambahan lagi, telah tercanangkan bahwa tahun 2008 saya harus mulai kuliah lagi, insya Allah, saya akan mempersiapkannya dengan baik.

Kemungkinan pengawakan di bagian ini, akan mempertemukan dua orang yang dulu pernah di bagian ini (yaitu Ibu Endang Budiasih) dan Ibu mantan kaur Minat dan Bakat (yaitu Ibu Litasari) kepemimpinan dua orang ini yang telah mempunyai pengalaman yang cukup banyak beraktifitas dengan mahasiswa akan menyebabkan lancarnya segala urusan dan meningkatnya aktifitas kemahasiswaan dan turunannya. Mari kita dukung bersama, sehingga prestasi, torehan kemampuan mahasiswa dapat semakin meningkat dan sesuai dengan cita-cita bersama, tidak hanya mengurusi dari sisi akademis saja, melainkan melibatkan pula kemampuan di luar akademis (bahasa kerennya: Softskill, eh... sop sikil)

Sekali lagi terima kasih atas segala bantuan, baik moril, waktu, tenaga, pemikiran dll sehingga tugas saya di BKA dapat berlangsung dengan baik. Terima kasih kepada semua pihak yang tak mampu saya sebutkan satu per satu.
Terima kasih.
Hatur nuhun.
Matur nuwun.
Thank you.
Ari gato.
Syukron.

Bandung, 30 Maret 2007


Drs. Mahmud ‘Imrona, MT
Teriring pula ucapan terima kasih dan permohonan maaf atas kesalahan-kesalahan Suamiku dan Bapakku:
1. Dini Handayani, ST (istri)
2. Fathiyyah Nur Azizah (anak pertama)
3. Nashir Idzharul Huda (anak kedua)
4 Ahshonat Izzatul Haq (anak ketiga)
5. Ilmi Diena Aliya (anak keempat)
6. Ayyida Aini Rahmah (anak kelima)
7. Umar Al Faruq (anak ketujuh)

16 March 2007

Perjalanan Ke Banjarmasin

Tanggal 19 Februari 2007 kami berempat (IMH, MHD, ADW, dan putra IMH) naik Lion Air menuju Banjarmasin untuk studi banding tentang kemahasiswaan, dengan harga tiket Rp320.000,-

Rencana balik, karena banyak kegiatan, Selasa, 20 Februari 2007, jam 18.00, dengan harga Rp290rb. Untuk penginapan kita menginap di Hotel Rattan In: Rp 471rb,-.

Rencana pertemuan di Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat pada Selasa jam 9.00.

Tanggal 19 Februari 2007 perjalanan darat terasa begitu mencekam, karena ada info
Jakarta banjir kembali, kuatir jalan tol menuju bandara Soekrano-Hatta juga kebanjiran.

Ternyata jalan tol tidak banjir, yang berakibat kita sampai sekitar jam 13, nunggu cukup lama untuk bisa check in, waktu yg tertulis di tiket 15.40, namun pesawat berangkat jam 15.10 tepat waktu, yg berbeda hanya ditulisannya.

Pesawat yang kami naiki adalah Boeing MD90, tempat duduk di 25F tepat di sayap

Cuaca di atas ternyata cukup kurang bersahabat, hujan sempat terjadi beberapa saat menjelang take off.

Namun menjelang turun, suara air hujan mendera atap seeessss, pesawat turun dan berbelok ke kiri kemudian ke kanan. Bunyi roda telah diturunkan. Terasa pesawat tidak turun2. Awan terlihat sudah di atas pesawat. Rumah2, sawah terlihat. Dan run way. Roda menyentuh daratan. Rem bercuitan, kaca2 buram oleh air hujan, hujan deras. Alhamdulillah selamat. 18.12 Sjamsudin Nur.

Fakutas kedokteran Unlam mempunyai mahasiswa sebanyak 400 akademik + 200 koas

PD 3 Fak Kedokteran Unlam: Bapak Eko Suhartono.
========================
PR3 Unlam Bapak Sofyan menyempatkan diri hadir dan memberikan sambutan:

Fak Kedokteran berdiri sejak tahun 1990. Kegiatan kemahasiswaaan yg diselenggarakan secara terjadwal dari Dikti: PKM, LKTM, LKTM InTim

Di Kupang dalam rangka LKTM Indonesia Timur (Intim) maju dua finalis dari Unlam, yaitu: Kesehatan, Ekonomi. Dan untuk kesehatan menang juara 1.

Untuk Pimnas 2007: 24 judul lolos tahap pertama

Kegiatan mahasiswa diletakkan di fakultas, karena sumber kekuatan di fak. bukan di Universitas.

Ada fak lain yang belum ada respon, yg aktif eksata dan kedokteran. Fesiminas (Festival Seni Mahasiswa Nasional) 2tahun sekali. Pomnas tahun 2007 di Banjarmasin
UKM di bawah Universitas: Menwa, Palang Merah, Pramuka.

UKM di fak minimal spt Univ + yg lain

Dana terbatas tidak menjadi penghenti kegiatan, harus diakali per fakultas hanya 15 juta Rp, itupun dibagi dua, yaitu yang diselenggarakan secara langsung oleh mahasiswa dan yang diadakan oleh pihak Fakultas (misal: workshop proposal Pimnas).

Kemungkinan ada kunjungan balik ke STT Telkom.

Secara resmi PR3 Unlam acara studi banding ini.
==================


Puket 3 STT Telkom:
Menyambut dengan memperkenalkan diri: S1 TE, S1TK, S1 TI, S1IF, D3TE, D3IF, S2TE, S1 TT= 8 prodi.

Apakah perlu fak kedokteran belajar database? Mereka minta membuat perangkat lunak utk melakukan kegiatan spt apa dokter tsb.

Oleh-oleh dari Balikpapan: sekolah dianggap sudah jalan, jika sudah menerapkan copy
paste, kreatifitas tidak ditekankan, kegiatan kemahasiswaan dianggap terpinggirkan (suplemen saja).

Terima kasih kpd PR3. Semoga silaturahmi ini bisa berlanjut. Kami mengundang PR3 dan PD3 ke STT Telkom.

==========

Eko Suhartono, Fak Ked memberikan presentasi, bahwa di Fakultas Kedokteran terdapat:

TPKM yang diawaki oleh: Bambang Setiawan, SKed, Meitria Syahadatina Noor

Satu angkatan pertama 40 mhs, kemudian meningkat menjadi 80mhs

SKKM (Sistem Kredit Kegiatan Mahasiswa) mulai dari ITS, dinilai oleh PD3 dan dikoordinator

==> kegiatan kemahasiswaan membuat penilaian berbahaya, karena kemungkinan meninggalkan kuliah besar sekali, karena itu menggunakan jatah waktu 20% dari telah ditentukan.

Ide dasar SKKM kegiatan kemahasiswaan mandek, bahkan sempat tidak ada calon Presiden Mahasiswa.

Kurikulum baru ada yg berbicara ttg leardership dan kewirausahaan

Format SKKM:

Tri Darma (50%) dan Organisasi Mahasiswa (50%)

Juara Lomba Kompetisi dimasukkan menjadi TA 1 dan jika menang TA 2

Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia oleh LIPI bulan Juli, mulai bulan Februari

TPKM berdiri Agustus 2006

program pendampingan: 1 dosen 2 mahasiswa

PRISMA: 2juta per proposal yg disetujui

Usaha yg sungguh2 dari Pak Eko

3-5% dari dana DIPA

10-13 juta/ semeter utk seluruh kegiatan kemhsan

8juta



utk kemahasiswaan: termasuk lokakarya
dana utk mhs: dari fakultas
IOM
Sponsor
proposal dimajukan setiap semester diadu berapa biayanya, diseleksi

Komunikasi dgn pihak yg terkait harus baik

Beasiswa

BLM (badan legislatif mahasiswa)

Periode kepengurusan selama 2 semester (1 tahun)

Utk setiap kegiatan ada sosialisasi yg intensif dan adanya SKKM

Ada aturan menteri bahwa utk kegiatan yg bersifat nasional, mahasiswa mendapat dispensasi

Ketidakhadiran menggunakan jatah 20% yg disediakan
(kehadiran minimal 80%)

Metode getok tular

Harus dilakukan adalah sosialisasi ttg pentingnya kegiatan kemahasiswaan dan juga sistem penilaian kegiatan kemahasiswaaan.

=====
Makan di kedai Batu Panai Martapura ternyata amat murah. Kami berlima dengan sopi BRI, Pak Eka namanya, makan ikan bawal bakar 5 ekor, dada ayam goreng dgn ukuran lebih besar dari biasanya, minum es campur, es teler, jus nangka, jus jeruk, jeruk hangat dan jus tomat, ditambah dengan sayur asem yang diberi santan, krupuk satu plastik isi 10 buah, ditambah lagi, kripik tempe 2 plastik, air ades dua botol
500ml, nasi dua bakul, hanya menghabiskan 80ribu rupiah, membuat kami terkaget-kaget, murah banget!

============
Balik ke Bandung

Di bandara bayar peron 30ribu, dan dipaksa beli asuransi 20ribu, jika tidak beli petugas tidak membolehkan masuk ke tempat tunggu

Kami naik pesawat Wings Air, warna merah, Boeing MD82. waktu 1 jam 30 menit. Aris Rismanto kapten pilot. Jam 18.22 pesawat bergerak pelan.18.27 mesin pesawat bergerak
mencepat dan pesawat bergerak naik, goncangan akibatt landasan yg kurang mulus terasa amat besar, pesawat meninggalkan landasan mencapai ketinggian yg diinginkan, lapisan awan tertembus, gelap rasanya goncangan2 kecil masih sering terjadi, berganti warna putih mangkak awan yg tersorot lampu pesawat menambah kengerian tersendiri. Gomcangan2 masih kadang terjadi. Kilatan2 lampu yg dipantulkan awan ataukah kilatan petir. Suara sunyi penumpang pesawat, suara2 orang yg agak kuatir, cuaca buruk, ucapnya di belakang kursiku. Alhamdulillah akhirnya pramugari mengucapkan: lampu sabuk pengaman telah dimatikan, 18:36, dan batuk2 kecil bersangkutan berkesan penumpang agak lega, betapa pesawat mampu mencapai ketinggian yg diingnkan.

Pramugari (Setyarini) pun membagikan air minum, iseng aku bertanya: "kenapa sih, mbak belahan roknya kok tinggi amat". Mbaknya pun tidak menjawab, tersenyum pun tidak.

18.45 saya sempat kencing yang memang sejak tadi ditahan dibandara untuk dikeluarkan di pesawat, masa bayar 300-an ribu kok tanpa kencing di pesawat.

Sambil menuju ke toilet aku hitung jumlah tempat duduk: 37x5 dikurangi 2x3 tempat duduk yg tersedia. Dan tempat duduk yang dekat dengan jendela darurat adalah 24 dan 25. Yg paling nyaman nomor 25.

Di toilet ada pemberitahuan jangan merokok dan jika sampai membunyikan alarm asap kena denda $2000 US berdasarkan aturan internasional.

19.16 pramugari mengambil bekas gelas minum
19.31 dari jendela di bawah terlihat titik2 lampu bahkan ada sedertan lampu, apakah kapal atau pulau seribu?

19.35 ada pengumuman dari pramugari sebentar lagi pesawat mendarat di SH Airport, pakai sabuk pengaman, melipat meja, dan mengambil sisa2 gelas. Tekanan udara lumayan menganggu telinga, beberapa kali membuka mulut untuk memecahkan tutupan telinga tersebut. Cahaya lampu ruangan dikurangi.

Pesawat sedikit bergetar menembus awan menuju tempat yang lebih rendah. Lampu perahu2 kecil bertebaran dan setinggi pesawat bergelantungan awan hitam. Cahaya lampu Jakarta
memperlihatkan pesonanya. Wusss betapa indahnya lampu berjajar dengan tatanan yang dikehendaki oleh yang menatanya.

19.45 Terasa pesawat lebih merendah dan bauran pemandangan lampu, desisi keras suara angon, derotan rem roda, dan pesawat pun berjalan pelan, menuju tempat parkir pesawat.

Jam 19.52 pesawat berhenti. Orang2 bangun dari duduk, mengambil barang, padahal pintu belum dibuka, santai aja lagi.... Antrian terhenti.
==================

Oleh-oleh paling berharga dari perjalanan ini adalah adanya SKKM yang telah dilakukan di Faklutas Kdokteran Unlam ini, dan akan kami adopsi menjadi TNK (Transkrip Nilai Kemahasiswaan) sehingga aktifitas kemahasiswaan yang cukup padat di STT Telkom dan juga amat dibutuhkan di industri akan kemampuan tersebut, menjadi berharga, tidak sia-sia. TNK ini akan membuat batasan siapa-siapa yang bisa ikut wisuda dan mendapatkan beasiswa. Semoga semakin tumbuh dan semaraklah kehidupan kemahasiswaan di STT Telkom dan industri pun mengejar alumninya...

Membangun softskill melalui Masjid

Telah lama ternyata saya tidak menulis di blog ini, padahal ada dua tulisan yang nyaris selesai ditulis. Ini salah satunya.

Softskill sudah semakin digandrungi oleh pengguna lulusan Peguruan Tinggi. Tak bisa dipungkiri para pengguna menginginkan tenaga kerja yang masuk ke industri, harus
mempunyai kemampuan lebih dari sekedar kemampuan formal di pekerjaannya.

Memang industri pasti menginginkan tenaga kerja yang bekerja harus mempunyai kemampuan teknis yang sesuai dengan bidangnya. Petugas perencana jaringan, jelas harus mampu membuat rencana jaringan. Begitupun petugas bagian pemasaran harus mempunyai kemampuan yang cukup sehingga mampu menjual produk-produk yang dihasilkan oleh industri tersebut.

Namun selain itu, pegawai harus mempunyai kemampuan untuk menyampaikan ide-ide brilian yang akan menghasilkan tambahan inovasi baru bagi terus berkembangnya industri tersebut. Kemampuan menyampaikan ide adalah kemampuan dasar teknik berkomunikasi, tak ada gunanya ide cemerlang, jika tidak mampu menyampaikannya dengan baik. Jika menyampaikannya sembarangan, misalkan dengan cara menjatuhkan ide yang lain, jelas akan membuat pemiliki ide yang dijatuhkannya akan tersinggung, sehingga akan membangun kebencian dari pegawai lain, sedangkan dalam satu perusahaan adalah satu kesatuan, jika terbangun kelompok-kelompok yang saling bersaing tentunya dapat
membuat tidak efektifnya organisasi di perusahaan tersebut.

Softskill yang diungkapkan oleh Direktur PAK pada saat Sarasehan PR/PK/PD bidang Kemahasiswaan pada PIMNAS 2006 di UMM meliputi, tiga hal, yaitu:
1. Leadership
2. Lifeskill
3. Communication skill

Kawah candradimuka mengolah ketiga hal di atas tentunya dapat dilakukan di Masjid, sebagai pusat kegiatan Ummat Islam. Masjid yang sebagaimana dicontohkan oleh Nabi
Muhammad SAW, bukan hanya sekedar menjadi tempat sholat, namun juga tempat menggembleng para kader Islam, tempat berlatih menghadapi segala permasalahan ummat, tempat mendiskusikan langkah-langkah menuju perbaikan ummat. Sehingga memang harus ada perubahan-perubahan yang mesti dilakukan di kalangan ummat Islam sendiri.

Kesan yang selama ini bahwa Masjd tertutup dari kegiatan-kegiatan yang bersifat keduniawian, haruslah digeser. Kegiatan yang bersifat keduniawian harus digeser
menjadi kegiatan keduniawian yang dapat dipertanggungjawabkan di akhirat kelak, yang artinya kegiatan dunia yang berakhir di akhirat dengan baik.

Ketundukkan yang ditunjukkan oleh orang-orang di Masjid harus dibawanya bukan hanya di Masjid saja, namun sampai keluar Masjid dalam kehidupan sehari-hari.

Masjid tidak hanya menjadi sufi-sufi yang takut dengan dunia. Namun harus mampu menghadirkan sosok-sosok pemimpin yang tahu dunia, dan dia mampu menundukkan dunia tersebut. Sehingga warna kegiatan yang bersifat keduniawian menjadi ada nuansa ukhrowi, ada nuansa menuju keselamatan di dunia dan di akhirat kelak.

Masjid tidak bisa menjadi hanya sekedar tempat bersembunyinya orang-orang yang berlari dari dunia, karena takut tertelan oleh duniawi, tetapi terperosok menjadi
orang amat takut dengan dunia, laksana dunia lebih kuat dan lebih kokoh dibanding Allah Yang Maha Besar.

Karenanya Masjid pun wajar pula mendapatkan sarana komunikasi yang memadai sehingga peran masjid yang ingin mengirimkan berbagai gaya orang untuk berkecimpung di
duniawi tak kehilangan sentuhan duniawi, tetapi tetap dalam koridor kemasjidan.

06 February 2007

Banjir Jakarta

Sengaja judulnya dibalik, mungkin dari sisi hukum MD dan DM yang diikuti oleh bahasa Indonesia akan melakukan kesalahan. Namun dengan penyangatan ini, ada yang sempat kepikiran bahwa Jakartalah yang telah membanjiri koran-koran, TV-TV, radio-radio, e-mail e-mail, dst. Semua berbicara tentang Jakarta yang ketiban banjir demikian dahsyat: 39 orang meninggal, 1 hilang, dan 1 kritis (data tadi malam tanggal 06/02/2007 dari ANTV, dihitung juga yang terkena longsor).

Banjir kali ini memang amat luar biasa: lebih lebar, lebih luas, lebih deras, dan lebih dalam.

Rasanya paling cocok Ibukota Negara dipindah ke Pulau Lain atau Kota Lain.

Ketika aku tulis dan publish tulisan ini tanggal 6 Februari 2007, malam harinya aku kaget. Tulisan ini menjadi topik yang hangat pula dibicarakan di salah satu stasiun TV Nasional. Bahkan pada acara tersebut disebut-sebut Gubernur Jabar mencalonkan Bogor sebagai ibukota.

Sebuah kenyataan pula Jakarta memiliki area yang terletak di bawah permukaan laut dengan luasan yang amat luas. Daerah sekitar Thamrin pun setiap tahun mengalami penurunan permukaan tanah. Ada juga informasi bahwa tanah Jakarta hanya memiliki ketebalan sekitar 30 meter, setelah itu bolong. Andaikan kita membuat tiang pancang, dan membenamkannya dengan pukulan bertubi-tubi, seandainya kekuatannya begitu besar sehingga mencapai kedalaman 30 meter, maka hilanglah tiang pancang tersebut.

Kacaunya tata ruang-kota dengan pelaksanaannya, membuat Jakarta pun begitu sulit dipecahkan dari masalah kemacetan. Ruang hijau yang masih tergolong amat dan sangat sedikit membuat kesulitan nafas di setiap hari.

Padahal di Indonesia masih begitu banyak tempat kosong, lihatlah Kalimantan sehamparan tanah yang begitu luas, tak ada jeda oleh rumah dan jalan. Masih mudah ditata dari awal dibanding memperbaiki Jakarta yang sudah kacau balau. Mending Ibukota dipindah ke pulau ini.

Kalau mau melihat contoh, bisa dilihat pada negara adidaya, Amerika Serikat, mereka pun pernah melakukan hal yang demikian ini, memindah ibukota yang lebih sesuai dengan peruntukkan ibukota.

Ya! Pindah saja! Susah mengurai masalah Jakarta!

02 February 2007

From Zero to Hero

Kompilasi: KOmunitas Mahasiswa PILihan ASal patI. Anggotanya ternyata memang benar-benar pilihan, hari ini Rabu 30 Januari 2007, sekembali dari SMA Negeri Juwana, kami menuju rumah salah satu anggota KOMPILASI yang bernama Heri Markoneng.

Berada di daerah Kecamatan Gembong nun di kaki Gunung Muria, dengan jarak dari Pati sekitar 10 km di jalan rayanya. Daerahnya di sekitar hutan kapuk randu, dan tegalan singkong.

Dari jalan raya nyaris menembus angka 5Km, melewati jalan aspal yang cukup sempit, hanya cukup untuk satu mobil, tidak bisa untuk papasan. Mobil dan sepeda motor masih bisa melaju bareng dengan perlahan.

Jalan yang berkelok naik turun, standard daerah pegunungan. Sesekali melewati jalan aspal yang telah terkelupas. Tanah merah terhampar, dengan aneka tanaman khas daerah tegalan, singkong, rambutan, kapuk randu, waru, tanaman pagar. Belok kanan, belok kiri, berkali-kali, naik tanjakan, turunan lembah, sungai, rimbun dan sejuk suasana udaranya. Beda rasanya dengan daerah perkotaan, yang panas, pengap.

Sempat terlontar: "Wah, ada listrik apa tidak di sini?" Ucapan ini rasanya wajar terlontar, karena jauh dari jalan raya.

Sesekali Heri Markoneng berhenti memberi petunjuk tiga mobil yang menyengaja datang ke rumahnya. "Lurus saja!" di lain waktu: "Belok kanan ya...", terus sepeda motornya beringsut menyalip para mobil. Berhenti kembali, dan memberi aba-aba: "Belok kiri!"

Jauh amat rumah Heri Markoneng ini dari jalan raya yang cukup sempit pula hanya bisa dilewat dua mobil jenis truk ukuran tanggung dengan minibus.

Akhirnya belok kanan dan masuk jalan yang hanya sedikit tertutup aspal. Mobil Patria VW pak camat (safari) yang masuk Indonesia saat Suharto menjadi Presiden dan menjelang Pemilu akan dilangsungkan (wah aku lupa tahun berapa hal itu terjadi), berderit belok kiri dan menanjak tajam, masuk ke tanah Embahnya si Heri Markoneng yang masih tanah basah, sehabis diguyur hujan.

Roda mobil bertambah tebal oleh tanah basah, menempel tanah-tanah itu.

Bapaknya Heri Markoneng keluar dan setelah bersalaman dengan beberapa mahasiswa masuk kembali. Saya bersalaman dengan Heri Markoneng, sambil dia menunjuk yang di rumah sebelah adalah kakeknya. Menuju rumah kakek Heri, aku. Bersalaman dengan kakeknya dan neneknya. Dan bergerak menuju rumah Heri Markoneng.

Bersalaman dan mencoba mengetahui nama Bapaknya Markoneng, Kusin? Aduh ... aku lupa. Betapa mudahnya aku melupakan nama seseorang padahal baru beberapa jama saja, saat aku menulis cerita ini. O... ataukah Pak Kusnin? Tak ada kepastian aku.

Pak Kusnin (sebut saja begitu) mengajar di SD sejak tahun 80-an, dan telah beberapa tahun ini memegang kelas 6. Pangkatnya sudah 4A, kata beliau sudah mentok, berdasarkan aturan kepangkatan yang beliau ketahui. Jika beliau berminat naik lagi, harus membuat tulisan, dan hal itu berat bagi beliau.

Akibat begitu mudahnya terjadi perubahan kurikulum, membuat beliau kesulitan mengikutinya. Yang baru lalu kurikulum KBK, Kurikulum Berbasis Kompetensi, namun sekarang sudah muncul kurikulum 2004, yang beliau sampai lupa nama kurikulum tersebut.

Inilah kelemahan pemerintah cq Departemen Pendidikan Nasional cq lagi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Sosialisasi kurikulum tidak begitu tersampaikan dengan baik. Apakah ada? Biasanya memang ada, namun untuk tingkat daerah diserahkan per daerah yang bersangkutan. Tanpa dimonitoring dengan baik. Tentunya sosialisasi di tingkat pusat akan baik, karena pesertanya mendapatkan honor kepergian ke pusat, dan karena sosialisasi, biasanya tidak ada post test untuk mengukur seberapa tingkat penyerapan peserta sosialisasi. Jika penyerapan berhasil dengan predikat mencukupi saja, maka sosialisasi berikutnya di tingkat daerah tidak akan mungkin mampu menyerap dalam predikat baik, pasti di bawah mencukupi. Mestinya Depdiknas memikirkan pula efek samping dari ketidakberhasilan sosialisasi ini. Sudah pasti jika sosialisasi tidak berhasil akan menyebabkan kurikulum yang disusun dengan dana teramat besar, akan menyebabkan kebingungan di tingkat teknis penyampaian materi pelajaran. Akibat selanjutnya murid yang menjadi korban.

Karenanya tingkat penyerapan kurikulum (sosialisasi) di pusat haruslah tercapai amat baik atau sangat baik. Jika belum berhasil harus diulang atau diganti pesertanya. Keberjenjangan sosialisasi memang harus dilakukan, tidak mungkin semua guru didatangkan pada satu tempat dalam satu waktu. Kebertahapan sosialisasi kurikulum, dimulai dari Pusat, daerah tingkat 1, daerah tingkat 2, kecamatan dan terakhir tingkat sekolah.

Dengan perubahan yang amat kentara akibat kurangnya jumlah guru sehingga berubah kembali guru kelas, bukan lagi guru bidang studi, jelas membawa efek yang cukup besar.

Dengan segala kekurangan yang demikian banyak toh mampu menghasilkan seorang alumni dari SD tersebut melaju dengan baik bisa diterima di jurusan Teknik Informatika STT Telkom, sebuah prestasi yang sungguh gemilang dari Heri Markoneng. Selamat kepada Heri Markoneng, betapa usahamu demikian menarik untuk ditiru dan diikuti. Tiada penghalang yang menghadang, yang tak mampu ditundukkan. Maju terus, jangan melemah hanya karena berasal dari kampung thuk thuk ... yang jauh dari kota. Justru bibit unggul inilah yang nantinya mesti membuat perubahan yang gemilang dari negeri Indonesia yang kaya namun miskin, mental dan spiritualnya...

29 January 2007

Flu Burung

Ada banyak berita menarik yang terjadi berkaitan dengan flu burung di negeri yang begitu banyak sumber daya ini. Apapun yang dibutuhkan dari Bumi Indonesia semua bisa didapat. Barang tambang tak sedikit jumlah dan jenisnya. Tongkat kayu dan batu menjadi tanaman. Sungguh subur negeri ini. Sungguh kaya negeri ini. Kalau kemudian menjadi begitu mudah digoyang oleh negeri lain? Tak tahulah aku, walaupun mudah ditebak dan dirasa.

Setahun dua tahun tiga tahun yang lalu musibah ini terjadi nyaris berbarengan dengan ambisi Amerika Serikat menguasai perminyakan di negeri yang dulunya amat kesohor (Babilonia) yang saat ini bernama Irak. Amerika Serikat menyerbu Irak dengan dalih yang tak disetujui oleh Dewan Keamanan PBB, Irak mempunyai senjata pemusnah massal. Muncul wabah yang mematikan yaitu kasus flu burung, munculnya bukan dari negeri yang banyak memelihara atau men-ternakkan unggas. Dan bukan pula dari burung-burung yang beterbangan. Dan anehnya pula ternyata flu burung bukan virus yang sudah lama muncul. Rasanya tiba-tiba saja muncul dan sungguh mengagetkan: virus ini mematikan! Hanya tinggal 20% kesempatan hidup bagi yang terkena virus ini.

Di Indonesia orang-orang yang terkena virus ini sudah demikian banyak, bahkan Rumah Sakit yang telah dipilih oleh Pemerintah sebagai Rumah Sakit Rujukan, rasanya sudah mencapai angka seratusan. Hanya sedikit yang mampu melawan dan bertahan terhadap serangan virus ini. Menteri Kesehatan pun harus turun tangan langsung memperbincangkannya dan menebar upaya untuk mencegahnya.

Bahasa asingnya Avian Influenza, inilah flu burung, yang dalam terjemahan aslinya adalah flu yang terjadi pada unggas (burung, ayam, itik, dll yang mempunyai bentuk bersayap). Penyebab flu burung adalah sejenis virus H5N1. Kemampuan virus ini sungguh luar biasa, menyebabkan demam tinggi, napas terengah-engah, sesak napas. Awalanya virus ini tidak menular ke manusia. Namun dengan campur tangan manusialah, virus ini berubah menjadi suka untuk berkembang biak di tubuh manusia. Entahlah, manusia mana yang telah merangsang virus ini begitu suka ke tubuh manusia.

Beberapa pakar telah mengungkapkan bahwa begitu mudah menghancurkan virus flu burung. Virus ini tidak tahan terhadap air, artinya terhadap suhu air pun virus ini tidak mampu bertahan lama. Sehingga tak mampulah berkembang biak di negeri ini. Dan mati juga virus ini terhadap pemanasan yang baik saat memasak. Suhu masak-memasak biasanya berkisar pada 100-200 derajat Celcius. Artinya virus ini mampu dan suka hidup dalam suhu 20 - 100 derajat Celcius. Mudah sebenarnya virus ini dilawan. Cukup dengan membasuh, dicuci, dan dimasak. Namun mengapa kemudian menjadi amat mematikan di tubuh manusia? Siapakah yang telah berulah menjadikan virus ini menjadi demikian kuat dan berbahaya?

Setelah berbulan mereda kasus flu burung, kepanikan muncul lagi, beberapa orang telah terjangkit flu burung, mulai anak kecil umuur 3tahunan hingga orang dewasa, mulai hanya satu dua orang, hingga sekumpulan orang yag berjumlah tujuh orang. Artinya telah terjadi begitu banyak perubahan.

Dengan kondisi yang baru inilah, membuat pemerintah pusat dan daerah membuat kebijakan yang dalam pandangan saya amat tergesa-gesa dan penuh kontroversi. Semua unggas (burung dan ayam) yang dipelihara oleh orang per orang bukan dalam bentuk perusahaan yang cukup bermodal akan dihapuskan dari bumi Indonesia. Perusahaan-perusahaan besar (peternak unggas) dianggap telah memenuhi standart pemeliharaan yang mampu menjauhkan diri dari virus flu burung, sedangkan orang per orang dianggap tak memenuhi standard kesehatan.

Tentunya orang-orang yang dirugikan dengan kebijakan tersebut adalah orang-orang miskin, yang mencoba menambah gizi keluarganya atau menambah kemampuan ekonominya dengan sedikit memanfaatkan lahan yang ada, serta dengan memanfaatkan makanan orang-orang yang mungkin terbuang karena sudah merasa kenyang. Makanan kelebihan atau tak mampu dikonsumsi kembali oleh manusia inilah yang biasanya menjadi makanan bagi ayam-ayam yang dipelihara oleh orang-orang kecil ini. Namun dengan kebijakan ini membuat orang-orang kecil tak mempunyai kesempatan untuk menambah sedikit kemampuan ekonomi.

Dan yang lebih parah lagi adalah akan hilangnya ayam kampung yang dianggap lebih baik nilai gizinya dibanding ayam negeri (ayam peliharaan peternak). Tak terbayangkan olehku bagaimana jika yang ada nanti hanya ayam produk-produk peternak yang disebut banyak mempunyai kelemahan karena dipelihara dengan cara dirangsang menggunakan makanan yang amat dilebihkan nilai gizi bagi ayam. Kita pun bisa merasakan bagaimana nanti jika telur ayam yang ada adalah telur yang dirangsang dikeluarkan dari indung telur melalui makanan, bukan melalui rangsangan sperma ayam jantan. Telah banyak bukti-bukti yang diungkap tentang kelemahan dan ketidakbaikan dari produk ayam yang dirangsang dengan tidak wajar ini. Salah satunya lendir ayam yang tak mampu dilenyapkan atau diolah oleh tubuh.

Kebijakan ini tentunya dipengaruhi oleh kartel bisnis ayam potong yang bermodal kuat dan dekat dengan kekuasaan. Mereka tidak rela usahanya yang demikian besar modal kerjanya dikalahkan oleh orang-orang kecil yang bermodal ayam 2-3 ekor saja.

Karena penyebab flu burung adalah virus dan virus itu berada di luar tubuh manusia, maka terjangkitnya seseorang oleh flu burung dikarenakan kondisi tubuh kurang fit. Jika tubuh manusia kuat dan sehat maka virus tak akan mamu memoengaruhi tubuh tersebut. Dengan banyaknya pasien flu burung, berarti juga kondisi tubuh pasien tersebut kurang fit, sebelum terkena virus H5N1. Kalau kemudian dikaitkan dengan penambahan gizi orang kecil dengan menambah asupan daging ayam, melalui usaha kecil-kecilan beternak ayam kampung, maka dengan kebijakan pemerintah, maka gizi orang kecil akan semakin rendah. Oh ...

Solusi untuk mencegah terjangkit flu burung adalah jaga kondisi badan, makan sehat, olah raga, olah akal dan pikiran, istirahat yang cukup, ingat Yang Maha Berkehendak, karena rasa takut yang berlebihan akan menyebabkan sugesti yang boleh jadi menjadikan diri kita semakin rentan terhadap penyakit ini.

Matematika di atas Daun

Sabtu ini, tanggal 27 Januari 2007, ada peristiwa yang saya hadiri (rencananya), yaitu: Sarasehan Tiga Pihak: Mahasiswa, Dosen dan Alumni Matematika ITB yang tergabung maupun tak tergabung dalam wadah yang dulu dan hingga sekarang bernama Himatika (Himpunan Mahasiswa Matematika) ITB. Sebuah wadah yang mempunyai yel-yel yang cukup menggetarkan hati, karena Himatika ingin jaya.

Ingin rasanya saya dapat hadir dengan waktu yang sesuai undangan panitia, yaitu mulai sekitar jam 13 sampai dengan jam 16 atau 17 dan dilanjut malam harinya. Namun apa daya kondisi badan tak sampai. Setelah sekeluarga (Diriku, Dua Anakku dan Istriku ditambah tetanggaku dan asistennya) pergi berobat di Cibaduyut, sampailah di rumah sekitar jam 12-an, ternyata badannya harus diistirahatkan terlebih dahulu, tidur. Istrku telah mencoba membangunkanku hingga tiga kali.

Akhirnya sekitar jam 15 aku mampu bangun, lemas rasanya, beberapa kali aku sms dengan temanku yang sering berfikir secara out of the box, bahwa sebaiknya Ketua Ikatan Alumni Matematika si Itu saja, namun temanku tadi menginginkan aku tetap hadir, bahkan ditunggu sama beliau.

Ya, di tempat mantan sekretariat LFM (Liga Film Mahasiswa) itulah aku akhirnya bertemu dengan teman-teman sejawatku, mantan para mahasiswa Matematika angkatan 86. Dia adalah: Maman si botak yang mempunyai kondisi badan masih tetap seperti saat kuliah dulu, hobbinya termasuk langka di Indonesia ini, yaitu Panjat Tebing, pernah dia jatuh hingga terpaksa menggendong tangannya beberapa hari (atau bulan) sambil kuliah yang setengah serius dan setengah tak serius. Saat itu dia seringkali berambut gondrong, dan sungguh jawaban dia yang membuat saya terhenyak: "Al-Ghozali pun berambut gondrong!".

Maman saat ini menjadi Presiden (Sekjen? aku agak lupa) Federasi Panjat Tebing Indonesia, membuat salah satu jalur panjat tebing di Citatah yang mempunyai kesulitan amat tinggi, yang orang awam jika melihat jalur tersebut akan terperanjat, ah, mana mungkin dipanjat! jalur tersebut diberi nama jalur Duloh!

Berikutnya Sucipto, orang keturunan Madura yang berasal dari Malang, dia orang yang sedikit kaku, pernah ikutan marching band, badannya tegap (pantas untuk bermain marching band), saat ini dia kerja di sekuritas, perusahaan pialang saham, setelah sebelumnya masuk juga ke jajaran penerbangan di Indonesia yang baru berdiri mengingati kasus beramai-ramainya orang-orang yang mempunyai modal untuk membangun maskapai penerbangan. Badannya sudah agak berkembang.

Dondi, asal Rumbai, Kepulauan Riau. Gaya biacaranya seperti kebiasaan orang seberang, suara yang terdengar agak dikulum, bagiku kurang jelas. Perawakannya hanya berubah sedikit dari yang dulu. Pengalaman kerjanya sungguh amat berharga, jatuh bangunnya dalam meraih kehidupan perekonomian begitu menarik hati. Pernah kerja di perusahaan yang saat ini pemiliknya menjadi menteri, yang terkenal dengan lambang bintangnya. Di perusahaan ini sempat merasa mapan bekerja, namun ketika krisis moneter di Indonesia, terjadilah kejadian yang sangat mengharukan, perusahaan kolaps, dan terpaksa melakukan Pemutusan Hubungan Kerja termasuk Dondi. Kegoncangan itu membuat dirinya sempat limbung dalam perjalanan pulang dari kantor ke rumahnya, namun kesadaran yang pelan-pelan tumbuh kembali bahwa Yang Maha Pemberi Rejeki tak akan melupakannya, membuat dirinya kembali tegar dan kokoh dalam menghadapi hidup ini. Dia bekerja di sekuritas. Dan sudah mulai enjoy bekerja di bidang ini, terbukti bisa menarik Cipto untuk bekerja di bidang ini.

Satu lagi yang saya temui dalam kesempatan ini adalah Arif MA'87, angkatan yang satu tahun lebih muda daripada diriku. Wajahnya yang cukup membuat para wanita kagum, memang gaya bicaranya amat santun. Rasanya sejak dulu masih seperti yang dulu, santun, agak mendekati gaya bicara kaum wanita. Pernah ikutan di STEMA (kelompok teater mahasiswa ITB), bekerja di PT Dirgantara Indonesia, perusahaan industri penerbangan di Indonesia yang saat ini terasa banyak masalah, karena PHK besar-besaran yang dilakukannya, karena para ekonom (yang menguasai peri kehidupan di negeri ini) tak menginginkan negara Indonesia mempunyai kemampuan di bidang yang tak menghasilkan dana dengan cukup, padahal tonggak sumber daya manusia untuk mengejar teknologi tinggi berasal dari perusahaan ini. Masih banyak perkerjaan yang dapat dikerjakan di perusahaan ini, namun tinggal orang-orangnya saja yang memandang: ini kewajiban atau tidak.

Memang saya hadir bukan dalam forum resmi yang diadakan oleh panitia, acara resminya sudah selesai yang akan dilanjut pada malam harinya, yaitu Ramah Tamah dalam bentuk yang kuduga akan ada pemilihan Ketua Ikatan Alumni Matematika ITB, namun entahlah aku belum tahu. Saat ini Ketua Ikatan Alumni Matematika ITB adalah dari angkatanku,
karena saat itu yang hadir terbanyak dari MA'86, jadi pantaslah jika Ketuanya dari angkatanku. Entah pada malam tanggal 27 itu, apakah terjadi pergantian atau tidak.

Di sekitar sekretariat LFM itulah dengan gayeng, kami ngobrol sambil menunggu Dondi mengobrol dengan Arif. Berbagai topik dibicarakan mulai dari Keprihatinan ITB terhadap lulusannya, hingga pekerjaan, dan tak lupa masa lalu yang penuh dengan keceriaan, keprihatinan, dan masa depan yang hendak diraih. Orang-orang yang hadir dalam kesempatan itupun sempat dibicarakan pula Isa (MA'85) yang menjadi salah satu Direktur di Departemen Keuangan, Desimon yang menjadi Direktur di TriMegah sekuritas, Yusman yang teman seangkatan dengan Isa dengan posisi jabatan yang jauh
tertinggal dengan Isa, dan saat kuliah lebih sering bertemu dengan angkatan '86. Sendang Drajat dan wow banyak lagi.

Ternyata alumni Matemtika telah tersebar begitu luas, bukan hanya dalam satu bidang pekerjaan saja, banyak diantaranya yang bekerja di Bank, di Perminyakan, di Saham, dosen, Industri manufaktur Penerbangan, dan lainnya.

Bicara kondisi Aceh saat tsunami yang membuat banyak orang tercengang, begitu banyak mayat, begitu banyak yang harus dibantu. Nah Maman inilah yang terjun langsung di Aceh, dia yang hanya membawa dua orang dokter dan sedikit obat-obatan tidak berani mengaku membawa dua hal itu. Dengan kemampuan membuka wacana out of the box-lah, berfikir di luar kotak yang sudah pakem, dia membuka diri. Nggak mungkin dia membantu masyarakat yang demikian banyak untuk dibantu dengan dua orang dokter dan sedikit obat-obatan, bisa-bisa dia akan dikerubungi oleh demikian banyak orang
dan mungkin sekali dia akan dikeroyok, bahkan mungkin sekali akan menyebabkan bencana baru bagi dirinya.Kemampuan berfikir di luar jalur itulah, yang membawanya ide untuk menemukan ide baru: apa yang dapat dilakukan oleh segelintir orang ini dengan sediki peralatan dan bantuan yang ada?

Sesaat merenung, sesaat berfikir apa yang mesti dilakukannya? Ide itu timbul dan muncul dengan gempita: pendataan! Maka dilakukan ide tersebut, dia dan hanya dalam hitungan jari orang yang bersama rombongannya, melakukan tugas pendataan yang belum dilakukan saat itu. Dia data orang-orang yang butuh bantuan dan apa jenis bantuan yang diperlukannya. Saat itu, ide ini tidak ada yang mengerjakannya.

Dalam kesempatan obrolan ini, muncul perbincangan tentang perubahan yang dilakukan ITB dalam penerimaan mahasiswa baru, mungkin setelah melihat Perguruan Tinggi lain. Dengan lebih mengedepankan Fakultas dan Sekolah, saat penerimaan, maka mahasiswa dikelompokkan pertama kali didalamnya. Tentunya ini memudahkan dalam rangka memberi bekal bagi mahasiswa baru yang tergabung dalam tahap pertama. Mahasiswa baru yang diberi bekal berdasarkan Fakultas atau Sekolahnya. Setelah setahun, barulah mahasiswa dimasukkan kedalam Departemen, dan persaingan pun akan muncul, untuk kasus Fakultas MIPA yang terdiri dari Departemen Matematika, Fisika, Kimia dan Astronomi terdapat 330 orang mahasiswa dan 130 memilih Departemen Matematika, sehingga kuota Departemen Matematika terpaksa dinaikkan menjadi 100 orang (dulu biasanya hanya 50-60 orang), artinya pula peminat di bidang Matematika yang terkenal rumit, sulit, tegas, hitam putih, semakin banyak dan menarik. Sebuah fenomena baru, orang Indonesia sebagian mulai tertarik dengan sesuatu yang bersifat kaku dan logis.

Dengan demikian, apakah STT Telkom yang Perguruan Tinggi Swasta berani mengambil langkah untuk membuka Departemen ini? Mengingat teknologi telekomunikasi begitu kental dengan Matematika, dan Statistik? Sebuah sokongan yang kuat untuk mengembangkan teknologi telekomunikasi. Bagaimana Departemen Sains STT Telkom? Siapkah untuk membuka Program Studi baru dengan basis Matematika dan Statistik? Ingatlah, saat ini masyarakat sudah berubah cara pandangnya. Lihatlah fenomena yang muncul di perguruan tinggi tetangga kita.

22 January 2007

Keprihatinan ITB

Hari Minggu kemarin, 21/01/007, sekitar jam 9 sampai dengan 13, saya menyempatkan diri hadir dalam ngariung gelar tikar bersama para dedengkot yang dulu ketika masih mahasiswa mampu menghasilkan karya yang salah satunya bernama Gamais ITB (keluarGA MAhasiswa ISlam ITB). Kegiatan ini dalam rangka syukuran atas kembalinya Saudara Putut Wijanarko (ITB’83) yang saat itu dan sekarang bekerja di Mizan, setelah melanglang buana di negeri Paman Sam, menempuh pencarian ilmu di bidang Media dalam tingkat PhD. Hadir saat itu orang-orang yang sudah cukup berumur dalam pandangan saya, karena yang hadir angkatan ’82 dan ’83, saya yang ’86 masih merasa muda.

Dalam obrolan di De'QUR yang gayeng dan penuh canda tawa, hina-menghina, jatuh-menjatuhkan, dll, ternyata terkuak pula informasi yang membuat saya miris.

1. Sebuah perusahaan meminta tolong ke ITB untuk mendapatkan tenaga kerja.
Namun dari seratusan yang mengajukan lamaran ternyata tak ada satupun yang lolos seleksi.

Apakah karena nilai akademik yang rendah? Bukan! Nilai akademik yang mengajukan lamaran sudah dipastikan minimal 3,00!

Apakah karena terlambat lulus? Bukan! Karena yang terlambat lulus umumnya sudah bekerja duluan sehingga tak mau lagi melakukan lamaran pekerjaan.

Ternyata yang tidak lulus, bukan dalam hal kemampuan hardskill, namun dalam kemampuan softskill. Kemampuan menyampaikan ide, kemampuan mendengar pertanyaan, kemampuan menjawab pertanyaan, kemampuan menalar dari masalah yang disampaikan dan pelamar menjawab dengan runutan yg telah terpatri sebelumnya.

2. Di cerita lain dalam obrolan di De’qur tadi, seseorang yang menjadi proyektor (ahli mendapatkan proyek) memberikan tawaran kepada mahasiswa ITB untuk mengerjakan proyek tersebut (maaf saat ngobrol itu tidak diungkapkan apa nama proyeknya). Beliau (si pemilik proyek) memberikan waktu satu bulan untuk menyelesaikan dua proyek tersebut. Ternyata sang mahasiswa ITB, sanggupnya tiga bulan, namun apa yang terjadi ketika ditawarkan ke mahasiswa ITHB? Mereka berhasil menyelesaikan dalam waktu dua minggu dan bukan hanya dua proyek, namun 10-an proyek. (Catatan: angka-angka ini tidak persis seperti yang diomongkan kemarin, namun sebagai gambaran saja, banyak dan sedikit saja).

3. Bahkan muncul statement alumni D3 Unpad lebih baik (lebih bisa dipercaya) dibanding lulusan ITB. STT Telkom pun sudah mengalami pula kondisi yang demikian ini. Apakah dapat dipercaya, karena faktor loyalitas? Ataukah kondisi masyarakat Indonesia yang sudah demikian terasuki nilai-nilai uang (materialistis)?

Evaluasi yang sempat terucap adalah dorongan untuk terus mempercepat masa studi, mendorong mereka tidak mampu mengembangkan kemampuan di luar yang tercantum dalam kurikulum. Karenanya ide yang coba dikembangkan oleh tim kurikulum ITB adalah membuat kurikulum ekstrakurikuler.

Dari sisi saya, ada kekwatiran jika kurikulum ekstrakuler dibuat rigid dan kaku akan membuat fleksibilitas yang mestinya muncul dalam kegiatan ekstrakurikuler akan hilang, sehingga semangat hidup, semangat berkompetisi, semangat bekerjasama, semangat saling menolong, semangat untuk berkomitmen, semangat loyal, dll yang dapat diperoleh dari kegiatan ekstrakurikuler, bisa muncul.

Kami (yah bisa disebut sebagai pendiri Gamais, walaupun yang hadir ternyata tak semua hadir saat deklarasi Gamais di BLK Lembang) pernah membangun sebuah LSM (beberapa tahun kemudian LSM sangat trend, saat kami sih biasa-biasa saja) yang bernama Megabit, mencoba untuk membangun/ membangkitkan kembali wadah ini. Di Megabit kami ada yang berkecimpung di bidang tulis-menulis, seperti Putut yang menjadi direktur di Mizan, ada juga bermain dalam bidang Latihan Kepemimpinan dan Organisasi. Semoga torehan Megabit dapat membangkitkan kembali semangat untuk mencari kesucian hati, tak dirundung dengan malang oleh kondisi masyarakat yang memang semakin matrialistis.

Mestinya sebagai penghasil lulusan yang sudah mulai diterima masyarakat, STT Telkom pun harus berbuat sesuatu yang sehingga lulusan dapat 'dijual' dengan baik, harga yang tinggi, mempunyai komitmen untuk memajukan bangsa sendiri, sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang dulunya belajar dari kita, dan saat ini telah jauh meninggalkan kita. Apa yang diperbuat?

16 January 2007

Tahun Baru, Bencana Baru

Mengagetkan memang, tahun 2007 ini. Tanggal awal tahun baru dimulai dengan jatuhnya pesawat Boeing 737 seri 400 milik Maskapai Adam Air. Padahal saya ketika ke Balikpapan juga naik pesawat jenis ini dan dari maskapai ini pula.

Berita yang saya dapatkan sampai hari ini, masih hanya seputar ditemukannya remukan, atau runtuhan atau kepingan dan sedikit informasi sekelumit lainnya. Ada potogan meja lipat yang biasa dipakai untuk makan, ada busa yang ternyata ada rambutnya, ada kerlipan avtur yang diduga milik pesawat tersebut, dll yang jumlahnya sudah tidak sedikit lagi, nyaris menembus angka 200 kepingan. Namun tetap saja keberadaan pesawat Boeing 737-400 masih tertelan bumi. Belum jelas dimana letaknya.

Tak kalah ributnya adalah tenggelamnya KMP Senopati Nusantara, kapal laut yang diperkirakan memuat nyaris angka 800 orang penumpang, yang saat ini baru ditemukan korban baik hidup maupun meninggal tak kurang dari 300-an orang, jadi masih menyisakan tak sedikit penumpang yang lain, nyaris menembus angka 500 orang.

Tak seperti dua di atas, terdapat pula kecelakaan kapal laut yang lain, yang tak begitu ramai diperbincangkan, baik kapal dalam ukuran cukup besar, maupun ukuran cukup kecil. Di sekitar pula Sulawesi bagian bawah, terdengar berita KM Mandiri juga tenggelam dan bahkan yang lebih mengharukan kapal lain yang berupaya melakukan kegiatan SAR, malah ikutan hilang.

Ada juga pesawat terbang lain, yang tergelincir di bandara Makassar, pesawat ini dioperasikan oleh Maskapai Penerbangan Lion Air.

Barusan tadi aku dengar di radio sepanjang perjalanan dari rumah ke STT Telkom, serangkaian gerbong Kereta Api mengalami anjlok, bahkan satu gerbong dikabarkan terguling masuk sungai sedalam 5 meter.

Di Sumatera Barat longsor membawa petaka bagi tak sedikit orang, mestinya kasus bencana walaupun hanya mengorbankan satu orang, terasa amat dan sangat hebat bencana tersebut. Di Aceh, pulau yang malang yang terlalu sering dilanda air, baik tsunami yang menghancur luluhkan seluruh bagian pantai kepulauan Aceh, ternyat masih juga merasakan banjir.

Di Kalimantan, banjir pun terjadi pula.

Di Poso pergolakan berdarah pun terjadi kembali, akibat polisi salah menembak orang yang dikira DPO, sehingga masyarakat menyerang polisi preman hingga tewas, dan dilanjut tadi malam sempat terjadi baku tembak.

Jadi? Pada lima belasan hari, sejak tahun baru, sudah tak sedikit lagi bencana yang terjadi. Puluhan bencana terjadi. Apakah ini kita sebut bukan kesalahan manusia? Ataukah alam yang memang digariskan untuk men-tasbih-kan meMaha Sucikan Allah dalam bentuk yang demikian ini, kita sebut sebagai biang keladinya?

Negeri ini memang luar biasa, tak sedikit potensi yang dikandungnya. Namun jika hanya dikenang, dianggap sesuatu yang terus luar biasa, tanpa dapat dikelola dengan sebaik-baiknya, menghindarkan dengan segala kemungkinan untuk mengurangi bencana yang dapat ditimbulkannya, maka inilah akibatnya.

Padahal potensi yang demikian kaya raya membuat sesuatu yang kadangkala terasa menyayat hati, bayangkan di negeri yang tongkat batu pun dapat jadi tanaman, ada orang-orang yang mendiaminya harus makan nasi aking, karena harga beras begitu melonjak, tetapi harga beras yang melonjak itu tidak dibarengi dengan pendapatan yang melonjak pula. Dan harga beras yang melonjak ini, bukan dirasakan oleh petani penggarap, melainkan pihak lain yang rasanya sampai saat ini belum ketahuan batang hidungnya. Siapakah dia?

Bahkan untuk kasus pesawat Adam Air dan KMP Senopati Nusantara, siapa yang diuntungkan? Amerika katanya memberi bantuan kapal yang mempunyai kemampuan sonar, namun harus gigit jari, karena kemampuannya ternyata tak seberapa. Begitupun Singapura mengirimkan pesawat Fokker 28-nya untuk membantu, namun apa yang bisa diperbuat oleh pesawat yang pabriknya saja sudah tutup? Apakah benar mereka (AS dan Singapura) benar-benar membantu dengan ikhlas ataukah ada udang dibalik kawasan pantai dan daratan Sulawesi? Bukankah misi pesawat Fokker Singapura salah satunya akan melakukan foto udara kawasan Sulawesi? Siapakah yang menanggung beban operasional kedua kendaraan dari dua negara tersebut? Mengapa KM Baruna milik BPPT kalah canggih dengan Kapal milik AS yang harus gigit jari? Apakah kedua negara ini benar-benar membantu? Ataukah ngrepotin saja?

Bagi orang cerdas, dia tahu apa yang dilakukannya....

04 January 2007

Alumni STT Telkom

Setelah bertemu pada bulan Nopember pada saat TEMANS 2006, yang menelorkan web site www.temans.org (waduh aku lupa nama persisnya). Ada yang ingat?

Kemudian dilanjut pertemuan di MCC jl. Cisanggarung, dan berikutnya bertemu dengan Ketua STT Telkom, maka saat ini mereka telah membuat kesekretariatan yang merupakan bagian yang bermain di bidang kesekretariatan.

Tadi malam saya telah mendapat info, bahwa semalam mereka telah bertemu kembali yang salah satunya mereka membutuhkan ruangan untuk sekretariat. Wuih, cukup sulit juga, karena tingkat okupansi ruangan di STT Telkom pun demikian padat. Memang akan segera ada gedung baru yang berupa asrama. Sayang disebut sayang, asrama ini akan digunakan untuk asrama putri, akibatnya jika mereka ingin membuat sekretariat di situ akan rikuh juga, jika yang hadir lelaki. Berita ini diperoleh dari Pak Catur (alumni yang bekerja di STT Telkom)

Maka mereka diminta membuat surat kebutuhan sekretariat termasuk perabotnya, namun dilampiri dengan program kerja yang telah disusun mereka, serta juga kemampuan dalam mewujukan program kerja ini. Semoga mereka berhasil mewujudkan alumni yang guyub, yang akrab, sehingga berguna bagi nusa, bangsa dan agama, dengan berdasarkan asas: dari, untuk dan oleh alumni. Monggoo... Ditunggu suratnya.

Tak lupa ternyata mereka ingin me-launching kepengurusan ini pada bulan Februari 2007, semoga berhasil acara ini. Selamat!

Tata Aturan Penulisan Ilmiah

Tata Aturan ini dikeluarkan oleh Direktorat Akademik dan Kemahasiswaan untuk semua lomba yang diadakan oleh Direktorat ini.

PENULISAN KARYA TULIS

A. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan hendaknya berisi rancangan yang teratur sebagai berikut:

1. Bagian Awal
a Halaman judul
(1) Judul diketik dengan huruf besar (capital), hendaknya ekspresif, sesuai dan tepat dengan masalah yang ditulis dan tidak membuka peluang untuk penafsiran ganda.
(2) Nama penulis dan nomor induk mahasiswa ditulis dengan jelas.
(3) Perguruan tinggi asal ditulis dengan jelas.
(4) Tahun penulisan
b Lembar Pengesahan.
(1) Lembar pengesahan memuat judul, nama penulis, dan nomor induk
(2) Lembar pengesahan ditandatangani oleh Dosen Pembimbing, dan Wakl/ Pembantu Rektor/Ketua/Direktur Bidang Kemahasiswaan lengkap dengan stempel perguruan tinggi.
(3) Lembar pengesahaan diberi tanggal sesuai dengan tanggal pengesahan.
c Kata Pengantar dari penulis
d Daftar isi dan daftar lain yang diperlukan seperti daftar gambar, daftar table, dan daftar lampiran.
e Ringkasan karya tulis disusun sebanyak-banyaknya dua halaman yang mencerminkan isi keseluruhan karya tulis, mulai dari latar belakang, tujuan, landasan teori yang mendukung, metoda penulisan, pembahasan, kesimpulan dan rekomendasi.

2. Bagian Inti
a Pendahuluan
Bagian Pendahluan berisi hal-hal sebagai berikut :
(1) Perumusan masalah yang mencakup latar belakang tentang alasan mengangkat masalah tersebut menjadi karya tulis, dan penjelasan tentang makna penting serta menariknya masalah tersebut untuk ditelaah.
(2) Uraian singkat mengenai gagasan kreatif yang ingin disampaikan.
(3) Mengandung pertanyaan yang akan dijawab melalui penulisan.
(4) Tujuan dan manfaat yang ingin dicapai melalui penulisan.
b Landasan Teori
Landasan Teori berisi :
(1) Uraian yang menunjukkan landasan teori dan konsep-konsep yang relevan dengan masalah yang dikritisi/dibahas.
(2) Uraian mengenai pendapat orang lain yang yang berkaitan dengan caramencari jalan keluar dari masalah yang diajukan.
(3) Uraian mengenai implementasi kebijakan atau pengalaman – pengalaman yang sudah berhasil diterapkan pada tempat lain.
c Bagian isi/Pembahasan
(1) Analisis permasalahan didasarkan pada data dan / atau informasi serta telaah pustaka untuk menghasilkan alternative model pemecahan masalah atau gagasan/ ide yang kreatif, inovatif, idealis, logis dan dinamis serta realistis untuk dapat diimplementasikan.
(2) Simpulan harus konsisten dengan analisis permasalahan
(3) Rekomendasi berupa transfer gagasan, langkah-langkah kegiatan untk menjawab permasalahan dan implementasinya di masyarakat.

3. Bagian Akhir
a Daftar pustaka ditulis untuk memberi informasi sehingga membaca dapat dengan mudah menemukan sumber yang disebutkan.
(1) Penulisan daftar pustaka untuk buku dimulai dengan menulis nama pengarang, tahun penerbitan, judul buku, tempat terbit, dan nama penerbit.
(2) Penulisan daftar pustaka untuk jurnal dimulai dengan nama penulis, tahun, judul tulisan, nama jurnal, volume dan nomor halaman.
(3) Penulisan daftar pustaka yang diperoleh dari internet ditulis alamat web site-nya dan tanggal pengambilan informasi.
b Daftar Riwayat Hidup (bio data atau curriculum vitae) peserta minimal mencakup nama lengkap, tempat dan tangal lahir, karya-karya ilmiah yang pernah dibuat, penghargaan-penghargaan ilmiah yang pernah diraih.
c Lampiran (jika diperlukan)

B. Persyaratan Penulisan:

1. Naskah ditulis mengunakan Bahasa Indonesia yang baku, minimal 10 halaman dan maksimal 20 halaman. Jumlah halaman yang tidak sesuai dengan ketentuan jumlah halaman tersebut dapat mengurangi penilaian.
2. Bahasa Indonesia yang digunakan hendaknya baku dengan tata bahasa dan ejaan yang disempurnakan, sederhana, jelas, satu kesatuan, mengutamakan istilah yang mudah dimengerti, tidak menggunakan singkatan seperti tdk, tsb, yg, dgn, dll., dsb.

C. Pengetikan
1. Tata Letak
a Karya tulis 1,5 spasi pada kertas berukuran A4, (font 12, times New Roman style).
b Batas pengetikan :
(1) Samping kiri 4 cm
(2) Samping kanan 3 cm
(3) Batas atas dan bawah masing-masing 3 cm
(4) Batas pengetikan 2 cm pada bagian bawah
c Jarak pengetikan, Bab, Sub-sub dan perinciannya
(1) Jarak pengetikan antara Bab, danSub-bab 3 spasi, Sub-bab dan kalimat dibawahnya 2 spasi.
(2) Judul Bab diketik-ditengah tengah dengan huruf besar dan dengan jarak 4 cm dari tepi atas tanpa digaris-bawahi
(3) Judul Sub-bab ditulis mulai dari sebelah kiri, huruf pertama setiap kata ditulis dengan huruf besar (huruf capital), kecuali kata-kata tugas, seperti yang, dari, dan.
(4) Judul anak Sub-bab ditulis mulai dari sebelah kiri dengan indensi 5 (lima) pukulan yang diberi garis bawah. Huruf pertama setiap kata ditulis dengan huruf besar (huruf capital) kecuali kata-kata tugas, seperti yang, dari, dan.
(5) Jika sudah ada sub judul dalam tingkatan yang lebih rendah, ditulis seperti pada butir (3) di atas, lalu diikuti oleh kalimat berikutnya.

2. Pengetikan Kalimat

Alinea baru diketik sebaris dengan baris di atasnya dengan jarak 2 spasi. Pengetikan kutipan langsung yang lebih dari 3 baris diketik 1 spasi menjorok kedalam dan semuanya tanpa diberi tanda petik.

3. Penomoran Halaman

a Bagian pendahuluan yang meliputi halaman judul, nama/daftar anggota kelompok, kata daftar dan daftar isi memakai angka romawi kecil dan diketik sebelah kanan bawah (i, ii dan seterusnya)
b Bagian tubuh / pokok sampaimdengan bagian penutup memakai angka arab dan diketik dengan jarak 3 cm dari tepi kanan dan 1.5 cm dari tepi atas (1,2,3 dan seterusnya)
c Nomor halaman pertama dari tiap Bab tidak ditulis tetapi tetap diperhitungkan.

2007!

Tak kukira umurku sudah nambah lagi, rambut pun harus bertambah jumlah putihnya. Yah... tak terasa rambutnya sudah semakin panjang, dan terasa awut-awutan, istriku pun sudah berkali-kali meminta untuk memotong. Aku suka potongan rambut pendek sekitar 1/2 cm, sehingga nggak perlu membawa sisir atau susah payah menyisir, lumayan ngirit, sampho dan sebangsanya.

Dan bagiku tak terasa sudah meninggalkan tanggal 1 Januari 2007, karena libur dan harus menyelesaikan kegiatan di perdombaan, sehingga tanggal 2 pun ikutan terlewat. Sekarang udah tanggal 4 Januari 2007.

Semangat! Itu yang mesti terus dibawa, karena secara fisik pun sudah agak lemah, badan rasanya sudah cepat lelah. Tadi aku sempat tertidur di kursi, sehingga harus bangun, menelpon untuk beli Coca Cola! Ternyata coca cola kurang terasa nyesss-nya. Nggak tahu apakah karena badan begitu lelah ataukah terbuka tutupnya? Atau sudah dikocok berkali-kali?

Yang jelas sekarang aku bangun dan mencoba berbuat sesuatu dan sesuatu itu adalah menulis blog! Ha ha ha... terasa lucu juga aku ... menulis blog tanpa konsep dan terasa hanya menulis untuk menghilangkan kejenuhan. Padahal di kepala di dada dan dimana-mana terasa begitu banyak hal yang harus ditulis.

Ada lomba PPKM yang telah ditawarkan oleh Direktorat Akademik dan Kemahasiswaan di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Namun rasanya peminat dalam kegiatan ini masih amat kosong dan belum memiliki semangat untuk menulis. Duh... keselnya. Padahal kegiatan tulis menulis dirasa menjadi kelemahan yang semakin menjadi di kalangan mahasiswa. Masih sangat kesulitan mereka untuk menuliskan apa yang dipikirkan dan apa yang dinyatakan. Apa lagi yang mesti dilakukan? Agar mahasiswa berminat dalam menulis?

Memang web forum students.stttelkom.ac.id demikian ramai, bahkan mencapai bilangan 608 pengakses pada hari ini jam segini 15:40. Betapa dalam sehari mereka mampu mencapai ribuan. Namun tetap saja apa yang ditulis banyak kurang berbobot. Kapan ya mahasiswa STT Telkom mau menggeser agak serius dalam menulis?

Yah, lumayan aku sudah mulai semangat kembali... Jika kondisi down begini sering aku bertanya, dimanakah Syurga-ku? Dapatkah aku mencapainya? Padahal mungkin karena fisik yang kurang terolah dengan baik.

Selamat berkarya dan bekerja!